AN INEFFABLE SERENDIPITY

AN INEFFABLE SERENDIPITY
Chapter 12. Lingerie



Hari yang melelahkan telah berlalu, serangkaian acara pernikahan yang panjang telah berakhir. Malam ini Fadhil dan Mecca beserta kedua orang tua mereka, dan beberapa kerabat menginap di hotel tempat acara pernikahan itu berlangsung.


Setelah melepas pakaian dan gaun pengantin serta segala macam aksesoris yang menempel, Mecca dan Fadhil menggunakan bath robes.


“Mas dulu atau aku dulu nih yang mandi?” ujarnya polos.


“Hah? Kamu sudah nggak tahan?”


“Ya siapa juga yang tahan kalau gerah begini mas."


“Oh kirain nggak tahan yang lain."


“Apaan?” tanyanya bingung.


“Pertanyaan kamu bikin salah paham."


“Hah? Salah paham bagimana?”


“Lupakan, kamu saja yang mandi duluan." Ujar Fadhil mendengus.


“Oke, tunggu yang manis ya." Ujarnya mengerlingkan mata sembari berlari kecil ke kamar mandi.


“Oh my God, dia coba goda aku rupanya, lihat saja nanti!” ucapnya dalam hati sembari memperhatikan sekeliling kamarnya.


Mecca dan Fadhil menempati kamar yang berbeda dari kamar merias yang sebelumnya mereka gunakan. Pada kamar ini diberikan sentuhan romantis untuk pasangan pengantin baru itu.


Kamar di dominasi dengan cat berwarna cream, lampu temaram, tempat tidur ukuran king size dilengkapi tiang penyangga kelambu transparan mengelilinginya.


Pada tempat tidur diberikan taburan kelopak bunga mawar merah yang ditata rapi membentuk 2 ekor angsa yang saling menyatukan paruhnya hingga seperti bentuk hati. Seprai dan selimut di dominasi dengan warna putih bersih dilengkapi 4 buah bantal berwarna merah gelap, kolaborasi itu memberikan kesan sangat romantis dan elegan.


Pikiran Fadhil kian melayang membayangkan apa yang akan ia lakukan malam ini sebagai pengantin baru. Suara tetesan air yang mengalir dari kamar mandi tempat Mecca berada membuat tubuh Fadhil semakin merasa gerah.


Saat ia mendengar suara shower dengan spontan ia menelan salivanya dan membalikkan tubuhnya ke arah kamar mandi. Tiba-tiba matanya terbelalak lebar, pada kamar mandi dikelilingi kaca semi transparan yang tipis. Dengan lampu terang dari dalam kamar mandi dapat menunjukkan secara jelas siluet dari si pemilik tubuh.


“Shit ! Aku lupa desain kamar pengantin ini." Ujarnya memaki diri sendiri namun tak memalingkan wajahnya, ia berusaha menikmati tiap gerakan Mecca saat mandi. Mecca bagai menari-nari lembut dengan alunan dari gemericik air, hal itu membuat adik kecilnya mulai terbangun dari tidur panjang.


“Sial... Sial... Dasar mesum! Lemah amat sih loe tong, lihat siluet cewek mandi saja langsung tegang." Hardiknya menatap sesuatu di antara kedua pahanya. Dengan langkah cepat Fadhil memulai sit up dan push up untuk menetralkan ketegangannya.


Setelah 10 menit Fadhil melakukan olahraga, Mecca keluar kamar mandi dengan menggunakan handuk yang dililit menutupi dada hingga 5 jengkal di atas lututnya. Handuk Mecca terlalu pendek untuk menutupi seluruh bagian tubuhnya. Mecca masih sibuk mengeringkan rambut basahnya dengan handuk putih kecil yang dipegangnya, sedangkan tetesan air masih mengalir lancar menuruni kulit putih mulusnya, wajah yang polos tanpa make up menambah kecantikan alaminya.


Kesibukan Mecca membuatnya tak menyadari jika ada sepasang mata yang lekat memandang tiap jengkal tubuh mungilnya tersebut.


“Mec, kamu sadar kan ada aku di sini?” tanya Fadhil menahan air liurnya yang hampir menetes.


“Hah? Eh... Iya mas, maaf... Tadi aku salah mengarahkan showernya, baju yang aku bawa dan bath robesnya jadi basah semua deh. Jadi aku pakai handuk ini saja, karena ini paling panjang di sana." Jawabnya menjelaskan sembari menunjukkan ekspresi sedikit menyesal.


“Kenapa tidak bilang? Aku bisa mintakan handuk tambahan tadi."


“Hehehe... Nggak kepikir mas." Ujarnya menunjukkan cengiran imutnya. “Loh, kamar dingin begini kok Mas Fadhil bisa berkeringat seperti itu sih? Sana cepat mandi." Keluh Mecca risih.


“Ini semua gara-gara kamu tahu! Habis aku mandi akan aku balaskan dendamku ya." Jawabnya menunjukkan ekspresi licik.


“Hah? Kok salahku?” tanya Mecca kebingungan, namun tak memperoleh penjelasan dari yang ditanya, karena kini Fadhil sudah meluncur ke kamar mandi diikuti tatapan mata Mecca yang masih memperhatikannya.


“HAAAAH! Tadi kamar mandinya semi transparan begini?” ujarnya kaget.


Setelah beberapa detik Mecca terdiam, ia mulai beranjak dari keterpakuannya menghilangkan segala rasa malu dan pikiran anehnya menuju lemari pakaian. Ia mencoba mengambil pakaian yang akan ia gunakan untuk tidur malam ini. Karena sebelumnya Mecca hanya membawa 1 piyama dan itu pun sudah basah kuyup karena kebodohannya kini ia hanya bisa berharap pada pakaian yang diberikan Bu Alisa padanya saat dirinya masih dirias tadi, kata Bu Alisa ini adalah pakaian tidur terbaik pilihannya.


“Mana ya tas hitam tadi yang diberikan Bu Alisa, ehm.... Ah ini dia." Segera Mecca membuka tas tersebut, di dalamnya ada 2 buah pakaian. 1 gaun berukuran midi berwarna putih polos dengan lengan model balon dan yang 1 adalah lingerie selutut berwarna hitam transparan penuh renda, dengan luaran gaun berlengan panjang, lengkap dengan underwear dengan warna senada.


“Hah? Aku harus pakai ini? Oh my God, mau sepanjang apa pun kalau transparan seperti ini apa yang mau ditutupi? Aaaah.... Bu Alisa!” teriak Mecca tertahan.


Mecca kembali duduk di meja rias, ia masih berusaha mengeringkan rambutnya yang setengah kering itu dengan hair dryer. Tak lama berselang Fadhil keluar dari kamar mandi dengan handuk putih yang melilit di pinggulnya.


Fadhil menganga takjub melihat pemandangan indah di depannya. Mecca tampak seksi dengan balutan lingerie hitam transparannya. Kulit putih Mecca dibalik lingerienya tidak dapat disembunyikan dengan baik.


Fadhil mendekati Mecca perlahan, tiap langkahnya membuat jantungnya berdetak semakin kencang. Adik kecilnya yang tadi sempat tertidur, kini bangun kembali. Fadhil menahan hasratnya sebaik mungkin, ia mecoba untuk menutup matanya sejenak agar tubuhnya tetap dalam kendalinya.


“Ehem... Mau goda aku dengan pakaian itu?”


“Ini pusaka dari mama, mas. Cantikkan?” sahut Mecca melihat Fadhil dari pantulan cermin di hadapannya, walau Mecca berusaha tampak tenang, tangan dan kakinya mulai basah oleh keringat, jantungnya pun tak kalah berisiknya dengan jantung Fadhil saat ini.


“Cantik, bahkan sangat." Ujar Fadhil menatap lembut pada Mecca membuat gadis itu merona malu.


“Aku mau berganti pakaian, kamu mau tetap di situ?” tanyanya usil.


“Apa aku harus pergi?” sahut Mecca tak kalah usil.


“Oh iya, kita kan suami-istri sekarang, mau pakai atau nggak pakai baju tidak masalah kan?”


“Sama sekali bukan masalah." Jawab Mecca tak mau kalah.


“Oke." Dengan sekejap Fadhil membuka handuk yang melilit di antara pinggulnya dan melemparkan ke sembarang arah. Fadhil menatap Mecca dengan mata buasnya seakan ingin menerkam gadis itu saat ini juga. Ia masih berdiri mematung ingin melihat reaksi Mecca atas tindakannya tersebut. Dan gadis itu masih diam tanpa kata namun juga tidak mengalihkan pandangannya.


“Bagaimana?” tanya Fadhil menggoda, walau dalam hatinya sungguh merasa teramat malu, karena ia baru pertama kali telanjang bulat di depan lawan jenisnya apalagi dalam kondisi si Bembi (sebutan Arjun untuk adik kecil Fadhil) yang telah tegak sempurna.


Pertanyaan Fadhil menyadarkan Mecca dari rasa terkejutannya, Mecca berusaha tidak menjadi polos untuk meladeni keusilan Fadhil, dengan sigap Mecca mematikan hair dryernya lalu berdiri semakin melekatkan pandangannya pada seluruh tubuh Fadhil yang polos itu.


“Wah, ternyata suamiku ini pria perkasa ya. Itu termasuk extra large mas?” tanya Mecca dibuat sepolos mungkin menyembunyikan kegugupannya sembari menunjuk dan mendekati Fadhil.


“Kamu ini benar-benar rubah kecil. Gadis pada umumnya akan berteriak ‘aaaahh’ kalau di hadapkan pada situasi seperti ini, tapi kamu... malah aku sih yang jadi merasa malu atas tindakanku." Cerocos Fadhil sembari masuk ke dalam selimut menyembunyikan tubuh polosnya.


“Maaaaas, aku ini jomblo terlalu lama, jiwa perawanku mulai meronta-ronta. Tadi kan mas yang tunjukkan, berarti aku anggap itu berkah. Nih mas piyamanya pakai dulu." Ujarnya sembari menyodorkan piyama untuk Fadhil.


“Aku tidak mau memakai baju, aku lebih suka seperti ini." Jawab Fadhil acuh.


“Oke kalau mas maunya begitu." Jawabnya dengan melemparkan piyama Fadhil ke sofa lalu membuka luaran lingerienya semakin menampakkan kulit putih mulus tak bercela itu, belahan dada Mecca pun tampak jelas tak tertutupi sontak hal itu membuat jiwa Fadhil semakin berontak.


Fadhil dan Mecca pun berbaring pada 1 tempat tidur yang sama, menyingkirkan segala kelopak bunga mawar merah yang bertebaran di atas ranjangnya.


“Mas."


“Hemmm."


“Boleh nggak aku lihat sekali lagi Bembimu itu." Cekikik Mecca tak tertahan.


“Meccaaaaaaaaa!” geram Fadhil merasa malu.


.


.


.


Happy Reading and Enjoy 🤩


Jangan lupa klik favorit, like, komentar, vote, dan rate 5 ⭐ ya agar Author makin semangat dalam berkarya. Untuk mengetahui cara vote, silahkan para readers mampir pada halaman ATTENTION ya.


Jangan jadi penikmat dan silent readers, tunjukkan diri dengan like ya!


Terima Kasih.