
Braaakk!
Dengan penuh amarah Karina menggebrak meja kerjanya. Kini emosi memenuhi dirinya, rasa kecewa dan terabaikan menyelimuti hatinya.
“Sial! Kamu menghindari Aku Dhil?!” ujarnya pada dirinya sendiri.
“Aku tahu Kamu berbuat seperti ini kepadaku pasti karena permintaan perempuan pencemburu itu!”
“Aku tidak akan pernah menyerah! Kamu harus kembali padaku!”
Disela-sela celotehnya tersebut, pintu ruangannya diketuk, secara hati-hati sekretarisnya, Nita memasuki ruangan dan mulai mendekatinya.
“Ada apa?!” tanya Karina ketus.
“Maaf Bu Karina, Saya sudah menelepon ke sekretaris Pak Fadhil, katanya beliau belum kembali ke ruangannya.” Lapornya hati-hati, ia tahu bahwa Pimpinannya tersebut sedang putus asa. Sejak sekembalinya dari Grup A ke Grup R, Karina selalu menunjukkan raut wajah marah. Hari ini ia selalu kena bentakan Karina tanpa henti yang memintanya untuk menghubungi sekretaris Fadhil setiap 1 jam sekali.
“Ya sudah kamu boleh keluar! Hari ini aku tidak mood, pertemuan dengan klien lain serahkan pada Egy!” perintahnya cepat sembari memberikan gerakan tangan meminta sekretarisnya segera pergi.
Tak lama berselang, dering ponselnya berbunyi. Karina menatap layar ponselnya dengan dahi berkerut.
“Papi? Tumben.” Gumamnya lirih. Dengan enggan ia menerima telepon Papinya.
Karina : “Halo Pi?”
Pak Raharja : “Kenapa suaramu lemas begitu?”
Karina : “Tidak ada apa-apa Pi, tumben Papi menelepon.”
Pak Raharja : “Kamu dimana?”
Karina : “Di ruangan kerja Karin Pi.”
Pak Raharja : “Kamu melakukan apa pada Fadhil? Asistennya langsung menghubungi Papi tadi, ia minta agar perwakilan yang datang ke Grup A harus orang lain, dia tidak mau Kamu ataupun Egy mendatanginya. Jika Papi mengindahkan kemauannya ini mereka mengancam memutus kontrak kerja sama.”
Karina : “Apa?! Tapi kenapa Pi?”
Pak Raharja : “Justru itu Papi tanya, apa Kamu atau Egy menyinggungnya?” pertanyaan Pak Raharja tidak memperoleh jawaban apapun dari Karina. “Nak, lupakan dia! Pria itu sudah menikah! Kau fokus saja pada pekerjaanmu! Papi akan mengatur perjodohan baru untukmu dengan keluarga yang setara dengan keluarga Permana!”
Karina : “TIDAK! Semua ini salah Papi!” teriak Karina seketika lalu menutup panggilannya.
Hatinya terasa sesak saat Papinya menyadarkannya atas status Fadhil saat ini. Seakan tak dapat menerima kenyataan, air mata pun jatuh ke pipinya yang mulus, ia menangis dengan teriakan sejadi-jadinya, meraung menyebut nama Fadhil berkali-kali, laki-laki yang dicintainya sejak remaja.
.
.
.
***
Pesta megah yang diadakan para pebisnis terkemuka di dalam maupun luar negeri, dipenuhi dengan para kalangan elite.
Pak Raharja membawa istri serta kedua putra dan putri kembarnya yang masih berusia 14 tahun menghadiri acara tersebut. Ia ingin membiasakan anak-anaknya bergaul dengan kalangan atas dan mengajarkan cara menilai seseorang yang mumpuni untuk dijadikan relasi.
Saat masuk ke ruangan tersebut, pandangan Pak Raharja seakan menyapu bersih seisi ruangan hingga ia menemukan sesosok yang diminatinya. Ia pun menundukkan kepalanya dan mulai berbicara pada putrinya, Karina.
“Nak, coba Kau lihat satu wanita dan dua orang pria yang berdiri tidak jauh dari hadapan Kita. Mereka keluarga Pak Permana, pria muda yang di sampingnya itu putra tunggal pewaris seluruh Grup A, Dia tampan bukan?” tanyanya sembari melirik putrinya.
“Memangnya mereka siapa Pi?” tanya Karina dengan pandangan yang telah terkunci pada Fadhil. Entah mengapa begitu menatapnya debaran jantungnya begitu sangat kencang.
“Mereka salah satu pebisnis sukses di dalam dan luar negeri. Papi akan berusaha menjodohkan putranya denganmu jika Kamu menyukainya.”
“Apa Papi kenal baik dengan keluarga mereka?”
“Kita akan dekati mereka perlahan. Bagaimana?”
“Tapi apa Dia akan suka juga padaku?” tanyanya ragu.
“Siapa yang tidak menyukaimu? Kamu begitu cantik dan berbakat. Papi yakin Dia juga akan menyukaimu, percaya Papi. Ayo kita temui mereka!” ujarnya sembari membelai rambut putrinya.
Pak Raharja mulai mendekati keluarga Pak Permana, ia memperkenalkan seluruh keluarganya, ia pun dengan semangat membanggakan putra dan putrinya, ia berusaha menyodorkan Karina ke arah Fadhil.
Karina hanya terpaku memandang ketampanan Fadhil, ia sadar jika detak jantung yang kencang itu menandakan bahwa Dia telah merasakan jatuh cinta pada pandangan pertama. Namun mengapa pria itu justru hanya menatapnya sekali dan itu pun hanya sekilas. Apakah pria itu tidak menyukainya?
Bagai gayung bersambut Pak Permana pun akhirnya setuju menjodohkan Fadhil dengan Karina, namun dengan tegas Fadhil menolaknya. Bahkan tanpa seizin Papanya ia mendaftarkan diri untuk kuliah di Amerika, hal itu semata-mata untuk menunjukkan penolakannya secara blak-blakan.
Mengetahui penolakan Fadhil, Karina pun mulai putus asa. Namun lagi-lagi Pak Raharja mempengaruhinya untuk tetap berusaha menjadi calon menantu keluarga Permana.
“Tenanglah, Nak. Om Permana sudah setuju tadi, secara tidak langsung kamu sudah menjadi tunangan Fadhil. Jangan lepaskan dia, ikuti kemana pun Dia pergi.” Ujar Pak Raharja mendoktrin.
.
.
.
***
Hari mulai sore, wanita paruh baya telah sibuk di dapur melakukan kegiatan memasak dengan cekatan. Aroma masakannya menyeruak ke seluruh ruangan. Suara gesekan spatula dan penggorengan saling bersahut-sahutan membentuk bunyi yang menyenangkan.
Di kamarnya Arjun mulai mencium aroma wangi makanan, bagai tersihir ia mengikuti arah aroma itu berasal.
“Loh, Mami sudah pulang? Biasanya malam.” Ujar Arjun mendekati Maminya.
“Mami pulang cepat dong, kan Anak Mami lagi libur kerja, jadi Mami mau masakin Anak kesayangan Mami deh.” Jawab Mami Rita tanpa menolehkan pandangan dari kegiatan memasaknya.
“Mami dari kantor? Terus toko kue Mami bagaimana?”
“Gampanglah, kan banyak karyawan. Ada manajer Ana juga kan?!”
“Asyik, sudah lama nih nggak makan masakan Mami, jadi nggak sabar.” Ujarnya sembari duduk di meja makan menunggu dengan tatapan lapar.
Sejak Papi Arjun, Pak Mahardhika meninggal dunia, perusahaan furniture miliknya di kelola oleh Mami Rita. Walau keterampilan dasar Mami Rita dibidang baking and pastry, hal itu tidak mempengaruhi kepiawaian Mami Rita dalam menjalankan perusahaan.
Beliau dengan profesional dan telaten menjalankan perusahaan sekaligus toko kuenya dengan baik. Kedua usaha yang ia kerjakan sangatlah sukses dan diminati banyak orang. Kesibukannya membuatnya selalu pergi pagi dan pulang malam hari, namun hal itu tidak mengurangi kedekatannya dengan Arjun. Sesekali Arjun sering membantu Mami Rita di perusahaan maupun di toko kue saat ia libur.
“Mulai hari ini, setiap Kamu libur kerja Mami akan usahakan pulang lebih cepat.”
“Benaran Mi?”
“Benar dong!”
“Akhirnya Arjun bisa ketemu Mami lebih lama.”
“Hahahaha... Padahal Dia sendiri sibuk bukan main!”
Setelah beberapa saat seluruh masakan pun telah terhidang di meja makan. Dengan kalap Arjun memakan semua masakan Mami Rita.
“Hei, pelan-pelan! Tidak ada yang mengambil makananmu.”
“Terlalu enak, nggak bisa sabar Mi.”
“Ckckckck... Awas tersedak nanti!”
“Nggak akan Mi, tenang saja.”
“Ngomong-ngomong kapan ya Mami punya menantu?”
“Uhuk... Uhuk... Uhuk... Ehemmm...” tiba-tiba Arjun tersedak.
“Arjun! Tuh kan Mami bilang juga apa!” ujar Mami Rita sembari memberikan air putih pada Arjun.
.
.
.
Happy Reading and Enjoy 🤩
Jangan lupa klik favorit, like, komen, vote, dan rate 5 ⭐ ya agar Author makin semangat dalam berkarya.
Terima Kasih.