
“Ehem... Dari acara selesai sampai sekarang masih pegangan tangan melulu! Enggak keringatan tuh telapak didempet terus?” sindir Mecca melirik genggaman tangan Arjun dan Medina yang langsung dilepas dengan paksa.
“Biarin aja yank, kasihan mereka. Cuma tunangan doang, jadi cuma bisa pegang-pegangan tangan. Enggak kayak kita ya yank, langsung bikin ranjang berderit.” Cekikik Fadhil santai.
“Bisa enggak sih kalian pergi jauh-jauh aja sana! Jangan ganggu kesenangan gue kenapa?!” protes Arjun dengan kilatan mata menusuk.
“Yuk mas kita ke kamar aja, jangan ganggu mereka lagi.” Ujar Mecca dengan tatapan menyindir.
“Iya yank, mending aku jenguk si boy. Kata dokter kan aku harus sering-sering datangin boy biar dia cepat lahir. Kita buat ranjang berderit lagi yok di atas!” ujar Fadhil mengangkat jarinya dan membentuk huruf V lalu pergi merangkul pundak Mecca.
“Woi! Coi! Induksi loe itu sering-seringnya nanti, pas Mecca sudah 36 minggu alias 9 bulan! Sekarang Mecca masih 8 bulan hei... Hmmpphh!” teriak Arjun pada Fadhil yang tak memedulikannya. Medina langsung menutup mulut Arjun dengan telapak tangannya, berharap teriakan Arjun tidak sampai terdengar oleh para orang tua yang sedang berkumpul di meja makan.
“Apaan sih Bi kok aku ditutup-tutup mulutnya?” tanya Arjun menurunkan tangan Medina dan menggenggamnya kembali.
“Jangan teriak-teriak, enggak enak sama ayah, mami, dan mama. Kalau mereka dengar kan malu-maluin ih!”
“Malu-maluin apa? Masa ngomongin induksi alami malu-maluin?” tanya Arjun lemah lembut.
“Malu ah! Aku tahu kalau tadi aku enggak tutup mulut Be, pasti Be bakal bahas ran-ranjang berderit kan?” Ucap gugup Medina menunduk malu.
“Kok tahu sih?” cengir Arjun mendengar jawaban tepat Medina atas sesuatu yang ingin ia ucapkan.
“Tahulah! Aku tuh ngerti Be sama Fadhil tuh kalau setiap bicara suka aneh-aneh, tapi suka malu-maluin.”
“Hahahaha!” tawa Arjun membahana.
Hingga pukul 8 malam Arjun dan Mami Rita memutuskan pamit dari rumah Pak Pradipta, diikuti oleh Mama Alisa yang ikut dengan mobil Arjun untuk diantar ke rumah Fadhil. Sedangkan Mecca dan Fadhil sendiri sudah tidak kelihatan batang hidungnya lagi sejak keduanya membahas ranjang berderit tersebut.
Setelah hampir 1 jam di perjalanan, Arjun dan Mami Rita yang kini telah berada tepat di depan rumahnya mulai memasuki pagar yang sudah terbuka tersebut.
Kedatangan mereka di sambut oleh seorang penjaga rumah yang kini telah berlarian menghampiri mobil SUV berwarna merah tersebut.
“Selamat malam Mas Arjun.”
“Malam Pak Wil, ada apa?”
“Gadis yang kemarin kemari tadi datang lagi cari-cari Mas Arjun.”
“Sudah tahu namanya?”
“Dia tidak mau memberi tahu, Mas.”
“Ya sudah cuekin aja kalau gitu.”
“Cantik, Mas.” Ujar Pak Wiluyo, penjaga rumah Arjun dengan mengangkat jempolnya.
“Siapa yang cantik?” tanya Mami Rita menyela perbincangan Arjun dengan Pak Wiluyo.
“Sudah 2 hari berturut-turut ada perempuan cantik yang cari Mas Arjun, Bu.”
“Namanya?” selidik Mami Rita.
“Ya itu bu, dia tidak mau bilang.”
“Siapa Jun? Punya feeling enggak siapa dia?” tanya Mami Rita mengalihkan pandangannya dari Pak Wiluyo ke Arjun.
“Enggak tahu mi, biarin aja! Nanti kalau urgent banget juga datang lagi. Mending kita masuk ke dalam yuk mi, badan lengket semua mau mandi.” Ujar Arjun mendapat anggukan dari Mami Rita.
***
Arjun berjalan di sepanjang koridor rumah sakit, senyumnya selalu tersungging menapaki tiap petak keramik pada lantai yang diinjaknya. Wajah berseri-seri dan bibir yang terus menyenandungkan lagu kebahagiaan selalu ia ulang dengan mata bening penuh binar. Beberapa kali Ibu jari dan telunjuknya memutar-mutar benda asing pada jari manis kirinya, seolah ada perasaan baru yang berkumpul pada cincin emas putih bermata berlian tersebut.
Sepanjang sapaan selamat pagi dari para rekan dan kenalan Arjun di rumah sakit, terdengar bagai ucapan ‘Selamat bertunangan’ bagi telinganya. Kebahagiaan yang terlalu berlebihan, namun memang begitulah adanya. Perasaan baru yang sulit dituliskan dalam lembaran, yang sulit diucapkan lewat sekedar kata, namun dapat menyebarkan oksitosin hingga ke seluruh tubuhnya.
Hingga terdengar suara seorang gadis yang memanggil-manggil namanya dengan lembut. Arjun pun membalikkan tubuhnya secara spontan, menatap si pemilik suara tanpa menduga-duga siapa dia, namun justru tindakkan berbalik badan itu membuat senyumnya lenyap dalam seketika.
“Mas Arjun...”
Arjun melihat gadis cantik itu tersenyum lebar padanya, menggunakan pakaian bebas dengan atasan dan bawahan berwarna hijau yang berpadu padan. Tanpa bertanya ataupun membuka suara, Arjun membalikkan tubuhnya kembali dan meneruskan langkah semakin cepat menuju ruangan praktiknya.
Diana spontan mengikuti langkah lebar Arjun dengan cepat, berharap langkahnya tak lebih pendek dari pria itu.
“Aku 2 hari berturut-turut datang ke rumah Mas Arjun loh, tapi mas selalu enggak ada di rumah.” Ujar Diana dengan suara bergetar karena melangkah tergopoh-gopoh.
“Ah itu kamu rupanya.” Ucap Arjun membatin. Tetap mengabaikan Diana yang sangat tampak berharap memperoleh jawaban darinya.
Diana menatap Arjun dengan lirikan matanya, ia terus menunggu Arjun untuk membuka suara, namun apa yang ia harapkan hanya sebuah kesia-siaan. Diana terus mengikuti Arjun hingga masuk ke dalam ruang praktik yang kosong itu.
“Kenapa ikut masuk?”
“Kok ketus sih sama aku? Padahal aku sedang off loh, tapi aku bela-belain datang untuk nemuin Mas Arjun ke sini.” Ujar Diana dengan wajah kecewa.
“Untuk?” sahut Arjun singkat.
“Untuk minta maaf sama Mas Arjun.”
“Karena?” jawab Arjun masih singkat tanpa menoleh pada wajah Diana.
“Karena sudah mencium bibir manis Mas Arjun tiba-tiba.” Ucapan Diana membuat mata Arjun membelalak padanya.
“Mending kamu keluar deh! Jangan dekat-dekat aku lagi!” usir Arjun dengan nada semakin ketus.
“Mas aku mau minta maaf, aku mau memperbaiki hubungan kita.”
“Hubungan?” tanya Arjun memicingkan mata.
“Maksudku pertemanan, hubungan rekan kerja, kenalan, atau apapun itu. Aku menyesal atas perbuatanku, aku janji enggak akan berbuat nekat lagi.” Ujar Diana dengan mengatupkan kedua tangannya, mengiba penuh permohonan.
“Aku belum bisa memaafkan perbuatanmu itu. Apalagi kamu juga berusaha mengadu domba aku dengan Dina kan waktu itu?!” lirik tajam Arjun pada Diana yang mengkaku.
“Mak-maksudnya adu domba?”
“Enggak usah berlagak pilon! Aku tahu kamu kirim foto ke Dina saat kita di mobil. Bodohnya aku enggak sadar kalau perbuatan kamu waktu itu untuk menjebak aku! Sudahlah Na, mending kamu pergi aja. Jangan ganggu-ganggu hubunganku dengan Dina lagi. Sebentar lagi kami akan menikah, jadi tolong jangan berbuat hal yang membuatku semakin membencimu!” ucapan Arjun bagai sambaran petir bagi Diana.
“Menikah?”
“Iya ME-NI-KAH!” ucap Arjun menekan. “Bahkan kemarin kami sudah bertunangan, nih!” ucap Arjun menunjukkan cincin yang tersemat di jarinya dengan senyum kebanggaan.
“Mas Arjun kenapa kasih tahu aku? Kenapa enggak jaga perasaanku? Mas kan tahu aku cinta banget sama Mas Arjun.” Tanya Diana dengan suara bergetar.
“Kamu juga tahu kan kalau aku enggak cinta kamu! Kamu harus tahu seserius apa hubungan aku dengan Dina, jadi aku minta tolong sama kamu, sudahilah usahamu itu. Sia-sia, Na! Mending kamu cari jodoh yang lain aja!” ujar Arjun menegaskan.
Tanpa berucap Diana keluar dari ruangan Arjun dengan menangis, ia membanting pintu itu dengan kuat dan berlari menuju pintu keluar rumah sakit.
“Lihat aja ya kalian!” gumam Diana sambil terus berlari.
***
Berlanjut kiriman salinan surat kontrak serta hasil tes DNA Fahri, lalu rekaman suara saat Pak Permana memutus hubungan keluarga dengan Fadhil dan menceraikan Bu Alisa, dan sekarang Rani mengirimkan video panas dirinya dengan Pak Permana yang bermain di atas ranjang tanpa sehelai pakaian yang menutupinya. Dan semua ini dengan sengaja Rani kirimkan melalui kurir khusus ke Grup A.
Di dalam kirimannya yang keempat itu, Rani menuliskan sebuah catatan pada Pak Permana yang langsung mengguncang tubuhnya.
“Om, aku masih ada 1 hadiah lagi loh. Sebagai informasi, hadiah kelimaku itu tentang racauan om saat mabuk. Kodenya adalah PENGGELAPAN DANA.” Tulis Rani pada selembar kertas putih berukuran kecil yang diselipkan bersama flashdisk berisikan video panasnya dengan Rani.
“DASAR JA*ANG! Perse*an dengan pela*ur macam kamu!” geram Pak Permana merobek-robek kecil tulisan itu, meremasnya, dan memasukkan kembali keping-keping tersebut pada saku celananya.
“Aku tidak peduli dengan ancamanmu! Kamu kira aku tidak dapat melakukan apapun kepadamu, hah? Rani... Rani... Andai kamu tidak bermain-main dengan pria lain, mungkin aku masih mempertahankan dirimu disisiku!” senyum licik Pak Permana terukir jelas disudut bibirnya.
Dengan satu kali tekan, Pak Permana mulai menghubungi seseorang, memerintahkan sesuatu dengan nada berhati-hati, menekan kata demi kata agar perintahnya dapat dicerna oleh lawan bicara di seberang panggilan selulernya.
Setelah mengakhiri panggilan, Pak Permana menghempaskan tubuhnya dalam posisi terduduk pada sofa di belakangnya. Ia tersenyum lebar dengan tatapan dingin yang menakutkan. Seringainya yang tak dapat ditebak mungkin bisa membuat siapa pun yang menatapnya bergidik ngeri sesaat.
***
Setelah mengalami penolakan dari Arjun, saat itu juga Diana memutuskan pergi dari rumah sakit. Lagi-lagi Diana menyambangi rumah Arjun. Entah apa yang ada di pikirannya, saat Arjun sedang melakukan praktik, dia justru mendatangi rumah mewah itu tanpa izinnya.
“Loh, ini kan mbak yang dua kali berturut-turut datang kemarin. Hari ini masih mau mencari Mas Arjun? Tapi maaf mbak, Mas Arjun sedang kerja. Biasanya sampai rumah sekitar jam enam-an.” Ujar Pak Wiluyo dari balik pagar yang masih tertutup.
“Saya mau mencari ibunya Mas Arjun, Pak.” Jawab Diana dengan raut wajah menegang.
“Mau ketemu sama ibu?” tanya Pak Wiluyo memastikan.
“Iya.” Jawab Diana mengangguk. “Ada di rumahkan, Pak?”
“Ibu tidak ada di rumah. Kalau tidak ke kantor ya ke toko.”
“Boleh saya tahu alamatnya di mana ya pak, saya akan datangi beliau saja kalau begitu?!” ujar Rani sembari membasahi bibirnya dengan gugup.
“Saya harus tanya dulu ke ibu, tapi sebelumnya saya juga harus tahu mbak ini siapa dan ada keperluan apa mau ketemu beliau?” tanya Pak Wiluyo menegaskan.
“Sa-saya Diana, kekasih Arjun!”
“Kekasih?!” ujar Pak Wiluyo dengan wajah bingung dan terkejut yang menjadi satu.
Diana mengangguk berkali-kali mendengar pertanyaan Pak Wiluyo yang tampak mencurigainya. “Tolong sampaikan saja begitu pak, karena saya tidak dapat bilang masalah pribadi apa yang ingin saya sampaikan.”
Mendengar ucapan Diana, Pak Wiluyo dengan segera menghubungi Mami Rita. Dari kejauhan Diana dapat melihat Pak Wiluyo yang mengangguk-angguk dan menatapnya menyelidik dari atas hingga ke bawah.
Setelah memperoleh persetujuan, Pak Wiluyo segera memberikan alamat lengkap toko kue Mami Rita pada Diana. Tanpa berlama-lama, usai mengucapkan terima kasih, Diana langsung melajukan mobilnya ke tempat yang dituju.
Sekitar 20 menit perjalanan, Diana sudah tiba di toko kue milik Mami Rita. Diana langsung mengambil posisi dan duduk di bangku kosong pada sudut ruangan. Tak berselang lama, seorang pelayan datang dan memberikan buku menu kepadanya.
Setelah melakukan pemesanan, Diana meminta pelayan toko itu untuk memanggilkan Mami Rita dengan alasan sudah membuat janji temu.
Bersamaan dengan pesanan yang datang, Mami Rita pun mendekati Diana yang menunggunya. Dengan sigap Diana langsung berdiri dari posisi santainya dan menyapa Mami Rita dengan santun.
Setelah salam menyalam dan perkenalan singkat tersebut, Mami Rita duduk dengan tatapan menyelidik pada Diana.
“Saya tidak biasa basa-basi, jadi saya mau langsung penjelasan ke inti saja, apa maksud dari ucapan Diana tadi ke Pak Wiluyo ya?”
“Ma-maafkan saya tante.” Diana menunduk seketika.
“Loh kok malah minta maaf, kenapa?” tanya Mami Rita bingung sembari menegakkan tubuhnya.
“Saya sengaja berbohong tadi, karena saya ingin sekali bisa bertemu dengan tante.” Jawab Diana masih menunduk namun mencuri pandang ke Mami Rita.
“Sebenarnya tanpa kamu bilang pun saya tahu kamu berbohong.” Senyum Mami Rita penuh arti.
“Kok bisa tante?”
“Karena saya sangat mengenal baik bagaimana anak saya. Arjun itu dari dulu banyak sekali kekasihnya, dia sering gonta-ganti perempuan ini dan itu, bahkan yang ngaku-ngaku juga banyak. Tapi Arjun selalu kenalkan kekasihnya ke saya. Dan Diana tidak termasuk yang pernah dikenalkan pada saya.” Ujar Mami Rita tersenyum namun menohok Diana.
“Maaf tante.” Ujar Diana lirih.
“Jadi enggak mungkin kalau sampai saya percaya begitu saja. Saya tidak tahu apa alasan kamu berbohong pada saya, tapi saya tahu anak saya itu tidak pernah bermain-main dengan perempuan mana pun. “
“Saya tahu itu tante, karenanya saya harus bilang ini ke tante. Saya takut Mas Arjun yang malah kena tipu sama Dina.” Jawab Diana to the point dengan menggebu-gebu.
“Dina?” Mami Rita menegakkan tubuh, mengernyitkan dahinya, dan kembali memastikan pendengarannya. “Apa maksudnya ya?”
“Saya akan jujur sama tante, semuanya. Saya memang menyukai Mas Arjun, sangat. Tapi saya juga tidak rela kalau Mas Arjun dan tante tidak mengetahui apapun tentang Dina.”
“Tunggu-tunggu-tunggu.” Mami Rita menginterupsi Diana dengan dua telapak tangan yang merenggang lebar di hadapan tubuhnya. “Kenapa tiba-tiba bahas Dina? Kamu ini sebenarnya siapa sih? Kok tahu tentang Dina? Sebentar, tante masih bingung.”
Diana membiarkan Mami Rita terdiam sesaat sampai ia memperoleh tanda bahwa Mami Rita telah siap mendengar penjelasannya.
“Jadi begini tante, Diana dan Dina itu pernah satu SD. Tapi waktu kelas 5 SD Dina tiba-tiba pindah, tapi saya tidak tahu kenapa.”
“Terus?”
“Nah jadi karena saya tertarik dengan Mas Arjun, saya coba cari-cari informasi tentang Dina. Saya benar-benar tidak berniat apa-apa sama sekali, saya hanya ingin Mas Arjun benar-benar memperoleh pendamping yang tepat, itu saja! Sungguh.”
“Lalu?”
“Sa-saya dapat informasi yang tidak saya duga tante.” Ujar Diana dengan wajah keraguan.
“Katakan saja.”
“Kebetulan ada salah satu teman saya yang pernah satu SMA dengan Dina. Eehhmmm... Katanya...”
“Iya, katanya kenapa?” tanya Mami Rita tidak sabar.
“Katanya dulu Dina juga pindah dari SMA itu karena dia pernah dikerjai sama kakak kelas.”
“Maksudnya dikerjai?” tanya Mami Rita dengan waswas dan jantung berdebar.
“Dia pernah jadi korban pemerkosaan sama cowok-cowok di klub basket.” Ucap Diana dengan suara pelan namun pasti.
“APA?! Kamu jangan bercanda ya!” ucap Mami Rita dengan nada meninggi dan berdiri dari posisi duduknya secara spontan.
“Serius tante.” Diana menarik tangan Mami Rita untuk kembali duduk di posisinya sembari menengok ke kanan dan kiri pada para pengunjung lain yang kini menatap ke arah mereka berdua.
“Jangan asal kamu! Kalau benar begitu, Arjun pasti akan memberi tahu saya!”
“Tidak mungkin Mas Arjun akan bilang sama tante, sedangkan dia tahu sesuatu tentang Dina saja dia tetap diam tuh.”
“Tahu apa? Tidak memberi tahu apa?”
“Memang tante tahu kalau Dina sudah pernah menikah?!”
“APA?!” teriak Mami Rita lebih keras dari sebelumnya, memelototi Diana yang merasa malu menjadi tontonan pengunjung lain.
(Sudah kebuka satu persatu ya soal Medina 😌) Oh iya readers, Author mau cerita sedikit nih soal nyeri di pergelangan Author. Jadi ini tipe menetap, so kalau penggunaan berlebih sakit ini akan muncul kembali. 😭 Jadi maafkan ya kalau up nya pelan-pelan. tapi kalau nyerinya sudah mendingan bakal langsung di luncurkan ke tangan para readers semua kok. Tetap dukung AIS ya... 💜