AN INEFFABLE SERENDIPITY

AN INEFFABLE SERENDIPITY
Chapter 87. Menangisi Pria Itu



Mecca dan Fadhil bangun dengan wajah kusam, kantung mata yang terlihat agak gelap, serta mata lelah yang sayu.


“Kak Dina nangis semalaman, pasti mas terganggu ya tidurnya? Mas izin enggak kerja aja dulu ya?”


“Aku harus kerja yank, hari ini aku ada meeting sama bagian advertising. Aku bukan terganggu dengar suara Dina yang nangis semalaman, tapi aku kepikiran sama Arjun. Aku kecewa banget sama kecerobohannya!”


“Mas tenang ya, sabar. Mas nanti tolong bicara sama Kak Arjun, aku akan di sini dulu temani Kak Dina. Mungkin nanti aku akan ke restoran sebentar, lalu kembali lagi ke rumah ayah.”


“Iya yank, tapi soal Arjun, ah... Jangan minta aku bicara dulu sama dia, aku masih kecewa berat!”


“Iya deh, Mas. Ya sudah mas siap-siap gih kalau gitu, aku ke bawah dulu siapin sarapan.”


“Tapi yank, semalam kita terlalu sibuk sama masalah Dina dan Arjun. Aku sampai lupa kabari mama kalau kita menginap di tempat ayah.”


“Tenang mas, tadi habis shalat subuh aku sudah telepon mama, kasih kabar kita di rumah ayah.”


“Tanggap sekali istriku ini, love you bubu, love you boy.” Fadhil mengecup kening, pipi, bibir, serta perut Mecca secara bergantian


Dengan langkah gontai Fadhil berdiri dari ranjangnya dan pergi melangkahkan kakinya memasuki kamar mandi. Sedangkan Mecca langsung keluar kamar, menuruni tangga dan menuju ke dapur.


Mecca mulai mencuci bersih tangannya, lalu mulai menunjukkan kelihaiannya dalam soal dapur. Mecca mulai memasak sesuai dengan bahan-bahan yang telah disiapkan oleh Bi Mirah seperti instruksinya.


Mecca hanya menyiapkan club sandwich sebagai sarapan pagi ini, menu yang tidak perlu waktu lama dalam pembuatannya. Mecca juga menyempatkan membuat bekal untuk suami serta ayahnya, dua porsi nasi goreng andalannya.



“Sip, sudah beres deh!” ujar Mecca menepuk-nepuk tangannya.


“Mbak Mecca.” Panggil Bi Mirah lembut.


“Iya, Bi?” Mecca membalikkan tubuhnya pada si pemilik suara.


“Itu mbak, ehm... Mbak Dina enggak mau keluar kamar dulu katanya.” Ujar Bi Mirah takut-takut.


“Oh begitu?! Hem... Ya sudah biarin aja, Bi.”


“Anu mbak... Apa tidak diantarkan saja makanannya ke atas?” ujar Bi Mirah memberikan saran.


“Enggak usah, Bi. Percuma, enggak akan dimakan sama Kak Dina. Nanti kalau lapar juga turun.”


“Baik kalau begitu mbak, bibi permisi siram tanaman dulu.”


“Nanti saja itu dikerjakan bi, Bi Mirah sarapan pagi dulu aja, sudah aku siapkan dan taruh di tudung saji dekat lemari es.”


“Terima kasih banyak mbak.” Bi Mirah mengangguk sungkan. Mecca hanya mengangguk dan balas tersenyum.


Meja makan sudah terisi oleh Pak Pradipta, Fadhil, dan juga Mecca. Namun atmosfer dingin dari semalam itu masih saja terasa mencekam. Baik Fadhil ataupun Mecca tidak ada yang berani membuka suara terlebih dahulu.


Fadhil dan Mecca tahu benar bahwa ayahnya itu masih dilanda kekecewaan yang mendalam. Apa lagi anak yang sangat dipercayanya berbuat hal yang paling ia benci.


Beberapa kali pak Pradipta menarik dan menghembuskan nafas dengan kasar. Seolah-olah mengusir segala kegundahan dari hati dan pikirannya.


“Dia tidak mau makan?” tanya Pak Pradipta membuka pembicaraan.


“Dia?! Oh maksud ayah, Kak Dina? Ehm, iya yah.” Jawab Mecca seadanya.


“Huft... Ayah pikir dia sudah dewasa, ternyata membedakan baik dan buruk saja tidak bisa!” ujar Pak Pradipta setengah menggeram. “Temanmu itu, apa dia akan melepaskan Dina begitu saja, Dhil?” ucap Pak Pradipta tanpa menatap Fadhil, matanya masih saja fokus pada isi piringnya.


“Arjun bukan pria yang tidak bertanggungjawab, Yah.” Pak Pradipta mengangguk-anggukkan kepalanya mendengar jawaban Fadhil. Seolah jawaban Fadhil adalah sesuatu hal yang ingin ia percaya.


“Yah, sarapannya enggak enak ya?” tanya Mecca menatap piring Pak Pradipta.


“Eh... Enak kok, Nak!”


“Kalau enak kok cuma dibolak-balik aja? Mecca belum ada lihat ayah makan loh.”


“Ini ayah mau makan, lihat ya!” ujar Pak Pradipta lalu melahap sandwichnya dengan suapan besar.


Mecca tersenyum bahagia melihat tingkah ayahnya yang berusaha menyenangkannya. Mecca sengaja tidak melepas pandangan matanya pada Pak Pradipta hingga beliau menghabiskan seluruh sarapannya.


***


“Dokter... Dokter Arjun!” panggil Diana dengan gemas.


“Eh... Kenapa?” Arjun tersadar dari lamunannya.


“Dokter kenapa sih dari tadi? Kok hari ini seperti tidak fokus?”


“Maaf Na, tadi kamu ngomong apa?”


“Sebentar, dokter lagi berantem ya sama Dina? Apa gara-gara Diana numpang mobil dokter kemarin?”


“Fokus kerja, Na. Ngobrol tetang kerjaan aja, kamu tadi ngomong apa?”


“Padahal dari tadi dokter loh yang tidak fokus!”


“Iya-iya maaf. Tadi kamu ngomong apa sih, ulang dong?!”


“Pasien berikutnya sudah siap dipanggil belum? Itu tadi yang Diana tanya.”


“Pang-panggil dong, kalau begituan jangan tanya-tanya, langsung saja.”


“Bagaimana tidak ditanya kalau dokter saja hilang fokus, nanti malah salah diagnosa. Mending dokter minum dulu deh sebelum pasien berikutnya masuk.” Ujar Diana ketus.


“Perempuan biasa-biasa begitu saja dipikirin, cemburuan banget sih! Bikin Arjunaku jadi enggak semangat. Minder kali dia setelah lihat aku, cih...!” cibir Diana dalam hati dengan raut wajah sebal.


Setelah jadwal praktik Arjun usai di satu rumah sakit, ia akan beralih lagi ke rumah sakit kedua, dan ketiga secara berurutan. Bahkan hari ini, rasa-rasanya Arjun ingin terus bekerja. Mungkin dalam pikirannya, jika dirinya semakin sibuk itu akan semakin baik untuk otaknya menghilangkan segala kegelisahan tentang Medina.


Arjun pun mulai berpikir, apa yang harus ia lakukan agar membuat dirinya selalu sibuk. Arjun pun mulai membuka ponselnya dan membuat pengumuman singkat pada WAG seprofesinya, menawarkan diri sebagai dokter pengganti jika ada yang berhalangan hadir.


Tak butuh waktu lama baginya untuk memperoleh tambahan pekerjaan, ada 2 temannya yang meminta bantuan Arjun sekaligus. Sayangnya jadwal mereka bertabrakan, sehingga Arjun hanya dapat memilih satu di antara keduanya.


Sesaat Arjun dapat tertawa ketika saling bersahut-sahutan dalam aplikasi obrolannya tersebut, pasalnya ia disebut sebagai PHP (Pemberi Harapan Palsu) serta menerima berbagai macam makian dari kawan-kawannya yang lain.


“Pada enggak pintar maki orang nih semua, enggak ada yang bisa bikin sakit hati, ckckck...” gumam Arjun menggeleng-gelengkan kepala.


Namun saat ia mulai melihat wallpaper layar ponselnya, hatinya tiba-tiba merasa sakit. Wajah senyumnya pun dengan seketika berubah menjadi datar. Ingatannya muncul kembali pada penolakan Medina terhadapnya, penolakan yang sudah berhenti ia coba untuk hitung.


“Kenapa sih kamu tolak niat baikku terus, Din? Apa yang buat kamu ragu sama aku? Di mana letak kekurangan dan keburukanku yang membuatmu enggak yakin sama aku?” ujar Arjun masih menatap layar ponselnya.



“Kalau alasanmu karena trauma itu, aku enggak mempersalahkannya Din, kita bisa jalani bersama pelan-pelan. Aku juga sudah bilang ini berkali-kali, tapi kenapa kamu masih aja tolak aku untuk menikah?”


“Apa karena keperawanan sialan itu? Kamu enggak perlu merasa bersalah, aku tidak peduli soal itu lagi! Aku menerimamu apa adanya, harus berapa kali sih aku tegasin ke kamu? Huft... Bahkan saat citraku di depan ayahmu sudah hancur berkeping-keping, kamu enggak bantu aku sama sekali untuk memulihkan nama baikku! Kenapa kamu malah minta aku untuk menjauh lagi sih?!” ucapan Arjun yang semula lembut berubah menjadi amarah. Arjun mulai menggeram dan menekan-nekan kepalanya yang seakan ingin pecah.


“Ah... Sudahlah! Dipikir terus juga enggak guna, mending aku langsung ke kerjaanku selanjutnya.


Arjun pun mengantongi ponselnya, membawa tas, serta menaruh jubah kebanggaannya pada hanger di sebelahnya. Tanpa berlama-lama Arjun mulai meninggalkan ruangan.


Sesampainya di tempat parkir, Arjun langsung membuka pintu mobil, namun ia melihat Diana yang mulai berlari menggunakan seragam putihnya memanggil namanya berkali-kali.


“Dokter Arjun, tunggu!”


Arjun pun menghentikan pergerakannya yang ingin memasuki mobil, ia menunggu kedatangan Diana yang semakin mendekat padanya.


Diana berhenti tepat di hadapan Arjun dengan terengah-engah. Diana memberikan kode pada Arjun untuk masuk ke dalam mobil dengan tangannya. Walaupun masih merasa bingung, namun Arjun menuruti permintaan Diana padanya.


“Na, kamu ngapain sih pakai buka-buka kancing segala? Kalau ada yang lihat nanti bisa salah paham loh!” protes Arjun tidak suka sambil memalingkan wajahnya.


“Di sini kan sepi, Mas Arjun doang yang lihat kok, hehehe...” cengir Diana tanpa malu.


“Tapi aku ini kan laki-laki, kamu jangan sembarangan begitu dong!”


“Cuma dua kancing doang mas, apa ngaruhnya sih? Lagian aku kepanasan habis kejar-kejar Mas Arjun tadi!” Diana cemberut pura-pura merasa kesal.


“Ya sudah buruan, apa tujuan kamu panggil aku? Aku masih ada praktik di tempat lain nih!” jawab Arjun dengan ketus.


“Sabar dong mas, aku kan masih capek.”


“Huft...” Arjun membuang nafasnya dengan kasar, menunjukkan dirinya tak suka berlama-lama dengan Diana.


Arjun memberikan waktu bagi Diana untuk menetralkan tubuhnya yang memanas akibat berlarian tadi. Setelah 5 menit berlalu, Arjun kembali menanyakan hal yang sama kepada Diana.


“Terus tujuan kamu panggil aku apa?”


“Diana mau minta maaf!”


“Untuk?”


“Semuanya!”


“Kamu merasa bersalah di bagian apa?”


“Di bagian ini!” Diana setengah berdiri dari tempat duduknya dan mencondongkan dirinya ke arah Arjun, memberikan Arjun kecupan serta lu*atan singkat di bibir bawahnya.


Pergerakan cepat Diana membuat Arjun tidak dapat menolak saat itu juga. Namun setelahnya Arjun langsung mendorong tubuh Diana, menjauhkannya dari tubuhnya.


“Apa-apaan sih, Na?!” teriak Arjun dengan emosi. Mengelap sisa lu*atan singkat Diana yang masih terasa di bibirnya.


“Jangan merasa sakit hati atau mikirin Dina lagi mas, tinggalkan dia! Aku akan jadi wanita yang lebih baik untuk Mas Arjun!” mendengar ucapan Diana membuat Arjun membelalakkan matanya dengan lebar.


“Keluar, Na!”


“Mas...!”


“Aku bilang keluar!”


“Tapi mas, aku...”


“KELUAR!” geram Arjun menekan katanya yang mulai bergetar.


Diana mulai takut melihat ekspresi Arjun, ia takut Arjun membenci kenekatannya itu. Namun ia tidak menyesal telah berterus terang pada Arjun tentang keinginan dan perasaannya. Jika karena ini Arjun membencinya, Diana tak akan menyerah untuk membuat Arjun menerimanya.


Dengan kaki yang terasa berat, Diana keluar dari mobil Arjun. Menjauh beberapa langkah dari sana. Tanpa melihat ke arah Diana, Arjun langsung melajukan mobilnya menjauhi sosok wanita yang tak ingin ditatapnya lagi itu.


Dalam perjalanan, Arjun menghubungi seseorang. Meminta untuk tidak menempatkan Diana lagi di setiap praktiknya. Tindakannya yang tak tegas pada Diana membuat dirinya merasakan imbas yang tak terduga.


“Shit!” maki Arjun pada dirinya sendiri.


***


Medina masih mengunci dirinya di kamar, merutuki segala kebodohan dan kecerobohannya pada kepercayaan Pak Pradipta dan juga Arjun. Berkali-kali Bi Mirah mencoba membujuknya untuk keluar dan makan terlebih dahulu, namun usahanya selalu mendapat penolakan.


“Aku harus apa? Pasti Arjun benci aku, pasti ayah juga akan benci Arjun, bahkan Fadhil pun ikut marah sama Arjun. Padahal semua salahku! Salahku! Huhuhu...” Tangis Medina pecah.



“Aku cuma buat Arjun dapat penilaian buruk! Arjun pasti marah ke aku, dia bahkan enggak kirim pesan singkat apapun ke aku dari semalam.”


“Arjun pasti kesal karena aku lagi-lagi ngelarang dia datang dan mendekat. Dia pasti sudah lelah dengan sikapku yang terus menolak. Ma-af... Maafkan aku, Be! Aku enggak seberharga itu untuk kamu perjuangkan, huhuhu...”


Berkali-kali Medina mengulang-ulang ucapannya, menangisi sikapnya sendiri. Entah berapa lama dirinya menangis dan duduk dilantai yang dingin, namun tubuhnya yang mulai lelah perlahan membuat matanya tertutup, oleng, dan terlelap.


Mecca yang baru tiba di rumah Pak Pradipta, mulai mendatangi Bi Mirah dan mewawancarainya.


“Bagaimana bi, Kak Dina sudah keluar kamar?”


“Belum Mbak Mecca.”


“Kalau makan?”


“Belum juga, Mbak.”


“Masih nangis?”


“Tidak, sejam lalu saya ke kamarnya sudah hening.”


“Ya sudah bi, terima kasih ya.”


“Sama-sama mbak, saya permisi ke dapur dulu.”


“Silakan.”


Mecca mulai menaiki tangga, mengetuk pelan kamar Medina. Hingga enam kali ketukan, Medina tetap tidak menggubris panggilan Mecca.


“Kak, lagi apa?” Mecca menempelkan telinganya pada pintu kamar Medina.


“Kakak enggak lapar?” kesunyian masih saja terasa.


“Apa tidur ya? Hmmm... Ya sudah deh biarin aja dulu.” Gumam Mecca sambil melangkah pergi.


Mecca menyamankan duduknya di ranjang, membuka ponselnya dan mulai mencari kontak Arjun pada aplikasi obrolannya.


Mecca : “Hai kak, sibuk?” setelah menunggu tak sampai 1 menit, Arjun mulai membalas pesan Mecca.


Arjun : “Aku baru sampai tempat praktik keduaku.”


Mecca : “Ya sudah kak, selamat bekerja.”


Arjun : “Ada apa? Apa ada kabar untukku?”


Mecca : “Tidak, aku hanya ingin tahu keadaan Kak Arjun. Syukurlah kakak baik-baik saja.”


Arjun : “Kakakmu juga baik-kan?”


Mecca : “Mungkin.”


Arjun : “Maksudnya?”


Mecca : “Datang dan lihatlah sendiri!”


Arjun : “Dia melarangku Mecca.”


Mecca : “Berpikirlah harus apa!!!”


Mecca melempar ponselnya menjauh, mengakhiri obrolannya dengan Arjun. Ada rasa lega sekaligus kesal yang bercampur aduk dalam hatinya.


Lega karena Arjun sepertinya baik-baik saja, namun kesal karena Arjun dapat tetap menjalankan aktivitasnya tanpa beban, tidak seperti kakaknya yang malah mengunci diri, berlapar-laparan, dan menangisi pria itu.


“Kak Dina bodoh!” gerutu Mecca kesal.