
Selama 1 minggu lebih persiapan yang Rani lakukan untuk pulang ke tanah airnya. Kini ia dan putranya telah tiba di Indonesia.
Ia sudah berada di dalam sebuah taksi yang akan membawanya ke rumah Pak Permana. Dengan antusias ia menceritakan beberapa hal kepada putra kecilnya itu.
“Sayang, sekarang kita akan ke rumah daddy, are you happy?”
“So much!” jawab anak lelaki itu bahagia sembari merentangkan kedua tangannya.
Rani memeluk putranya hangat, ia mengecup pangkal kepala anaknya dengan sayang. Ia mulai membayangkan banyak hal di kepalanya, hal itu membuatnya tak henti-henti mengumbar senyum bahagia.
“Kita akan ketemu lagi sayang. Aku sangat rindu kamu Fadhil.” Gumamnya pelan.
***
Siang ini Mecca masih sibuk di restoran. Sejak awal restoran dibuka untuk umum, para pembeli selalu datang secara berbondong-bondong. Mecca sangat bersyukur usaha barunya ini dapat diterima baik di masyarakat.
Banyak sekali catatan positif yang ditinggalkan para konsumennya, membuat Mecca dan Medina semakin semangat menjalankan restoran tersebut.
Walau di tengah kesibukannya, Mecca masih menyempatkan diri untuk menyiapkan makan siang untuk Fadhil. Biasanya jika Fadhil sedang tidak ada pertemuan dengan kliennya, ia akan mengantar makan siang secara langsung atau ia kirimkan melalui kurir. Namun akhir-akhir ini Mecca sedikit khawatir, karena setiap makan siang Fadhil lebih suka membeli makanan di luar daripada menerima kiriman darinya.
Sebelum waktu makan siang tiba, Mecca dengan buru-buru mengambil ponselnya. Ia mulai melihat histori panggilan terakhirnya dan mulai melakukan panggilan telepon.
Mecca : “Assalamualaikum mas, sibuk?”
Fadhil : “Wa’alaikumsalam yank. Enggak, ini lagi ngobrol sama Faiz.”
Mecca : “Mas siang ini mau makan apa dan di mana?”
Fadhil : “Di kantor saja yank. Ini lagi pesan sama Nindy.”
Mecca : “Loh, enggak mau aku bawain? Kenapa semingguan ini Mas Fadhil lebih suka beli di luar sih? Memangnya mas mau makan apa siang ini?”
Fadhil : “Aku lagi pengen saja yank. Tadi pesan mie ayam ke Nindy.”
Mecca : “Hah? Lagi? Mas serius deh sudah satu minggu penuh loh Mas Fadhil makan siang mie ayam terus, kenapa?”
Fadhil : “Aku enggak tahu juga yank, ya aku cuma mau makan mie ayam saja. Kalau makanan lain aku enggak nafsu.”
Mecca : “Ya ampun. Ya sudah, tapi jangan banyak-banyak pakai sambal dan sausnya ya!”
Fadhil : “Siap nyonya!”
Percakapan telepon itu pun berakhir secara singkat. Mecca pun kembali lagi mengerjakan aktivitasnya yang sempat tertunda.
Tak berselang lama, seseorang menghampiri Mecca dan menyapanya dengan ramah.
“Hai Mecca.”
“Eh... Kak Egy!” jawab Mecca terkejut.
“Selamat ya untuk restorannya. Maaf aku baru bisa datang dan mengucapkan selamatnya sekarang.” Ujar Egy sembari menyerahkan buket bunga kepada Mecca. Pada saat pembukaan restoran, Mecca memang mengundang Egy, namun ia tidak dapat hadir saat itu.
“Wah cantik sekali bunga tulipnya. Terima kasih ya kak.” Ujar Mecca sembari menerima buket bunga dari Egy.
“Wah restoran kamu bagus banget. Jadi tidak sabar mau coba menu makanannya. Kamu turun tangan sendiri untuk masak?”
“Terima kasih kak. Ada kokinya sih, cuma untuk standar rasa dan sebagainya dalam pengawasanku atau kakakku. Kak Egy sibuk apa sekarang?”
“Ehm... Masih di Grup R. Tapi aku dan Karina baru saja pulang dari Kuala Lumpur, kami ada job di sana. Lumayan lama sih kemarin tinggal di sana, sekitar 3 bulan gitu.”
“Oh begitu. Oh ya... Kak Egy mau pesan apa? Aku traktir hari ini.” Tanya Mecca sembari memanggil salah satu pelayan restorannya.
“Jangan traktirlah. Aku kesini kan memang mau makan siang.”
“Enggak apa-apa kak, santai saja.”
“Jangan... Nanti aku malah sungkan untuk mampir lagi.”
“Ya sudah deh terserah Kak Egy saja.” Jawab Mecca tersenyum lebar.
Setelah pesanan Egy datang, Mecca meninggalkan Egy menyantap makanannya. Ia tidak ingin terlalu berlama-lama bersama Egy. Walau saat ini Fadhil tidak berada disisinya, namun ia berusaha sebaik mungkin menjaga hati suaminya agar tidak salah paham.
“Ehm... Pantas si Karina itu enggak pernah ganggu Mas Fadhil selama 3 bulan ini, rupanya dia ke KL. Coba saja dia menetap di sana pasti lebih bagus.” Gumam Mecca sembari melakukan pencatatan di pembukuannya.
Dari kejauhan Egy memperhatikan Mecca, bibir mungilnya yang terus berkomat-kamit tampak lucu di mata Egy. Walau ia tidak mengerti apa yang Mecca gumamkan, namun ekspresinya membuat Egy tertawa geli. Ia pun mengambil ponselnya dan merekam tingkah Mecca yang menggemaskan baginya.
“Mec, aku kembali ke kantor dulu ya. Lain kali kita ketemu lagi, boleh kan?” ujar Egy dari kejauhan.
“Oke kak, hati-hati ya.” Jawabnya singkat.
***
Di Kediaman Keluarga Permana.
--------------------------------------
Rani dan putranya telah sampai di depan pagar rumah keluarga Permana. Dengan menggenggam erat tangan mungil putranya, ia mulai mendekati pintu pagar itu. Seketika penjaga rumah keluarga Permana mendekatinya dan mulai memberi beberapa pertanyaan.
“Maaf, ibu ini siapa ya? Mau mencari siapa dan ada keperluan apa?” tanya penjaga rumah tersebut dengan lembut.
“Saya Rani dan ini anak saya. Saya kemari ingin bertemu Om Permana.”
“Kalau boleh tahu ada urusan apa ya?”
“Masalah keluarga.”
“Silakan tunggu di pos jaga, saya hubungi ke dalam dulu.” Ujar penjaga itu ramah. Ia pun segera membuka pintu pagar dan berlari ke pos jaganya.
Rani mengikuti penjaga itu dengan langkah pelan. Ia melihat penjaga tersebut tengah sibuk melakukan panggilan telepon.
“Maaf, namanya Rani siapa?” tanya penjaga itu lagi di tengah pembicaraannya melalui telepon.
“Maharani.” Jawabnya singkat. Penjaga itu pun kembali berbicara melalui telepon sebentar lalu menutupnya.
“Maaf Bu Rani, Pak Permana menolak kedatangan ibu.” Jawab penjaga itu dengan tidak enak hati.
“Boleh sambungkan saya langsung ke Pak Permana? Saya benar-benar harus ketemu beliau.”
“Maaf bu, saya takut dimarahi nanti.”
“Saya mohon pak, jika Pak Permana marah saya yang tanggung jawab.” Ujar Rani memelas.
Setelah berusaha memohon berkali-kali, penjaga itu pun merasa kasihan padanya. Ia lalu mengizinkan Rani menggunakan telepon di pos jaganya yang akan langsung tersambung ke dalam rumah tersebut.
Pak Permana : “Halo.”
Rani : “Om, saya Rani. Masih ingat?”
Pak Permana : “Mau apa lagi kamu?”
Rani : “Saya mau minta pertanggungjawaban keluarga Permana!”
Pak Permana : “Pertanggungjawaban apa? Sebaiknya kamu pergi dari rumah ini sekarang!”
Rani : “Saya membawa anak keturunan keluarga Permana. Anak yang saya lahirkan dengan pertaruhan nyawa.”
Pak Permana : “Apa?! Apa sih maksud kamu sebenarnya?”
Rani : “Om mau menerima saya masuk ke rumah sekarang atau om mau saya langsung ke media?” ancam Rani tegas.
Pak Permana : “Kasihkan telepon ini ke Suryo, penjaga yang ada di situ.”
Setelah beberapa lama percakapan itu berlangsung, Rani dan putranya diantarkan masuk ke dalam rumah megah tersebut. Ia dipersilakan menunggu di ruang tamu yang mewah itu.
“Mommy, ini rumah daddy?” tanya anak kecil itu dengan kagum melihat seisi rumah tersebut.
“Iya sayang. Dan ini akan menjadi rumah kamu kelak.”
“Semua ini?”
“Iya semua ini!” ujar Rani antusias.
“Jangan meracuni anak kecil yang masih polos dengan ambisimu itu!” tegur Pak Permana dengan suara beratnya.
Kedatangan Pak Permana dan Bu Alisa membuat Rani yang semula duduk langsung berdiri dan menegakkan postur tubuhnya.
Happy Reading and Enjoy 🤩
Jangan lupa klik favorit, like, komentar, vote, dan rate 5 ⭐ ya agar Author makin semangat dalam berkarya. Untuk mengetahui cara vote, silahkan para readers mampir pada halaman ATTENTION ya.
\=> Jangan jadi penikmat dan silent readers, tunjukkan diri dengan like ya!
Terima Kasih.