
“Na, Aku masih ada pasien?” tanya Arjun pada Diana, perawat yang membantunya.
“Masih ada 4 lagi Dok, tapi nomor antrean yang sekarang izin dulu ke kamar mandi.”
“Oke, lumayan bisa istirahat dulu sebentar.” Jawabnya sembari mengedipkan mata, membuat Diana tersipu malu.
Selama menunggu pasien, Arjun mulai membuka aplikasi chatting di ponselnya. Ia membalas beberapa pesan singkat dari teman-temannya, lalu beralih pada fitur pembaharuan statusnya. Ia menscroll terus ke bawah, mencari-cari beberapa updatean terkini kawan-kawan dekatnya, sampailah pada saat ia melihat pembaharuan status Mecca.
Senyumnya mengembang ketika ia melihat dua sosok wanita yang dikenalnya itu tengah berkeringat deras, namun tidak sedikit pun mengurangi kecantikannya.
“Cantik banget Kakak-beradik ini!” senyumnya merekah indah.
“Dina... Dina... Kamu kapan sih buka hati untuk Aku?” gumamnya lirih.
“Maksudnya Dokter Arjun mau saya buka hati untuk apa?” tanya Diana pada Arjun berdebar.
“Hah? Maksudnya?” tanya Arjun bingung.
“Tadi Dokter sebut nama Saya kan?” tanyanya tertunduk malu.
“Oh itu, bukan...” ujarnya terpotong oleh ketukan pintu.
Tok... Tok... Tok...
“Masuk!” ujar Arjun meninggikan nada. Tanpa Arjun sadari sepasang mata Diana masih menatapnya tajam, menyunggingkan senyum malu yang terpampang jelas di pipi kemerahannya.
“Sudah boleh periksa Anak Saya Dok? Saya orang tua pasien antrean berikutnya.” Ucap wanita muda itu diambang pintu.
“Oh silakan masuk Bu.” Jawab Arjun ramah.
.
.
.
***
Hari demi hari telah berlalu, tak terasa waktu telah tiba dimana Mecca dan Fadhil akan berlibur bersama Arjun dan juga Medina.
Mereka akan melakukan penerbangan pukul 12.10 siang ini dengan pesawat jet pribadi milik keluarga Permana.
Setelah Mecca dan Fadhil menjemput Medina dan berpamitan pada Pak Pradipta yang membekali Mereka dengan berbagai macam nasihat, Mereka pun langsung menuju bandara dimana Arjun telah sampai di sana.
Sesampainya di bandara dan melewati beberapa pemeriksaan kini saatnya Mereka lepas landas.
Fadhil dan Mecca sibuk mengumbar kemesraan, sedangkan Arjun masih berusaha mendekati Medina. Kali ini Medina berusaha membuka diri, ia mencoba untuk merespons setiap pertanyaan Arjun.
Bagai mendapat angin segar, perubahan sikap Medina yang awalnya tertutup, cuek, dan berkesan menghindar dijadikan kesempatan bagi Arjun untuk semakin gencar melayangkan misinya mendapatkan hati Medina.
Walau di setiap ucapannya mendapat tanggapan, namun tak lantas Medina dapat sepenuhnya ditebak. Proteksi dirinya masih kuat untuk Arjun lebih mendekatkan diri. Tapi hal ini, sudah membuat Arjun sedikit bernafas lega, mungkin ini awal baginya dapat melangkah maju dalam meluluh lantahkan si pemilik kunci hati itu.
Sudah satu setengah jam lebih perjalanan yang Mereka lakukan, kini sampailah semua di tempat tujuan. Sekitar 20 menit naik mobil jemputan, lalu disambung dengan menaiki speed boat Mereka habiskan waktu dengan suka cita dan bernyanyi bersama.
Sesampainya di Villa pribadi milik keluarga Permana, terhampar laut luas yang indah memesona. Mecca mulai tak tahan untuk cepat-cepat turun bermain ombak, ia pun menarik Fadhil untuk mengabadikan momen tersebut.
“Mas cepat foto yuk.” Ujar Mecca antusias.
Fadhil pun langsung menyambar ponselnya dan mengambil gambar dirinya dengan Mecca dan menjadikan laut kebiruan itu sebagai latar belakangnya.
“Nanti dilanjut lagi yank, sekarang kita bawa barang-barang dulu ke dalam terus ganti pakaian baru keluar lagi.”
“Iya deh Mas.”
Villa terdiri dari 2 lantai yang sangat luas dan nyaman. Mereka berempat memilih lantai kedua sebagai kamar tidur, karena di sana pemandangan laut sangat indah dipandang.
“Aku sama Mecca di kamar yang tengah ini, Medina di kamar pojok kiri, sedangkan Arjun di pojok kanan dekat tangga.” Ujar Fadhil mengatur pembagian kamar. Medina dan Mecca pun langsung masuk ke kamar yang ditunjuk oleh Fadhil untuk Mereka.
“Kenapa mesti Loe yang di tengah sih?” protes Arjun pada Fadhil.
“Pertama karena kamar di tengah lebih besar, cocok buat pasangan menikah kayak Gue, terus yang kedua buat kasih jarak antara Loe sama Dina.”
“Sialan Loe, enggak bisa bener kasih kesempatan nyerempet dikit!”
Setelah berganti pakaian Mecca, Medina, dan Arjun keluar kamar. Mereka menuju pantai yang tepat berada di depan villa. Sedangkan Fadhil masih menyelesaikan urusan perutnya di kamar mandi.
Medina dan Mecca berjalan di depan, sedangkan Arjun mengikuti dari belakang. Arjun mengeluarkan ponselnya, memotret berkali-kali bentangan laut luas yang jernih memukau mata tersebut.
Arjun mulai melihat punggung Medina, ingin sekali ia mengambil gambar dirinya, ia pun mulai mengarahkan kamera ponselnya dan memotret dengan cepat, namun tindakannya itu disadari Mecca yang tidak sengaja menoleh ke belakang.
Arjun pun sedikit panik, ia langsung mengalihkan pandangan matanya dan mengarahkan ponsel kameranya di sembarang arah. Mecca hanya tersenyum melihat tingkah Arjun yang tak biasa itu, ia pun memutuskan mendekati Arjun.
“Kak Arjun enggak ganti baju?”
“Enggak Mec.”
“Kak Arjun, Aku boleh pinjam HP enggak?”
“Eh, kenapa Mec?” tanya Arjun sedikit gelabakan. Ia takut jika Mecca memeriksa galeri fotonya.
“HPku ketinggalan di kamar, sedangkan Kak Dina enggak bawa HP juga. Aku mau hubungi Mas Fadhil minta dibawakan, boleh ya?” tanya Mecca dengan mimik wajah memelas.
“I-iya deh boleh.” Jawab Arjun yang kemudian menyerahkan ponselnya.
“Thanks Kak.” Ujar Mecca tersenyum manis.
“Sama-sama. Aku ke sana dulu ya, nanti kasih ke Aku kalau sudah teleponnya.”
“Siap.”
Mecca pun menghubungi Fadhil dengan segera. Setelah melakukan panggilan telepon dengan Fadhil, Mecca pun iseng melihat isi galeri foto Arjun. Ia pun tertawa geli melihat hasil curi-curi foto Arjun ke Kakaknya. Semua tampak buram, gambar yang jelas hanya satu, itu pun ada penampakan dirinya yang menangkap basah tindakan curi foto Arjun tadi.
Saat Mecca menatap ke depan, ia melihat Arjun tepat di belakang Medina. Ia rasa pemandangan itu patut diabadikan. Ia pun memotret momen itu dan mengubah judul foto menjadi ‘Hadiah untuk Kak Arjun’, lalu Mecca pun mengembalikan ponsel Arjun yang langsung ia masukan di kantong celananya.
Tak berselang lama, Fadhil pun menghampiri Mecca dengan dada bidangnya yang polos tanpa sehelai pakaian pun.
“Yank, nih HP Kamu.”
“Mana Mas?” jawab Mecca sembari berbalik badan. Betapa terkejutnya Mecca melihat Fadhil bertelanjang dada, ia pun dengan segera menutup tubuh Fadhil dengan pelukannya.
“Baru ditinggal sebentar saja sudah kangen, pakai peluk-peluk segala.”
“Mas kenapa enggak pakai baju?”
“Ini kan pantai yank, wajar kali enggak pakai baju. Lagian di sini enggak ada orang lain, cuma Kita berempat sama pelayan Villa doang kan?”
“Tapi ada Kak Dina, Aku enggak mau Mas pamer badan ih.”
“Ya ampun yank!” jawab Fadhil memutar kedua bola matanya.
“Yuk Mas Kita jauh-jauh dari sini. Jangan dekat-dekat Kak Dina.”
“Masa Kamu cemburu sama Kakak sendiri sih yank?”
“Bukan, tapi Aku mau jaga mata Kak Dina tetap suci.”
“Hahahaha...!” tawa Fadhil meledak.
Mecca dan Fadhil pun saling berkejaran, bermain ombak, dan berenang. Beberapa kali Mereka mengabadikan momen menyenangkan itu dengan berfoto bersama.
Mereka sungguh menikmati hari pertama liburan ini dengan hati bahagia, waktu bermain di pantai Mereka habiskan hingga matahari mulai terbenam. Sunset pun menjadi saksi ukiran senyum dan tawa yang terus mengembang di antara Mereka, menambah deretan memori baru yang penuh suka cita.
.
.
.
Happy Reading and Enjoy 🤩
Jangan lupa klik favorit, like, komentar, vote, dan rate 5 ⭐ ya agar Author makin semangat dalam berkarya. Untuk mengetahui cara vote, silahkan para readers mampir pada halaman ATTENTION ya.
Terima Kasih.