
Hampir setiap hari Egy datang ke restoran Mecca. Seperti hari-hari sebelumnya, Egy selalu duduk di tempat yang sama menikmati makanannya sambil mengamati Mecca dari kejauhan.
Dan di setiap kedatangan Egy, Mecca selalu berusaha sesibuk mungkin agar Egy tidak memiliki kesempatan untuk mengajaknya sekedar mengobrol berdua.
Bukannya Mecca tidak menyadari pandangan Egy padanya, ia hanya tidak ingin terjadi kesalahpahaman bagi siapa saja yang memperhatikan tatapan mata Egy yang mengunci dimana pun posisi Mecca bergerak.
Sepertinya Egy juga menyadari bahwa Mecca menjaga jarak dengannya. Egy pun tidak mempermasalahkan atau mengajukan protes apapun kepada Mecca. Yang dia lakukan masih tetap sama, hanya duduk di kejauhan untuk memantau keadaan Mecca.
Beberapa kali Mecca tak sengaja bertemu mata dengan pria itu. Mecca dapat melihat kegetiran dari raut wajahnya. Namun saat Egy mulai menatap perut Mecca yang mulai membuncit, ada senyum yang dipaksakan terpampang di sudut bibirnya.
Mata pria itu sesekali melepas pandangannya pada Mecca untuk menelusuri setiap sudut ruang restoran. Entah apa yang dilakukannya, ia terlihat seperti mencari-cari keberadaan seseorang namun tampak mawas diri.
Setelah cukup bagi Egy mengawasi Mecca, ia pun segera beranjak dari tempat duduknya. Ia mulai mendekati Mecca yang tengah sibuk dengan laptopnya.
“Hei Mec, sibuk?”
“Eh, Kak Egy! Iya nih kak.” Jawab Mecca sedikit terkejut dan langsung berdiri dari posisi duduknya.
“Sudah berapa bulan?” tanya Egy menunjuk perut buncit Mecca dengan kode matanya.
“Jalan 5 bulan kak.”
“Aku turut bahagia. Sehat selalu dan jaga dirimu. Aku akan berusaha sebisa mungkin melindungimu. Hati-hati ya, aku pamit dulu.” Ucap Egy penuh arti.
“Kak tunggu!” panggil Mecca menghentikan langkah kaki Egy.
“Kak kalau ada yang mau dibicarakan katakan saja.”
“Maksudnya?”
“Aku lihat Kak Egy selalu datang ke restoranku dan memperhatikan aku terus menerus. Jujur aku merasa tidak nyaman atas itu. Tapi beberapa kali aku merasa Kak Egy tampak khawatir dan mawas diri. Dan setiap berpamitan denganku, Kak Egy selalu mengucapkan hal yang sama. Ada apa sih kak?” tanya Mecca serius.
“Kamu jangan banyak berpikir nanti kalau stres bayinya juga ikutan stres loh. Aku tidak kenapa-kenapa kok, cuma khawatir saja sama kamu. Kita berteman kan...?” ujar Egy menunggu tanggapan Mecca sembari meletakkan kedua tangannya disisi kanan dan kiri lengan Mecca. Mecca pun tersenyum dan menganggukkan kepalanya dua kali.
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang melihat keduanya dari jarak yang tak terlalu jauh.
“Ehem... Ngobrol apa sih sampai pegang-pegang istri orang lain segala?” tegur Fadhil mengagetkan keduanya.
Dengan spontan Egy melepaskan pegangannya pada lengan Mecca lalu menoleh ke arah sumber suara tersebut.
“Loh mas tumben ke sini?” tanya Mecca tersenyum polos.
Fadhil mendekati Mecca dan memeluknya erat lalu mengelus bayi dalam kandungan Mecca dengan sayang.
“Aku lagi ajak Faiz makan siang bareng yank. Tuh dia sudah duduk di meja nomor 10.” Jawab Fadhil menunjuk Faiz yang tengah memesan makanan.
“Yank apa aku pernah melarangmu berteman?”
“Enggak mas.” Jawab Mecca menggelengkan kepala.
“Tapi aku enggak suka kalau kamu berteman dengan seorang pria pakai sentuh-sentuhan segala.” Ujar Fadhil dibuat sesantai mungkin. Egy hanya diam mendengar ucapan Fadhil yang jelas tertuju kepadanya.
“Ya ampun mas jangan salah paham! Kak Egy cuma bilang aku jangan stres dan jaga diri baik-baik, sudah itu aja!”
“Iya, tapi lain kali jangan biarkan pria lain menyentuhmu, mengerti?” jawab Fadhil menekan kata ‘mengerti’, namun mengalihkan pandangan matanya kepada Egy.
“Sorry Dhil, aku bukan bermaksud untuk tidak sopan. Tolong jangan permasalahkan ini ke Mecca. Kalau begitu aku pamit dulu.” Ucap Egy melangkahkan kakinya, namun sesaat ia berhenti dan mulai membisikkan sesuatu ke telinga Fadhil.
“Hati-hati, jaga Mecca baik-baik. Kalau kamu tidak sanggup, aku akan menggantikanmu menjaganya.” Bisik Egy lalu melangkah pergi dengan cepat.
“Itu tugasku wahai fans!” ucap Fadhil meninggikan suaranya.
“Sssttt... Pelanin suaranya mas! Banyak pengunjung tuh, malu ah! Ayo kita temui Pak Faiz aja.” Mecca menyeret Fadhil dengan paksa di tengah tatapan pengunjung restoran.
“Selamat siang nyonya muda.” Tegur Faiz sopan.
“Siang Pak Faiz. Makanannya sudah datang tapi kok belum di makan pak?”
“Saya nunggu si bos.”
“Enggak usah, Pak Faiz makan saja duluan. Nanti keburu dingin loh.” Ujar Mecca mempersilakan Faiz. Faiz pun mulai menyantap makanannya dengan lahap.
“Mas tadi sudah pesan?” tanya Mecca pada Fadhil. Fadhil hanya menanggapi pertanyaan Mecca dengan menggeleng.
“Mas mau pesan apa?” pertanyaan Mecca diacuhkan oleh Fadhil.
“Mas kok diam sih?”
“Dia sering kemari?”
“Siapa mas?”
“Fans beratmu itu!”
“Hampir setiap hari.” Jawab Mecca jujur. Fadhil yang semula membelakangi Mecca langsung membelalakkan matanya dengan terkejut.
“Kok enggak pernah bilang?” tanya Fadhil dengan dahi berkerut.
“Ya kan Kak Egy cuma makan. Masa setiap datang aku laporan enggak penting gitu?”
“Setiap dia datang dia selalu ngobrol sama kamu? Nyentuh-nyentuh gitu?” tanya Fadhil penasaran.
“Ehm... Maaf bos, nyonya. Apa saya pindah meja dulu ya?” tanya Faiz berdiri dari duduknya sembari mengangkat piringnya.
“Jangan!” jawab Fadhil dan Mecca bersamaan sambil menatap Faiz singkat. Faiz pun hanya dapat menuruti perintah atasannya dan duduk kembali.
“Mas enggak ada sentuh-sentuhan atau ngobrol berdua. Paling Kak Egy negur aku kalau dia mau pamit aja, enggak lebih.” Jelas Mecca lembut.
“Terus ke mana Pak Mali? Aku kan sudah kasih double job untuk jadi bodyguard kamu. Aku kan sudah perintahkan Pak Mali untuk ikuti kamu ke mana pun, biar kalau ada apa-apa bisa di taekwondo sama Pak Mali. Gitu-gitu dia sabuk hitam loh yank.” Ucap Fadhil masih kesal.
“Jangan salahin Pak Mali. Aku yang minta Pak Mali ke kantor ayah untuk antar makan siang.” Jelas Mecca sembari mengambil tangan Fadhil dan mengarahkannya ke perut buncitnya itu.
Melihat mata bulat Mecca yang lugu, serta tindakan Mecca meletakkan tangan Fadhil di perutnya, membuat lelaki itu tidak dapat bertahan dengan kekesalannya tersebut. Dalam hitungan detik wajah berkerutnya tiba-tiba menghangat memancarkan senyum cerah memukau.
“Pintar kamu ya yank, paling tahu cara tenangin aku.” Ucap Fadhil sembari mengelus puncak kepala Mecca.
“Iya doooooong.” Jawab Mecca menangkup kedua pipinya dengan mata terpejam.
“Tapi lain kali aku enggak mau kamu kasih tugas lain ke Pak Mali. Dia harus tetap di samping kamu terus. Kalau mau antar bekal untuk ayah pakai jasa kurir aja, ngerti?” ucap Fadhil tegas.
“Ngerti 1000% baba!” jawab Mecca dengan ekspresi menggemaskan.
“Ehem... Seru juga ya bos, makan siang sambil nonton FTV versi live.” Ujar Faiz sambil mengunyah makanannya yang penuh di mulut.
“Berisik!” jawab Fadhil memelototi Faiz.
Happy Reading and Enjoy.
Jangan lupa VOTE, LIKE, COMMENT, KLIK FAVORIT dan TIPS nya yaaaaa!!! Thank you ❤