
Fadhil setengah berlari mengikuti brankar Mecca yang di dorong dengan cepat menuju IGD (Instalasi Gawat Darurat). Ia melihat Mecca dengan tatapan kekhawatiran yang mendalam. Tak henti-hentinya ia memanggil nama Mecca sembari menggenggam erat telapak kanan Mecca yang terasa dingin.
Tak berselang lama setelah brankarnya mendarat di ruangan IGD, Mecca secara tiba-tiba tersadar dari pingsannya. Bahkan kesadarannya kembali sebelum dokter umum meletakkan stetoskop di dadanya.
“Mas, aku kenapa? Ini di mana?” tanya Mecca mengernyitkan dahinya sembari berusaha menopang tubuhnya untuk duduk.
Fadhil melihat pergerakan Mecca dengan sigap ia menangkap tubuh istrinya dan mendorong tubuh itu lagi untuk berbaring.
“Jangan bangun dulu yank. Tadi kamu pingsan, sekarang kita ada di ruang IGD. Biarkan dokter memeriksamu sebentar.” Ucap Fadhil menjelaskan dan perkataannya langsung dituruti oleh Mecca.
“Permisi ya ibu dan bapak, saya lakukan pemeriksaan tekanan darah terlebih dahulu.” Ucap salah seorang perawat tersebut sembari meletakkan sfigmomanometer pada salah satu lengan Mecca.
Setelah melakukan pemeriksaan tekanan darah, pemeriksaan kembali dilakukan oleh dokter umum serta memberikan beberapa pertanyaan singkat pada Mecca. Usai pemeriksaan dan wawancaranya tersebut kemudian ia pun tersenyum penuh arti.
“Bapak dan ibu sebaiknya melanjutkan tahap pemeriksaan ke Dokter Obgyn.” Ujar dokter itu masih mempertahankan senyumnya.
“Memang istri saya sakit apa dokter?” tanya Fadhil gelisah penuh khawatir.
“Saya rasa istri bapak tidak sakit. Namun jika diagnosa saya benar, mungkin ini bisa dipastikan setelah bapak ke spesialis Obgyn terlebih dahulu.”
“Baik dokter. Terima kasih atas bantuannya.” Ucap Fadhil menundukkan kepalanya sekilas. Walau masih merasa kebingungan dengan ucapan dokter, namun Fadhil tidak serta merta memburu pertanyaan.
Dokter meminta salah satu perawat membantu pendaftaran Mecca ke spesialis Obgyn. Sembari menunggu, Mecca masih merebahkan dirinya dengan nyaman sembari menggenggam salah satu telapak tangan Fadhil.
“Kamu sudah baikkan sayang? Bagaimana perutmu?” ujar Fadhil lembut sembari menyibakkan anak rambut Mecca dari dahinya.
“Enggak apa-apa mas. Sudah enggak sakit lagi kok.”
Saat Fadhil dan Mecca berbincang, salah seorang perawat menghampiri keduanya.
“Permisi bapak dan ibu. Saya sudah melakukan pendaftaran pada dokter Obgyn, masih tersisa 2 pasien lagi. Jika ibu sudah lebih baik bisa langsung menuju ke sana atau ibu bisa beristirahat terlebih dahulu sembari menunggu antrean.” Jelas perawat itu cepat.
“Kami langsung ke sana saja. Terima kasih.” Jawab Mecca yang kini mulai berusaha bangun dari tidurnya dengan bantuan Fadhil.
“Kamu yakin yank?”
“Yakin mas.”
Setelah beberapa saat menunggu kini tiba giliran Mecca. Mereka masuk ke ruangan yang bertuliskan dr. Sarah Amalia, SPOG tepat tertempel di pintu depan tersebut.
Saat keduanya masuk ruangan, kedatangannya disambut dengan senyum hangat dari seorang dokter wanita yang berusia sekitar 37 tahunan. Dengan ramah mereka dipersilakan duduk. Mereka pun membalas senyuman dokter tersebut dan duduk di kedua kursi yang tersedia berhadapan dengan meja dokter.
“Selamat malam bapak dan ibu, ada yang bisa saya bantu?” tanya dr. Sarah membuka obrolan.
“Jadi begini dokter, tadi istri saya mengeluh perutnya sakit seperti ditusuk dan dipelintir. Tiba-tiba dia jatuh pingsan. Saya langsung membawanya ke sini, namun saat dilakukan pemeriksaan kami justru diarahkan kemari.” Jelas Fadhil secara detail.
“Baiklah pak. Boleh saya memberi pertanyaan kepada ibu...” ucapnya terpotong.
“Saya Mecca dokter dan ini suami saya Fadhil.” Jawab Mecca langsung menyambung.
“Baik ibu Mecca, boleh saya tahu kapan terakhir menstruasi ibu?”
“Saya lupa dokter, tapi sepertinya sudah beberapa bulan tidak menstruasi.”
“Apa siklus menstruasi ibu sering seperti itu?”
“Biasanya saya rutin menstruasi setiap bulan. Tapi dulu sekali saya pernah tidak menstruasi selama 3 bulan lamanya dan itu terjadi 2 kali. Jadi saya tidak terlalu memikirkan siklus saya.” Jelas Mecca ditanggapi anggukan oleh dr. Sarah.
“Apa akhir-akhir ini ibu merasakan mual, badan terasa hangat dan mudah lelah, atau keinginan makan tertentu seperti makanan asam dan pedas?” tanya dokter tersebut sembari meminta izin Mecca untuk mengecek denyut nadi di pergelangan sekitar 1 menit lamanya.
“Kalau merasa mual tidak, mudah lelah juga tidak malah saya cenderung lebih semangat. Ehm... Badan terasa hangat sih iya, saya sering merasakannnya. Kalau keinginan makan tertentu juga tidak, malah suami saya yang banyak maunya sekarang, hahaha...” jelas Mecca mengingat-ingat lalu tertawa kecil pada Fadhil. Hal itu pun memicu tawa Fadhil dan juga dr. Sarah.
“Apa ibu mengalami kenaikan berat badan walau sedikit?”
“Tidak dokter, berat badan saya masih sama.”
Dengan dibantu seorang perawat, Mecca diantarkan untuk menimbang berat badannya terlebih dahulu kemudian membantunya berbaring di ranjang.
Perawat tersebut meminta izin kepada Mecca untuk membuka sebagian pakaiannya sampai di bawah dada. Kemudian perawat tersebut meneteskan suatu cairan seperti gel bening di atas perutnya. Lalu dr. Sarah pun segera meratakan gel tersebut dengan alat bernama probe.
Dokter melihat ke arah ultrasonography yang biasa dikenal oleh awam sebagai alat USG. Beliau memutar dan menekan tombol-tombol pada alat tersebut dengan lihai.
Entah apa yang dokter tersebut lakukan. Mecca dan Fadhil hanya ikut memperhatikan layar tersebut dengan waswas.
“Ibu dan bapak bisa lihat kantong berwarna hitam ini? Ini adalah rahim Bu Mecca. Dan yang seperti bayi meringkuk ini adalah calon anak bapak dan ibu.” Ucap dr. Sarah tersenyum hangat sembari melihat ekspresi Mecca dan Fadhil yang tercengang.
“A-anak dok?” tanya Fadhil dan Mecca bersamaan.
“Iya. Ini calon bayi bapak dan ibu. Bisa dilihat pada monitor. Ini kepalanya, ini tangannya, dan ini kakinya. Lihat pergerakannya, aktif sekali kan? Walau sekarang dia masih seukuran apel dan pergerakannya masih halus, tapi tidak lama lagi ibu Mecca akan bisa merasakan tendangan pertamanya.”
Mecca menutup mulut dengan kedua telapak tangannya. Ia merasa takjub melihat bayi dalam perutnya yang aktif bergerak. Tanpa terasa air matanya jatuh, ia mulai menangis bahagia dalam diam.
Begitu pula dengan Fadhil, ia juga ikut menangis bersama Mecca. Berkali-kali ia mengecupi kening Mecca sembari berbisik di telinga Mecca yang ia ulang terus menerus, “Lihat! Itu anak kita sayang.”
“Kalau berdasarkan monitor kondisi keseluruhan calon bayi dalam keadaan sehat, baik kepala, tulang, ukuran tangan-kaki dan bentuk jantung, air ketuban, serta lain-lainnya semua sesuai dan bekerja sangat baik. Kalau dari alat ini perkiraan usia kandungan ibu sudah memasuki trimester kedua yaitu sekitar 15 minggu.” Penjelasan panjang dr. Sarah menghipnotis Mecca dan Fadhil untuk terus menyimak dengan baik.
“Melihat dari apa yang ibu rasakan dari hasil perbincangan kita tadi kandungan ibu Mecca termasuk kuat. Jadi tidak perlu ada yang dikhawatirkan. Yang penting ibu tetap harus menjaga kesehatan, makan-makanan yang bersih, bergizi, dan matang sempurna, perbanyak minum air putih. Saya sarankan ibu juga harus rutin meminum susu khusus ibu hamil serta vitamin yang mengandung asam folat dan vitamin-vitamin lengkap lainnya guna mendukung perkembangan bayi supaya lebih optimal.”
“Dan... Untuk hubungan suami-istri sebaiknya dilakukan dengan posisi aman, nyaman, dan lembut ya. Karena cairan ****** bisa memicu kontraksi, jika ibu merasa kram perut saat berhubungan sebaiknya tidak menumpahkan ****** di dalam.”
“Ta-tapi... Kalau setiap hari masih boleh kan dok?” tanya Fadhil ragu. Namun pertanyaannya hanya dijawab anggukan oleh dr. Sarah dan sikutan kecil oleh Mecca.
“Terus kenapa istri saya tidak mual atau mengidam seperti ibu hamil kebanyakan? Bahkan perutnya masih rata, hingga kami saja sampai tidak sadar kalau ada calon bayi kami di sana.” Ujar Fadil sembari menunjuk perut Mecca.
“Setiap kehamilan itu berbeda pak, tidak semua wanita hamil akan merasakan hal yang sama.”
“Tapi dokter, saya sempat merasakan mual jika mencium aroma-aroma tertentu. Saya juga lebih suka satu makanan yang bisa saya makan setiap hari tanpa bosan. Saya baru sadar, kalau istri saya yang hamil kenapa saya yang seperti orang mengidam?”
“Dalam istilah kedokteran itu disebut couvade syndrome atau kehamilan simpatik. Hal itu bisa terjadi jika ikatan batin antara suami dan istri sangat kuat. Semakin kuat ikatannya makan semakin banyak pula sindrom kehamilan simpatik itu dirasakan. Hal ini juga bisa dirasakan oleh orang tua ataupun saudara ibu hamil.”
“Oh begitu.” Jawab Fadhil singkat sembari mengangguk-anggukan kepalanya. Ia pun beralih melihat Mecca yang hanya diam sejak tadi.
“Yank kamu kok diam aja, ada yang ditanyain enggak sama dokter?”
“A-aku masih speechless mas.” Jawaban Mecca mendaratnya pelukan hangat Fadhil pada tubuhnya.
“Lalu dokter apa yang buat istri saya sakit perut dan pingsan?”
“Banyak faktor yang bisa membuat itu terjadi pak, salah satunya karena stres berlebih. Karena itu, Ibu Mecca harus tetap dijaga moodnya.”
Setalah mengobrol cukup panjang dengan dr. Sarah, Fadhil dan Mecca undur diri. Di luar ruangan Fadhil mulai menggendong Mecca dan mengayunkannya sembari berputar.
Fadhil tampak bahagia dengan kehamilan pertama istrinya tersebut, ia pun mengucapkan kalimat, “istriku hamil” berkali-kali dengan suara lantang. Tindakannya itu menjadi sorotan para pasien lainnya. Mereka pun serta merta mendapatkan ucapan selamat dan sorakan serentak dari semua orang.
.
.
.
Happy Reading and Enjoy 🤩
Jangan lupa klik favorit, like, komentar, vote, dan rate 5 ⭐ ya agar Author makin semangat dalam berkarya. Untuk mengetahui cara vote, silahkan para readers mampir pada halaman ATTENTION ya.
Jangan jadi penikmat dan silent readers, tunjukkan diri dengan like ya!
Terima Kasih.