AN INEFFABLE SERENDIPITY

AN INEFFABLE SERENDIPITY
Chapter 25. Siapa Kamu Sebenarnya?



Di dalam Mobil Porsche berwarna kuning itu, Arjun melenggang di jalan raya Ibu Kota.


Tatapannya tetap fokus mengendarai, namun pikirannya entah mengapa masih mengingat paras cantik Medina.


“Siapa Kamu sebenarnya sih?”


“Otakku seakan mengingatmu, tapi sosokmu di mataku seakan kabur.”


“Apa Kita pernah bertemu sebelumnya? Kapan? Di mana?”


“Kenapa rasanya Kamu memiliki kesan tersendiri untukku?”


“Medina, siapa Kamu sebenarnya?” tanyanya pada dirinya sendiri.


“Mungkin Aku harus sering menemuimu untuk menyegarkan ingatanku, cepat sembuh ya.”


.


.


.


***


Matahari sudah meninggi, tak terasa pagi telah berganti siang. Inspeksi dadakan Fadhil dan Faiz di salah satu perusahaannya yang bergerak dibidang properti berjalan dengan lancar.


Kini Fadhil telah berada di dalam mobil Lexus Ux milik asistennya tersebut, mereka masih dalam perjalanan menuju Grup A.


“Iz, tolong minta orang ambilkan mobilku di rumah Papa, kirim ke rumah Mecca segera.”


“Baik Bos.”


“Saat Mecca sudah mulai ikut ke kantor, Kamu tidak usah jemput Aku lagi.”


“Loh, memangnya kenapa Bos? Bos tidak pecat Saya kan?” tanyanya khawatir.


“Iya Kamu dipecat!”


“Bos, salah Saya apa?”


tanyanya mulai gugup.


“Ya elah... Aku pecat Kamu sementara.”


“Maksudnya Bos?” tanyanya masih bingung.


“Selama masa magang Mecca, Aku ingin mengendarai mobil sendiri. Aku ingin berduaan saja dengan istriku, Aku malas menumpang di mobilmu! Setiap mau sentuh istri sendiri saja Dia selalu nolak, karena enggak enak dilihat Kamu!”


“Hahaha... syukurlah Bos, akhirnya Saya bebas jadi obat nyamuk.”


“Sialan Kamu! Mau dipecat selamanya?!” ancam Fadhil dengan wajah datar.


“Ampun Bos, kasihani Saya.” Mohonnya dengan wajah sedih dibuat-buat.


“Ngomong-ngomong Kamu sudah kasih tahu Nina kan, kalau Karina mau datang lagi ke kantor bilang Aku tidak ada.”


“Sudah Bos, beres.”


“Kamu telepon ke Grup R, minta perwakilan lain yang datang, Aku tidak mau menemui Karina atau kembarannya itu. Ancam saja untuk pembatalan kontrak kalau mereka menolak.”


“Baik Bos, akan segera Saya laksanakan semua perintah anda!”


.


.


.


***


Saat ini Medina sudah tertidur dari pingsannya selama 7 jam lamanya. Selama tidur panjangnya itu, Mecca dan Mirah bergantian menjaganya. Sedangkan Pak Pradipta dengan berat hati harus meninggalkan putrinya itu untuk pergi bekerja.


Pak Pradipta memang selalu sibuk. Jika pagi hingga sore, beliau akan berada di perusahaan percetakannya, lalu saat sore atau menjelang malam beliau akan lanjut ke kampus untuk mengajar, walau tidak setiap hari.


Setiap 1 jam sekali Pak Pradipta akan menelepon Mecca atau ke telepon rumahnya untuk memastikan apakah Medina telah sadar.


Berkali-kali Mecca selalu menenangkan Ayahnya, ia selalu mengulang janjinya untuk langsung mengabari Ayahnya ketika Kakaknya sadar.


Tak lama berselang, Medina pun mulai menyadarkan diri. Setelah mengabari Ayahnya, Mecca pun dengan segera menghampiri Kakaknya dengan lega.


“Kakak sudah sadar? syukurlah! Kakak mau ke mana? Sudah, Kakak istirahat dulu saja, pasti masih pusing ya?” tanyanya menghujani Medina.


“Kakak enggak apa-apa, ini jam berapa ya Dik?”


“Ini sudah hampir setengah 2 siang Kak.”


“Apa?! Tesku, Aku harus pergi ikut tes! Aku harus jelaskan kondisiku, semoga mereka mau memberikan kesempatan.” Gumam Medina dengan tubuh gontai.


“Kak, sudahlah! Kakak sedang sakit, Kakak istirahat saja dulu!” tahan Mecca memegang tubuh Kakaknya yang masih lemas.


“Enggak Dik, Kakak enggak bisa menyerah sekarang!” ujarnya sembari melepaskan pegangan Mecca yang sangat kuat menurutnya.


“Kakak tenang dulu, Kakak duduk dulu! Tubuh Kakak masih lemas... la-lagi pula se-sekarang sudah terlambat.” Ujarnya terbata-bata penuh khawatir.


“Hiks... Hiks... Hiks... usahaku hancur semua sekarang!” tangisnya sesenggukan.


Mecca hanya terdiam di hadapan Medina, saat ini ia tidak berani mengucapkan satu patah kata pun. Ia hanya membiarkan Medina meluapkan kekecewaannya dalam tangisan.


Mecca sangat mengerti bagaimana kerasnya usaha Medina dalam menggapai cita-citanya. Hatinya pun ikut sakit melihat kekecewaan Kakaknya. Tanpa sadar ia pun ikut meneteskan air mata bersama dengan Medina. Mecca menarik tubuh Medina ke dalam pelukannya, ia memberikan belaian hangatnya pada punggung Medina.


Setelah beberapa lama adegan saling tangis itu terjadi, tubuh Medina semakin merasa lelah, kepalanya pun terasa amat berat, tanpa sadar kedua matanya perlahan menutup, ia pun kembali memejamkan mata dan melanjutkan tidurnya. Mecca yang masih memeluknya pun kembali membaringkan tubuh Kakaknya.


“Istirahat ya Kak, hilangkan dulu semua lelahmu, nanti kalau Kakak mau nangis lagi, Aku pasti temani.” Bisiknya lembut sembari menyibakkan beberapa helai rambut Medina.


Tok... Tok... Tok...


“Maaf Non, di depan ada suruhan Pak Fadhil.” Ujar Mirah di ambang pintu kamar tamu yang terbuka lebar.


“Hah? Mau apa Bi?”


“Mau ketemu Non Mecca, mau menyerahkan kunci katanya.”


“Kunci? Ya sudah, Bi Mirah bisa lanjutkan kegiatan Bibi, Saya segera ke depan.”


“Baik Non.”


Di teras rumahnya kini berdiri 2 pria dan sebuah mobil Lexus Lc berwarna graphite black terparkir di halaman.


“Ada yang bisa saya bantu?” tanya Mecca lembut.


“Nama Saya Andi dan ini rekan Saya Didi. Saya kemari atas permintaan Pak Fadhil untuk membawa mobil milik beliau. Saya diminta untuk menyerahkan kunci mobil ini langsung kepada Bu Mecca.” Jelas salah satu pria itu sembari menyodorkan sebuah kunci kepada Mecca.


“Oh begitu, terima kasih banyak ya Pak.”


“Sama-sama Nyonya, kalau begitu kami undur pamit.”


.


.


.


***


Di ruangan Direktur Utama, Fadhil masih sibuk memeriksa beberapa berkas untuk persiapan meeting dengan Grup F. Ditengah kesibukannya itu, tiba-tiba dering teleponnya pun berbunyi, ia melihat ponselnya dengan senyum cerah.


Fadhil : “Hallo sayangku.”


Mecca : “ Hallo Mas.”


Fadhil : “Kangen ya? Kalau Aku sih kangen banget.”


Mecca : “Kangenlah, Aku mikirin Mas terus dari tadi.”


Fadhil : “Masa sih? Oh ya, Dina sudah sadar?”


Mecca : “Sempat sadar sebentar, terus tidur lagi. Mas ini mobil siapa yang dikirim ke rumah Ayah?”


Fadhil : “Ya mobilku yank.”


Mecca : “Aku pikir hadiah lagi untukku.”


Fadhil : “Kamu mau yank?”


Mecca : “Bercanda Mas... ini Mas beli baru? Memang mobil yang putih itu ke mana?”


Fadhil : “Enggak. Mobil putih itu punya Faiz yank.”


Mecca : “Hah?! Jadi selama ini kita numpang mobil Pak Faiz?”


Fadhil : “Ya enggak sepenuhnya punya Dia juga, mobil itu juga Aku yang kasih.”


Mecca : “Kalau sudah dikasih ya berarti bukan hak Mas lagi. Jadi stop deh Mas!”


Fadhil : “Iya-iya deh.”


Mecca : “Mas mobilnya bagus banget, keren! Ajarin nyetir dong.”


Fadhil : “Nanti aku belikan mobil yang sama yank untukmu tapi pakai sopir, Aku nggak izinin Kamu nyetir.”


Mecca : “Iiihhh... Mas jahat!” ucap Mecca kesal langsung menutup teleponnya.


“Yah, merajuk lagi Dia.” Keluh Fadhil menggeleng-gelengkan kepalanya.


.


.


.


Happy Reading and Enjoy 🤩


Jangan lupa klik favorit, like, komen, vote, dan rate 5 stars ya agar Author makin semangat dalam berkarya.


Terima Kasih.