
Mecca sampai di restoran tepat pukul 13.11 WIB. Ia langsung masuk ke ruangannya yang khusus ia buat sebagai tempat bekerja, bersantai, dan juga istirahat.
Di ruangannya ada meja kerja, kursi, dan juga sofa. Di pintu lainnya masih dalam ruangan yang sama namun beda sekatan ada ranjang, televisi, serta kamar mandi khusus. Ia sengaja membuat ruangan yang nyaman untuknya dan Medina, jika mereka membutuhkan suatu privasi.
Saat Mecca mulai duduk di meja kerjanya, salah satu karyawan mengetuk pintunya dengan pelan.
“Masuk!” perintah Mecca.
“Maaf bu, ada yang cari ibu di meja nomor 8, sudah dari tadi sih menunggunya.”
“Siapa Lin?” tanya Mecca pada Lina salah satu waitress restorannya.
“Saya tidak tahu bu, tamunya ketus banget. Saya jadi takut tanya-tanya.”
“Ya sudah, kamu kembali kerja ya. Sebentar lagi saya ke depan, terima kasih infonya Lin.”
“Sama-sama bu, saya pamit dulu.” Ujar Lina ditanggapi anggukan oleh Mecca.
Dari kejauhan Mecca melihat sosok wanita cantik bertubuh tinggi langsing khas model. Mecca mulai menelan ludah saat ia menyadari siapa tamu yang menunggunya tersebut.
“Rani? Buat apa dia kemari? Bagaimana dia bisa tahu aku punya restoran ini?” gumam Mecca pelan.
Mecca mulai mendekati meja tempat Rani berada. Dari kejauhan ia dapat melihat senyum sinis Rani yang ditujukan padanya.
“Ada apa kamu kemari mencariku?” tanya Mecca yang kini duduk tepat di hadapan Rani.
“Hmmm... Bagus juga ya restoran ini.” Ucap Rani mengabaikan pertanyaan Mecca.
“Kamu mau apa kemari?” tanya Mecca kembali.
“Sabar dong, buru-buru banget deh. Aku cuma mau lihat-lihat restoran kamu saja, bolehkan?”
“Enggak mungkin! Kamu pasti punya niat lain.”
“Tidak baik terus menerus berburuk sangka.” Jawab Rani dengan nada lembut yang dibuat-buat.
“Apa bisa berbaik sangka dengan kamu?”
“Apa aku selalu terlihat buruk dimatamu?”
“Kau nilai saja dirimu sendiri bagaimana.”
“Ehm... Penilaianku pada diriku sih, aku yakin Fadhil masih mencintaiku.” Jawab Rani dengan percaya diri.
“Kamu jangan terlalu lama bermimpi, sadarlah!” jawab Mecca ketus.
“Aku tahu Fadhil dengan baik. Aku rasa jika aku berusaha sedikit saja, dia akan jatuh lagi ke pelukanku. Saat ini dia hanya masih kecewa padaku, tapi aku yakin jika rasa cintanya bisa kubangkitkan lagi dia akan langsung meninggalkanmu.” Cerocos Rani sembari memilin ujung rambutnya.
“Aku tidak ingin berdebat denganmu. Aku hanya ingin memberikan nasihat. Tidak baik menginginkan sesuatu atau seseorang yang bukan milikmu.” Tegas Mecca.
“Itu berlaku juga untukmu. Fadhil awalnya milikku, jadi kembalikan dia baik-baik sebelum aku minta walau harus memaksa.”
“Kamu benar-benar tidak tahu malu!” geram Mecca menahan marah.
“Kamu yang tidak tahu malu! Kamu mengambil dia yang masih menungguku dengan menikah paksa!” jawab Rani menekan di setiap katanya.
“Sebaiknya kamu pergi dari sini sekarang sebelum aku panggil keamanan.”
“Tenang saja, aku akan pergi. Lagi pula aku tidak betah berlama-lama dekat dengan wanita perebut kekasih orang lain.” Jawab Rani santai sembari berdiri.
Mecca juga berdiri dari duduknya, ia mulai tertunduk menyembunyikan amarahnya. Dengan pelan ia mengambil dan menghembuskan nafas berkali-kali.
“Aku bisa melakukan apa saja jika keinginanku tidak terwujud.” Ucap Rani mendekati Mecca.
“Pergi!” Usir Mecca tegas. Tanpa menunggu kepergian Rani, Mecca meninggalkannya untuk kembali ke ruangan.
Sesampainya di ruangan, Mecca duduk di meja kerja. Ia memperhatikan layar CCTV di hadapannya. Ia melihat Rani telah masuk ke dalam mobil dan mulai meninggalkan restoran miliknya.
“Aw... Kepalaku pusing sekali.” Keluh Mecca sembari memijat dahinya.
“Sayang tenang ya, bubu baik-baik saja. Kamu jangan pikirkan kata-kata dia. Baba akan selalu bersama kita kok.” Ucap Mecca pada bayi dalam kandungannya sembari membelai-belai perutnya lembut, berharap belaiannya dapat memberikan bayinya kenyamanan.
***
Siang ini Arjun mengajukan izin untuk memindah jadwal praktiknya ke malam hari. Dengan tekad bulat ia memberanikan diri ke rumah Pak Pradipta untuk menemui Medina.
Arjun tahu pasti jika setiap hari kerja Medina akan di rumah sendirian hingga sore hari tiba waktunya ia ke restoran.
Sudah berkali-kali Arjun mencoba menemui Medina baik di rumah maupun di restoran, namun Medina selalu menolak untuk menemuinya. Jika ia menemui Medina saat ada Pak Pradipta, ia merasa tidak enak untuk memaksa Medina keluar. Jadi ia mencari cela menemui Medina saat Pak Pradipta sedang bekerja.
Arjun memutuskan jika ini adalah usaha terakhir yang akan ia lakukan. Segala penentuan akan ia dapatkan hari ini, apa pun hasilnya dia akan berlapang dada untuk menerima semua itu.
“Mas Arjun mau ketemu Mbak Dina?”
“Iya Bi Mirah, Dina ada kan?”
“Ada mas di kamarnya.”
“Bi bisa panggilkan dia, tapi jangan bilang kalau saya yang datang?”
“Baik mas.”
Setelah Bi Mirah mempersilakan Arjun duduk, ia dengan segera menaiki tangga menuju kamar Medina. Arjun memperhatikan sosok Bi Mirah dari kejauhan, terdengar suara ketukan Bi Mirah pada pintu tersebut.
Arjun menunggu di ruang tamu dengan hati berdebar-debar. Apakah kali ini ia dapat bertemu dengan Medina? Wanita yang dirindukannya untuk sekian lama.
Bi Mirah datang menghampiri Arjun, ia mulai tertunduk merasa tidak enak hati pada Arjun.
“Maaf mas, tadi saya sudah bilang ke Mbak Dina ada yang cari. Waktu Mbak Dina tanya siapa, saya bilang tidak tahu karena orangnya tidak mau menyebutkan nama. Tapi Mbak Dina bilang dia tidak mau menemui tamu yang tidak jelas identitasnya.”
“Tidak apa-apa. Tapi... Apa saya boleh permisi ke kamar Medina? Saya mau berusaha membujuknya sendiri.”
“Tapi... Itu mas... Saya...” jawab Bibi Mirah dengan tersengal-sengal karena takut disalahkan.
“Saya janji tidak akan berbuat macam-macam. Saya hanya mau ketemu Dina kok. Nanti kalau ada masalah saya akan bertanggungjawab, boleh ya Bi Mirah?” tanya Arjun meyakinkan, ucapannya mendapat anggukan dari wanita itu.
Dengan langkah panjang Arjun melangkah dan menaiki tiap anak tangga menuju kamar Medina. Ia menyiapkan diri sembari menarik dan menghembuskan nafas dengan pelan dan lembut.
Tok... Tok... Tok...
“Kenapa Bi Mirah? Orangnya enggak mau pergi juga?” jawab Medina dari dalam kamarnya yang masih tertutup.
“Bibi kok enggak jawab?” ujar Medina sembari membuka pintu kamarnya. Tiba-tiba ia tercengang melihat Arjun tepat di hadapannya.
Medina dengan cepat mendorong pintu kamarnya, ia ingin menutup kembali pintu itu rapat-rapat. Rasanya ia tidak siap dengan kedatangan Arjun yang tiba-tiba seperti ini. Namun upayanya dengan cepat digagalkan Arjun. Tenaga Medina tidak dapat menyeimbangi kekuatan Arjun menahan pintu itu.
Karena merasa upayanya sia-sia, Medina melepaskan pegangannya dari pintu dan mulai mundur teratur menghindari Arjun.
Arjun tampak tidak dapat menahan perasaannya, ia merasa jengah dengan tingkah Medina yang selalu menghindar tanpa penjelasan pasti.
Dalam sekelebat mata Arjun telah menerobos masuk ke dalam kamar Medina yang hanya diterangi cahaya matahari. Ia langsung menarik Medina masuk ke dalam pelukannya. Arjun dengan erat melingkarkan tangannya pada tubuh Medina yang kini meronta.
“Jangan seperti ini Din. Aku kangen kamu! Jangan menghindari aku terus, aku enggak tahan kamu beginiin.” Cerocos Arjun mengunci tubuh Medina yang terus meronta dalam pelukannya.
“Aku bisa gila lama-lama kalau enggak lihat kamu. Rasanya sakit jatuh cinta seperti ini. Aku tahu kamu juga punya perasaan yang sama seperti yang aku rasakan. Please, hadapi perasaan itu. Jangan menghindar lagi!” Arjun berbicara tanpa henti, matanya mulai berkaca-kaca menahan air bening yang telah terkumpul disudut matanya.
Medina mulai menghentikan perlawanan tubuhnya. Ia mulai menerima pelukan hangat Arjun yang mengekang. Ia pun membalas pelukan itu dengan erat, menumpahkan segala kerinduan yang selama ini tertahan.
Hampir 1 bulan mereka tidak bertemu, selama itu pula perjuangan Arjun tak pernah berhenti. Segala cara ia coba lakukan untuk mendekati Medina lagi, namun bagai ada tembok besar yang tinggi menghalangi usahanya tersebut.
Kini pertemuan yang dipaksakannya harus membuahkan hasil yang baik, ia tidak ingin kehilangan kesempatan mendekati Medina untuk yang kedua kalinya.
Jika dulu Arjun berpikir untuk membuat Medina nyaman dengannya terlebih dahulu baru mencuri hatinya, kini Arjun mengubah komitmennya dengan cepat. Ia akan berusaha menjadikan Medina miliknya dahulu dan membuat rasa nyaman kemudian.
Arjun mulai melepaskan pelukannya, ia mengangkat dagu Medina dengan lembut. Ditatapnya kedua bola mata Medina yang masih menggenang air mata. Dengan penuh kasih sayang ia menghapus setiap tetes air bening itu dengan ujung jemarinya.
Kedua mata mereka masih saling terkunci. Entah siapa yang memulai terlebih dahulu, namun dalam sekejap bibir keduanya saling bertemu dan melekat dalam pagutan yang lembut. Mereka saling menelusuri tiap sisi bibir masing-masing hingga ciuman itu menjadi semakin dalam.
Arjun terus menarik tubuh Medina mendekatinya, menghabiskan jarak yang tersisa. Berulang kali ia menahan tubuh Medina yang terus bergerak menjauh. Bagai terhipnotis oleh manisnya bibir Medina, Arjun semakin menuntut ciuman itu tanpa jeda.
“Sudah!” pekik Medina mendorong tubuh Arjun, memaksakan bibirnya untuk terlepas dari terkamannya.
“Ma-maafkan aku Din, aku enggak bermaksud tidak sopan sama kamu.”
“Hmmm.” Sahut Medina singkat menyembunyikan wajah malu kemerahannya.
“Ja-jangan di dalam kamarku, ka-kamu keluar dulu ya. A-aku mau ganti baju sebentar, kita bicara di tempat lain saja.” Ujar Medina terbata-bata karena gugup.
“Oh iya, maaf ya? Aku keluar dulu.” Jawab Arjun salah tingkah.
.
.
.
Happy Reading and Enjoy 🤩
Jangan lupa klik favorit, like, komentar, vote, dan rate 5 ⭐ ya agar Author makin semangat dalam berkarya. Untuk mengetahui cara vote, silahkan para readers mampir pada halaman ATTENTION ya.
Jangan jadi penikmat dan silent readers, tunjukkan diri dengan like ya!
Terima Kasih.