
Seperti dugaan Mecca, ia telah menjadi santapan makan malam bagi suaminya hingga pukul 03.03 pagi. Tubuhnya dipindahkan ke sana kemari sesuka hati Fadhil. Ruang makan, ruang tamu, ruang kerja, hingga kamar tidur keduanya pun tak luput dijadikan tempat penyatuannya.
Serasa raganya tak berdaya, seluruh tubuh Mecca pegal luar biasa. Setelah melayani keganasan suaminya, Mereka pun hanya tidur sejam lamanya dan terbangun lagi untuk menjalankan ibadah.
Mecca menyerah untuk menyiapkan sarapan bagi Fadhil, ia hanya memerintahkan pada ART untuk menghangatkan rawonnya dan menyiapkannya untuk santap pagi Fadhil. Dan itu pun bukan perintah langsung, namun melalui selembar catatan yang ia tulis dan ditempel pada lemari pendingin.
Entah apa yang membuat suaminya begitu perkasa. Sepertinya semalam suntuk kerja rodinya tidak berdampak apa pun pada tubuh kekarnya itu. Fadhil masih semangat untuk pergi kerja, sedangkan dirinya kembali melanjutkan tidurnya yang belum tuntas.
Hari ini Fadhil akan sangat sibuk di kantor dan mungkin ia akan melakukan beberapa pertemuan dengan klien di luar. Ia sudah menginformasikan pada istrinya tersebut, jika ia akan terlambat pulang.
Mecca terbangun di saat matahari sudah tinggi, tepat pukul 11 siang ia mulai membuka matanya. Dengan tubuh yang masih lunglai ia membuka mata dan melihat ke arah jam dinding.
“Ya ampun kebo banget Aku, sudah jam 11 siang baru bangun.” Ujarnya sembari mengucek kedua matanya.
“Sudah tidur lama tapi badanku masih tetap lelah saja.” Gumamnya sambil membunyikan bagian-bagian tubuhnya yang kaku.
“Telepon Mas Fadhil dulu ah.” Ucapnya sembari mengambil ponselnya pada nakas dan mulai menghubungi suaminya.
“Yah, enggak diangkat! Telepon Pak Faiz deh.”
Faiz : “Iya Nyonya?”
Mecca : “Assalamualaikum Pak Faiz.”
Faiz : “Wa’alaikumsalam, maaf lupa salam Nyonya.” Jawabnya malu.
Mecca : “Iya enggak apa-apa Pak. Mas Fadhil sedang apa Pak?”
Faiz : “Masih meeting Nyonya.”
Mecca : “Mas Fadhil mau di antar makan siang enggak?”
Faiz : “Sepertinya tidak Nyonya, karena nanti Pak Fadhil mau ketemu klien dari Grup P. Mereka janji temunya sambil makan siang bersama.”
Mecca : “Perempuan?”
Faiz : “Laki-laki dan perempuan.”
Mecca : “Ya sudah kalau begitu. Tolong sampaikan ke Mas Fadhil ya Pak, Saya mau ke rumah Ayah.”
Faiz : “Siap Nyonya!”
Mecca : “Selamat lembur, hahahaha...” ujar Mecca iseng lalu mengakhiri panggilan.
Setelah menutup panggilan teleponnya dengan Faiz, Mecca mengirim pesan singkat pada Fadhil.
Aku enggak tahu Mas akan pulang jam berapa, jadi Aku izin ke rumah Ayah ya.
Aku mau ngobrol banyak sama Kak Dina soal restoran dan juga Aku kangen banget sama Ayah.
Nanti Mas bisa mampir dulu ke rumah Ayah untuk jemput Aku kan?
Selamat bekerja suamiku, love you ❤😘
Setelah berkirim pesan dengan Fadhil, Mecca pun segera mandi, bersiap, menjalankan ibadah, dan pergi ke rumah Pak Pradipta.
Sesampainya di sana, Mecca disambut oleh Bi Mirah dengan senyum ramah. Mecca pun segera naik ke tangga menuju kamar Medina. Seperti dugaannya, Kakaknya itu tengah membaca buku diiringi lantunan musik lembut favoritnya.
“Kak!” tegurnya tiba-tiba setelah membuka pintu tanpa mengetuk.
“Astagfirullah! Ngagetin banget sih Kamu, Dik!”
“Hehehe... maaf! Lapar nih, Kakak masak apa?”
“Kamu kan tahu, kalau siang Aku sendiri di rumah. Jadi ya enggak masak, nanti sore baru masaknya.”
“Ngemall yuk! Lapar nih!”
“Sudah jadi istri kok malas masak sih?”
“Bukan malas, tapi Mas Fadhil lembur. Jadi ya Aku cari teman buat ajak makan di luar.”
“Hmm... Ya sudah, sebentar Kakak ganti baju dulu.”
“Oke, Aku tunggu di bawah ya.”
Tak berselang lama, Medina pun telah siap. Ia menggunakan pakaian casual yang nyaman dipakai dan cocok untuk hangout.
Mereka pun segera pergi menuju Mall yang di maksud. Sesampainya di sana, Mecca pun mengajak serta Pak Mali.
“Pak Mali, ikut yuk makan siang.” Ajak Mecca sopan.
“Tidak usah Nyonya Muda, Saya tunggu di sini saja.” Jawabnya sungkan.
“Ayo Pak, makan siang dulu supaya kuat menghadapi hidup. Hitung-hitung jadi bodyguard Kami, hehehe...” ujar Mecca dengan tawa kecil.
“Baik Nyonya, Saya ikut di belakang.” Jawab Pak Mali mengangguk.
Mecca dan Medina berjalan beriringan, Mereka sibuk dengan bahasan masing-masing. Sehingga keduanya tidak menyadari jika sepanjang perjalanan yang dilalui, tak luput dari pandangan kaum Adam yang mengagumi kecantikan Kakak-beradik tersebut.
Pak Mali dengan waspada menatap sekeliling, ia sengaja membusungkan dada, menegakkan tubuh, dan memasang raut wajah serius untuk menunjukkan postur gaharnya.
“Pak Mali pesan saja ya apa yang Bapak mau, tidak usah sungkan.” Ujar Mecca pada sopirnya tersebut.
“Terima kasih Nyonya Muda.” Jawabnya mengangguk hormat.
Setelah Mereka semua memesan makanan, tak beberapa lama pesanan pun datang. Tanpa berlama-lama Mereka pun menyantap makanannya dengan lahap.
“Kak, ngomong-ngomong sudah sejauh apa hubungan Kakak dengan Kak Arjun?” tanya Mecca penasaran.
“Hubungan apa, Dik? Kakak menghindarinya kok.”
“Kenapa?”
“Dia terlalu baik!”
“Jadi Kakak mau cari yang enggak baik?”
“Ya bukan begitu, Dik. Kakak enggak mau Dia menyesal mendekati Kakak.” Jawabnya sendu.
“Itu cuma pikiran Kakak saja. Coba Kakak buka hati untuk Kak Arjun, kasih kesempatan Dia untuk bisa dekat dengan Kakak. Kalau kalian saling mengenal, baru Kakak bisa menilai.”
“Tapi apa Dia bisa menerima masa lalu Kakak?” tanyanya dengan raut keraguan.
“Maka dari itu, Kakak beri kesempatan Kak Arjun dong. Mana bisa tahu Dia akan terima atau enggak kalau Kakak begitu terus.”
“Lihat saja nanti Dik, kalau jodoh kan enggak kemana.”
“Ya kalau jodohnya sudah ngetuk pintu, tapi enggak dibuka-bukain ya pergi lagi Kak, hahaha...” jawabnya dengan cengiran usil.
Setelah selesai makan siang, lalu berjalan-jalan sejenak keliling Mall, serta membeli beberapa kebutuhan Mereka pun kembali ke rumah Pak Pradipta.
“Pak Mali langsung bawa mobil ke rumah saja ya, terus Pak Mali boleh pulang. Soalnya Saya di rumah Ayah sampai malam, nanti Mas Fadhil yang jemput.”
“Baik Nyonya muda.” Jawabnya mengangguk kemudian berpamitan kepada Mecca dan Medina.
Mecca dan Medina masuk ke dalam rumah dengan membawa beberapa barang yang Mereka beli. Setelah berada di ruang keluarga, Bi Mirah dengan segera menyediakan minuman dingin untuk Kedua majikannya tersebut.
“Kak, sudah dapat ide lagi belum soal restoran Kita?”
“Sudah sih beberapa, nih coba lihat catatannya.” Jawab Medina sembari menyerahkan catatan tangannya pada Mecca.
“Kak Aku enggak sabar Kita mulai bisnis sama-sama.”
“Iya sama. Tapi mungkin prosesnya lama ya?”.
“Pokoknya Kita fokus sama desain, dekorasi, dan menunya saja Kak. Terus kalau sudah jadi Kita coba iklan dengan banyak cara, nah kalau soal perizinan nanti Mas Fadhil yang urus.”
“Oke deh kalau gitu.”
“Istirahat sebentar ya, nanti sore jogging yuk.”
“Ayo saja!”.
Sekitar satu setengah jam Mecca dan Medina istirahat, tepat pukul 16.15 keduanya memulai jogging bersama mengitari komplek perumahan tersebut.
Sudah satu jam Mecca dan Medina berlari ke sana kemari, keringat mulai bercucuran deras di wajah cantik keduanya. Mereka pun memutuskan duduk sejenak di taman sekitar komplek.
“Sudah lama enggak olahraga capek banget rasanya Kak.”
“Makanya Kamu tambah gendut!”
“Ih... Enak saja! Kakak yang gendut! Jawabnya ketus.
“Kakak yang gendut? Mimpi nih ye, blee...” ucapnya sembari menjulurkan lidah.
“Sini foto dulu, biar ketahuan kalo Kakak gendut.” Ucap Mecca memberikan ponselnya pada Medina.
Dengan sigap Medina pun menyambar ponsel itu dari tangan Mecca dan mengambil gambar secepat kilat lalu menyerahkan kembali pada Mecca.
“Idih ngambek tuh si gendut, ngefotoin saja sampai enggak niat!” ucap Mecca menjahili Medina.
“Yang gendut itu yang tiap foto sembunyi di belakang!” jawabnya tersenyum mengejek.
“Upload ah... Captionnya, lagi jogging sama si gendut. Terus send deh, beres!”
“Iiih... Usil banget deh! Hapus enggak?” ujar Medina ingin merebut ponsel Mecca.
“Enggak, bleee... Sini kejar Aku Kakak gendut!” jawabnya memancing kekesalan Medina sembari berlarian.
.
.
.
Happy Reading and Enjoy 🤩
Jangan lupa klik favorit, like, komentar, vote, dan rate 5 ⭐ ya agar Author makin semangat dalam berkarya. Untuk mengetahui cara vote, silahkan para readers mampir pada halaman ATTENTION ya.
Terima Kasih.