AN INEFFABLE SERENDIPITY

AN INEFFABLE SERENDIPITY
Chapter 6. Membuat Cerita



“Siapa laki-laki bernama Egy itu?” tanya Fadhil menyelidik.


“Oh Kak Egy? Dia alumni kampusku mas. Gantengkan?” ucapnya polos.


“Dia nggak ada apa-apanya dibandingkan aku. Kamu suka dia?” dengusnya kesal.


“Sukalah! Dia salah satu kandidat calon pacar kalau aku sudah lulus nanti.” Jelasnya sembari memasukan sesuap nasi.


“Salah satu?”


“Iya. Yang mendekatiku kan banyak mas, aku harus pintar memilih pasangan dong. Pasangan yang bisa aku ajak serius sampai ke pernikahan. Aku hanya perlu memilih satu orang yang tepat dalam hidupku. Aku tidak suka berhubungan hanya untuk putus-sambung.” Jelasnya panjang lebar.


“Lalu, apa Egy itu termasuk yang tepat?”


“Sebenarnya aku sudah tahu perasaan Kak Egy dalam 2 tahun ini padaku, dia termasuk kategori gigih dan sabar saat mengejarku, tapi aku belum memastikan perasaan ini karena janjiku pada ayah, jadi aku tidak berani berharap atau memberikan harapan pada orang lain, walau sebenarnya aku sedikit tertarik sih.” Ujarnya pasrah.


Entah perasaan apa yang menyelimuti Fadhil, ada rasa kemarahan yang tak dapat dijelaskan. Mungkin karena ia biasa mendapatkan banyak perhatian dari para wanita, sehingga saat ada wanita lain yang tertarik pada laki-laki selain dirinya membuat hatinya sedikit tidak rela.


“Lalu, seandainya aku juga ikut mendekatimu siapa yang akan menjadi pilihanmu. Aku atau dia?” tanya Fadhil penasaran.


“Tergantung dari siapa yang perjuangannya lebih besar.” Sahutnya cuek.


Mendengar jawaban Mecca yang terkesan cuek membuatnya semakin merasa kesal tak karuan. Ingin rasanya ia mengatakan kepada gadis itu agar tidak memuji laki-laki lain di hadapannya, namun hal itu ia urungkan karena rasa gengsinya yang tinggi. Entah mengapa gadis yang baru ditemuinya beberapa jam ini mampu membuat hatinya panas-dingin.


“Mas, tukar tempat yuk. Aku merasa tidak nyaman duduk di sini. Kak Egy memandangku terus menerus tanpa mengalihkan tatapannya.” Bisik Mecca sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan mendekati Fadhil.


Ada ide iseng terlintas dibenak Fadhil, ia mulai memindahkan piring serta gelasnya tepat di samping Mecca kemudian mengangkat kursi yang ia duduki tepat di sebelah gadis cantik itu.


“Mas kok pindah di sampingku? harusnya aku saja yang bertukar tempat.” Tanyanya penuh heran.


“Aku akan bantu mem-block pandangan tak nyaman laki-laki itu darimu.” Ujarnya dengan tatapan usil.


“Wah ada sesuatu di alis kirimu, aku coba bersihkan ya.” Bohongnya pada Mecca.


“Eh... Ada apaan mas?” tanyanya spontan sembari mengarahkan tangan kirinya ke alis yang dimaksud Fadhil, namun Fadhil segera menahan tangan kiri Mecca dan meletakkannya kembali di meja masih dengan mempertahankan genggaman lembutnya.


Hal ini membuat Mecca tak nyaman, ia berusaha melepaskan tangannya namun Fadhil dengan kuat menahan penolakan Mecca.


“Diam dulu, jangan banyak bergerak!” perintahnya menekan.


Fadhil mencoba mencari posisi yang tepat, ia mengarahkan tangannya yang menggenggam tangan Mecca condong lebih jauh di atas meja berharap laki-laki bernama Egy itu melihat kemesraan yang dibuat-buatnya.


Ia juga sedikit memutar wajahnya dan wajah Mecca secara samar dan sedikit mendekatkannya untuk memberikan kesan bahwa ia sedang mengecup wajah cantik gadis itu.


Dan benar saja, tak berselang lama Egy serta Karina beranjak dari bangku yang mereka duduki dan pergi dari restoran segera.


Fadhil melihat tatapan kemarahan Egy dari pantulan kaca di hadapannya. Perasaan puas menyelimuti hatinya atas taktik yang berhasil ia lakukan.


“Mas.... Sudah belum?” tanya Mecca membuyarkan lamun Fadhil.


“Eh... Iya nih, sudah. Susah banget dibersihkannya Mec.” Cengir Fadhil menahan tawa.


“Ada apa sih di wajahku tadi mas?”.


“Seperti noda spidol Mec”.


“Hah? spidol apaan? kayaknya aku nggak ada pegang spidol hari ini.” Sahutnya kebingungan.


“Sudah, nggak usah dipikirkan. Ayo lanjut makan lagi.” Perintahnya mengalihkan kebingungan Mecca.


Beberapa menit setelah keduanya menghabiskan makanan yang mereka pesan, Fadhil mulai menyusun rencananya dengan Mecca.


“Aku sudah pikirkan tentang cerita kita, bagaimana kalau kita tidak sengaja bertemu di jalan. Pada saat itu aku tidak sengaja menabrakmu, lalu kita semakin intens chatting dan bertemu, akhirnya kita memutuskan menjalin hubungan dan sudah berselang selama 1 tahun hingga saat ini.” Ujarnya mengatakan ide-ide di kepalanya.


“Inikan hanya hubungan pura-pura, masa sampai ketahuan ayahmu sih?”


“Lebih baik mencegah mas. Aku tidak mau ambil resiko. Karena ayahku orang yang sangat tegas jika menyangkut hubungan antara pria dan wanita.” Ucapnya tak mau kalah.


“Kalau begitu kamu saja yang buat cerita, aku akan menurut.” Pasrahnya.


“Jadi ceritanya begini, Mas Fadhil melihatku pertama kali di toko buku gra*****, saat itu mas langsung tertarik denganku, dan mas berusaha keras mencari tahu informasi tentangku. Akhirnya mas memberanikan diri mendekatiku perlahan dan menyatakan perasaan mas padaku. Tapi aku langsung menolak saat itu juga, namun hal itu justru membuat Mas Fadhil makin gencar mendekatiku. Lalu mas bilang akan menungguku hingga lulus kuliah, mas tak perlu status kekasih dariku tapi mas menginginkanku berstatus calon istri, dan aku mengiyakan. Jadi deh hubungan kita berjalan selama 1 tahun hingga saat ini. Baguskan?” jelasnya panjang lebar dengan mata berbinar.


“Tidak ah! Aku tidak suka mendapat peran itu. Masa seorang Fadhil mengejar-ngejar wanita tanpa harga diri begitu. Sudah ditolak masih juga tak menyerah.” Menunjukkan ekspresi kesalnya.


“Kalau begitu cari saja partner lain untuk membantu Mas Fadhil.” Ujarnya santai sambil menyeruput orange juicenya.


Damn, cela Fadhil dalam hati. “Oke, aku setuju dengan idemu.”


“Good boy, tapi aku minta imbalan ya.”


“Aku selalu bisa menebak hal ini. Ternyata kamu juga mengharapkan imbalan dariku. Katakan apa maumu?” sahutnya sinis.


“Mas Fadhil bantu aku mengumpulkan data-data yang aku perlukan untuk pembuatan skripsiku. Nanti akan aku list data apa saja yang aku butuhkan. Bagaimana?” tanyanya hati-hati.


“Hah?” Fadhil hanya dapat melongo mendengar permintaan gadis itu. Ia berpikir gadis di hadapannya akan menyebutkan angka-angka fantastis untuk merampoknya. “Hanya itu? Yakin?” tanyanya kembali memastikan.


“Iya, yakin. Bisa?”


“Bi-Bisa dong. Sangat bisa.” Jawabnya gagap masih tak percaya. “Hari ini aku antar kamu pulang saja ya, sudah hampir jam 3 sore nih. Tidak usah kembali ke kantor lagi.”


“Aku harus kembali mas, semua barang-barangku masih tertinggal disana.”


“Ambil besok saja, kan besok masih ke kantor.”


“Nggak bisa mas. Laptop, modul kuliah, dan ponselku ada di dalam tas.” Rengeknya menjelaskan.


“Berikan nomor ponselmu.” Sembari menyerahkan ponsel model terbaru harga puluhan juta itu.


Mecca menekan tombol demi tombol dan menyerahkan kembali ponsel tersebut pada pemiliknya. Fadhil tersenyum seketika saat ia memperhatikan nomor telepon gadis itu.


“Ya sudah, kalau begitu kita putar-putar dulu ya, aku agak malas jika kembali ke kantor masih penuh dengan karyawan.”


“Terserah mas saja, tapi jangan sampai malam ya.”


“Iya nona.” Sahutnya singkat.


“Mas kita mampir masjid dulu yuk, sudah mau waktu ashar nih.” Pintanya lembut.


“Siap laksanakan.” Sahut Fadhil dengan wajah dan senyum melembut merasa kagum dengan ajakan Mecca.


.


.


.


Happy Reading and Enjoy 🤩


Jangan lupa klik favorit, like, komentar, vote, dan rate 5 ⭐ ya agar Author makin semangat dalam berkarya. Untuk mengetahui cara vote, silahkan para readers mampir pada halaman ATTENTION ya.


Jangan jadi penikmat dan silent readers, tunjukkan diri dengan like ya!


Terima Kasih.