
Hampir 2 jam Bu Alisa menemani Fahri membeli pakaian serta bermain di zona anak pada salah satu mall yang dituju. Bu Alisa juga membelikan beberapa mainan edukasi untuk Fahri sebagai hadiah.
Selama kebersamaan itu tampak jelas raut wajah bahagia Fahri dari senyumnya yang terus mengembang. Seolah anak kecil itu menemukan sosok seorang ibu sejati yang membuatnya semakin tak sungkan untuk bermanja, merengek, dan bercengkerama.
Kerap kali kasih sayang tulus Bu Alisa pada Fahri terlihat jelas di mata Pak Permana. Kelemahlembutan Bu Alisa bagai sihir kuat yang menarik pandangan Pak Permana untuk tidak memalingkan tatapannya.
Pak Permana menatap haru pada wanita mengagumkan di sisinya itu. Posisi Fahri yang berada di antara mereka, menggandengkan tangannya pada Pak Permana dan Bu Alisa, membuat pemandangan tersebut bagai keluarga bahagia seperti yang diimpikan banyak orang.
Pak Permana merasa usahanya untuk mengembalikan posisi semula Bu Alisa melalui bantuan Fahri pasti akan berhasil dengan mudah, paling tidak itulah yang ia rasa dan yakini saat ini. Tapi apakah Author akan menyetujuinya? Ra-Ha-Sia (ketawa jahat)
“Fahri sayang tunggu di sini dulu ya, mama mau ke kamar mandi sebentar.” Ujar Bu Alisa sembari mendudukkan Fahri pada bangku kosong di hadapannya, sedangkan tatapannya tetap tak menghiraukan Pak Permana yang ikut duduk di sebelah anak kecil tersebut.
Pak Permana menatap kepergian Bu Alisa dengan seulas senyum yang menyungging. Tak kepedulian Bu Alisa padanya justru bagai pemacu semangat untuk mendapatkan kembali hati wanita anggun tersebut.
“Hi boy, are you happy?” tanya Pak Permana menyenggol pelan lengan Fahri yang sedang asyik menikmati es krim cokelatnya.
“So much!” jawab Anak laki-laki itu sembari menjilati es krimnya.
“Boy apakah kamu sayang Mama Alisa?”
“Sangat. Mama sangat baik dan sayang Fahri juga.” Senyum merekah Pak Permana semakin lebar mendengar jawaban anaknya.
“Lebih sayang mama atau mommy?” pertanyaan konyol menurutnya, namun rasa penasaran Pak Permana untuk mengetahui jawaban Fahri sangat besar tentang itu.
“Both of them.”
“Choose one.” Tegas Pak Permana dengan mengangkat jari telunjuk kanannya.
“Hmmm, i can’t.”
“Why?”
“Mama baik, lembut, dan sangat sayang Fahri, tapi...”
“Tapi?”
“Tapi mommy yang selalu ada, yang selalu Fahri rindukan. I miss mommy so much, huhuhu...” tangis Fahri pecah tiba-tiba saat mengungkapkan kerinduannya yang tertahan pada Rani.
Dalam sekejap kebingungan melanda Pak Permana, ia langsung menepuk-nepuk lembut punggung Fahri dengan sayang, berusaha menenangkan anak itu dari tangisnya. Bertepatan dengan itu, Bu Alisa yang melihat Fahri menangis dari kejauhan langsung berlari dan merengkuh Fahri dalam pelukannya, menggendong, dan menjauhkan dirinya serta Fahri dari jangkauan Pak Permana.
“Kenapa menangis?” tanya Bu Alisa khawatir.
“I miss mommy. Kenapa mommy tidak pulang-pulang? Apa mommy benci Fahri, huhuhu...?” ucap Fahri disela-sela tangisnya.
Bu Alisa menatap Fahri dengan iba, hatinya ikut sakit merasakan kesedihan anak kecil itu. Kenapa masalah di antara kedua orang tuanya malah menyakiti makhluk polos tak berdosa sepertinya. Bu Alisa menatap Pak Permana dengan kesal, ia menyampaikan kebenciannya melalui mata tajamnya.
“Sayang, tidak mungkin mommy membenci anak baik sepertimu. Bagaimana kalau kita pulang saja, barang kali saat kita sampai rumah mommy sudah menunggu di sana?” bujuk Bu Alisa menyenangkan Fahri.
Dengan cepat Fahri menghapus sisa-sisa air matanya dan mengangguk-angguk antusias. Ia pun turun dari gendongan Bu Alisa dan melompat-lompat bahagia.
“Bawalah Fahri pulang, aku akan menghubungi Pak Yogi untuk menjemputku.”
“Tidak, aku akan mengantarmu.”
“Aku tidak sudi satu mobil denganmu!”
“Please Alisa, berhentilah bersikap seperti ini padaku. Aku masih mencintaimu dan aku berniat rujuk denganmu.”
“Apa?! Rujuk?!” Bu Alisa membelalakkan mata tak percaya mendengar ucapan Pak Permana yang tanpa dosa tersebut. “Asal kamu tahu ya, gugatan cerai yang kamu cabut di pengadilan sudah aku masukkan ulang. Dan aku tidak akan mundur walau kamu menolaknya!”
“Kenapa kamu lakukan itu?” tanya Pak Permana polos.
“Hah ‘Kenapa?’ pertanyaan bodoh!”
“Aku sungguh tidak tahu Alisa. Aku bersungguh-sungguh ingin rujuk, aku juga sudah meminta maaf, dan sudah berkelakuan baik padamu selama ini bukan?”
“Lantas apa karena kamu ingin rujuk aku harus patuh begitu? Bukankah kamu yang menalakku mentah-mentah saat itu?” mendengar ucapan Bu Alisa Pak Permana hanya dapat terpaku, seolah bibirnya kelu ia hanya dapat menatap Bu Alisa dengan hambar. “Saranku, sebaiknya kamu nikahi Rani. Jadikan dia istri sahmu sekalian. Bukankah dulu kamu lebih berat padanya? Apa kamu tidak kasihan melihat tangis Fahri yang merindukan ibunya? Apa kamu tega memisahkan anak itu dari ibu kandungnya? Walau dia tidak mengucapkannya, tapi aku tahu Fahri sangat merindukan Rani. Cukuplah kamu berbuat jahat dan tega padaku, tidak usah ke orang lain!” cerca Bu Alisa tanpa tedeng aling-aling.
Seketika usai berkata itu, Bu Alisa langsung memalingkan wajahnya dan berjalan mendekati Fahri yang masih asyik berlarian ke sana kemari, namun sejurus itu pula Pak Permana menahan langkah Bu Alisa dengan menarik lengannya yang bebas, sehingga Bu Alisa terpaksa menolehkan kembali wajahnya ke sosok pria egois di belakangnya.
“Aku tahu aku salah, tapi apa kamu tidak bisa memberiku kesempatan sekali lagi? Aku hanya khilaf Alisa, aku terlalu termakan pengaruh Rani saat itu. Aku mohon, maafkan aku. Mari kita mulai hubungan kita kembali, seperti pernikahan bahagia yang kita jalani bertahun-tahun dulu, ya?!” ujar Pak Permana dengan wajah mengiba. Bu Alisa yang sedari tadi berusaha melepaskan lengannya dari cengkeraman Pak Permana akhirnya berhasil dalam rontanya.
“Cih!” desih Bu Alisa spontan. “Kesempatan? Khilaf? Pernikahan bahagia?” ujar Bu Alisa mengulang tiap kata Pak Permana yang seperti lelucon baginya. “Lukman... Lukman... Sebaiknya kamu cepat-cepat bangun dari mimpimu, perkataanmu tadi itu terlalu menggelikan tahu tidak?! Kamu itu seperti orang yang habis berbuat seenaknya, lalu hilang ingatan dalam sekejap. Sudahlah, sebaiknya kita sudahi sampai di sini saja! Pulanglah lebih dulu bersama Fahri.” Ucap Bu Alisa menatap Pak Permana dengan remeh.
Pak Permana berdiri terpaku, otaknya bagai tak bisa berpikir lagi. Penolakan Bu Alisa terasa begitu menyakitkan, namun entah rasa cinta atau obsesi yang menaklukkannya saat ini, otak dan hatinya masih terus dan terus menginginkan Bu Alisa untuk dapat kembali dalam rengkuhannya lagi.
Seolah sengatan Bu Alisa melalui kata-katanya bagai buih di lautan, semua hilang begitu saja tanpa tersisa. Di pikiran Pak Permana hanya tertinggal keegoisan untuk mendapatkan Bu Alisa, entah bagaimanapun caranya.
“Aku akan hapus semua kebencianmu menjadi cinta kembali Alisa, tunggu saja nanti.” Gumam Pak Permana pelan dengan angkuhnya.
***
Setelah lelah menonton drama, Mecca merasa tubuhnya seolah pegal. Ia pun mulai melakukan perenggangan dan beberapa gerakan senam hamil yang ia ingat selama mengikuti kelas khusus setiap minggunya.
Selama 20 menit Mecca melakukan senam dan melatih pernafasan, tiba-tiba Mecca teringat akan sesuatu, ia pun berdiri dan langsung memasuki kamar mandi yang berada di kamarnya. Mecca mengambil sebuah handuk kecil berwarna putih yang berada di rak handuk bersih, lalu membasahinya dengan air dan menuangkan sedikit cairan pembersih lantai. Sebelum keluar dari kamar mandi, Mecca bercermin sesaat dan menyemangati dirinya sendiri.
“Semangat dan siap!” ucapnya penuh optimis.
Mecca mulai berjongkok dan mengepel lantai kamarnya yang luas dengan kedua tangannya. Dari ujung ruangan, setiap sela-sela bagian, hingga kolong-kolong yang terjangkau olehnya. Baru lepas 10 menit, Mecca seolah merasakan lelah yang teramat luar biasa. Keringatnya begitu banyak menetes, pinggang dan kakinya terasa berat dan lelah, namun semangatnya masih tetap menyala.
“Harus kuat, baru juga 10 menitan, ruangan aja belum ke pel separuh masa sudah nyerah sih? Enggak-enggak!” ujar Mecca menyemangati dirinya sendiri.
Sambil melakukan kegiatannya, Mecca menyanyikan sebuah lagu yang akhir-akhir ini sering dia dengarkan, berharap dengan begitu rasa lelahnya dapat terusir. Mecca mulai menyanyikan lagu ‘I Like You So Much, You’ll Know It’ dengan merdu.
I like your eyes you look away when you pretend not to care
I like the dimples on the corners of the smile that you wear
I like you more, the world may know but don't be scared
Coz i'm falling deeper, baby be prepared
I like your shirt, i like your fingers, love the way that you smell
I loved you for so long, sometimes it's hard to bear
But after all this time,i hope you wait and see
Love you every minute, every second
Love you everywhere and any moment
Always and forever i know i can't quit you
Coz baby you're the one, i don't know how
Love you til the last of snow disappears
Love you til a rainy day becomes clear
Never knew a love like this, now i can't let go
I'm in love with you, and now you know
“Yank, ngapain?” tanya Fadhil mengagetkan Mecca.
“Setan dalam kandang!” ucap Mecca spontan karena terkejut hingga terduduk di lantai. Untung saja pendaratannya pelan dan tak berjarak tinggi, sehingga tak membahayakan dirinya serta bayi dalam kandungannya tersebut.
“Hah? Kamu ngatain aku setan yank?!” tanya Fadhil tak terima dengan wajah merengut.
“Bukan mas, aku kaget tahu! Jadi spontan japlak deh. Habis mas masuk enggak pakai ketok pintu segala, untung posisi aku enggak di belakang pintu tadi.”
“Ya kan biasanya masuk juga langsung-langsung aja, enggak pakai ketuk-ketuk, kok sekarang aku diprotes sih? Sudah bangun dulu dari lantai, dingin di situ yank.” Jawab Fadhil sembari menarik tubuh Mecca, mengangkat, lalu meletakkannya ke ranjang.
“Makasih ya mas.”
“Iya sama-sama. Kamu ngapain sih sayang? Kok lantainya basah-basah begini? Bahaya loh, kalau kamu kepleset gimana coba?!” tanya Fadhil dengan penuh khawatir.
“Ya kan baru di pel mas dan memang belum dikeringkan. Aku tuh sengaja ngepel kamar kita dengan jongkok, karena menurut info yang pernah aku baca posisi ngepel jongkok ini bisa mempermudah melahirkan nanti mas.”
“Ikutin gerakannya saja, enggak usah benar-benar ngepel kayak gini lagi. Terlalu bahaya, aku takut kamu malah kenapa-kenapa nginjak licin-licin begini.” Ucap Fadhil dengan nada suara tegas memperingatkan.
“Iya deh mas, maaf ya. Aku kan cuma mau praktik aja.” Jawab Mecca cemberut.
“Aku enggak marah kok sayang, aku cuma khawatir.” Fadhil buru-buru mengubah nada bicaranya lebih lembut. “Kamu duduk saja ya di sini, lantainya biar aku yang keringkan.” Fadhil menggeser tubuh Mecca dan membuatnya dalam posisi nyaman, lalu ia mendekatkan meja bergulir ke hadapan Mecca yang di atasnya sudah terdapat sepiring camilan panas buatannya. “Ini dimakan ya yank, tadi aku buat sendiri loh, lihat dari internet.”
“Wah, serius mas?” tanya Mecca dengan mata membulat penuh kagum. Fadhil mengangguk bangga sembari berkacak pinggang. “Ini apa namanya mas?”
“Bitterballen, coba deh. Tapi hati-hati ya, masih panas tuh.” Fadhil memperingatkan Mecca dengan segera, namun terlambat karena Mecca sudah melahapnya bulat-bulat. “Enggak panas yank?” tanya Fadhil membelalakkan matanya tak percaya.
“Hanaz hapi henak (panas tapi enak).” Jawab Mecca tak jelas dengan mulut yang masih mengepul sambil mengangkat dua jempolnya.
“Ckckckck...” decak Fadhil gemas.
Di saat Mecca bersantai menikmati camilannya, Fadhil justru mengeringkan sisa-sisa air di lantai bekas kekreatifan istrinya tersebut.
***
“Semangat Bi, kamu bisa!” ujar Arjun terengah-engah.
“Tanganku rasanya mau patah nih, Be.” Jawab Medina lelah dengan nafas yang tersengal-sengal.
“Itu karena kamu belum terbiasa Bi, kalau sering juga nanti enak ngelakuinnya.”
“Aku enggak kuat lagi Be, sudah ya?!” jawab Medina masih menaik turunkan tubuhnya.
“Jangan dong sayang, tanggung! Baru juga mulai, kita belum sampai puncaknya nih, sabar ya, uh... Ah...” Arjun mengatur nafasnya yang mulai berat.
“Ehm... Ah... Kamu kuat banget sih, Be.” Kagum Medina menatap fisik Arjun yang menakjubkan, berkali-kali Medina menegak liurnya kasar menatap otot-otot kekar Arjun yang terekspos.
“Nanti kalau kamu sering ngelakuinnya juga bisa kuat kok, kamu cuma belum terbiasa aja, huh-hah...”
“Aku mau ngelakuin ini kalau sama kamu aja, fuuuh-haaah...”
“Walau enggak sama aku, kamu kalau lagi mau coba sendiri aja di kamar, huuh-haaah...” jawab Arjun disela-sela nafas memburunya.
“Kalau ngelakuin ini sambil tatap-tatapan aku lebih suka, aaah-uuuh...!”
“Seperti sekarang, aku lihat kamu lebih cantik, apalagi saat keringatan begini.”
“Kamu juga, lebih.... Aaaaahhhh.... Aku enggak kuat lagi Be!” Medina jatuh terkulai di lantai, mengibas-ngibaskan tangannya yang mulai kelelahan dan lemas.
“Yah kok sudah nyerah sih, Bi? Baru juga setengah jam, belum gerakan puncak nih.” Arjun pun ikut menyudahi gerakannya, mengelap keringat, serta menegak air di botol minum yang ia letakkan di lantai.
Arjun mengambil botol minum lain dan memberikannya pada Medina. Tanpa menunggu lama, Medina merampas botol itu dan menegaknya tanpa sabar hingga tersedak.
“Uhuk-uhuk-uhuk.” Arjun dengan segera memukul-mukul punggung Medina spontan.
“Pelan dong Bi, sampai keselak gitu.”
“Haus banget, hehehe...” cengir Medina polos.
“Katanya mau sehat, katanya mau jaga berat badan, ini cara paling jitu loh sayang.”
“Iya, tapi istirahat dulu. Aku kan enggak sekuat kamu.”
“Bisa kok, nanggung nih. Lagi ya?” tanya Arjun menunggu jawaban, namun tak lama kemudian Medina mengangguk pasrah.
“Semangat-semangat!” ucap Arjun lantang dengan senyum mengembang.
Medina dan Arjun kembali meneruskan olahraganya dengan nafas yang masih sama-sama berat. Mereka menghabiskan waktu kebersamaannya dengan olahraga di depan garasi rumah Pak Pradipta. Atas kemauan Medina, Arjun resmi menjadi tutornya dalam hal menjaga kebugaran tubuh dimulai dari sekarang.
(Hayo pada mikir apa sebelumnya? Jujurlah padaku bila kau tak lagi... Eits 😂🤣😅😋🤭) Jangan lupa diapresiasi dengan like, komentar, dan vote kalian gaes. Sedih aku tuh kalau like, komentar, dan votenya sepi begini 😭