
Tiba hari dimana acara tasyakuran 4 bulanan Mecca dilaksanakan. Fadhil sengaja mengambil cuti sehari khusus untuk acara hari ini. Di rumah Mecca dan Fadhil sudah berjejer berbagai macam hidangan serta suvenir untuk para tamu undangan.
Selain karena anggota keluarga Fadhil dan Mecca lebih banyak berada di kota berbeda dan acara diadakan di hari dan waktu kerja, tamu undangan yang hadir hanya beberapa dari keluarga dekat Pak Pradipta, sedangkan dari pihak Fadhil hanya dihadiri oleh Mama Alisa, Mama Rita, dan Arjun.
Walau acara dibuat secara dadakan, namun tetap berlangsung dengan khidmat. Pembacaan doa yang dipimpin oleh Amar, sepupu Mecca sungguh menghipnotis para keluarga yang hadir. Suara Amar dalam melantunkan doa dan ayat suci Al-Quran teramat merdu.
Sesekali Mecca menangis haru mendengar doa-doa yang dipanjatkan untuknya dan bayi dalam kandungannya tersebut di aamiin kan banyak orang. Mata berkaca-kaca juga terlihat pada Fadhil, Pak Pradipta, Mama Alisa, dan juga Medina.
Setelah acara doa selesai, para tamu undangan dipersilakan menyantap berbagai macam hidangan yang tersedia. Mecca dan juga Fadhil serta merta mendapatkan ucapan selamat bertubi-tubi dari para keluarga. Semua yang berkunjung ikut bahagia dengan kehamilan Mecca tersebut.
Setelah acara usai, Mama Alisa dan juga Mama Rita ikut undur diri. Mereka berpamitan dengan keluarga inti.
“Kami juga pamit pulang dulu ya Mas Dipta.” Ujar Mama Alisa dan Mama Rita.
“Kok buru-buru?” jawab Pak Pradipta ramah.
“Ya karena saya dan Rita harus kembali ke kantor lagi, apalagi saya kan numpang sama Rita tadi kesininya.” Jawab Mama Alisa lembut.
“Mas Permana apa tidak mampir kesini nanti? Mungkin malam?” tanya Pak Pradipta masih penasaran. Walau sebenarnya Mama Alisa sudah memberikan alasan yang cukup masuk akal menurutnya.
“Ehm... Itu... Sepertinya tidak bisa. Soalnya suami saya kan masih di luar kota.” Jawab Mama Alisa berbohong.
“Oh ya sudah kalau begitu. Saya titip salam saja ya.” Ujar Pak Pradipta ditanggapi anggukan oleh Mama Alisa.
Setelah saling mengucapkan salam dan terima kasih Mama Alisa dan Mama Rita pun segera undur diri.
Malam ini Medina dan Pak Pradipta diminta Mecca untuk menginap di rumahnya. Entah karena bawaan bayi atau apa, tapi hari ini Mecca sangat ingin di manja ayahnya.
“Yah...”
“Iya, Nak?” tanya Pak Pradipta sembari membelai lembut puncak kepala Mecca.
“Mecca kangen ibu.” Jawab Mecca dengan mata berkaca-kaca.
Pak Pradipta diam terkesiap mendengar ucapan Mecca dengan mata yang sudah berkaca-kaca.
“Hamil seperti ini membuat Mecca sering ingat ibu.” Suara parau Mecca mulai terdengar.
“Kalau diingat-ingat lagi, ibu meninggal waktu Mecca masih umur 6 tahun. Kadang Mecca sering lupa bagaimana wajah ibu terakhir kali.” Ujarnya menunduk melihat perutnya yang mulai membuncit.
“Mecca pengen banget ibu juga bisa ngelus-ngelus perut Mecca sambil cerita pengalamannya saat hamil dulu. Pasti seru ya, yah?” ucap Mecca memandang Pak Pradipta dengan bulir air mata yang menetes.
Mendengar ucapan dan keinginan Mecca membuat hati Pak Pradipta merasakan rindu yang sama. Tanpa berbicara Pak Pradipta menarik Mecca dalam pelukannya. Berkali-kali Pak Pradipta membelai punggung anaknya dengan sayang, berharap sentuhan tangannya memberikan kehangatan yang sama seperti sentuhan seorang ibu.
***
Medina dan Arjun masih sibuk membantu para ART membereskan rumah Mecca dan Fadhil yang masih berantakan.
“Din... Jun... Kalian ngapain?” tegur Fadhil yang berjalan ke arah mereka berdua.
“Lagi renang!” Jawab Arjun sembarangan.
“Hahaha... Sudah biarin aja! Kan ada yang ngerjain itu. Loe enggak ada praktek hari ini?” tanya Fadhil pada Arjun.
“Waktu itu gue ada gantiin jadwal teman, jadi sekarang jadwal gue digantiin sama dia. Jadi ya hari ini gue bebas tugas.”
“Antarin gue ke ke panti-panti asuhan yuk. Kasihan kalau ajak Mecca, dia pasti capek banget hari ini.”
“Oke, ayo!” jawab Arjun singkat.
“Din, aku pinjam dulu ya sopir pribadimu ini.” Canda Fadhil pada Medina. Medina hanya tersenyum mendengar ucapan Fadhil, sedangkan Arjun sudah memelototi Fadhil dengan kesal.
Setelah kepergian Arjun dan Fadhil, Medina mulai mencari Mecca. Ia melihat Mecca masih duduk di sofa ruang keluarga dengan santai.
“Hai dik, capek ya?” tanya Medina sembari duduk di sebelah Mecca.
“Lumayan kak. Kaki aku sih yang kerasa pegal.”
“Sini kakak pijitin kakinya.” Mecca pun mulai merebahkan tubuhnya di sofa panjang dan meletakkan kakinya di atas pangkuan Medina.
“Ayah mana, dik?” tanya Medina sembari memijat kaki Mecca dengan lembut.
“Ayah ke kamar kak. Katanya mau istirahat dulu.”
“Oh... Bagaimana pijatannya, pas?”
“Kurang kencang sedikit kak.” Mendengar ucapan Mecca membuat Medina sedikit menguatkan pijatannya.
“Kamu jangan terlalu capek ya. Kalau sudah ngerasa sedikit aja lelah, kamu harus berhenti aktivitas dan istirahat.”
“Iya kakakku sayang.” Jawab Mecca setengah sadar lalu terlelap.
“Yah... Tidur dia! Kasihan sih, pasti capek.” Medina membiarkan Mecca tidur di sofa dan menyelimuti tubuh adiknya dengan perlahan. Ia pun ikut merebahkan diri di sofa lainnya lalu ikut terlelap.
Waktu terus berjalan, tanpa sadar sudah menunjukkan pukul 8 malam. Medina mulai membuka mata dan melihat ke sekelilingnya dengan mengerjap.
Medina mulai mendudukkan tubuhnya dan menyusun kembali tenaganya yang tersisa.
“Sudah bangun, Bi? Minum dulu air putihnya tuh di meja.” Ujar Arjun di sebelah Medina.
“Ya ampun! Kaget aku, Be! Kapan kamu di sebelah akunya sih?” jawab Medina terkejut.
“Sudah ada setengah jam aku di sebelah kamu, Bi. Ayo minum dulu air putihnya.” Ucap Arjun sembari memberikan air putih ke tangan Medina. Medina pun langsung meminum habis 1 gelas penuh air tersebut.
“Jam berapa ini?”
“Jam 8 malam. Terus Bi ditinggal makan malam tuh sama yang lainnya. Habis pada enggak tega buat bangunin, Bi.”
“Be sudah makan?”
“Belum, aku kan setia! Aku harus nunggu sayang aku bangun dulu dong.”
“Gombal banget!” cubit Medina di perut Arjun.
“Sebentar ya Be, aku masih males-malesan nih.” Mendengar ucapan Medina, Arjun langsung menarik tubuh Medina untuk bersandar di lengannya. Medina pun mulai menyamankan posisi sandarnya.
“Kamu pegang buku apa?”
“Ini novel kamu yang di atas meja.” Jawab Arjun sembari membuka novel Medina.
“Sudah baca?”
“Baru 4 halaman.”
“Baguskan?”
“Pusing, Bi! Isinya berat bener dah.” Ucapan Arjun membuat Medina tersenyum gemas.
“Kamu bangun tidur kok tetap cantik sih, Bi?” ujar Arjun menutup novel dan menegakkan posisi tubuhnya.
“Gombal melulu nih mas-mas.”
“Serius! Tapi kamu tahu enggak Bi kalau aku akhir-akhir ini kekurangan vitamin C.”
“Hah, kok bisa?”
“Bisalah, selama sama kamu vitamin C ku enggak pernah diperhatikan sih.”
“Ya ampun Be, kayaknya aku kasih perhatiannya enggak kurang-kurang deh.”
“Kalau Bi nyesel, kasih vitamin aku sekarang!” ucap Arjun memajukan bibirnya.
“Ehm... Pantes agak aneh, ternyata vitamin C ada maunya!” celetuk Medina sambil memutar kedua bola matanya.
“Vitamin C-ium!” pinta Arjun masih memajukan bibirnya.
.
.
.
Happy Reading and Enjoy 🤩
Jangan lupa klik favorit, like, komentar, vote, dan rate 5 ⭐ ya agar Author makin semangat dalam berkarya. Untuk mengetahui cara vote, silahkan para readers mampir pada halaman ATTENTION ya.
Jangan jadi penikmat dan silent readers, tunjukkan diri dengan like ya!
Terima Kasih.