
Waktu telah menunjukkan pukul 20.20 WIB. Fadhil dan Mecca masih dalam kecanggungan, walau mereka telah berada dalam satu ranjang, namun batas pemisah di antara keduanya terlihat nyata.
Keduanya saling menampakkan ekspresi canggung dan bingung, tak seperti hubungan sebelumnya di mana saat keduanya bersama biasanya tak ada 1 detik pun keheningan, namun saat ini justru berbanding terbalik.
Di kamar yang temaran itu, keduanya saling memutar otak mencari berbagai hal yang dapat di jadikan bahan obrolan.
“Mas ini sudah jam berapa? Belum mengantuk?” tanya Mecca memecah keheningan.
“Sepertinya sudah setengah sembilan, aku sih ngantuk, tapi Bembiku masih bangun." Jawab Fadhil usil.
Mecca menelan ludah mendengar pernyataan Fadhil, ia mengingat-ngingat kejadian satu hari sebelum acara akad pernikahan itu terjadi. Ia membuka artikel situs-situs dewasa untuk menambah ilmu baru sebagai bekalnya malam ini.
Saat mengingat apa yang ia lakukan dan apa yang ia baca membuat bulu kuduknya berdiri, ia merasa malu tiba-tiba. Namun keingintahuannya semakin tumbuh.
"Apa harus praktek?” ucapnya dalam hati.
Dengan perlahan tangan gemetar Mecca terarah pada paha bagian dalam Fadhil yang seketika membuat si punya tubuh tersontak kaget menjauh. Bulu kuduk Fadhil berdiri di sekujur tubuhnya.
“Kamu ngapain?” tanya Fadhil tak percaya.
“Aku mau bantu tidurkan Bembi, biar Mas Fadhil bisa tidur juga." Jawabnya dengan wajah polos.
Mendengar jawaban Mecca membuat Fadhil tak dapat menahan dirinya lagi, ia segera menerkam tubuh gadis mungil itu. Fadhil menindih tubuh ramping Mecca masih dengan selimut yang menutupi sebagian tubuhnya. Mecca terperanjat dengan aksi Fadhil yang tiba-tiba tersebut.
“Maaaaas...” keluh Mecca tak dapat tersambung, karena bibir mungilnya sudah dilahap habis oleh Fadhil.
Awalnya hanya kecupan kecil, kemudian menjadi ciuman hangat, dan berlanjut menjadi ciuman bergairah. Lidah keduanya telah saling menukar tiap tetes saliva yang tersisa. Ciuman keduanya didominasi oleh Fadhil, bagi Mecca ciuman pertamanya ini sungguh sangat membingungkan. Ia tidak tahu harus bertindak bagaimana, namun ia hanya mengikuti naluri alaminya. Ia berusaha menikmati tiap sentuhan yang Fadhil berikan pada bibir dan tubuhnya.
Bagai melayang ke langit ketujuh, dua pasang suami-istri itu saling berpagutan tanpa jeda. Mecca mulai kehabisan nafas, Fadhil pun memberikan kelonggaran bagi istri cantiknya itu. Ia menuruni ciuman panasnya menuju leher putih gadis itu, kecupan manis hingga gigitan kecil ia layangkan tak berhenti.
“Aaaaah... Sakit mas." Pekik Mecca mengadu.
“Ini hukuman karena gadis kecil sepertimu sudah mengganggu singa tidur." Ujarnya tepat di ceruk leher Mecca.
Fadhil terus meraba tiap senti tubuh Mecca tanpa ampun, tangannya mulai bergerilya kesembarang arah.
Mecca merasakan hal baru dalam hidupnya di setiap sentuhan yang Fadhil berikan, ada rasa nyaman, merinding sekaligus nikmat yang membuat dirinya seperti berada pada roller coster.
Sejenak Fadhil terdiam saat ia melihat kedua belahan dada Mecca yang menyembul keluar, ingin sekali ia menjamah dan melahap bukit kembar yang indah itu, namun ia berusaha menahan dirinya, ia pun meminta izin kepada si pemilik bukit tersebut.
“Boleh?” tatapnya dengan nafas masih tersenggal-senggal.
“Boleh, asal mas berjanji akan mencintaiku dan tidak meninggalkanku." Jawab Mecca tersenyum lembut sembari menangkup wajah Fadhil dengan kedua telapak tangannya.
Namun setelah mendengar jawaban Mecca, Fadhil justru menjauhkan tubuhnya seketika. Jawaban Mecca seketika mengingatkannya pada Rani, gadis yang terkadang masih muncul di pikirannya, ia merasa hal ini tidak adil untuk Mecca.
“Kok berhenti, kenapa mas?” tanyanya heran.
"Maafkan aku Mec, aku terlalu mengikuti nafsuku."
“Aku nggak keberatan kok, mas kan suamiku."
“Aku ingin kita melakukannya saat cinta telah datang di antara kita. Bagaimana?” tanyanya hati-hati.
“Kalau mas maunya seperti itu ya sudah. Aku hanya tidak ingin berdosa karena tidak dapat melayani suamiku." Ujar Mecca tersenyum indah.
“Aku yakin pasti akan menyesal menahan gairah ini, tapi tidak adil bagimu jika melakukannya hanya karena kewajiban." Jawab Fadhil menyembunyikan alasan sebenarnya.
“Hahaha... Jangan menyesal ya." Goda Mecca dengan melepas lingerienya dan melemparkannya ke wajah Fadhil meninggalkan underwear hitamnya yang tipis menjeplak di tiap tonjolan bagian sensitifnya, lalu ia kembali berbaring memunggungi Fadhil dan menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. “Rasakan itu, berani-beraninya mengajariku setengah-setengah." Ucap Mecca dalam hati.
“Aaaaaarrrrggghhh... Sayang aku tarik ucapanku ya." Mohonnya menyesal.
***
Entah berapa lama waktu yang dibutuhkan Fadhil untuk menenangkan adik kecilnya yang menegang semalam. Karena kebodohannya sendiri ia hanya dapat menggigit jari. Mecca meninggalkannya tidur lebih cepat karena kelelahan dalam acara pernikahannya. Tak berselang lama Fadhil pun ikut ke alam mimpi dengan Mecca sembari memeluk tubuh istrinya dan mamasukkan wajah tampannya di antara belahan dada Mecca, sebagai rasa penyesalan karena batal menjamahnya.
Hari mulai subuh, Fadhil sedikit membuka matanya dan melihat jam dinding yang ada di hadapannya, sudah pukul 4.37 pagi. Ia ingin beranjak dari tempat tidurnya untuk ke kamar mandi, namun niatnya tertahan. Ia merasakan tangan kanannya kini berada tepat di dada istrinya. Ukurannya sangat pas di telapak tangan Fadhil, tidak terlalu besar atau terlalu kecil. Benda kenyal itu begitu nikmat dipegang.
Fadhil sedikit melihat ke arah wajah istri kecilnya itu, Mecca masih tertidur dengan pulas. Perlahan-lahan Fadhil mulai menjamah bukit kembar Mecca secara bergantian. Awalnya lembut, kemudian semakin kencang. Fadhil mencium punggung Mecca yang polos tanpa melepaskan genggaman tangannya memberikan stimulasi pada tiap tonjolan di dada istrinya tersebut.
Fadhil memberanikan diri untuk membuka pengait bra Mecca, namun sebelum itu terjadi tiba-tiba ia dikejutkan dengan suara serak seseorang khas bangun tidur.
“Jam berapa ini mas?” tanya Mecca masih dalam kondisi setengah sadar, mungkin ia terbangun karena merasa terganggu dengan kegiatan Fadhil padanya.
“Jam 4.41 sayang, bangun shalat yuk." Ajak Fadhil sembari mengangkat tangannya dengan segera dan berlari ke kamar mandi secepat kilat tak ingin meninggalkan jejak kenakalannya.
Setelah membersihkan tubuh, Mecca dan Fadhil melaksanakan shalat subuh berjamaah untuk pertama kali sebagai pasangan suami-istri.
“Mas, aku masih ngantuk banget nih. Badanku lelah, jadi rasa lemas. Aku boleh tidur lagi ya." Ujarnya meminta izin.
“Sama nih, aku juga masih letih. Ayo kita lanjut tidurnya. Nanti saat kamu lapar telepon saja ya, pesan untuk diantar ke kamar”.
“Iya mas, gampang bisa diatur. Bobo yuk." Ajaknya dengan ekspresi imut. Seketika itu pula Fadhil merengkuh tubuh Mecca, membalikkannya untuk saling berhadapan, kemudian...
Cup... Cup... Cup...
“Maaaaaas...” lagi-lagi ucapan Mecca tak tuntas karena Fadhil sudah menjelajahi tiap sudut bibirnya.
“Bibir kamu bikin candu yank." Puji Fadhil.
“Kalau bikin candu kok cuma cium sebentar? tanya Mecca polos.
“Haaaah? Hahahaha... Sini lagi."
“Nggak mau ah, aku ngantuk bleee." Ujar Mecca sembari menjulurkan lidahnya. “Ngomong-ngomong kok Mas Fadhil panggil aku sayang sekarang?” tanyanya penasaran.
“Awalnya spontan terus jadi kebiasaan lama-lama nyaman." Sahutnya singkat.
“Aku suka panggilan baruku mas."
Cup...
Kecup Mecca pada pipi kanan Fadhil tiba-tiba. Hal itu membuat Fadhil merasa kegirangan hingga ingin lagi dan lagi.
“Sayang lagiiii...” ucapnya dengan nada yang dibuat-buat layaknya anak kecil yang merengek minta permen.
.
.
.
Happy Reading and Enjoy 🤩
Jangan lupa klik favorit, like, komentar, vote, dan rate 5 ⭐ ya agar Author makin semangat dalam berkarya. Untuk mengetahui cara vote, silahkan para readers mampir pada halaman ATTENTION ya.
Jangan jadi penikmat dan silent readers, tunjukkan diri dengan like ya!
Terima Kasih.