AN INEFFABLE SERENDIPITY

AN INEFFABLE SERENDIPITY
Chapter 38. Siapa Dia Mas?



Pagi ini Fadhil sampai ke kantor sedikit terlambat. Dengan terburu-buru ia masuk ke ruangannya dan mulai berganti pakaian. Saat Fadhil mulai memakai kemeja putih polosnya, ia merasakan ada sesuatu yang berbeda.


“Kok kemeja ini seperti aroma parfum wanita? Kamu mengganti tempat laundry Iz?” tanya Fadhil pada Faiz yang tengah menyiapkan berkas-berkas untuk ditandatangani Fadhil.


“Tidak Bos, tetap di tempat yang biasanya. Mungkin mereka mengganti pewangi pakaiannya.”


“Aku merasa tidak nyaman, tolong ambilkan parfumku.” Perintah Fadhil pada asistennya.


“Apa wanginya aneh Bos?”


“Bukan aneh, tapi Aku takut istriku berpikiran buruk nanti.” Jawab Fadhil dan ditanggapi tawa kecil dari Faiz.


.


.


.


***


Di sebuah gedung tempat Mecca dan Medina akan membuat restoran, kedua Kakak-beradik itu pun duduk manis pada kursi dan meja lipat yang dengan cepat disiapkan oleh Pak Mali.


Mecca masih berkutat pada sebuah tablet yang sering dibawanya ke mana-mana. Sedangkan Medina duduk tegak di hadapan laptop milik Mecca.


“Kak, jaringan di sini bagus ya.”


“Iya Dik, semoga semua jaringan tidak terkendala di sini.” Jawab Medina yang ditanggapi anggukan oleh Mecca.


“Kak sudah dicatat belum apa-apa saja yang dibutuhkan nanti?”


“Sudah sih, tapi sepertinya masih ada yang kurang, nanti Kamu periksa lagi ya sembari Kita sama-sama berpikir menambah apa lagi. Kalau tema dekorasi bagaimana?”


“Ada beberapa option yang Aku pikirkan sih, jadi yang pertama restoran ini pakai warna pastel dan temanya homey banget, jadi Kita bawa nuansa rumah di sini. Nanti akan disekat-sekat ruangan ini terus tiap ruangan akan di buat semirip mungkin seperti ruang tamu, ruang makan, dan lain-lain sampai ke bagian outdoor pun seperti rumah. Jadi tiap ruangan akan ada tempat-tempat cozynya sendiri. Yang kedua, Kita bawa suasana alam ke dalam ruangan ini. Jadi tanaman dan suara air punya peran penting di sini. Nah, kalau kita pakai tema ini pemakaian interior dari kayu harus lebih dominan Kak, bagaimana?”


“Idenya bagus, tapi kalau yang tema homey itu apa Kita tidak terlalu menghabiskan ruangan? Nanti malah meja konsumennya jadi tidak muat banyak.”


“Muat banyak kok Kak, coba deh lihat restoran ini. Di sini untuk bangunannya malah tidak seluas ini, tapi bisa masuk 100 meja. Sedangkan tempat Kita kan selain luas ini juga bertingkat Kak.” Ujar Mecca sembari menunjukkan beberapa referensi kepada Medina.


“Hmmm... Benar juga ya. Terus Kamu lebih suka yang mana?”


“Bingung! Semua bagus, kalau Kakak suka yang mana dari kedua tema ini?” jawab Mecca sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.


“Sama, bingung juga!” ujar Medina sembari mengangkat kedua bahunya dan diikuti tawa oleh keduanya.


“Ya sudah itu nanti saja Kita pikirkan lagi, lumayan sudah masuk beberapa ide juga kan? Nah sekarang Kita cari makanan enak yuk, sudah waktunya makan siang nih.”


“Ayo Dik, Kamu mau makan apa?”


“Kakak mau makan apa?” tanyanya kembali.


“Mie ayam!” ucap keduanya berbarengan dan kemudian tertawa.


“Kok bisa sepikiran sih?”


“Aku dan Kakak kan memang punya selera yang sama. Nanti Kita makan di tempat biasa saja ya, di sana Kita pikirkan lagi menu-menu untuk Kita jual.”


“Siap Bos!” ujar Medina tegak memberi hormat.


Keduanya pun segera naik mobil dan langsung menuju ke tempat yang dimaksud.


Setelah makan siang berakhir, Mecca mengantar Medina ke rumah Pak Pradipta dan ia pun langsung kembali ke rumahnya.


Di rumah Mecca masih berkutat dengan tablet dan buku catatannya, ia duduk bersila di lantai mencari-cari kembali beberapa referensi untuk restorannya. Hingga tak terasa ia merasa lelah dan mulai naik ke sofa ruang tamu untuk merebahkan diri dan tertidur lelap.


Sekitar pukul 16.03 WIB, Bi Ani salah satu ART di rumah Mecca dan Fadhil yang juga merupakan istri dari Pak Aang sekuriti di rumah tersebut, mulai membangunkan Mecca dari tidur siangnya.


“Nyonya... Nyonya muda... Bangun Nya, kok tidur di sini?” ujar Bi Ani lembut membangunkan Mecca sembari menggoyang-goyangkan tubuh majikannya tersebut.


“Eh... Bi Ani? Kenapa?” jawab Mecca yang mulai terbangun dan mengerjap-ngerjapkan matanya.


“Nyonya kok tidur di sofa, apa tidak pindah saja ke kamar?”


“Memang ini jam berapa Bi?” tanyanya sembari mendudukkan tubuhnya yang masih setengah sadar.


“Sudah jam 4 sore Nyonya muda.”


“Apa? Ya ampun Aku ketidurannya kelamaan!” ujar Mecca tersentak kaget dan langsung berdiri seketika.


“Pelan-pelang Nyonya muda, minum dulu air putihnya.” Ujar Bi Ani yang kini tengah menyerahkan segelas air putih dan dengan segera diterima oleh Mecca yang langsung meminumnya.


“Aku belum shalat ashar nih, terus belum masak juga! Bi Lia sama Bi Asih ke mana?”


“Lia sedang menyiram tanaman dan Asih masih menyetrika Nyonya muda.”


“Bi, semalam Mas Fadhil minta dibuatkan rawon. Tolong Bibi siapkan bahan-bahannya dulu yang sudah dibersihkan ya, Saya shalat sebentar.” Perintah Mecca sembari berjalan menuju kamarnya.


“Baik Nyonya muda.” Jawabnya sembari berjalan cepat ke dapur.


Setelah menjalankan ibadah, Mecca dengan segera menuju dapur untuk memasak. Dengan lihai dan terampil Mecca memasak.


Karena daging yang akan dimasak sudah di presto terlebih dahulu oleh Bi Ani, proses memasak pun jadi lebih mudah dan cepat.


Setelah sekitar 1 jam kegiatan memasak pun selesai, Bi Ani mulai memasukkan rawon pada mangkok anti panas agar memudahkan untuk dihangatkan pada microwave nanti. Sedangkan Mecca dengan segera masuk ke kamarnya untuk mandi dan sedikit berdandan.



Tak lama berselang Fadhil pun tiba, kedatangannya telah di sambut Mecca di halaman depan rumahnya. Dengan senyum merekah ia mulai memeluk suaminya yang mendekat.


“Capek ya Mas? Tumben Mas tepat waktu pulangnya?”


“Iya dong, masa suami mau datang istrinya masih rembes.” Jawabnya tersenyum lebar.


“Masuk yuk istri cantikku.” Ujar Fadhil gemas sembari mencubit pelan pipi Mecca.


“Ayo!”


“Hmmm... Aroma rawon. Sayang, Kamu beneran buatin Aku rawon?” tanyanya sembari menghirup dalam-dalam aroma makanan yang memenuhi seluruh ruangan.


“Iya dong, kan Mas semalam request.”


“Uuuhh... Terima kasih sayang, jadi enggak sabar mau makan.”


“Sama-sama. Eits, mandi dulu sana! Sini Aku bantu buka jasnya.” Jawab Mecca sembari membuka jas Fadhil dari belakang.


Saat Mecca mulai membuka jas Fadhil, seketika matanya pun mulai menyipit seakan menajamkan penglihatannya. Setelah beberapa saat Mecca pun membelalakkan matanya, ada pijaran kemarahan yang tertahan di kedua bola matanya.


“Mas, tolong buka kemeja Mas sekarang!” perintahnya dengan nada datar dan dingin.


“Hei sabar dong, masa buka di sini? Segitu kangennya ya sama Aku?” jawab Fadhil yang kini membalikkan tubuhnya menghadap Mecca.


“Buka sekarang Mas!”


“Sayang, santai dulu. Malu yank kalau dilihat orang lain, yuk lanjut di kamar saja.” Jawabnya polos dengan senyum menggoda.


“Aku lagi enggak bercanda Mas, buka!” ujarnya ketus dan menekan kata.


“Kok tiba-tiba berubah? Kamu kenapa sih yank?”


“Jawabannya ada di kemeja Mas!”


“Hah?” dengan bingung Fadhil mulai membuka kancing kemejanya, kemudian menyerahkan pada Mecca.


Mecca pun menatap lurus pada bagian belakang kerah kemeja Fadhil, kemudian menghirup wangi kemeja itu dalam-dalam.


“Ini apa Mas? Jujur sama Aku! Kemeja Mas ada aroma parfum wanita juga. Walau samar karena bercampur dengan parfum milik Mas Fadhil, tapi Aku masih bisa menghirupnya.” Tanya Mecca memburu.


“Aku enggak tahu yank!” jawab Fadhil jujur dengan mata terbelalak.


“Bagaimana bisa enggak tahu sih Mas, ini jelas-jelas ada bekas lipstik wanita, siapa Dia Mas?”


“Sumpah Aku enggak tahu apa-apa yank, mungkin ini kesalahan tempat laundrynya!” jelas Fadhil lembut.


“Mas jangan alasan! Jujur sama Aku, Mas ketemu perempuan mana lagi?”


“Lagi? Maksudnya lagi?” tanya Fadhil mulai tersulut emosi.


“Klien-klien genit Mas itu!”


“Come on Mecca! Jangan asal tuduh. Kamu tahu sendiri Aku selalu sama Faiz, Kamu bisa tanya sama Nindy siapa saja yang Aku temui hari ini. Aku yakin Nindy tahu, karena Aku seharian di kantor.”


“Oke Aku tanya Mbak Nindy sekarang!”


“Yank, cemburu boleh tapi jangan berlebih sampai Kamu tidak percaya sama suami Kamu sendiri!”


“Kalau Mas diposisi Aku, apa Mas bisa berpikiran jernih?”


“Bisa! Aku yakin akan tetap percaya sama Kamu!”


“Mas cuma bisa ngomong! Saat di hadapkan pada situasi seperti ini Aku tidak yakin Mas akan tetap percaya sama Aku.”


“Paling enggak Aku akan pakai firasat dan hati Aku untuk lihat kebenaran!” ujar Fadhil kesal meninggalkan Mecca.


“Buktikan ke Aku Mas kalau memang Mas Fadhil enggak bersalah!” teriak Mecca menggema.


Seketika Mecca pun terduduk di lantai dan menangis. Ia pun cepat-cepat menghapus air matanya dan duduk di sofa ruang tamu, mengambil ponselnya dan mencoba menelepon Nindy.


Tut... Tut... Tut...


Nindy : “Iya Mec, kenapa?”


Mecca : “Mbak Aku mau tanya sesuatu, lagi sibuk nggak?” tanyanya berusaha menormalkan nada bicaranya.


Nindy : “Yaelah, tanya saja kali! Kayak ke orang lain saja Kamu nih.”


Mecca : “ Mbak hari ini Mas Fadhil ke mana saja?”


Nindy : “Seharian di kantor saja, Pak Fadhil banyak berkas-berkas yang harus diselesaikan, katanya kalian mau liburan ya? Cie... Kemana? Jangan lupa oleh-oleh ya.”


Mecca : “Gampang Mbak. Terus klien ada yang datang ke kantor? Atau siapa gitu yang datangin Mas Fadhil?”


Nindy : “Ada sih satu klien, COWOK!” tekan Nindy pada ucapannya. Nindy sepertinya telah menangkap arah pertanyaan Mecca, ia berpikir jika Adik sepupunya itu kini telah mengalami cemburu berlebih.


Nindy : “Jangan khawatir, Pak Fadhil suami yang setia kok. Kalian kenapa?” tanya Nindy mengorek informasi.


Mecca : “Terima kasih infonya Mbak, Aku tutup dulu.” Mecca mengakhiri panggilan sepihak, kemudian ia kembali mengeluarkan air matanya yang sedari tadi ditahan dengan susah payah.


.


.


.


**Happy Reading and Enjoy 🤩


Jangan lupa klik favorit, like, komentar, vote, dan rate 5 ⭐ ya agar Author makin semangat dalam berkarya. Untuk mengetahui cara vote, silahkan para readers mampir pada halaman ATTENTION ya.


Terima Kasih**.