
Arjun tampak rapi, lebih segar, dan terlihat sangat berseri-seri. Ia menuruni anak tangga sembari melantunkan lagu ‘Melamarmu’ dengan penuh penghayatan.
Jadilah pasangan hidupku
Jadilah ibu dari anak-anakku
Membuka mata dan tertidur di sampingku
Aku tak main-main
Seperti lelaki yang lain
Satu yang ku tahu ku ingin melamarmu
“Ehem!” deham Mami Rita yang masih duduk bersedekap di sofa empuk berwarna putih gading tersebut.
“Eh ada mami cantik. Mami sudah packing? Kok enggak istitahat sih? Bukannya besok penerbangan pagi?” tanya Arjun berjalan mendekati Mami Rita.
“Kamu mau ke mana? Pulang kerja juga enggak langsung pulang, begitu sampai rumah cuma sebentar langsung sekarang sudah mau pergi lagi.” Ujar Mami Rita sembari menatap jam dinding yang telah menunjukkan pukul 9 malam itu.
“Tadi pulang kerja langsung nge-gym ke tempat biasa mi, nah sekarang mau ke restoran ketemu Dina. Memang kenapa sih mi, biasanya juga mami biasa-biasa aja. Bukannya mami sudah tahu kebiasaan Arjun begini, kok tumben sekarang ditanya-tanya lagi?”
“Kamu jangan kemana-kemana, duduk di situ saja temani mami ngobrol!” ujar Mami Rita dingin tanpa ekspresi.
Arjun yang merasa heran dengan sikap dingin maminya hanya dapat menurut tanpa mengeluh. Arjun pun duduk tepat di hadapan maminya dengan terus menatap wajah serius Mami Rita yang tak biasa.
“Mami mau ngobrol apa? Penting atau enggak? Lama atau sebentar?” pertanyaan Arjun bagai pemantik yang mulai menyulutkan api emosi Mami Rita, walau sebenarnya Arjun sering sekali bersikap seperti itu tapi entah mengapa ucapan Arjun kali ini membuat Mami Rita seolah disepelekan olehnya.
“Memang ngobrol sama mami itu harus kalau penting aja? Apa cuma boleh sebentar aja? Apa mami ini bukan orang spesial lagi buatmu? Apa mami yang melahirkanmu ini enggak lebih penting dari Dina-Mu itu?!” pertanyaan Mami Rita memburu dengan tajam di setiap ujung kalimatnya.
“Loh-loh-loh, mami kenapa? Kok tiba-tiba jadi marah sih? Arjun ada salah ya sama mami?” tanya Arjun mencondongkan tubuhnya, bersuara selemah lembut mungkin menenangkan Mami Rita yang terlihat sangat berbeda.
“Kamu pikir saja sendiri! Hal penting apa yang kamu rahasiakan dari mami?!” ujar Mami Rita membuang wajah.
“Sebentar-sebentar ya, Mi!” melihat ada sesuatu yang tak biasa, Arjun mulai mengeluarkan ponselnya, mengotak-ngatik sekejap, lalu mengantonginya kembali.
“Ngapain?!”
“Sabar dong mami sayang... Arjun lagi kirim pesan ke Dina, karena Arjun enggak bisa ke restoran.”
“Ngapain sih ketemu-ketemu terus? Bukannya jarak rumahnya dari restoran lebih dekat daripada jarak rumah kita ke sana? Semanja itukah harus dijemput setiap hari? Huft!” Mami Rita kembali memalingkan wajah sembari menghembuskan nafas kencang, membuat Arjun mengernyitkan dahi.
“Bukan Dina yang minta Arjun jemput mi, tapi Arjun sendiri yang selalu pengen ketemu setiap hari. Kangen terus sih, hihihi...” jawaban Arjun membuat Mami Rita memelototinya. Arjun yang menyadari respons maminya tersebut, seketika menghentikan tawa tanpa dosanya. “Mami Arjun kenapa nih, kok dari tadi ketus melulu? Arjun ada salah apa sama mami, heemm?” tanya Arjun dengan mengangkat kedua alisnya.
Mami Rita masih membisu, berusaha mengatur ritme nafasnya yang mulai tak karuan. Beberapa kali Mami Rita memejam mata dan mendongakkan kepalanya menatap langit-langit, seolah ingin mengumpulkan keberanian yang tersimpan agar dapat dikeluarkan melalui mulutnya.
Arjun membiarkan maminya terus terdiam, ia berusaha memberikan waktu selama maminya siap mengutarakan segala hal yang mengganggunya. Namun entah sebuah feeling ataupun bukan, beberapa kali Arjun merasa detak jantungnya pun berdebar dengan kencang, seolah ada hal besar yang menunggunya.
“Oke, mami akan ngomong semuanya sekarang. Tapi... Tapi mami minta kamu jawab jujur semua pertanyaan mami nanti.” Ucap Mami Rita menatap Arjun yang mulai menegang. Arjun pun mengangguk menanggapi pernyataan Mami Rita bersamaan dengan saat ia menelan kasar salivanya.
“Katakan saja mi semuanya.” Jawab gugup Arjun terlihat jelas pada raut wajahnya.
“Apa benar Dina sudah pernah menikah sebelumnya?” tanya Mami Rita langsung ke inti.
Arjun seketika terkejut, tanpa sadar ia mengangakan mulut serta menegakkan tubuhnya yang semula mencondong.
“Ma-mami da-pat informasi dari siapa?”
“Cukup jawab saja Arjun!”
“Ya enggak bisa gitu dong mi, Arjun juga berhak tahu siapa yang kasih omongan ke mami.”
“Jawab dulu sampai mami tahu semua kebenarannya!” ujar Mami Rita tegas, membuat Arjun ciut dalam seketika.
“Hmmm, iya benar.” Arjun menunduk lesu.
“Dan kamu tidak bilang ke mami?!”
“Bukan begitu mi, ta-“ ucapan Arjun terpotong tanpa izin.
“STOP!” ujar Mami Rita merenggangkan 1 telapak tangan di hadapan tubuhnya. “Lalu apa benar, Dina... Dia itu... Ehmm... Huft!” Mami Rita kembali menarik dan menghembuskan nafas kembali, mencoba mengumpulkan kesiapan dirinya yang sempat mundur beberapa langkah. Sedangkan Arjun masih menatapnya dengan tajam, harap-harap cemas pada kata yang akan Mami Rita keluarkan. “Korban pemerkosaan?!” teriak Mami Rita mengeluarkan suaranya yang tercekat.
Arjun tercengang, mengangakan mulut, tubuhnya tegang namun terasa lemas, jantungnya pun berpacu semakin cepat, menghantarkan hawa dingin di sekujur tubuhnya. Telapak tangan, kaki serta dahinya dalam beberapa detik langsung menampakkan bulir-bulir keringat seukuran beras. Hatinya terasa sakit, saat mendengar kata itu keluar dari teriakan maminya.
Mami Rita dan Arjun sama-sama terpaku, mengunci tatapan masing-masing dengan pupil mata yang sama-sama bergoyang, dada keduanya saling kembang kempis menahan perasaan dan pikiran yang bermacam-macam.
1 menit... 5 menit... 7 menit... 10 menit... 15 menit...
Keterpakuan itu berlangsung selama 15 menit, hingga Mami Rita menyadarkan Arjun, menarik anaknya untuk berada di dunia nyata kembali.
“Arjuna?!” panggil Mami Rita dengan pelan dan suara yang masih bergetar.
“Hm... Iya, Mi?”
“Jawab!” Mami Rita menatap Arjun dari sudut matanya, menebak-nebak apa yang akan dikatakan anaknya tersebut. Ia berusaha menyiapkan hatinya lebih kuat dan tegar daripada sebelumnya.
“Mami dapat omongan begini dari siapa? Kalau mami bisa kasih tahu dengan jujur, Arjun baru mau jawab.”
“Bukan dari siapa-siapa!”
“Enggak mungkin.”
“Kok enggak mungkin?”
“Ya enggak mungkin aja.” Panas hati Arjun tidak membuatnya mengubah nada bicara, ia tetap menghormati Mami Rita dengan kelemahlembutannya.
“Bagaimanapun setelah acara tunangan itu Dina akan segera menjadi istrimu, jadi mami cari-cari tahu sendiri tentang Dina sebanyak mungkin, sudah paham?”
“Arjun tahu mami cuma beralasan.” Arjun memalingkan wajahnya, menyembunyikan rasa tidak percaya yang jelas.
“Kok beralasan sih?!”
“Karena kalau alasan mami seperti itu, sebelum Arjun dan Dina tunangan mami pasti sudah bahas ini, iya kan?”
“Mami baru tahunya sekarang kok.”
“Nah itu siapa yang kasih tahu, Mi? Siapa yang bisa mengubah sikap mami dalam 1 hari seperti ini?” Arjun menajamkan matanya, mencari-cari kebenaran dari sorotan menyelidik tersebut.
“Tidak penting mami tahu dari siapa, sekarang cukup jawab pertanyaan mami bisa?”
“Oke kalau mami enggak mau jawab, Arjun akan cari tahu sendiri siapa si biang kerok itu. Dan untuk pertanyaan mami semua jawabannya... Iya Benar!” Arjun menekan jawabannya sejelas-jelas mungkin.
“Hah!” Mami Rita secara spontan menutup mulutnya, menggeleng-gelengkan kepalanya tidak percaya. “Ta-tapi kenapa ka-mu masih...” lagi-lagi suara Mami Rita seolah menghilang.
Arjun mengubah posisi duduknya, ia berdiri dan duduk tepat di sebelah Mami Rita. Berusaha menarik tubuh maminya untuk berada dalam rengkuhan hangat tubuhnya. Namun berkali-kali Arjun mendekat, berkali-kali itu pula ia memperoleh penolakan. Mami Rita terus menerus mendorong dada bidangnya untuk lebih menjauh.
“Mi, please. Dengar dulu!” Arjun menggapai tubuh Mami Rita yang mulai bergetar. Mata bening maminya terus menggenang bulir kesedihan, meneteskan tiap kelaraan dalam kebisuan.
Mami Rita yang masih mendorong-dorong tubuh Arjun kian lama makin melemah. Seolah upayanya tak memberikan hasil, malah kekuatannya seakan terus melemah. Mami Rita mulai mengeluarkan suara kesenduannya dalam raungan menyayat hati.
Arjun terdiam memeluk Mami Rita dengan erat, menunjukkan mata yang masih berkaca-kaca namun tidak sampai meneteskannya. Mereka tetap dalam posisi itu hingga hati keduanya cukup kuat untuk saling meneruskan pembicaraan.
Butuh 40 menit bagi Mami Rita untuk membuat dirinya merasa lebih tenang. Sudah tak terhitung berapa lembar tisu yang berceceran di atas meja. Wajah cantik Mami Rita pun kini terubah oleh mata sembab yang membengkak serta hidung kemerahan yang masih berair.
“Kenapa kamu enggak cerita ke mami? Kenapa kamu masih mau dengan dia? Kenapa kamu tega? Kenapa? Jawab!” Mami Rita mulai memukul-mukul dada Arjun dan mencengkeram blouse rajut berwarna putih yang dikenakannya.
“Mi dengar Arjun dulu, Mi...” Arjun memegang kedua bahu Mami Rita dan menggoyangkannya, memberikan kesadaran pada maminya yang mulai ingin menangis lagi.
“Jelaskan Arjun! Kamu sudah tahu, tapi kamu memilih menyembunyikan semua ini dari mami. Bahkan kamu meminta mami untuk melamarkannya, menjadikan dia menantu mami. Apa semua ini? Puas kamu bermain rahasia-rahasiaan?” Mami Rita terus membombardir Arjun dengan pertanyaan tak berjeda.
“Mi, Dina wanita baik! Arjun cinta Dina, Mi! Setulus hati, please mi.”
“Cinta enggak harus buta! Kamu tahu kenyataannya. Dia wanita penuh kecacatan, bahkan mami tahu bahwa suaminya dulu meninggal bahkan belum 24 jam usia pernikahan mereka. Dia pembawa sial Arjun!”
“Mami!” Arjun berteriak tanpa sadar, membuat Mami Rita tercengang oleh sikap Arjun padanya.
“Sekarang kamu sudah berani membentak mami? Baru kali ini kamu seperti ini ke mami! Dan semua itu cuma karena dia?!” Gumam Mami Rita lirih, air matanya berderai kembali. Hatinya yang terluka semakin terkoyak.
“Maaf mi, maafkan Arjun. Sungguh Arjun enggak bermaksud kasar. Arjun cuma ingin mami dengar penjelasan Arjun dulu.”
Arjun melorot dari sofa yang didudukinya hingga bersimpuh di bawah kaki Mami Rita. Memegang kedua telapak tangan maminya dan menciumi tangan hangat itu berkali-kali. ‘Penyesalan’ hanya kata itu yang dapat mencerminkan perasaan Arjun saat ini.
“Mi... Dina hanya seorang korban. Dina adalah salah satu wanita tidak beruntung yang direnggut hartanya dengan paksa. Dina bukan wanita cacat, bahkan Dina masih merasakan kesakitan itu dalam traumanya. Dina buka wanita pembawa sial mi, Dina pembawa kebahagiaan bagi Arjun. Kalau Arjun tanpa Dina, mungkin Arjun akan hancur, Dina hidup Arjun mi. Tolong mi terima Dina seperti sebelum mami mengetahui kenyataan ini. Arjun juga belum dapat membuka seluruh misteri dihidup Dina, tapi Arjun akan bersabar untuk menembus tiap pintu misteri itu. Arjun akan berusaha membuka satu per satu pintu misteri Dina hingga yang terakhir. Percaya Arjun mi, Dina adalah wanita hebat.” Arjun menatap dalam Mami Rita, mencari restu dari mata berkabut linangan air mata maminya.
“Bahkan kamu belum mengenal dia sepenuhnya, tapi kamu sudah bilang dia hidupmu?! Lantas mami ini apa?” Mami Rita menatap Arjun penuh kekecewaan. “Kalau bukan kamu yang mendapatkan wanita dengan masa lalu seperti Dina, mungkin mami akan bisa lebih bersimpati. Tapi kamu anak mami, Arjun! Mami mau yang terbaik untukmu, dan itu bukan Dina!” Mami Rita melepaskan genggaman Arjun lalu berdiri dan berjalan cepat menuju kamarnya. Membuka lalu membanting pintu, menguncinya dengan keras hingga terdengar suaranya ke telinga Arjun.
Arjun mengejar Mami Rita hingga maminya itu membanting pintu kamar tepat di hadapannya. Ketukan demi ketukan, segala penjelasan dan permohonan Arjun teredam oleh raungan Mami Rita yang semakin keras. Seolah usahanya tak akan membuahkan hasil, Arjun pun memilih beranjak dari tempatnya berdiri. Mengendarai mobilnya dan berlalu tanpa pikir panjang.
“Medina.” Ucap lirih Arjun berkali-kali.
Arjun melajukan mobilnya dengan kecepatan di luar ketentuan. Arjun melihat sekilas jam yang ada di hadapannya, waktu telah menunjukkan pukul 23.34 WIB yang artinya Medina telah berada di rumah.
Arjun mulai mengarahkan mobilnya ke rumah Medina, jalan yang agak lenggang membuat Arjun tak perlu berlama-lama dalam perjalanan. Sesampainya di depan rumah Medina, Arjun menelepon gadis cantik itu dan memintanya untuk menemui dirinya di depan pagar rumah.
Arjun mengubah raut wajahnya, membuang segala kegelisahan dari dalam pikiran dan hatinya. Mengganti semua itu dengan senyum merekah yang tak berjejak kesedihan. Sebelum Medina berada di hadapannya, Arjun dengan giat melatih senyuman manisnya agar dapat mengembang secara spontan bila ia bertatap muka dengan Medina.
Medina membuka gerbang pagarnya, melambaikan tangan pada Arjun yang menatapnya dengan canggung. Tak ada senyum merekah yang mengembang sesuai dengan pelatihannya tadi, hanya tersisa tubuh yang bergetar menahan kegelisahan yang tertahan.
“Hai Be, masuk yuk.” Sapaan Medina mendapat pelukan dadakan dari Arjun.
“Aakkhh!” respons Medina yang terkejut tak menduga.
“Kangen, Bi.” Bisik Arjun lirih.
Raut wajah terkejut Medina pun dalam seketika berubah menjadi senyum kehangatan. Medina menepuk-nepuk punggung Arjun, membelainya dan semakin memperdalam pelukannya.
“Iya sayang, aku juga kangen. Kita masuk yuk, enggak enak dilihat orang kalau di luar begini, pelukan pula.”
“Enggak Bi, aku cuma mampir sebentar aja. Cuma mau lihat dan peluk kamu habis itu aku pulang.” Arjun masih memeluk Medina dengan erat, namun pelukannya semakin melonggar karena dorongan Medina.
Medina menatap kedua mata Arjun, mencari-cari kejanggalan yang mungkin telah dialami tunangannya tersebut.
“Ada masalah, Be?” tanya Medina lemah lembut.
“Enggak ada, kok ditanya gitu?” jawab Arjun menyibakkan anak rambut Medina yang menutupi wajah cantiknya.
“Ya enggak apa-apa, barang kali aja ada sesuatu. Habis tumben begini sikapnya.”
Arjun menarik nafas dan menghembuskannya dengan berat. Menyunggingkan senyum tipis di ujung bibirnya dan menatap Medina dengan mata sayu merindu.
“Aku kangen berat sama kamu sayang, jadi aku nekat datang ke sini, tapi aku enggak berani mampir karena ini terlalu larut, sudah itu aja.”
“Hmmm... Benar?” ujar Medina dengan tatapan menyelidik.
“Iya benar.” Jawab Arjun mengecup bibir Medina sekilas dan merengkuhnya kembali dalam pelukan.
“Ya sudah kalau benar begitu.” Medina membalas pelukan Arjun tak kalah hangatnya. “Be.” Panggil Medina yang masih tenggelam dalam rengkuhan Arjun.
“Hmmm.” Jawab Arjun singkat.
“Jangan lihat status WA Mecca ya.”
Arjun menjauhkan tubuh Medina, menatapnya dengan dahi yang mengerut serta bibir mengerucut.
“Kenapa?” tatap Arjun curiga.
“Pokoknya jangan!”
“Aku jadi makin penasaran nih jadinya.” Arjun mengeluarkan ponselnya, mulai membuka kunci dengan sidik jari lalu menuju aplikasi obrolan, namun dengan secepat kilat Medina merampas ponsel Arjun dan menyembunyikannya di balik tubuh mungilnya tersebut. “Siniin dong Bi, aku mau lihat dulu.”
“Enggak boleh!” Medina menggeleng-gelengkan kepalanya. “Hp kamu aku sita dulu sampai status Mecca kadaluwarsa.” Ujar Medina sambil cemberut.
“Ya sudah enggak apa-apa, kan aku masih ada HP satunya di rumah.” Jawab Arjun dengan senyum menggoda.
“Yah, percuma dong?!” tanya Medina dengan memelas. Arjun hanya menganggukkan kepalanya dengan pasti.
Medina mengembalikan ponsel Arjun dan tertunduk lesu.
“Ya sudah boleh lihat, tapi jangan ketawa.”
“Iya sayang.”
“Janji?”
Medina menatap Arjun dengan serius.
“Iya janji.”
Arjun pun membuka aplikasi obrolannya tersebut, mencari-cari nama Mecca dan mulai melihat status yang dibuatnya.
“Hahahahaha...” Tawa Arjun merekah tak terkontrol, membuat Medina memukulnya dengan protes.
“Tuh kan ketawa, tadi janjinya apa coba?”
Medina masih memukuli lengan kekar Arjun dengan gemas, sampai ia menemukan bulir air yang menetes di sudut mata Arjun.
“Be kenapa nangis?” tanya Medina khawatir. Ia tidak menyangka pukulan pelannya membuat Arjun menitikkan air mata.
“Sakit Bi, sakit...” ujar Arjun dalam tangis, namun ia kemas tampak seperti tawa.
“Aku mukulnya kekencangan ya Be? Maaf ya maaf.” Ujar Medina yang mulai membelai bekas-bekas pukulannya yang tak memberi dampak di tubuh Arjun.
Arjun yang sedari tadi menahan tangisnya yang tertumpah tanpa kendali, kembali menghapus bulir-bulir itu, memasang tawa palsunya untuk kembali tersungging di bibirnya.
“Iya Bi, sakit! Sakit banget perut aku lihat wajah Maleficent.” Ujar Arjun berusaha terbahak-bahak, menyembunyikan segala penolakan Mami Rita yang masih menyakitkan dalam balutan tawa penuh tipuan.
“Dasar jahat!” gumam Medina memelototinya dan membungkam tawa Arjun yang terasa menyakitkan.
Hai Readers, apakah kalian masih menunggu novel ini update? Maafkan Author ya atas istirahat beberapa hari ini, terima kasih juga sudah memberikan pengertian dan tetap menanti AIS hadir (iya kalau masih di favorit 😂) Tapi Author enggak akan putus novel ini di tengah jalan kok, jadi tetap ikuti cerita AIS sampai selesai ya. Jangan lupa terus beri dukungan kalian untuk An Ineffable Serendipity dan terima kasih yang selalu memberikan vote, komentar, serta like nya. 🤗🤝🙏