AN INEFFABLE SERENDIPITY

AN INEFFABLE SERENDIPITY
Chapter 53. Baba-Bubu?



Waktu telah menunjukkan pukul 09.10 pagi. Mecca dan Fadhil bangun kesiangan. Fadhil mulai bangun dari ranjang, ia merenggangkan otot-ototnya serta melakukan sedikit pemanasan pada tangan, bahu, dan lehernya.


“Kan jadi kesiangan bangunnya nih, sayang sih nakal banget semalam.” Ujar Fadhil gemas.


“Kalau semalam mas enggak bangun, aku kan melakukannya cuma sekali dan singkat. Tapi salah mas sendiri kenapa bangun? Jadi berkali-kali deh!” jawab Mecca acuh.


“Oh jadi aku yang salah nih? Terus siapa yang bilang enggak seru ngelakuin sendirian?”


“Siapa ya?” Jawab Mecca pura-pura lupa.


“Ya sudah kalau gitu lanjutin aja lagi yang semalam.” Ucap Fadhil menghampiri Mecca ingin memeluk tubuhnya.


“Eh... Jangan! Mas siap-siap ke kantor sana, katanya mulai sibuk hari ini!” jawab Mecca sembari mendorong tubuh Fadhil menjauh.


“Aku jadi malas ke kantor nih yank, maunya dekat kamu terus dan anak kita pastinya.” Ujar Fadhil sembari membungkukkan tubuhnya. Ia mulai membelai dan menciumi perut Mecca.


“Geli ih mas.” Mecca mulai menggelinjang kegelian mendapat kecupan bertubi-tubi di perutnya.


“Pagi anak baba, hari ini baba pulang agak terlambat ya, kamu harus jaga bubu, oke?” ucap Fadhil pada perut Mecca.


“Baba-bubu? Kok buat panggilan sendirinya kepikiran itu sih mas?”


“Lucu yank. Kan beda dari yang lain.”


“Kalau anaknya masih kecil manggil baba-bubu masih lucu mas, tapi kalau sudah besar jadi geli ah.”


“Ya enggak dong. Baba-bubu itu paling pas yank.”


“Ya sudah deh terserah baba saja. Sekarang baba mandi dulu ya siap-siap ke kantor, biar bubu siapkan pakaian dan sarapan dulu.” Ujar Mecca sembari berjinjit ingin mendaratkan morning kissnya pada Fadhil.



Setelah keberangkatan Fadhil, Mecca juga telah bersiap untuk pergi ke restoran. Di ambang pintu ia melihat Mama Alisa datang ke rumahnya dengan menangis.


“Mama kok nangis? Masuk sini ma.” Ujar Mecca setengah terkejut sembari menuntun Mama Alisa untuk duduk di sofa ruang tamunya.


“Maafkan mama ya datang tiba-tiba.” Jawabnya dengan terisak.


“Mama tenangkan diri dulu ya, kalau mama sudah puas menangisnya Mecca siap mendengarkan.” Ujar Mecca membelai punggung tangan Mama Alisa.


“Bi tolong buatkan teh hangat ya.” Panggil Mecca meninggikan suaranya.


Setelah beberapa saat Mama Alisa berusaha menenangkan diri, beliau mulai menghapus sisa-sisa air mata kesedihan di pipinya. Ia mengangkat kepalanya dan menatap lekat Mecca penuh penyesalan.


“Maafkan mama ya, mama tidak tahu kalau papa meminta hal yang tidak masuk akal itu pada Fadhil. Mama harap kalian tidak membenci kami. Mama sangat menyayangi Fadhil dan juga kamu, Mecca. Mama tidak ingin Fadhil memusuhi kami dan tidak menganggap kami orang tuanya lagi.”


“Ma, tidak seperti itu. Mecca tidak pernah membenci mama dan papa. Tapi Mecca akui, Mecca memang sangat kecewa dengan papa. Soal perkataan Mas Fadhil ingin putus hubungan keluarga, Mecca rasa itu masih dalam pengaruh emosi sesaat. Berikan waktu pada Mas Fadhil ya ma?! Lalu apa rencana mama selanjutnya tentang permasalahan itu?”


“Mama memutuskan untuk tetap berada disisi papamu. Mama tidak akan membiarkan wanita jahat itu merusak keluarga kita. Mama akan segenap tenaga mempertahankan apa yang bisa dipertahankan. Tapi untuk saat ini, papamu tidak mau mendengarkan mama. Entah kenapa dia sangat takut kehilangan perusahaan dan dengan bodohnya jatuh ke perangkap wanita itu.”


“Mama harus sabar. Mama tidak boleh mengalah atau pun kalah. Mama yang kuat ya, ada kami yang selalu mendukung mama.”


“Terima kasih sayang.” Jawab Mama Alisa memeluk Mecca.


“Hari ini mereka akan melalukan tes DNA. Bahkan saat hasil tesnya belum keluar sekalipun wanita itu sedikit demi sedikit mulai ingin menguasai rumah. Ia juga meminta banyak persyaratan untuk ditulis dalam surat perjanjian yang kuat hukum.” Cerita Mama Alisa penuh frustrasi.


Mecca hanya bisa diam mendengarkan keluh kesah Mama Alisa. Ia tidak berani beropini banyak. Ia khawatir jika opininya akan semakin membawa dampak buruk dalam permasalahan ini.


“Mama jengah dengan sikap papamu itu, Nak! Bisa-bisanya dia berbuat hal-hal yang memalukan seperti itu. Mama tidak akan pernah memaafkan dia.” Ujar Mama Alisa mulai menangis lagi.


“Sabar ya ma.” Jawab Mecca dengan iba.


“Mama yakin wanita itu juga akan mengganggu rumah tanggamu nanti. Mama tahu sekali dia menginginkan Fadhil kembali padanya. Kamu harus berhati-hati ya, Nak. Karena kita tidak tahu orang macam apa dia itu.” Ucap Mama Alisa memperingatkan Mecca disela-sela tangisnya.


“Iya ma.”


“Mintalah bodyguard untuk melindungimu sayang.”


“Mecca bisa menjaga diri Mecca sendiri ma.”


“Tidak! Kamu harus bilang ke Fadhil soal bodyguard, oke?”


“Ma... Sebenarnya Mecca ada berita untuk mama, tapi Mecca tidak tahu apakah ini waktu yang tepat.”


“Ada apa sayang?”


“Mecca... Ehm... Saat ini Mecca sedang hamil ma. Bayinya sudah berusia 15 minggu.”


“Apa? Sungguh?” tanya Mama Alisa bahagia. Tangisnya yang sedari tadi menetes seketika berhenti tergantikan senyum lebar kebahagiaan.


“Iya ma.” Jawab Mecca ikut tersenyum bahagia.


“Selamat ya sayang. Mama senang sekali mendengarnya. Kamu harus jaga kesehatan dan bayi ini baik-baik ya.” Ucap Mama Alisa sembari meraba perut datar Mecca.


“Pasti mama sayang. Sebenarnya Mas Fadhil melarang Mecca mengatakan ini ke mama dan papa, karena menurutnya ini bukan waktu yang tepat. Jadi tolong rahasiakan ini dari papa ya ma.”


“Baiklah nak, kamu tenang saja. Mama tidak akan pernah memberi tahu papamu.”


“Terima kasih ma.”


***


Fadhil menceritakan niatnya untuk berhenti dari jabatan yang saat ini ia pegang kepada Faiz. Ia meminta Faiz menyiapkan segala macam laporan pertanggungjawaban kerjanya selama ini. Ia ingin mengajukan pengunduran diri pada RUPS dalam waktu dekat.


“Bos kenapa berhenti?”


“Masalah keluarga Iz, kamu enggak perlu tahu secara detail.”


“Tapi bos harus bawa saya kerja sama bos lagi ya. Saya akan ikut ke mana pun bos bekerja. Walau dari bawah sekalipun saya tidak keberatan.”


“Kamu yakin mau ikut aku?”


“Sangat yakin 1000%!” jawabnya mantap.


“Kamu kan mau punya anak, bukannya kerja di sini lebih menjamin?”


“Tabungan saya sudah banyak selama kerja sama bos.”


“Baiklah kalau kamu maunya seperti itu. Kalau gitu aku enggak akan sungkan mengharapkan bantuan kamu nanti. Kita susah-susah dulu sama-sama ya.”


“Hahaha... Beres bos!”


“By the way, Mecca hamil. Usia kandungannya hampir sama seperti istrimu.”


“Wah... Selamat ya bos akhirnya jadi calon bapak juga. Kok saya baru dikasih tahu sekarang bos?"


"Terima kasih ya ucapannya. Kami saja baru tahu kemarin, karena Mecca memang enggak menunjukkan gelagat sedang hamil."


"Ehm... Nanti bos bisa ngerasain disiksa kayak saya.”


“Tapi kayaknya Mecca enggak akan nyiksa aku deh Iz. Tapi aku yang bakal nyiksa kamu!”


“Hah? Maksudnya gimana bos?”


“Jadi Mecca yang hamil tapi aku yang ngidam itu disebut kehamilan simpatik. Jadi kamu siap-siap juga ya penuhi kemauanku.”


“Oh my God! Cobaan apa ini? Enggak di rumah enggak di kantor nasib aku gini amat ya!” keluh Faiz sembari menarik-narik rambutnya kuat, kelakuan Faiz memancing gelak tawa Fadhil.


.


.


.


Happy Reading and Enjoy 🤩


Jangan lupa klik favorit, like, komentar, vote, dan rate 5 ⭐ ya agar Author makin semangat dalam berkarya. Untuk mengetahui cara vote, silahkan para readers mampir pada halaman ATTENTION ya.


Jangan jadi penikmat dan silent readers, tunjukkan diri dengan like ya!


Terima Kasih.