
Halo para readers Author yang canteks dan tamvan. Ayo di vote, like, dan beri tips jangan sungkan-sungkan. Langsung ya Langsung, biar enggak kelupaan nanti 😌. Setelah baca jangan lupa komentarnya, Author tunggu! 😍😘
HAPPY READING AND ENJOY!!!
---------------------------------------------
“Kenapa sama bosnya Pak Faiz? Senyam senyum gitu, ngeri lihatnya.” tanya Malik bergidik yang tak sengaja bertemu Fadhil di luar ruangannya.
“Saya juga bingung Pak Malik, dari tadi saya tanyain jawabannya cuma ‘ada antenanya’ melulu.” Jawab Faiz dengan mengangkat kedua bahunya.
“Jaman sudah canggih begini malah mau pasang TV analog atau bagaimana sih, Dhil?” tanya Malik sembari menggaruk-garuk kepalanya yang tak gatal.
“Pokoknya ada antenanya, hahaha...” tawa Fadhil terbahak-bahak. Malik dan Faiz saling berpandangan dan menggeleng-gelengkan kepalanya dengan bingung.
“Eh... Ada yang nungguin tuh di ruanganmu, tamu besar.” Ucapan Malik membuat langkah Fadhil berhenti sesaat.
“Siapa?”
“Sudah, lihat saja sendiri.” Malik melenggang pergi dengan kursi rodanya.
“Ada yang buat janji temu di kantor hari ini, Iz?”
“Seingat saya sih tidak ada bos.”
“Jadi siapa ya?” Fadhil menunjukkan ekspresi berpikir sejenak. “Ayo, ikut masuk ke ruanganku, Iz.” Ajaknya pada asisten pribadinya tersebut.
Faiz mengikuti langkah Fadhil dari belakang menuju ruangannya. Begitu sampai di depan pintu ruangannya, Faiz mendahului Fadhil untuk membukakan pintu. Setelah pintu terbuka, Fadhil dan Faiz bersama-sama membelalakkan matanya dengan terkejut. Menyadari siapa tamu yang dimaksud Malik, membuat Faiz memundurkan langkahnya untuk tidak ikut masuk ruangan.
“An-da sedang apa di sini?” tanya Fadhil pada Pak Permana yang duduk di kursi kerjanya dengan santai.
“Anda? Sekarang tidak berguna lagi panggilan papa itu untukmu?” ujar Pak Permana memicingkan mata.
“Hufht... Baru tanya sekarang? Sudah berbulan-bulan saya pensiun dari panggilan itu apa Anda tidak menyadari? Terlalu sibuk dengan wanita simpanan dan anak ha*am itu, Haah...?”
“Jaga bicaramu! Fahri tidak salah apapun sampai harus jadi pelampiasan kata-kata kotormu!”
“Ya... Ya... Ya...! Terus tujuan Anda kemari itu apa? Tolong to the point saja, saya sangat sibuk!”
“Tidak ada yang spesial, PAPA hanya ingin melihat hasil keangkuhanmu membangun usaha. Oh... Ternyata hanya segini saja!” ujar Pak permana mengedarkan matanya sembari menekan ‘papa’ pada ucapannya, sebagai pengingat kepada Fadhil bahwa mereka masih terikat darah.
“Tidak ada satu pun di dunia ini yang instan tuan, semua butuh proses!”
“Yah, semoga prosesmu tidak terlalu jauh tertinggal dengan perusahaan lain yang setara dengan ini ya?!” jawab Pak Permana tersenyum merendahkan sembari menepuk-nepuk bahu kiri Fadhil.
Fadhil tersenyum pahit menanggapi ucapan Pak Permana. Ingin sekali ia membalas ucapan tersebut tak kalah tajam, namun tubuh papanya yang dulu tampak kuat sekarang terlihat begitu rapuh. Entah mengapa rasa iba menjalar ke seluruh bagian hati Fadhil. Membuat lubang-lubang yang menyakitkan di sana.
Tubuh papanya tampak semakin kurus dan tak terurus. Wajah tampannya terlihat semakin menua. Sorot matanya begitu menyedihkan. Walau setiap katanya yang terucap bagai pecutan yang menyakitkan, namun terdengar seperti buaian kerinduan. Apakah beliau kesepian? Sepintas Fadhil berpikir demikian.
“Apa Anda baik-baik saja?” mulut Fadhil berucap tanpa sadar. Menyadari pertanyaannya, Fadhil dengan jelas memasang wajah ketegangan.
“Hmmm... Kamu khawatir dengan papa ya? Papa baik-baik saja! Semoga usahamu sukses, walau sepertinya berat untuk berjalan mulus. Tapi kalau memang usahamu banyak mengalami kesulitan, papa izinkan kok kamu menjual nama Permana untuk membantu memajukan perusahaan ini, papa tidak keberatan.” Senyum disudut bibir Pak Permana membuat tatapan mata Fadhil memanas.
Fadhil hanya terdiam menerima ucapan papanya itu. Ia tidak menganggap setiap ucapan merendahkan Pak Permana padanya. Ia hanya terus berusaha menahan diri dari amarah yang tidak perlu. Ia sangat mengenal baik papanya, dia sadar walau di setiap kata kasar beliau ada tersisip kerinduan yang besar pada dirinya. Namun rasa itu dengan hebat tertutup awan tebal keangkuhan.
Pak Permana meninggalkan Fadhil dengan langkah mantap diikuti asisten dibelakang-Nya. Fadhil membalikkan tubuh dan melihat punggung lebar papanya yang terlihat sedikit melengkung itu. Punggung hangat yang pernah menjadi gendongannya dulu sewaktu kecil terlihat semakin sempit.
Sepintas, Fadhil mengingat masa kecilnya yang bahagia dengan seorang ayah yang sangat mencintai keluarganya. Seorang ayah yang akan selalu berdiri untuknya, mendukungnya, dan mengajarinya. Di tengah punggung Pak Permana yang hampir menghilang dari penglihatan, dengan bibir yang berkomat-kamit sejenak, Fadhil melemparkan doa keselamatan pada papanya.
“Semoga papa selalu sehat dan lebih bahagia tanpa aku, tanpa mama, tanpa menantu yang baik, dan tanpa calon cucu papa.” Gumam Fadhil pelan.
Setelah kepergian papanya, Fadhil kembali berkutat dengan pekerjaannya yang menumpuk. Ia berusaha seprofesional mungkin dalam bekerja. Ia tidak membiarkan segala kata-kata buruk Pak Permana mempengaruhi kinerjanya di perusahaan.
***
Di ruangan kerjanya Mecca duduk tegak pada kursi sandarnya. Ia mulai membuka cooler bag anti panas-dinginnya yang dibawakan Bu Alisa tadi pagi. Di dalam tas itu terdapat dua kotak bekal hasil masakan Bu Alisa yang sudah melewati standar makanan sehat dengan rasa yang tidak terlalu kuat, Ia pun membuka kotak-kotak makanan itu satu persatu.
“Ya ampun mama, mentang-mentang aku enggak sarapan tadi masa dibawain sebanyak ini.” Ujar Mecca sembari menggeleng-gelengkan kepalanya.
Di tengah gerutu Mecca, tanpa ia sadari Medina mengintipnya dari celah pintu yang terbuka.
“Tok-tok, permisi Bu Mecca. Begini bu, saya mau izin pulang dulu, nanti sore saya kembali bekerja lagi.” Ujar Medina bercanda.
“Oh... Iya-iya, tapi masuk sini dulu ya. Saya mau kasih hadiah karena sudah mau gantikan saya sebentar pagi ini.” Jawab Mecca dengan canda.
“Hadiah apa ya, Bu?” tanya Medina sembari melangkahkan kakinya mendekati Mecca setelah menutup pintu.
“Hadiah sarapan bersama, hahaha...”
“Ah... Enggak mau! Itu kan makanan spesial ala Mama Alisa, pasti sudah lewat proses standardisasinya deh.”
“Yah kak, bantuin dong. Tadi itu aku enggak sarapan terus mama jadi bawain aku dua kotak bekal sebanyak ini coba. Siapa yang bisa habisin? Karyawan juga pasti pada enggak mau bantu makannya, tapi kalau enggak habis mama nanti kecewa. Ya... Ya... Ya... Please, ini bagus loh buat kesehatan, semuanya organik.” Mohon Mecca mengiba.
“Terima kasih kakakku tercinta.” Ujar Mecca sembari membentuk hati dengan jari telunjuk dan ibu jarinya yang disilangkan.
Mecca membagi dua porsi makanannya dengan Medina di piring, lalu mereka makan bersama sembari mengobrol ini dan itu. Banyak sekali bahan obrolan yang mereka bicarakan, dari masalah restoran, mengingat masa kecil, hingga rencana-rencana masa depan.
“Adududuh... Silau banget kalung sama cincinnya deh, mata aku jadi susah kebuka nih!” canda Mecca sembari menutup matanya dengan telapak tangan namun tetap memberi cela untuk mengintip ekspresi Medina yang malu-malu.
“Ih apaan sih, Dik. Sudah lama juga masih aja mengolok!” gemas Medina sembari mengerucutkan bibirnya.
“Hehehe... Peace!” jawab Mecca membentuk huruf V pada jarinya. “So, kapan rencana tunangan, nikah, a-tau akad dulu deh?”
“Belum, ini bukan cincin lamaran begitu kok. Ini cuma hadiah aja, enggak lebih.”
“Huh, enggak mungkin. Pasti itu lamaran, cuma tinggal ke ayah aja yang belum. Kak Dina jangan halang-halangi Kak Arjun ngehadap ayah loh, biarinlah kalau dia mau nikahin, Kakak.”
“Enggak semudah itu, Dik. Menikah itu butuh kesiapan banyak hal. Yah, mungkin Kak Arjun siap, tapi kakak kan belum tentu siap juga.”
“Kakak ini perempuan super duper aneh deh, dimana-mana perempuan itu mengharapkan keseriusan dari pasangannya. Lah... Ini malah tunda-tunda terus.” Jawab Mecca memutar kedua bola matanya.
“Kamu masih kecil, enggak tahu apa-apa pokoknya.” Celetuk Medina terkekeh.
“Kecil? Kecil-kecil begini pengalamannya lebih banyak daripada kakak. Lihat aja nih, si kecil ini sudah bisa buat anak kecil tahu!” jawab Mecca mengelus-ngelus perut besarnya.
“Iya deh iya, kakak yang salah bicara.” Ucapnya memajukan bibirnya.
“Aish... Suka bete deh, enggak usah di imut-imutin gitu ah.” Mecca menyuap besar makanannya hingga memenuhi mulutnya sambil bicara terus menerus. “Sembel unya ak-ak heleat antik! (Sebel punya kakak kelewat cantik!)” Medina hanya tertawa melihat tingkah adiknya yang menggemaskan tersebut.
“Kurang ajar, kakak sendiri dibilang antik! Memang kakak ini peninggalan jaman purba apa?”
“Uhuk-uhuk!” pertanyaan Medina membuat Mecca tertawa seketika, sehingga membuatnya tersedak oleh makanannya sendiri. Medina dengan sigap memberikan air putih sembari menepuk-nepuk punggung Mecca. Di belakang punggung Mecca, Medina menahan tawa dengan menutup mulutnya menggunakan salah satu tangannya yang lain.
***
Rani masih menjalani perawatan rambut serta seluruh tubuh di klinik dokter kecantikan langganannya. Ia masih merasa sakit kepala atas tarikan tangan Bu Alisa pada rambutnya. Rambutnya pun banyak yang lepas dari akarnya, sehingga menyebabnya sedikit kulit kepalanya terlihat tandus. (Tanah kale tandus, wkwkwk 😁✌)
“Dasar si nenek sihir itu, lihat saja nanti aku balas dia. Berani-beraninya merusak mahkotaku yang berharga ini.”
Rani memainkan ponselnya, ia mencari nomor telepon seseorang dari kontaknya, setelah memperoleh nomor yang dimaksud ia pun segera melakukan panggilan telepon pada orang tersebut.
Rani : “Lagi di mana sekarang?” tanya Rani pada seseorang di seberang panggilannya.
"(.......)"
Rani : “Aku punya kerjaan nih, bisa enggak?”
"(.......)"
Rani : “Oke deh, ketemu di tempat biasa ya sejam lagi!” ucap Rani mengakhiri panggilannya.
Setelah usai melakukan perawatan, Rani dengan segera menancapkan gas mobil mewah hadiah Pak Permana untuknya. Ia menuju ke tempatnya janji temunya dengan orang misterius tersebut.
Rani telah sampai ke dalam sebuah gedung tua yang terbengkalai, di sana dia sudah ditunggu oleh 5 laki-laki dewasa dengan tubuh besar dan tinggi.
“Hai bos cantik, lama enggak pernah kasih kerjaan lagi.” Sapa salah seorang pria yang terlihat lebih kekar daripada yang lain. Mungkin ia adalah pimpinan dari kelompok itu.
“Mau kasih kerjaan bagaimana, aku saja lama tinggal di luar negeri.” Para lelaki tersebut tersenyum dengan raut wajah mengerikan.
“Ada kerjaan apa nih, Bos? Biayanya disesuaikan dengan tingkat kesulitan dan risiko yang diterima ya.”
“Kalau itu kamu enggak usah khawatir, aku kan sudah hafal dengan kalian semua. Bereslah itu, aku malah langsung kasih pembayaran penuh di muka, senang kan kalian semua?” ujar Rani sembari menunjuk satu persatu pria yang ada di sana.
“Bos kita ini memang paling pengertian ya!” tanya pimpinan kelompok itu sembari menarik turunkan kedua alisnya menghadap kelompoknya.
“Sudah enggak usah banyak cincong, kamu lihat alamat kerjanya dan foto yang aku kirim di HPmu itu. Di situ ada perempuan paruh baya bernama Alisa, tugas kalian enggak berat kok. Aku mau kalian giring dia ke jalanan sepi, terus rampok dia, takut-takuti dia, tidak perlu menghabisi tapi sedikit siksa dia. Kalian tolong jambak rambut dan tampar keras wajahnya untukku. Oh iya, kalian bawa gunting ya, gunting rambutnya secara tidak beraturan juga. Sudah itu saja! Enggak susah kan? Kalian malah bisa dapat tambahan lagi dari hasil rampokan itu, tapi ingat jangan rampok mobilnya. Nanti bisa dilacak, Paham?!” ujar Rani memberi instruksi.
“Paham-paham.” Ucap seluruh kelompok itu serentak sembari mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Bagus! Ini imbalan untuk kalian semua, ingat aku sudah bayar lunas, jadi kalian harus berhasil!”
“Beres bos, kaya enggak kenal kita-kita aja!”
“Ya sudah aku pergi dulu, awas ya kalau sampai kalian tertangkap dan bocorkan informasi!”
“Tenang saja bos, kita sudah biasa keluar masuk penjara. Percaya sama kita, informasi pelanggan selalu aman!”
“Good!”
Nah, sudah selesaikan bacanya? Ayo di vote lagi, di like lagi, di kasih tips lagi, di rate 5 lagi, di komentarin jangan lupa. Ya, kali aja tadi masih ada yang kelupaan. 😂