AN INEFFABLE SERENDIPITY

AN INEFFABLE SERENDIPITY
Chapter 61. Amnesia



Hari telah berganti, siulan burung-burung kecil menandakan pagi. Kamar yang gelap dan dingin, serta selimut tebal yang masih menutupi sebagian tubuhnya, membuat Fadhil ingin berlama-lama dalam lelap.


Seseorang mulai berjalan ke sudut jendela, membuka tirai yang masih tertutup rapat dengan tarikan lembutnya, sehingga menciptakan bunyi ‘krek’ dari roda tirai yang bergeser. Seketika cahaya hangat mentari pagi menyeruak masuk mengusir gelap dan dinginnya ruangan ber-AC itu.


Dengan spontan Fadhil menarik selimut menutupi seluruh bagian tubuhnya, menghindari silaunya sinar matahari pagi yang mulai mengganggu kedua mata tertutupnya.


“Morning my everything.” Sapa Mecca duduk di tepi ranjang.


“Bangun dong mas! Mentang-mentang harinya jadi fleksibel malah susah bangun pagi deh. Katanya hari ini mau ketemu Malik?” ujar Mecca menggoyang-goyangkan tubuh Fadhil yang terbalut selimut putih itu.


“Mas! Mas Fadhil bangun dong!” ujar Mecca memaksa membuka selimut tebal itu.


“Ehm... Silau yank, tutup dulu tirainya.” Jawab Fadhil dengan suara parau.


“Enggak mau! Mas bangun atau aku gelitikin sampai ampun?” ancam Mecca dengan nada tegas.


Mendengar ucapan Mecca, Fadhil mulai menguap lalu merenggangkan tubuh kekarnya berharap otot-ototnya lebih relaks. Setelah 1 menit berlalu, Fadhil mulai duduk dan membuka mata secara perlahan. Saat Fadhil membuka mata di hadapannya telah tersuguh segelas air putih dalam genggaman tangan Mecca. Dengan cepat Fadhil mengambil dan meminumnya hingga habis.


“Cantik banget istriku, mau ke mana?” tanyanya sembari mengerjap-ngerjapkan mata.



“Mau ke restoranlah mas, mau ke mana lagi?”


“Sayang tunggu sebentar di sini, awas kalau pergi ya.” Ujar Fadhil sembari berlalu ke kamar mandi. Mecca menatap kepergian Fadhil kebingungan.


Sekitar 10 menit berlalu Fadhil keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar dan senyum yang mengembang. Fadhil pun kembali duduk di atas ranjang dan menarik Mecca ke dalam pelukannya.


“Habis ngapain mas?” tanya Mecca dalam pelukan Fadhil.


“Habis cuci muka, gosok gigi, sama pipislah.”


“Terus kenapa tiba-tiba begini? Mau manja-manja?” tanya Mecca lagi.


“Mau enak-enak.” Jawab Fadhil berbisik.


“Hah?”


“Uh... Anak baba sayang, kangen ya dijenguk?” ujar Fadhil merebahkan tubuh Mecca di ranjang sembari memasang telinganya di perut Mecca.


“Apa? Mau dijenguk sekarang? Serius?” ujar Fadhil seakan sedang acara tanya jawab dengan anak dalam kandungan Mecca.


“Tapi bubu sudah rapi nih, Nak.” Ujar Fadhil melirik Mecca yang menaikkan sudut bibirnya sembari memutar kedua bola matanya.


“Hah! Sudah kangen berat sama baba? Oke... Oke... Tunggu ya! Sabar!” ucap Fadhil sembari membuka celana pendeknya.


“Mas... Enggak usah macam-macam!” Mecca bangkit dengan menahan setengah tubuh bagian atasnya.


“Satu macam aja kok!” Fadhil meneruskan kegiatannya yang sempat tertunda.


“Mas aku sudah rapi nih!” teriak Mecca menahan roknya dari singkapan tangan Fadhil.


“Ssssttt...” Fadhil mencium bibir Mecca, menutup setiap omelan yang ingin terlontar.


Ciuman itu begitu menggebu bersamaan dengan tangan Fadhil yang terus bergerilya menjalari tiap senti tubuh Mecca. Fadhil mulai meletakkan tubuhnya disisi tubuh Mecca, ia tidak ingin saat mulai terbuai dengan aktivitasnya malah akan menekan perut Mecca yang mulai membuncit.


Tangan Fadhil mulai menyentuh bagian-bagian sensitif Mecca. Meremas dada Mecca yang sedikit bertambah besar karena kehamilannya ini. Sesekali tangan Fadhil menyusup ke dalam sela-sela kancing gaun Mecca yang sudah terbuka. Jari jemarinya mulai mencari-cari pucuk sensitif Mecca dengan semangat.


Ciuman itu semakin dalam, lidah Fadhil terus menari-nari di rongga mulut Mecca dengan buas. Sesekali keduanya saling meng*lum dan menyesap manisnya bibir masing-masing.


Ciuman itu didominasi oleh Fadhil, beberapa kali Mecca merasakan nafasnya semakin berat tersengal-sengal karena Fadhil tak memberikannya jeda walau sesaat.


Seolah bibir atas dan bawahnya habis dil*mat, Mecca merasakan denyutan pada bibir dan lidahnya. Tubuh Mecca semakin bereaksi saat jemari Fadhil mulai menelusuri area sensitif bawah Mecca. Mecca menyadari jari jemari Fadhil telah masuk ke sela-sela celana bagian dalamnya.


Sentuhan dan gesekan yang tercipta membuat Mecca seakan melayang ke langit ke tujuh. Kenikmatan itu terdengar dari lenguh dan desahan Mecca yang tak terkontrol lagi.


Fadhil mulai melepaskan bibirnya dari bibir Mecca namun tetap tidak menghentikan aksi jemarinya di bagian sakral istrinya.


Bibir Fadhil mulai mengecup dan menyesap tiap jengkal kaki Mecca, memberikan sensasi gigitan kecil yang tak terlupakan. Ia membiarkan bibirnya mendarat dari ujung kaki hingga pangkal paha dalam Mecca. Menyibakkan rok panjang Mecca dari pandangannya.


Ia mulai melepaskan satu sisi bagian celana Mecca yang mengganggu pendaratan lidahnya. Tanpa kesabaran Fadhil mulai mengecup, mem*lin, dan menghisap kenikmatan surga dunia miliknya.


“Aaaahhh... Mas... Terus...” ceracau Mecca berkali-kali.


Mendengar suara kepuasan Mecca membuat Fadhil semakin gencar menerobos dan menari-narikan lidahnya dengan lihai.


Saat ia mulai menerima sinyal dari cairan tubuh Mecca yang mulai banjir, Fadhil dengan segera memosisikan tubuhnya untuk bersiap melakukan penyatuan yang sedari tadi ditahannya.


Dengan perlahan namun pasti benda keras itu telah memasuki tubuh Mecca yang menegang. Dari gerakan lembut hingga sentakan dalam yang tiba-tiba, membuat tubuh Mecca semakin terdorong ke atas. Mecca hanya dapat menggigit ujung bawah bibirnya merasakan tubuhnya dihunjam berkali-kali.


“Ehem... Sudah puas? Mas buat aku tetap di rumah selama sejam loh.” Tegur Mecca yang melihat Fadhil usai mandi dan mulai berpakaian rapi.


“Loh yank kok masih tiduran? Habis ngapain sih? Memang enggak ke restoran? Ya ampun... Males banget deh istriku ini. Aku tunggu di meja makan ya, jangan tidur terus.” Ujar Fadhil menggeleng-gelengkan kepala pura-pura lupa dengan perbuatannya.


“Bisa ya habis berbuat langsung amnesia?!” Teriak Mecca pada Fadhil yang telah keluar dari kamar dengan siulan-siulan bahagianya.


“Wah... Selamat datang tuan rumah.” Sambut Malik pada Fadhil dan Faiz di ruang kerjanya.


“Halah bisa aja.” Jawab Fadhil menjulurkan tangannya dan diterima jabat tangan erat dari Malik.


“Apa kabar Pak Faiz?” tanya Malik sembari menjabat tangan Faiz setelah Fadhil.


“Baik Pak Malik, bapak bagaimana?” tanya Faiz balik.


“Ya begini... Masih pakai kursi roda, hahaha...” jawab Malik santai.


Fadhil mulai menceritakan keputusannya untuk fokus pada perusahaannya dengan Malik saat ini. Malik sangat senang mendengarnya, berkali-kali ia menyanjung Fadhil sebagai keberuntungan perusahaan. Malik yakin Fadhil akan bisa mengembangkan perusahaan itu dengan pesat.


Fadhil dan Faiz semakin antusias mengorek-ngorek perkembangan perusahaan. Mereka juga berdiskusi dan menyusun rencana untuk menarik para peminat.


Setelah lama berbincang, Fadhil mulai menghubungi beberapa kliennya saat menjabat di Grup A. Ia mencoba menarik klien untuk perusahaannya sendiri.


Beberapa kali ia menerima penolakan, namun usahanya membuahkan hasil. Ada satu klien yang dapat ia pancing untuk mendengar secara detail tentangan penawaran Fadhil tersebut.


Klien pertamanya pun meminta segera bertemu langsung di sebuah restoran yang terletak di salah satu hotel bintang 5 di Jakarta.


“Bagaimana Lik, klien yang tertarik sama perusahaan kita minta ketemu sekarang. Kita belum ada persiapan data.” Tanya Fadhil agak bingung.


“Aku saja yang jelaskan langsung, kalau soal data gampang bisa kita kirim lewat email, yang penting tarik dulu minatnya.” Jawab Malik menaik turunkan alisnya.


“Ya sudah deh, ayo berangkat.”


Sesampainya di tempat tujuan, pertemuan dadakan itu terjadi dengan lancar. Sekitar 1 jam obrolan terjadi, penjelasan dan presentasi Malik menarik minat besar bagi klien pertama mereka.


“Baik Pak Malik dan Pak Fadhil, saya tunggu email proposalnya ya.” Ucapnya sembari menjabat tangan Fadhil, Malik, dan Faiz bergantian lalu undur diri.


“Bangga aku Dhil sama kamu. Hebat memang kamu soal ngelobi.” Ujar Malik takjub.


“Yang hebat itu kamu. Kalau bukan karena penjelasan kamu tadi, aku juga pasti kewalahan.” Sanggah Fadhil.


“Kalian berdua hebat kok, cuma saya yang apa atuh di sini.” Ujar Faiz menengahi keduanya. Mereka pun tertawa terbahak-bahak.


“Aku mau ke kamar mandi dulu ya Dhil.” Pamit Malik.


“Sama saya saja Pak, saya juga sudah kebelet.” Ucap Faiz sembari mendorong kursi roda Malik.


Fadhil pun kembali duduk di kursi awalnya.


“Sayang kok di sini?” tegur seorang wanita pada Fadhil. Fadhil pun mulai mendongakkan kepalanya untuk melihat pemilik suara tersebut.


“Rani?” tatap Fadhil mulai berdiri.


“Aku tadi habis nge-gym. Enggak nyangka bisa ketemu kamu di sini.” Ujar Rani sembari merangkul lengan Fadhil dengan manja.


Sesaat kemudian tanpa disangka Karina menepis tangan Rani dari lengan Fadhil dengan keras. Ia pun segera menghambur ke pelukan Fadhil.


“Aku tadi lihat kamu di jalan, terus aku ikuti sampai sini. Aku kangen banget sama kamu.” Fadhil memaksa lepas tangan Karina dari tubuhnya membuat tubuh Karina sedikit terdorong ke belakang.


“Kalian apa-apaan sih?” ujar Fadhil kesal.


“Sayang, siapa dia sih?” tanya Rani geram.


“Sayang-sayang! Kamu jangan sembarangan panggil tunanganku!” jawab Karina emosi.


“Tunangan? Perempuan ini sehat atau enggak sih? Fadhil ini pacar aku.” jawab Rani santai.


“Dasar kamu perebut tunangan orang, pergi sana!” tiba-tiba Karina menjambak rambut Rani kuat.


“Kamu perempuan gila, lepasin!” teriak Rani ikut menjambak rambut Karina.


Seketika keributan itu menjadi tontonan para pengunjung. Fadhil merasa malu atas tingkah dua wanita aneh tersebut. Tanpa ingin terlibat atau melerai perkelahian, Fadhil hanya pergi meninggalkan keduanya dari tontonan para pengunjung hotel dengan langkah seribu.


“Kalian yang semangat ya!” ucap Fadhil menyemangati Rani dan Karina dari jauh.


.


.


.


Happy Reading and Enjoy 🤩


Jangan lupa klik favorit, like, komentar, vote, TIPS dan rate 5 ⭐ ya agar Author makin semangat dalam berkarya. Untuk mengetahui cara vote, silahkan para readers mampir pada halaman ATTENTION ya.


Jangan jadi penikmat dan silent readers, tunjukkan diri dengan like ya!


Terima Kasih.