
Arjun PoV
-----------
Saat aku melihat Medina melepaskan pelukanku dari tubuhnya, ingin rasanya aku menarik kembali dirinya dalam dekapanku. Ketika Medina menjauh dari jangkauanku dan masuk ke dalam restoran, ingin sekali kakiku ikut berlari mengejarnya, memanggil namanya, menghentikan langkahnya, dan menarik tubuhnya kembali dalam pelukanku.
Tapi apalah daya, tubuhku tiba-tiba mengkaku. Seolah-olah ada yang membisikkan padaku untuk tetap diam menapak di tempatku sekarang berdiri. Bisikan itu seolah berucap, “Jangan kejar lagi! Dia butuh waktu untuk menyendiri, kalau kau tetap memaksakan diri, dia pasti membenci sikapmu!”
Rasanya ingin sekali aku keluarkan seseorang atau sesuatu itu dari isi kepalaku. Aku jambak kuat rambutku demi mengusir makhluk itu dari pikiranku.
“Aaarrrghhh!” teriakku marah.
Dengan berat hati aku kembali memasuki mobilku dan mulai perjalanan pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, kurebahkan diriku dengan kasar di ranjang besarku. Berteriak kesal pada kebodohanku sendiri.
Aku sudah mengucapkan janji untuk tetap bertahan apapun yang terjadi padanya, tapi seperti laki-laki pengecut aku malah kabur darinya.
Wajahku mulai memanas saat kuingat lekuk tubuh Medina di atasku. Bagaimana rasa ciumannya yang begitu menuntut, aroma tubuhnya yang seperti bunga sakura, kulitnya yang lembut, dan Aaahh... Bongkahan itu yang pas di kedua tanganku.
Namun, ingatanku tentang ucapannya saat terisak membuat kedua tanganku mengepal erat. Aku begitu terkejut dengan pengakuannya sebagai korban pemerkosaan. Dan apa dia bilang? DUA KALI?
Lagi-lagi aku menjambak rambutku dengan kasar. Ingin rasanya kubunuh mereka yang mengotori Medinaku.
Aku bukanlah laki-laki yang akan menyerah atas cinta hanya perkara keperawanan, Ups... Maaf itu bukan sekedar HANYA. Ya, memang aku sedikit munafik sesaat lalu.
Aku salah satu pria yang masih mengutamakan keperawanan. Tentu saja aku menginginkan seorang gadis yang pandai menjaga kesuciannya jika menjadi istriku kelak. Tapi tidak dengan Medina, dia berbeda.
Para ba*ingan itu yang merampas paksa harta berharga Medinaku, dan aku... Aku juga hampir menjadi salah satu dari ba*ingan itu yang hampir men*amah tubuhnya karena nafsu dan ketamakanku.
Walau aku memiliki banyak mantan kekasih, tapi tak ada satu pun yang pernah ku*amahi tubuhnya. Ya, aku akui saat berciuman tanganku sering mengambil kesempatan menelusuri punggung mulus para gadis-gadis itu, tapi hanya sekedar itu dan tak lebih.
Percaya atau tidak, beberapa mantan kekasiku pernah mengajakku ke hotel atau ke rumahnya yang sedang sepi dan menunjukkan kepolosan tubuhnya. Apa saat itu aku tergoda? Ya, aku tergoda. Tapi tak ada yang pernah benar-benar membuatku hilang kendali, tapi entah kenapa bersama Medina tuas kendaliku seakan longgar.
Aku melihat dirinya yang begitu rapuh namun berusaha terlihat kuat, membuatku ingin terus melindunginya. Aku ingin menikahinya, mendekatkan dirinya dalam jangkauanku, dalam perlindunganku. Dan sampai detik ini pun aku masih ingin menikahinya, tapi...
“Aaahh... Sial! Keperawanan sialan!” geramku menahan amarah.
“Gue enggak secetek itu sebagai laki-laki. Itu bukan kesengajaan Arjun, kamu harus bisa memaklumi. Kamu mencintai Medina seutuhnya, bukan hanya bagian bawahnya!” sentakku pada diriku sendiri. Untuk ke sekian kalinya aku menjambak kuat lagi rambutku.
Aku kembali merenung, mencoba menguji ketenangan pikiran dan hatiku. Aku terus mengulang ucapan Medina, ‘Dua kali menjadi korban pemerkosaan’. Aku berusaha menguasai kemarahanku dengan mengucapnya, menahan segala pikiran picikku pada Medina.
Dan aku mulai menyimpulkan, bahwa itu bukan kesalahannya, itu kesalahanku yang terlalu lambat hadir dalam kehidupannya. Ya, dengan menyalahkan diriku sendiri membuatku jauh lebih menerima kenyataan pahit itu.
Aku berdiri dengan cepat, lalu kusambar lagi kunci mobilku untuk kembali ke restoran. Aku akan tetap menjemputnya walau dia akan menolakku lagi. Aku yakin aku bisa meluluhkannya nanti.
Sesampainya di restoran, mataku terbelalak dengan spontan pasalnya restoran itu tutup lebih cepat dari biasanya. Kutatap jam tanganku, masih pukul 22.26 WIB. Biasanya di waktu ini para karyawan masih sibuk bersih-bersih.
Ah... Apa gadis itu sengaja menutup restoran lebih awal hanya untuk menghindariku? Hmmm... Tak akan kubiarkan hal itu terjadi. Aku pun melajukan mobilku di depan rumahnya. Ingin sekali aku menekan bel itu berkali-kali untuk menunjukkan bahwa aku masih di sini, masih memperjuangkannya untuk masa depan kita berdua.
Tapi aku tidak bisa menjadi egois dan mengesampingkan sopan santunku dalam bertamu. Ini sudah cukup larut untuk berkunjung ke rumah orang lain. Biarlah aku berdiri sejenak di sini, menatap jendela kamarnya yang masih terang itu.
Setelah beberapa lama aku berdiri di seberang pagar rumahnya, aku terkesiap melihat siluet tubuh Medina yang sedang ke sana dan kemari. Entah apa yang dia lakukan, tapi melihat sekilas bayangannya membuat senyumku mulai mengembang.
“Sepertinya kamu baik-baik saja, Bi. Syukurlah...” gumamku lirih.
Setelah 1 jam aku berdiri, bersama dengan redupnya lampu kamar Medina, aku pun mulai beranjak pergi. Sial, tindakkanku benar-benar seperti penguntit. Semoga saja tidak ada seorang pun yang akan mencurigai atau melaporkanku.
Sesampainya di rumah, aku kembali merebahkan tubuhku di ranjang. Ah... Aku kembali lagi pada kesepian ini, kembali pada pikiran-pikiran negatif yang menggerogoti perasaan tulusku pada Medina.
Hatiku dengan seketika menjadi sakit, dadaku serasa tertekan, nafasku terasa berat dan sesak. Aku menangisi penderitaan Medina, menangisi tubuh lemahnya yang mengalami kekerasan se*sual di masa lalunya.
Walau Medina tidak menceritakan kronologi kisahnya, namun entah mengapa bayangan buruk secara visual yang dibuat oleh imajinasi alam bawah sadarku, memberi pengaruh secara emosional dalam tubuhku.
Kemarahanku lagi-lagi memuncak dengan pesat, jika apa yang aku bayangkan itu benar terjadi pada Medina, bagaimana mungkin itu tidak merusak seluruh hal dalam jiwanya? Sakit, pasti sakit itu terus berulang dalam ingatan Medinaku.
“Malangnya nasibmu sayang.”
Entah berapa lama aku menangisi Medina, hingga mataku terasa pedih dan kemerahan. Tapi air mata itu justru yang membawa kelegaan dalam hatiku dan membimbing mataku untuk tertutup sempurna menuju alam mimpi.
“Masih jam 4.50 subuh.” Gumamku dengan suara parau.
Aku langsung beranjak dari ranjangku dan berlalu untuk mandi, bersiap, dan melaksanakan shalat subuh. Yah, walau sikapku belum sempurna 100% sebagai makhluk beragama, tapi aku termasuk yang rajin beribadah. Paling tidak itu yang selalu aku rutinkan sejak usia dini.
Setelah usai semuanya, Aku mulai mengambil kotak berwarna merah muda di dalam laci nakasku dan menyambar kunci mobilku di atasnya. Memanaskan mobil sebentar lalu menancapkan gas menuju rumah Medina.
Sesampainya di sana, kulihat pagar rumahnya tidak terkunci. Tanpa meminta izin, aku mulai masuk dan menekan bel pintu rumahnya.
Sekali, dua kali, dan ketiga kalinya pintu itu pun terbuka. Aku melihat wajah wanitaku dengan rambut singanya diambang pintu, ingin sekali aku tertawa lepas tapi bibirku malah tersenyum tipis.
Aku menyodorkan kotak merah jambu yang kubawa tadi ke hadapannya. Medina tak serta merta mengambilnya dari tanganku, tapi dia malah terpaku memandangku. Mungkin dia masih bingung dengan kedatanganku yang tiba-tiba ini.
“Ambil dong Bi, pegal nih tanganku.” Tegurku menyadarkannya dari lamunan sembari ku goyang-goyangkan pelan kotak itu.
“A-apa ini?” tanyanya dengan wajah datar sembari mengambil pemberianku.
“Buka aja!” perintahku padanya.
Dengan mata yang terus melirikku dan kotak itu secara bergantian, ia dengan perlahan membukanya. Matanya menyipit melihat dua kotak lain di dalam kotak merah muda itu.
Ia pun mulai meletakkan kotak merah muda itu dan membuka salah satu kotak di dalamnya. Matanya terbelalak seketika saat mengetahui isi kotak itu adalah sebuah kalung emas berbentuk hati dengan berlian yang mengitarinya, di tengah bentuk hati itu ada huruf A sebagai inisial dari nama depanku.
“Suka?” tanyaku dengan senyum lebih mengembang.
Medina tidak menjawabku dengan langsung, dia malah meletakkan kotak kalung itu dan beralih untuk membuka kotak kedua.
Lagi-lagi ekspresi terkejut tampak pada raut wajahnya. Ekspresinya berubah-ubah menatapku. Tapi aku bisa melihat bahwa dia sangat bahagia menerima pemberianku padanya, matanya mulai berkaca-kaca, pipinya semakin kemerahan, dan bibirnya tampak sedikit bergetar. Ia menatap ulang kotak kedua yang berisi cincin emas dengan berlian dan empat batu permata topaz berlainan warna.
“I-ini...?” tanyanya tergagap.
“Iya, itu untukmu sayang. Bukti keseriusanku. Aku sudah menyiapkan ini lama. Sebenarnya aku ingin melamarmu dengan cara super romantis, tapi aku terlalu takut kalau kamu lagi-lagi menjauhiku, jadi aku terpaksa melakukannya dengan secepat-cepatnya. Kamu mau kan menjadi masa depanku?”
“Ta-tapi... A-aku belum siap!” jawabnya di tengah tangis haru.
“Aku enggak memintamu menikah denganku secepat mungkin, tapi ini simbol keseriusanku padamu. Aku hanya ingin kamu tidak menghindariku lagi, benda ini tidak akan mengikatmu untuk segera menikahiku tapi ini mengikatmu untuk tidak menghindariku.”
“Arjun.” Medina menyebut namaku dengan lembut, air matanya semakin mengalir deras.
Aku memakaikan kalung dan cincin itu padanya. Ah, semua tampak cocok melekat ditubuhnya. Dia pun tidak menolakku, tapi justru memberikan pelukan dan kecupannya di bibirku.
“Kamu tahu enggak, kalung dan cincin ini sengaja aku desain khusus hanya untukmu. Di tengah kalung berbentuk hati itu ada huruf A yang mewakili namaku, aku berharap seperti kalung itu, di dalam hatimu akan selalu ada aku. Kalau cincin ini, aku sengaja menggunakan campuran berlian dan batu permata topaz karena aku mengetahui artinya. Dan aku rasa ini sangat pas untuk mengutarakan perasaanku padamu. Kamu tahu tidak arti batu topaz itu apa?” tanyaku pada Medina yang ditanggapinya dengan gelengan.
“Topaz, dipercaya dapat membawa sukacita, cinta sejati, dan nasib baik. Ini adalah simbol dari pengendalian diri, kejujuran, kebenaran, dan pengampunan.” Medina menatapku dengan haru, aku menghapus air matanya dengan sapuan jemariku.
“Melalui cincin itu, aku mau menyampaikan segala keinginan dan doaku untukmu. Aku ingin kamu menjadi cinta sejatiku, aku ingin kamu selalu bahagia, aku ingin kamu tahu bahwa nasib baik itu akan selalu menghampirimu. Aku ingin kamu menjadi pribadi yang lebih jujur dan berani mengatakan kebenaran walau sepahit apapun itu, aku ingin kamu mengampuni segala rasa bersalahmu di masa lalu, aku ingin kamu dapat mengendalikan dirimu dari bayang-bayang hitam yang menempelkan trauma pada jiwamu. Ya, aku ingin bisa menjadi seseorang yang dapat ikut dalam memulihkan jiwa dan ragamu yang sempat terkoyak, aku ingin selalu bersamamu Dina...” ucapku panjang lebar dengan mata yang mulai berkaca-kaca.
Medina menarik kedua tanganku melingkari pinggulnya, ia berjinjit dan mengecup bibirku sekilas, dan ia mulai membisikkan kata-kata di telingaku dengan lembut, “I choose you. And I'll choose you over and over and over. Without pause, without a doubt, in a heartbeat, I'll keep choosing you. I believe that God created you for me to love. God picked you out from all the rest cause God knew I'd love you the best! I just wanna say something. I Love you. That's all.”
“Kayak pernah denger, nyontek dari internet ya?” tanyaku memastikan.
“Iya, hahahahaha...” jawab Medina dengan tawa lebar, membuatku ikut tertawa bersamanya.
Dengan gemas aku mengacak-ngacak rambutnya. Huh... Dasar enggak kreatif, lagi romantis-romantis begini malah dikasih kata-kata mutiara sontekan. "Nasib aku gini amat yak?" 😣
Hai para readers tersayang, mohon maaf lahir dan batin ya. Jangan lupa untuk terus dukung Author supaya lebih semangat dalam berkarya ya. Tahu kan dukungnya lewat apa??? 😂