
“Gila... Gila... Gila... Fans Fadhil bar-bar banget. Pria beristri direbutin sampai jambak-jambakan gitu. Pantas nasib jomblo makin ngenes, cewek jaman sekarang enggak mandang status kalau suka sama cowok, hahahaha...” tawa Malik menggelegar dalam mobil.
“Bos dari jaman single sampai beristri memang ya sudah kayak gula dikelilingi semut gitu deh Pak Malik.” Ujar Faiz membenarkan.
“Tapi parah banget kamu Dhil! Coba tadi direlai dulu baru ditinggal, ini malah disemangatin dari jauh, ckckckck...” decak Malik menggeleng-gelengkan kepalanya.
“Kalau aku ikut misahin yang ada aku jadi korban jambakan mereka dong. Hitung-hitung kasih tontonan gratis sama pengunjung hotel, mereka senang kita kan dapat pahala juga.” jawab Fadhil menaik turunkan kedua alisnya lalu tertawa geli.
Sesampainya di perusahaan mereka kembali berdiskusi dan menyusun strategi baru dalam menarik klien lainnya. Mereka juga mulai membuat beberapa catatan untuk pengajuan proposal penawaran kerja sama.
Malik, Faiz, dan Fadhil saling belajar antara satu dengan yang lainnya. Saling bertukar ilmu dan ide-ide brilian dalam pikiran masing-masing, mereka juga saling menyatukan visi dan misi demi mengembangkan perusahaan ke masa depan yang lebih gemilang. Doa pun ikut terpanjat dari bibir ketiganya.
***
Sore ini Pak Permana pulang ke kediamannya lebih cepat daripada hari biasanya. Lesu dan lelah terpampang jelas di raut wajahnya yang mulai menua. Nafasnya pun sering terasa berat dan tersengal-sengal.
Masih dengan pakaian jas lengkap, Pak Permana menghempaskan dirinya di sofa ruang tamu yang sepi. Kepala pelayan menghampiri Pak Permana dengan segelas air putih yang diletakannya pada meja di hadapannya.
“Di mana Fahri?” tanya Pak Permana pada kepala pelayan.
“Sedang mandi tuan.” Jawabnya lembut.
“Kalau Rani?”
“Pergi sejak siang tuan.”
Pak Permana mengakhiri pertanyaannya, namun kepala pelayan dengan inisiatif memberikan informasi kepada beliau tanpa ditanya.
“Sedangkan nyonya Alisa berada di ruang kerja tuan.”
“Baiklah, kau boleh pergi.”
Tepat satu bulan Rani dan Fahri tinggal di rumah keluarga Permana, namun perubahan besar sangat tampak di sana.
Terlebih lagi dari sikap Pak Permana yang mulai acuh kepada Bu Alisa. Untuk berbicara saja keduanya dapat dihitung dengan jari. Rani benar-benar memotong komunikasi dan kesempatan pasangan suami-istri tersebut untuk saling bercengkerama.
Segala pengaruh-pengaruh buruk terlalu mudah diterima oleh Pak Permana, tanpa ia sadari membuat kerenggangan yang nyata antara dirinya dengan Bu Alisa.
Pak Permana pun tampak kurus dan kusut seperti tak terurus. Walau Bu Alisa sering memberikan perhatiannya dengan rutin mengirimkan vitamin, obat, dan jamu-jamuan tapi tindakannya selalu diambil alih oleh Rani.
Hak dan martabat Bu Alisa sungguh sangat diinjak-injak oleh seseorang yang bahkan tidak lebih sebagai pengacau. Sedangkan Pak Permana saat mengetahui atau pun tidak hanya membiarkan hal itu terjadi tanpa pembelaan.
“Pa.” Panggil Bu Alisa yang sudah duduk di sofa dekat Pak Permana berada.
“Lihat ini!” pinta Bu Alisa sembari meletakkan tumpukan kertas di atas meja. Pak Permana hanya melirik tumpukan kertas tersebut tanpa mengambilnya.
“Apa itu?”
“Tagihan belanja perempuan tidak tahu diri itu! Dalam sehari dia bisa mengeluarkan uang puluhan sampai ratusan juta. Kalau sampai ini terus terjadi Papa akan bangkrut tanpa tersisa. Papa kalikan saja semua dengan selama dia tinggal di sini!” adu Bu Alisa dengan geram. Pak Permana hanya memejamkan mata dan memijat dahinya dengan tekanan kuat.
“Papa harus tegas dengan wanita itu! Dia hanya hama di keluarga kita. Papa bisa mengambil hak asuh Fahri, tapi keluarkan dia dari rumah ini. Mama tahu awalnya papa takut dengan ancamannya, tapi lama-lama papa menikmati dirinya kan? Bahkan saat mama masih sah sebagai istri papa dengan tanpa rasa malu papa menggunakan kamar tidur kita dengannya. Mama cukup menahan semuanya, mama akan mengurus Fahri seperti anak mama sendiri, mama juga akan memaafkan semua perbuatan papa, tapi tolong usir dia dari rumah ini! Papa harus sadar, dia terlalu meremehkan kelemahan papa selama ini. Lebih baik jika kita kehilangan semua daripada harus diinjak-injak oleh dia! Apa papa mulai mencintai dia sampai setunduk ini?” cerocos Bu Alisa mengeluarkan segala unek-uneknya yang terpendam.
“Kalau kamu tidak tahan tinggal di sini dan tidak bisa menerima keputusanku kenapa masih menetap?” tanya Pak Permana dengan dingin.
“Kamu? Selama menikah, baru kali ini papa menggunakan panggilan ‘kamu’. Papa sadar bicara seperti itu? Mama menahan semua karena ingin menyadarkan kebodohan papa selama ini.”
“Kamu bahkan memilih pisah ranjang, kenapa harus mengeluh jika aku memasukkan wanita lain ke kamar? Kamu juga sudah melepas segala tugasmu sebagai istri kan selama ini? Apa kamu masih seperti dulu yang masih rutin mengurus keperluanku sebelum berangkat kerja? Apa kamu masih peduli dengan kesehatanku? Aku saja tidak pernah menerima vitamin, obat, dan jamu yang biasa kamu siapkan! Bahkan bicara denganku saja kamu menghindar!” keluh Pak Permana dengan sinis.
“Oh jadi dia sudah mencuci otak papa? Bukan mama yang tidak peduli dengan papa, tapi mata papa yang sudah dibutakan. Mau bicara apapun juga akan percuma jika seperti ini!” sesal Bu Alisa dengan kecewa.
“Kamu dan Fadhil tidak tahu apapun tentang perjuanganku, kalian hanya bisa marah dan meninggalkanku begitu saja.” Dengusnya kesal.
“Papa harusnya sadar kalau selama ini kami selalu memperhatikan dan memberikan saran terbaik. Tapi apa papa mendengar? Papa hanya mengacuhkan pendapat kami begitu saja. Bahkan papa tega kepada anak kandung papa sendiri!”
“Kalau sudah tidak tahan menghadapiku dan berada di rumah ini aku tidak melarang jika kamu mau pergi! Kalau mau berpisah pun silakan!” ujar Pak Permana meninggikan suaranya lalu pergi meninggalkan Bu Alisa sendirian.
Bu Alisa serasa tersambar petir mendengar pernyataan Pak Permana kepadanya. Ia masih termangu dalam diam, bingung menyerap segala kata yang ia dengar.
“Yang penting dia tidak mengucap talak. Perkataannya hanya emosi sesaat, aku tidak boleh ikut terpancing. Aku harus sabar dan lebih sabar lagi, huhuhu...” tangis Bu Alisa pecah terdengar di seluruh ruangan. Ia memegang dan memukul-mukul kuat dadanya berharap tindakannya dapat mengusir rasa sakit di hatinya.
***
Waktu sudah menunjukkan pukul 22.23 malam, Arjun memarkirkan mobilnya di depan restoran Medina dan Mecca. Pada pintu restoran telah terpasang tanda ‘close’, Arjun membacanya sekilas lalu masuk ke dalam.
Biasanya restoran tutup di pukul 22.00 WIB. Tapi para karyawan biasanya pulang sekitar jam setengah sebelas sampai jam sebelas malam usai seluruh pekerjaan beres. Saat Arjun masuk ke restoran di sana masih menyisakan 3 karyawan yang tengah bersiap-siap untuk pulang.
“Hello everyone? Wah sudah bersih semua nih! Pada mau pulang ya?”
“Halo Pak Arjun, iya pak.” Jawab ketiga karyawan serempak. Arjun membalas keduanya dengan senyuman.
“Dina ada?”
“Bu Dina ada di ruangannya pak.” Jawab salah seorang karyawan. Setelah itu mereka semua pamit undur diri.
Arjun masuk ruangan yang biasa Mecca dan Medina gunakan sebagai tempat privasinya. Tempat itu adalah ruangan kerja yang digabung dengan ruangan istirahat pribadi Mecca dan Medina, namun di pisah dengan sekatan.
Arjun memasukkan kepalanya ke ruang kerja Medina, ia ingin memantau kegiatan Medina sebelum masuk. Namun ruangan itu kosong tanpa penghuni.
Arjun pun akhirnya memutuskan masuk dan mencari Medina di dalam ruang istirahatnya. Ia membuka pintu dan melihat Medina tertidur di ranjang dengan ukuran queen size tersebut.
Arjun melihat wajah cantik Medina yang tengah tertidur sembari membawa buku catatan dan pulpen di kedua tangannya.
Arjun pun mengambil buku dan pulpen itu perlahan lalu meletakkannya di atas nakas. Namun yang dilakukan Arjun justru membangunkan Medina.
“Eh... Be?! Kok sudah di sini? Memang ini jam berapa?”
“Aku baru sampai kok. Ini pukul 22.32.” jawab Arjun sembari melihat jam tangannya.
“Aku ketiduran 12 menit. Akhir-akhir ini kalau lihat pembukuan gampang ngantuk.” Cengir Medina menatap Arjun.
Arjun menatap Medina dengan gemas, ia pun mencubit pipi Medina dengan lembut. Medina pun berdiri dari ranjang dan pindah ke sofa di seberang ranjang lalu memakai sepatunya yang berada di lantai. Arjun mengikuti gerakan Medina dan duduk di sampingnya.
“Kerjaan kamu sudah selesai?”
“Sudah kok. Anak-anak sudah pulang belum ya?”
“Sudah, tadi aku ketemu mereka waktu mau pulang.”
“Ehm... Oke.”
“Bi aku kangen kamu.” Ujar Arjun mulai mendekati Medina dan merangkul kan sebelah tangannya di belakang sofa.
“Kayaknya kita sering ketemu deh walau sebentar-sebentar.” Lirik Medina dengan senyuman lembut.
“Mana cukup kalau sebentar-sebentar, aku maunya sepanjang hari.” Medina hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil menyunggingkan senyum disudut bibirnya.
“Kita menikah saja yuk Bi!” ucap Arjun serius.
“Menikah?” Medina menatap Arjun dengan tatapan memastikan.
“Iya! Menikah!”
“Aku belum siap Be.”
“Kapan siapnya?” pertanyaan Arjun hanya dijawab Medina dengan kedua bahunya yang terangkat.
“Din... Aku boleh enggak cium kamu?” tanya Arjun mendekatkan wajahnya.
Medina terdiam sesaat melihat tatapan mata Arjun yang menguncinya. Memang selama sebulan mereka menjalin hubungan keduanya tidak pernah melakukan kontak fisik lebih dari genggaman tangan.
Medina selalu mencari-cari alasan untuk menghindari keinginan Arjun yang seperti itu. Ciuman terakhir yang mereka lakukan justru sebelum hubungan ini mereka resmikan. Medina tanpa sadar menelan liurnya dengan kasar. Ia mengarahkan matanya ke bibir Arjun yang merah muda itu.
“Boleh?” tanya Arjun lagi dengan tatapannya yang dalam.
“Hmmm... Kecup saja ya.” Jawab Medina malu-malu. Arjun tersenyum mendengar persetujuan Medina.
Dengan jantung yang sama-sama berdegup kencang Arjun mulai mendekati tubuh Medina yang terpaku di tempatnya. Wajahnya kian dekat dengan wajah Medina. Arjun menatap mata Medina dengan hangat, Medina pun menatap mata Arjun dengan sayu, kemudian...
Cup...
Satu kecupan mendarat di bibir kenyal Medina dengan singkat. Arjun pun kembali mendaratkan bibirnya di bibir Medina untuk kedua kali.
Cup...
Kali ini kecupan Arjun lebih lama beberapa detik dari kecupan singkat sebelumnya. Medina membelalakkan matanya menerima kecupan kedua. Ia pun mulai menjauhkan tubuhnya, namun Arjun kembali mendesak tubuh Medina hingga mentok ke ujung sofa. Lagi-lagi ia mendaratkan kecupan ketiganya di bibir kenyal Medina, kali ini Arjun memegang salah satu pipi Medina untuk lebih menekan bibirnya.
Cup...
Medina tak kuasa menerima kecupan ketiga Arjun. Tanpa sadar Medina menutup mata dan menikmati kecupan di permukaan bibirnya yang datar tanpa pergerakan.
Beberapa detik kecupan itu terasa biasa saja, sampai Arjun mulai membuka kedua bibirnya untuk mel*mat bibir bawah Medina yang lembut. Diawali dengan gerakan perlahan dan lembut namun terjadi secara intens.
Medina mulai terpengaruh dengan gerakan bibir Arjun yang memperlakukan bibirnya dengan manis. Medina pun mulai membuka bibirnya dan membalas ciuman itu sama lembutnya.
Arjun menerima sinyal persetujuan Medina, ia pun mulai meneroboskan lidahnya masuk ke dalam rongga mulut Medina. Arjun membuka matanya untuk melihat respons Medina, ia menemukan mata Medina yang masih tertutup namun dahinya mulai dikerutkan.
Arjun menunggu jawaban Medina sesaat, namun Medina tidak melakukan penolakan apapun pada tindakannya itu. Arjun pun mulai meningkatkan aksinya. Dengan semangat ia mulai memburu ciuman Medina. Mereka pun saling berpagutan tanpa jeda, seakan tak ada pengulangan di lain hari.
.
.
.
Happy Reading and Enjoy 🤩
-Jangan lupa klik favorit, like, komentar, vote, TIPS dan rate 5 ⭐ ya agar Author makin semangat dalam berkarya. Untuk mengetahui cara vote, silahkan para readers mampir pada halaman ATTENTION ya.
-Jangan jadi penikmat dan silent readers, tunjukkan diri dengan like ya!
Terima Kasih.