
Ini panjang loh ngetiknya, di vote, di komentari, di like, di follow dong¯(ツ)/¯
---------------------------------------------
“Mas Arjun!” teriak Diana melambai-lambaikan tangannya. “Syukur deh masih sempat ketemu, aku boleh ikut pulang bareng ya?” tanya Diana dengan wajah polosnya sembari mengatur nafas.
Arjun dan Medina mendelik spontan menatap gadis yang terengah-engah itu dengan senyum manisnya yang mengembang. Mecca yang sedari tadi penasaran dengan sosok Diana mulai menutup pintu mobil yang menghalangi sudut pandangnya.
Mecca dan Fadhil berdiri berdampingan, menunggu jawaban Arjun atas permintaan gadis itu yang kini semakin merusak mood Medina.
“So-sorry Na, enggak bisa!”
“Loh, memang kenapa sih?” kata Diana kecewa.
“Aku mau antar pulang Dina, lagian mobil aku banyak barang, enggak bisa nampung kamulah!” Arjun menjawab dengan senyum canggung. Medina hanya diam mematung menatap lekat Diana yang sangat terang-terangan tak menggubrisnya.
“Aku enggak masalah kok, aku kan bisa pangkuin barang-barang Mas Arjun. Aku janji deh enggak akan ngeluh. Lagian aku enggak keberatan juga kalau mau ngantar dia dulu. Aku ikut aja, boleh ya?” rengek Diana pantang menyerah.
“Tapi aku yang merasa keberatan, kamu aku pesankan taksi aja ya?!” ujar Arjun menawarkan sembari mengambil ponselnya.
“Atau begini saja, kamu ikut mobil kita aja, kita bisa kok antar kamu dulu ke rumah. Bisa kan, Mas?” sela Mecca mencoba menawari Diana yang cukup menyebalkan baginya, seolah-olah ia ingin berada ditengah-tengah hubungan kakaknya dengan Arjun. Mecca menatap Fadhil memberi kode untuk menerima tawarannya.
“Oh iya, bisa kok!” jawab Fadhil tak ambil pusing.
“Aku tidak nyaman kalau menumpang kalian, kita kan tidak saling kenal. Lagi pula arah rumahku dan Mas Arjun sejalur, jadi menurutku bisa lebih efisien.” Jawab Diana tanpa rasa malu. Mecca pun jadi malas menanggapi gadis itu lagi. “Boleh ya, Mas? Ada yang mau aku omongin juga nih sama Mas Arjun, penting!” toleh Diana kembali pada Arjun dengan tatapan mengiba.
“Aku juga mau ngomong sesuatu ke kamu, Be. Enggak apa-apa kalau dia mau ikut!” ucap Medina sebelum masuk ke dalam mobil Arjun.
“Yes, aku masuk ya. Permisi!” Diana langsung berlari menuju mobil Arjun dan memasukinya tanpa ragu.
Arjun menatap Fadhil dan Mecca dengan getir, memberikan kode dengan dua tangannya yang menengadah meminta saran. Namun bukannya saran, tapi tatapan tajam pasangan suami istri itu malah mengancamnya.
Fadhil memberikan kode ibu jari yang ia goreskan di setengah lehernya, memberikan gambaran jika ia membuat Medina sedih maka ia tidak akan segan-segan menghabisinya.
Begitu pula dengan Mecca yang membuat huruf V pada jari telunjuk dan jari tengahnya, lalu ia arahkan pada kedua matanya dan mata Arjun secara bergantian. Menandakan bahwa ia akan mengamati tindakan Arjun pada kakaknya. Arjun hanya dapat menepuk dahinya menerima perilaku pasangan itu.
“Dasar pasangan sadis!” gumam Arjun menggeleng-gelengkan kepala.
***
Sudah 10 menit mobil berjalan keluar dari gedung Mall, hanya Diana yang terus menerus mengoceh menceritakan ini dan itu, bukannya mengubah suasana menjadi menyenangkan namun kehadiran Diana justru membuat suasana terasa menegangkan.
Arjun ingin sekali fokus dengan cerita Diana yang terus menerus memanggil namanya, meminta perhatian lebih Arjun pada ceritanya. Namun konsentrasi Arjun seakan tidak dapat terbagi, karena sosok gadis cantik di sebelahnya itu masih saja berdiam diri dengan wajah datarnya.
Ada sesekali Arjun ingin tertawa mendengar cerita Diana yang lucu menurutnya, namun sudut mata Medina yang meliriknya tajam membuat tawanya urung untuk dilepaskan.
“Kenapa gue berasa kayak habis ketangkap selingkuh sih?. Perasaan posisi gue salah melulu dah. Yang satu minta perhatian, yang satu lagi minta kejelasan. Gue sadar kalau kegantengan gue akut, tapi gue bukan playboy bahkan gue menentang poligami dari jaman negara api menyerang. Nasib orang ganteng gini amat ya? Cobaan banget sih!” Celoteh Arjun dalam hati.
“Senja, kamu masih ingat aku kan? Kita pernah satu SD dulu.” Tanya Diana yang mulai menegur Medina.
“Samar-samar ingat. Panggil Dina aja, lebih nyaman buatku.” Jawab Medina seadanya, tanpa berniat bertanya kembali.
“Syukur deh kalau masih diingat, hehehe... Oh ya Din waktu itu aku dengar katanya kamu sudah nikah ya?” tanya Diana melirik Medina, mencoba menilai ekspresinya.
“Uhuk-uhuk.” Arjun terbatuk dengan sengaja, mencoba memberi kode pada Diana untuk berhati-hati pada ucapannya.
Medina terpaku diam, mencoba mengumpulkan kesadarannya yang sempat terhenti karena detak jantungnya yang mulai tak teratur.
“Dina? Aku nanya loh tadi?!” ucap Diana memaksa meminta jawaban, mengabaikan peringatan Arjun padanya.
“Dengar dari mana?” tanya Medina balik dengan wajah yang dibuat sebiasa mungkin.
“Ada deh, aku juga lupa. Jadi jawabannya apa?”
“Sepenasaran itu?” pertanyaan Medina membuat Diana terkekeh. Arjun hanya dapat menyimak pembicaraan dua gadis itu tanpa berniat menginterupsi lagi.
“Iya dong penasaran. Karena kamu jahat sih!” ucap Diana dengan nada sedikit kesal.
“Maksudnya?” tanya Medina menoleh ke belakang, menatap Diana yang juga menatapnya.
“Iya, kamu jahat karena enggak undang-undang aku atau teman-teman yang lain, padahal kamu masuk juga kan di grup SD kita?”
“Oh gitu.” Jawab singkat Medina lalu memalingkan kembali tatapannya.
“Ngobrol sama kamu susah panjangnya ya? Mas Arjun enggak bosen kalau ngobrol sama Dina apa?” tanya Diana bergilir pada Medina dan Arjun. Medina kembali menatap Arjun, menunggu jawaban jujur darinya.
“Kalau enggak ketemu Dina baru aku bosen parah!” Arjun menggenggam tangan Medina dan mencium punggung tangannya, perbuatan Arjun membuat Medina tersipu malu.
“Iya-iya deh, namanya juga baru-baru dekat wajar kalau tebar-tebar kebucinan dimana-mana! Terus pertanyaanku jawabannya apa nih, Din?”
“Kalau Dina enggak mau jawab, jangan kamu paksa terus lah, Na!” jawab Arjun ketus.
“Aku enggak maksa mas, aku kan cuma memastikan.”
“Bukan sudah, tapi pernah!” jawab Medina dengan cepat setelah Diana berbicara.
“Pernah?! Cerai?” Diana bertanya dengan raut wajah bingung. Namun pertanyaannya diacuhkan Medina.
Melihat sikap Medina, membuat Diana tak ingin melanjutkan wawancaranya lagi, apalagi setelah ia melihat raut wajah Arjun yang tak berubah, membuatnya semakin tidak tertarik memperpanjang hal itu.
“Loh, kok kita lewat jalan sini, Mas?”
“Katanya rumah kamu lewat arah sini?Aku kan mau antar kamu pulang!”
“Iya bener sih jalannya, tapi kenapa enggak antar Dina dulu? Kan rumah kita sejalur, kalau begini Mas Arjun capek dong bolak-balik.”
“Siapa yang bolak-balik, aku mau ajak Dina ke rumah kok!”
Mendengar jawaban Arjun membuat Medina terbelalak kaget. Pasalnya ini adalah kali pertama Arjun membawanya ke rumah. Bukan karena Arjun tidak pernah mengajaknya, namun dirinyalah yang selalu menolak ajakan tersebut.
“Malam-malam begini?” tanya Diana tak percaya.
“Masih juga setengah sembilan. Lagian mami aku tuh suka banget sama Dina, sampai enggak sabar mau ngelamar terus!” jawab Arjun dengan senyum mengembang. “Enggak mami enggak aku semua sudah klepek-klepek sama kamu, Bi.” Goda Arjun penuh rayu.
Medina mengeratkan genggamannya pada Arjun, membuat Diana geram kepanasan. Diana pun berusaha melakukan skinship dengan Arjun, ia mulai menepuk dan berlama-lama menenggerkan tangannya pada bahu bidang Arjun saat ia menunjukkan arah. Namun bukannya cemburu, Medina justru melekatkan pipinya pada bahu Arjun, mengusir tangan lancang Diana pada prianya.
Tanpa terasa Arjun telah sampai di depan rumah Diana. Setelah mengucapkan rasa terima kasihnya, Diana turun dari mobil dengan mengentak-entakkan kakinya.
“Mas, pembicaraan penting antara kita besok aja ya dibahas lagi. Bye sayang...” Diana melambai-lambaikan tangannya memasuki pagar rumahnya.
“Sayang-sayang! Senang tuh dipanggil sayang sama cewek cantik!” geram Medina penuh kesal.
“Senang sih, tapi kalau kamu yang panggil sayang ke aku. Kamu tuh wanita tercantik di hatiku sayang, enggak usah cemburu sama cewek lain!” Arjun mengerlingkan matanya. Medina tersenyum malu menerima gombalan klasik Arjun yang melelehkannya.
“I-ini ki-ta pulang kan?” tanya Medina ragu.
“Kan tadi aku sudah bilang, kita ke rumahku dulu.”
“Ini sudah malam Be, aku enggak enak sama Mami Rita, mana aku enggak bawa apa-apa pula.”
“Enggak ada mami kok di rumah, mami lagi menginap tempat kakek aku, mengurus beliau yang sedang sakit.”
“Kalau gitu kita pulang aja, enggak enak kalau mami enggak di rumah.”
“Kamu enggak pernah mau sih ke rumah aku, jadi aku todong langsung aja deh. Paling enggak mampirlah sebentar, ya-ya-ya?”
“Tapi aku kan sudah tahu rumah kamu, sudah pernah lihat. Kamu kan tetanggaan sama Fadhil.”
“Tapi kamu belum pernah datang, masuk, minum atau apa gitu. Ayolah Bi, sebentar aja!”
“Bener ya cuma sebentar?”
“Iya bener!”
“Ya sudah kalau begitu!”
“Yes!”
***
Mecca merebahkan tubuhnya dengan termenung, menatap langit-langit kamarnya sembari membelai-belai perutnya yang semakin membesar.
“Kenapa yank, kok bengong?”
“Aku kepikiran Kak Dina, Mas.”
“Kepikiran kenapa lagi?”
“Kakakku itu tertutup orangnya, dia kadang sulit mengutarakan perasaan, aku khawatir adanya perempuan itu ngebuat perasaan Kak Dina enggak nyaman. Mas lihat sendirikan gimana maksanya perempuan itu tadi minta diantar pulang Kak Arjun, dia terang-terangan banget nunjukin perasaannya loh!”
“Iya aku tahu yank, tapi Itu masalah mereka, itu hubungan mereka, ya biarin mereka yang jaga. Kalau kena sedikit gangguan mereka goyah, ya bagaimana mau sampai ke pernikahan? Lagian Arjun dan Dina bukan anak kecil lagi yank, mereka enggak perlu kita khawatirin.”
“Aku tahu mas, tapi tetap aja kepikiran.”
“Mau aku buat enggak kepikiran lagi?”
“Memang mas bisa apa?”
“Bisa begini!” ujar Fadhil ******* bibir Mecca sembari meremas pa*udara Mecca dengan lembut.
“Eeehhhmmm...” lenguh Mecca menyamankan posisinya.
(Ecie nungguin terusannya ya? 😂 \=> DOSA gaes DOSA) Tampang polos Author ⬇️
***
Tanpa perlu waktu yang lama, Arjun telah memarkirkan mobilnya di halaman rumahnya. Dengan cekatan dia turun dan membukakan pintu mobil untuk Medina.
Medina yang masih ragu apakah harus mampir atau tidak, membuatnya bergeming dari tempat duduknya. Arjun yang menangkap kebingungan Medina lantas menarik tangannya lembut untuk keluar dari mobil.
“Masuk yuk, Bi!”
“Ta-pi, Be...”
“Enggak ada tapi-tapian!” Arjun semakin mengeratkan genggamannya menuntun Medina memasuki rumahnya.
Medina menapaki langkah demi langkah, menyusuri ruangan yang ia sapu dengan pandangan matanya. Melihat berjejer piala dan foto-foto kenangan yang terbingkai indah di tiap dinding dan meja-meja.
“Kok sepi sih, Be? Mbak yang bantu-bantu rumah kemana?”
“Ada kok di belakang sana. Biasanya sih kalau tiap jam 8 malam setelah cuci peralatan makan pada langsung ke belakang. Tapi kalau mau dipanggil lagi bisa kok, tinggal pakai telepon paralel aja. Kenapa? Kamu mau minum atau makan sesuatu? Aku panggilin dulu ya!”
“Eh... Enggak usah Be, aku enggak lapar atau haus kok. Tapi kalau kamu maksa, aku minta air putih hangat aja.”
“Sini-sini ikut aku ke dapur, kalau kamu enggak mau makan aku yang mau. Tujuan aku bawa kamu ke sini itu ada maksudnya, Bi.”
“Apaan?”
“Masakin aku dong sayang, lapar nih habis ngegym. Aku kangen banget sama masakan kamu yang luar biasa itu, please!”
“Memangnya si mbak enggak masak?”
“Ya ampun, kasihan banget sih. Aku sih pengen masakin, tapi aku sungkan Be pakai-pakai peralatan dapur.”
“Sungkan sama siapa? Cuma kita berdua di sini! Buruan ih, lapar nih!” Arjun mendorong tubuh Medina menuju lemari es untuk memperoleh bahan-bahan yang diinginkan.
Arjun memasangkan apron pada tubuh semampai Medina dengan telaten, sesekali mencuri cium pipi Medina yang bersemu kemerahan.
Selama 30 menit Arjun menatap lekat Medina dengan kagum. Melihat kepiawaian Medina menggunakan pisau serta kelihaiannya dalam meracik bumbu. Tangan-tangan lentiknya yang halus dengan percaya diri menambah ini dan itu tanpa perlu mencobanya, membuat Arjun semakin terpesona.
“Cantik banget sih kamu, Bi. Saat masak begini level kecantikanmu makin meningkat.” Pujian Arjun hanya memperoleh senyum dari Medina.
Medina yang masih berkutat dengan masakannya, mulai memberikan sentuhan terakhir. Medina menaburi steak pasta buatannya dengan keju, parsley, serta oregano.
“Ta-da, silakan dinikmati.” Medina membuat gerakan seolah melakukan pertunjukan sulap.
“Woah! Kelihatannya enak nih! Aku makan ya sayang, kamu mau enggak?” ujar Arjun tanpa mengalihkan pandangan pada steak pasta dipiringnya.
“Enggak sayangku, habisin gih!”
“Uh... Panggil sekali lagi dong.” Pinta Arjun manja.
“Sa-yang.”
“Hehehe, sayang kamu juga!” ucap Arjun kilat lalu menyantap makanannya dengan rakus.
“Eh... Awas Be, itu masih panas!” Medina seketika bereaksi saat Arjun menyuapkan masakannya penuh ke mulut.
“Hwanaz (panas), Bi!” Arjun membuka mulutnya yang mulai kemerahan, membuat Medina tertawa terpingkal-pingkal melihat kepulan asap keluar dari mulut kekasihnya tersebut.
“Bibir kamu ikutan matang Be, hahaha...!” tawa Medina membuat Arjun menceramahinya dengan ucapan yang tak jelas didengar, membuat situasi semakin terasa lucu.
“Ditelan dulu Be, baru ngomel. Bentar aku ambilin minum!” Medina menggeleng-gelengkan kepalanya masih dengan senyum disudut bibirnya.
Setelah meminum habis air dingin yang Medina berikan, Arjun kembali mengajukan protes atas tawa Medina yang tak iba padanya.
“Mulut aku sudah ngepul-ngepul, bukannya disiram eh maksudnya di ambilin air, malah diketawain. Seneng kamu Bi bibir aku jadi daging panggang gini? Nyesel loh enggak bisa ngerasain ciuman manisku lagi!” cerocos Arjun tanpa jeda.
“Habis kamu lucu banget deh, sudah tahu habis aku tuang dari pan grill, eh malah langsung main embat aja!” Medina menggeleng-gelengkan kepala tak habis pikir dengan tingkah laku kekasihnya.
“Namanya juga lapar, terus aromanya enak banget lagi, eh begitu masuk mulut enaknya kalah sama panas!” Arjun menepuk dahinya dengan frustrasi, membuat Medina kembali terbahak-bahak.
“Ya sudah, sini aku suapin. Biar makannya lebih enak.”
“Mau! Aaaakkhh...” Arjun membuka mulutnya lebar-lebar.
Tak perlu waktu lama bagi Arjun untuk menghabiskan makanannya. Di suapan terakhir Arjun memutar balik garpu yang dipegang Medina untuk masuk ke mulut mungil kekasihnya tersebut. Namun Medina yang sedikit terlonjak kaget justru mengotori baju putihnya dengan saus pasta buatannya.
“Aaahhh!” teriak Medina spontan.
“Yah! Maaf Bi, aku enggak sengaja!” Arjun memasang wajah penuh penyesalan.
“Enggak apa-apa kok, nanti aku bersihin pakai air dulu aja. Kamar mandinya dimana ya?” tanya Medina melihat ke kanan dan ke kiri.
Arjun memberikan instruksi kepada Medina dan dengan tanggap Medina menyusuri tiap sudut sesuai petunjuk. Setelah 10 menit berlalu, Medina keluar dengan bajunya yang sudah setengah basah, namun noda di pakaiannya tetap terlihat jelas.
“Yah, enggak bisa hilang ya?”
“Enggak apa-apa, nanti sampai rumah aku urus.” Senyum Medina hangat, tak ingin Arjun merasa bersalah lagi padanya.
“Ayo ke kamar aku.”
“Hah! Ngapain?”
“Ganti pakai bajuku dulu! Masa basah-basah begitu?! Nanti aku minta bibi cucikan.”
“Enggak usah! Baju kamu yang kemarin aja masih ada di rumah tuh, aku lupa terus kembalikannya sih. Kalau kemarin ada alasan hujan Be untuk pakai baju kamu, tapi kalau sekarang apa? Aku enggak mau ayah mikirin kita macam-macam.”
“Yang penting ganti dulu, baju kamu basah banget tuh. Kamu nanti malah kedinginan loh. Nanti baju kamu aku minta bibi cuciin sampai bersih dan kering, jadi kamu bisa pakai lagi sebelum pulang.”
“Mana bisa kering Be, pasti masih butuh di angin-anginkan.”
“Bisa! Percaya sama aku!” Arjun menggenggam tangan Medina dengan santai. Ia mengajaknya memasuki kamar dan memberikannya sebuah pakaian. “Pakai itu dulu ya Bi, aku ke bawah sebentar.” Arjun membawa baju kotor Medina setelah melihat anggukkan sesaat Medina waktu menanggapi ucapannya.
Setelah selesai mengganti pakaian, dengan langkah cepat Medina ingin keluar dari kamar Arjun, namun langkahnya terhenti saat ia melihat beberapa foto Arjun saat masih bayi hingga dewasa. Foto itu terpajang rapi membentuk kolase dari ratusan foto yang disusun menjadi huruf A.
“Wah, lucu banget sih kamu waktu bayi. Gemas deh sama pipi tembamnya!” Medina menyentuh foto Arjun semasa bayi menggunakan ujung jarinya.
“Ehem, sudah puas belum menikmati kegantenganku dari bayi?” deham Arjun masuk ke dalam kamarnya tanpa mengetuk.
“Kegantengan atau keganjenan?”
“Idih enak aja, aku enggak pernah ganjen kali!”
“Senyum kamu tuh dari bayi bikin salah paham orang yang lihat.”
“Salah paham gimana? Lucu gitu kok!”
“Kayak minta diculik!”
“Hahahaha... Kalau kamu yang culik sih aku mau banget, Bi. Ngeharap malahan!” cekikik Arjun membuat Medina juga ikut terkekeh.
“Jangan-jangan di sini kamu masih simpan foto mantan ya?” Medina mulai mengedarkan mata curiganya.
“Enggak ada lah Bi, ngapain juga aku simpan-simpan foto mantan? Yang ada foto aku yang disimpan!” Arjun berpose menunjukkan pesonanya.
“Ya-ya-ya! Aku geledah dulu boleh?”
“Si-silakan.” Jawab Arjun ragu.
“Nah, tuh mikir! Pasti ada yang aneh-aneh deh? Kamu pernah bawa berapa cewek ke sini, Be?”
“Baru kamu!”
“Bohong banget!”
“Serius, Bi!”
“Kalau mami enggak ada, berapa cewek yang diajak?” tanya Medina memancing Arjun dengan tatapan menyelidik sekaligus menyindir.
“Baru kamu Bi, SUMPAH!” Arjun membuat huruf V pada kedua jarinya.
Medina menatap Arjun dengan ragu, ia pun mulai melangkah ke setiap sudut kamar Arjun, mengitari kamar itu dengan curiga. Hingga Medina melihat sesuatu yang tampak aneh di antara buku-buku Arjun yang tersusun rapi.
Medina mengambil kotak dvd game yang tidak diletakkan sesuai tempatnya, apalagi selipannya yang berusaha ditutupi semakin membuatnya terlihat mencurigakan.
“Kok ini ditaruh di sini?” Medina memutar-mutar kotak dvd game itu di tangannya.
“Eh! Kembaliin dong, Bi. Di situ enggak ada yang penting, siniin deh!” Arjun berusaha mengambil kotak dvd game itu dari tangan Medina. Namun Medina yang bergerak lebih cepat dari Arjun dapat menyelamatkan kotak dvd yang mencurigakan tersebut.
Hampir beberapa menit Medina dan Arjun saling berkejaran, membuat keduanya saling tertawa dan lelah. Hingga Medina tidak sabar lagi dengan kejar-kejaran tersebut, ia pun dengan cepat berusaha membuka kotak dvd game itu, namun Arjun menangkap tubuhnya terlebih dahulu dan menjatuhkannya di atas ranjang.
Medina dan Arjun saling bertatapan sesaat, mengunci tatapan keduanya dengan wajah yang sama-sama memanas.
“Balikin kotak itu, Bi. Kalau enggak aku akan tetap diposisi ini!” ancam Arjun dengan wajah serius mengungkung tubuh Medina.
“Kalau di dalam kotak ini bukan hal yang aneh-aneh, kamu enggak akan sebegininya loh, Be.”
“Tapi di dalam itu memang bukan hal yang penting kok, kamu bakal nyesel buka itu!”
“Setelah kamu bilang begitu, malah buat aku makin mau tahu!” Medina mendorong tubuh Arjun ke samping tubuhnya dan dengan sigap ia membuka kotak itu.
“JANGAN!” ucap Arjun menekan. Namun larangannya tak membuahkan hasil.
Medina terpana melihat isi kotak dvd game itu. Ada 7 kaset dvd film dewasa koleksi Arjun berhamburan di atas ranjangnya. Arjun yang tertangkap basah menyembunyikan hal yang tak pantas, mulai menutup wajah malunya dengan bantal yang dapat dijangkaunya.
Medina tersenyum mengejek melihat respons Arjun atas terbongkarnya kotak harta karun tersebut.
“Ehem, enggak apa-apa kok Be, cowok bukannya biasa ya punya koleksi beginian?” Medina merayu Arjun yang masih menutupi wajah malunya. Sedangkan dirinya sendiri menahan tawanya agar tidak lepas dari kendali.
“Be, kok diam aja sih?” Medina kembali mencolek-colek lengan kekar Arjun yang masih setia mengapit bantal di arenya.
“Aku malu!”
“Sudah ketahuan juga, ya sudah enggak usah malu lagi. Lagian aku maklum kok!”
Arjun dengan sigap menyergap tubuh Medina dan membaringkannya kembali ke ranjang. Medina yang tak siap dengan pergerakan Arjun hanya dapat pasrah di dalam kungkungannya.
“Kamu kenapa enggak nurut sih sama aku? Kan aku bilang jangan dibuka, lihat tuh aku jadi lihat tubuh polos perempuan lain lagi kan?”
“Bukannya memang sudah biasa di putar?”
“Enggak, Bi! Itu aku tonton terakhir kali waktu aku kuliah semester 2. Habis itu aku janji enggak bakal buka-buka lagi video begituan. Cuma aku lupa, ternyata aku masih belum singkirin. Nah kalau sudah ke buka begini aku kan jadi lihat lagi! Te-terus a-aku kan ja-di ngerasa, ehm... Ngerasa...” nafas Arjun mulai terengah-engah.
“Ngerasa apa?”
“Ngerasa panas!” Arjun melu*at bibir Medina dengan buas. Menjelajahi bibir ranumnya dengan liar.
Medina yang berusaha menolak perilaku Arjun dengan dorongan-dorongan kuatnya, semakin lama malah semakin melemah. Bukan karena ia kehilangan tenaganya, namun kesadarannyalah yang mulai hilang terbawa permainan Arjun.
Debaran jantung keduanya semakin memburu, berdegup dengan ritme yang tak karuan. Membuat tubuh Medina mulai merasakan dingin.
Arjun yang menurunkan ciumannya pada ceruk leher Medina, membuatnya tanpa sadar melenguhkan suara. Membuat Arjun semakin bersemangat menja*ahinya.
Arjun mengembalikan ciumannya pada bibir manis Medina, membuat pola-pola spesial antara pilinan lidah keduanya. Tangan Arjun yang sedari tadi tertahan, kini mulai lepas dari kendali. Arjun pun memasukkan sebelah telapak tangannya pada kaos kebesaran di tubuh Medina.
Medina sedikit bergerak merasakan sentuhan telapak tangan Arjun pada kulit perutnya yang terus naik ke atas. Gerakannya membuat gundukan Arjun yang mengeras tepat berada di depan sarangnya yang masih tertutup rapat.
“Eemmpphh.” Lenguh keduanya bersamaan.
Tangan Arjun yang saat ini sibuk mere*as pa*udara Medina yang tertutup menjadi semakin liar. Keduanya mulai terengah-engah merasakan desiran gelombang bi**hi yang deras.
Tanpa sadar Arjun mulai menggesek-gesekkan bagian tubuh bawahnya pada tubuh bawah Medina, membuat si pemilik tubuh mulai gelisah. Medina yang awalnya menikmati, kini tubuhnya justru mengingat trauma. Getaran hebat pada tubuhnya semakin terasa, membuat Arjun tersadar dan menghentikan perilakunya.
Arjun pun terperanjat dan berdiri dari posisinya dengan segera, memberikan ruang pada tubuh gemetar Medina yang terus menegang.
“Ma-maafin aku, Bi! Ma-maaf aku kelepasan LAGI!”
Medina tidak dapat menjawab ucapan Arjun, tubuhnya seakan mati menyisakan getaran hebat yang menyakitkan, bagai tertusuk ribuan pisau es yang dingin.
Arjun yang awalnya hanya mematung, kini ia kembali mendekap tubuh Medina, menyalurkan kehangatan pada tubuhnya. Menyanyikan lagu Ho'oponopono yang pernah ia baca sebagai metode terapi penyembuhan diri.
Sedikit demi sedikit getaran pada tubuh Medina menghilang, dingin pada tubuhnya pun berangsur-angsur menghangat, nyanyian Arjun membuat jiwa dan raganya merasa tenang secara ajaib. Hingga tanpa sadar Medina mulai menutup mata, tertidur lelap dalam pelukan Arjunanya.
(Eaaa... Arjun nakCHal cekali sih! Author kan tadi sudah enggak mau ngetik beginian! Semua gara-gara Arjun, salahkan saja dia ya, ALL!!!)
Capek jari-jemari lentik Author, kakak. Di Apresiasi dong...