
Kini Mecca dan Fadhil telah berada di rumah Mama Alisa dan Papa Permana, keduanya disambut dengan hangat di sana. Bahkan Mereka makan malam bersama dengan canda dan tawa tanpa jeda.
“Enak banget ya Pa ternyata punya anak perempuan, Kita dimasakan makanan yang enak-enak, terus rasa perhatiannya itu beda saja.”
“Iya Ma, bersyukur Mecca jadi menantu Kita ya. Benarkan Papa tidak salah pilih pasangan untuk Fadhil.”
“Yang pilih Mecca kan Fadhil Pa, Papa suka banget ngaku-ngaku deh.” Protes Fadhil yang ditanggapi tawa oleh seluruh keluarga.
“Kalau Mama sama Papa suka masakan Mecca, nanti Mecca bisa sering-sering buatkan.”
“Sukalah sayang, suka banget malah. Ini ya, Papa itu jarang sekali tambah makan tapi coba lihat ini sudah porsi ke berapa saja Mama tidak ingat.” Ujar Mama Alisa sembari melayangkan pandangannya pada Papa Permana.
“Ih Mama suka nuduh Papa deh, tadi porsi Papa kecil Ma, maka dari itu tambah-tambah, nih Mama sendiri dari tadi comot perkedel jagung terus.” Protes Papa Permana tak mau kalah.
Saling ledek antara Mama Alisa dan Papa Permana terus berlanjut membuat Fadhil dan Mecca terus tertawa, keharmonisan keluarga itu sungguh terasa hangat.
“Oh iya, bagaimana soal rencana bulan madu kalian? Sudah dipikirkan mau pergi ke mana?” tanya Mama Alisa mengingatkan.
“Bukan bulan madu Ma, tapi liburan saja. Kami rencana mau pergi ke pulau Kita saja sama Medina dan Arjun.” Jawab Fadhil menjelaskan.
“Loh kok jadi ramai-ramai? Liburan kan bisa lain waktu Dhil. Begini saja, kalian bulan madu dulu di Jepang, sepulang dari sana kalian lanjut liburannya, bagaimana? Ini di Jepang lagi bagus-bagusnya loh, bunga sakura lagi bermekaran.” Ujar Mama Alisa memberi saran.
“Wah... Kak Dina pasti suka tuh.” Celetuk Mecca spontan.
“Tuh Mama dengar sendiri kan? Mecca itu apa-apa yang dipikirkan pasti bukan dirinya sendiri dulu Ma, ini yang minta liburan enggak jadi bulan madu itu Dia loh.” Jelas Fadhil.
“Benar begitu sayang?” tanya Mama Alisa.
“Iya Ma, awalnya mau bulan madu tapi waktu Mas Fadhil bilang punya pulau jadi pengen ajak Ayah sama Kak Dina juga dan maunya Papa sama Mama juga bisa ikut. Tapi karena Ayah enggak bisa pergi, jadi ajak Kak Arjun juga. Boleh ya Ma, Pa? Kan yang penting kebersamaan Mecca sama Mas Fadhil bisa makin lama Ma.”
“Ya sudah kalau Kamu maunya begitu, Mama sama Papa juga tidak bisa memaksa. Tapi kalau Mama sama Papa sih belum bisa ikut, kalian saja yang bersenang-senang ya, semoga pulang dari liburan Kalian bawa kabar bahagia.” Ujar Mama Alisa tersenyum penuh arti.
“Kapan rencana Kalian akan berangkat? Berapa lama liburannya? Nanti pakai pesawat pribadi Kita saja.” Tanya Papa Permana.
“Kemungkinan seminggu lagi Pa, karena Fadhil harus selesaikan beberapa pekerjaan dulu, terus serah terima pekerjaan ke Faiz untuk pengganti sementara. Ehm... mungkin liburannya juga seminggu saja.”
“Oke, Good.”
Tak terasa waktu saling mengobrol dan bercengkerama dengan Mama Alisa dan Papa Permana berjalan dengan cepat. Kini waktu sudah menunjukkan pukul 20.22 WIB, dengan berat hati Mecca dan Fadhil pun harus pamit pulang.
Selama di perjalanan Mecca bengong menatap kendaraan yang berlalu lalang di jalanan. Fadhil yang sedari tadi mengamati Mecca tampak bingung.
“Kamu kenapa yank? Kok kayak mikir berat gitu sih? Ada apa? Cerita dong sama Aku.” Tanya Fadhil yang menggenggam tangan Mecca namun tidak mengalihkan pandangannya saat menyetir.
“Mas sebenarnya keluarga Mas sekaya apa sih? Punya pulau, punya pesawat pribadi. Aku tuh ngerasa ini kayak dalam novel-novel cinta tahu enggak. Yang pemeran cowok hidup terlalu sempurna begitu.” Tanya Mecca dengan raut wajah polos.
“Hahaahaha... Lucu banget Kamu yank, Aku kira mikir apaan, ternyata...” tawa Fadhil meledak tak tertahan.
“Ih... Kok ketawa sih, sebel!”
“Ya habis Kamu lucu banget yank. Jadi ini ceritanya Kamu mau tahu sebesar apa aset yang Kami punya begitu?”
“Hmmm.” Sahut Mecca singkat sembari mengangguk-anggukkan kepalanya.
“Ehm... Grup A itu Papa dan Aku yang pimpin, Mama memegang hotel tempat pernikahan Kita waktu itu sama pusat belanja, kalau perusahaan real estate and property ini dipercayakan ke Adik Mama untuk mengelola, sama rumah sakit Grup A itu Adik Papa yang pegang.”
“Parah! Itu parah sih Mas! Ternyata Aku nikah sama jutawan. Wah... Jadi ratu beneran deh Aku Mas.” Jawab Mecca takjub sembari menepuk-nepuk tangan dengan bahagia.
“Hahahaha... Kamu kayak Anak kecil tahu enggak.”
“Mas... Makasih ya sudah nikahin Aku. Mas tahu enggak, dulu waktu kecil Aku tuh selalu pengen jadi putri kerajaan tahu, sekarang malah langsung jadi ratu. Salah satu mimpi Aku sudah terwujud, senang banget deh rasanya.”
“Sayang... Sayang... Justru Aku dan keluargaku yang harusnya terima kasih ke keluargamu yank, Kalau bukan karena Ayah dulu memberikan modal usaha untuk Papa enggak mungkin akan seperti sekarang ini. Coba bayangin kalau Ayah minta kembali uangnya, Kami harus kembalikan berapa coba?”
“Hahaha... Kamu lucu banget sih yank. Sebenarnya Aku punya perusahaanku sendiri juga sih yank, tapi Papa enggak tahu.”
“Eh... Kenapa? Emang perusahaan apa Mas?”
“Ya Aku juga mau punya usaha yang Aku bangun dari hasil kerjaku sendiri. Aku enggak bilang Papa karena Aku tahu Papa akan khawatir kalau Aku lebih fokus untuk mengurus perusahaanku ketimbang Grup A. Karena dari kecil Papa kan sudah berharap banyak ke Aku yank. Nah... Kalau perusahaanku itu bergerak dibidang Teknologi Informasi gitu.”
“Terus yang urus siapa Mas?”
“Jadi Aku punya teman dari jaman SMP namanya Malik, Dia memang jago banget dibidang ini yank, cuma karena kecelakaan yang buat Dia enggak bisa jalan lagi, kehebatan Dia jadi dipandang sebelah mata sama orang lain. Dia susah cari kerja dimana-mana, akhirnya Kita nggak sengaja ketemu, Dia cerita banyak hal, ya Aku jadi terlintas ide aja gitu, jadi Dia punya cita-cita Aku yang danai. Sama kayak Ayah ke Papa gitu deh, akhirnya jadi perusahaan itu deh.”
“Kapan-kapan ajak Aku kesana ya Mas.”
“Iya sayang, pasti.” Jawab Fadhil sembari mencium punggung tangan Mecca lembut.
“Mas, ini bukan arah ke rumah Kita loh?!”
“Iya, Aku mau ajak Kamu ke suatu tempat dulu sebelum pulang.”
“Ke mana Mas?”
“Nanti juga Kamu tahu.”
“Mulai deh sok misteriusnya.” Ujar Mecca yang ditanggapi kedipan mata oleh Fadhil.
Setelah beberapa saat, tibalah Mecca dan Fadhil pada sebuah gedung kosong yang tampaknya baru selesai dibangun. Mecca terus menatap Fadhil penuh tanya.
Fadhil mulai membuka kunci bangunan, menyalakan AC dan seluruh lampu ruangan. Mecca yang tampak bingung, tak dapat lagi membendung rasa penasarannya, ia pun mulai membanjiri Fadhil dengan berbagai macam pertanyaan.
“Mas ini tempat apa? Kok kunci bangunan kosong ini ada sama Mas? Ini punya siapa?” cerocosnya tanpa henti.
“Ini punya Kamu.” Bisik Fadhil sembari memberikan kunci pada telapak tangan kanan Mecca kemudian memeluk Mecca dari belakang.
“Hah? Maksudnya?” tanya Mecca yang masih bingung.
“Ini hadiah untukmu yank, Aku mau Kamu punya restoran untuk bakat masak yang Kamu punya.”
“I-ini beneran Mas?” tanya Mecca tak percaya sembari menutup sebagian wajahnya.
“Benar dong! Kamu bisa dekorasi sendiri ruangan ini sesuai dengan keinginanmu. Kamu bisa ajak Dina mengelola restoran ini sama-sama. Hasil dari restoran ini Kamu bisa bagi hasil dengan Dina, itu akan jadi penghasilanmu sendiri. Selain bakat masak Kalian tidak sia-sia, tempat ini bisa bantu Dina sibuk dari rasa kecewanya tidak dapat melakukan tes kejaksaan waktu itu. Aku tahu Kamu khawatir sama Kakak Kamu yank. Lagi pula ini dekat dari rumah jadi lebih efisienkan?”
“Ya ampun, Mas baik banget sih sama Aku, segitunya loh Mas mikirin Aku. Terima kasih banyak ya sayang.” Jawab Mecca terisak haru.
“Sama-sama sayangku. Jangan nangis lagi ya, senyum dong!” ujarnya sembari membalik tubuh Mecca dan menghapus air matanya.
“Terima Kasih sekali lagi Mas, i love you.”
“I love you more.” Jawabnya yang diakhiri dengan ciuman manis keduanya.
.
.
.
*Happy Reading and Enjoy 🤩
Jangan lupa klik favorit, like, komentar, vote, dan rate 5 ⭐ ya agar Author makin semangat dalam berkarya. Untuk tutorial vote silahkan para readers* baca dengan seksama halaman ATTENTION.
Terima Kasih**.