
Tanpa terasa hari telah berganti, Fadhil telah siap dengan penampilan terbaiknya untuk kembali ke Grup A, bukan sebagai Direktur Utama dari perusahaan megah tersebut, namun untuk menerima putusan para dewan atas nasib pengunduran dirinya satu bulan yang lalu.
“Nah... Sudah ganteng, Mas!” ujar Mecca yang telah usai memasangkan dasi pada kerah baju suaminya tersebut.
“Suami kamu kan memang ganteng sayang.” Jawab Fadhil percaya diri. Ya walaupun memang benar begitu adanya, namun seakan tak terima Mecca langsung mencibir kenarsisan suaminya tersebut.
Fadhil pun dengan secepat kilat mengecup bibir Mecca yang masih dimajukan itu dengan gemas.
Eemmuuaahh...
“Ya ampun, nafsu banget sih mas. Badan aku sampai ke mundur nih!” protes Mecca yang kini mendudukkan tubuhnya di atas kursi roda elektrik tersebut.
“Maaf sayang, habis aku gemas!” ujar Fadhil memencet hidung panjang Mecca.
“Mas.”
“Iya sayang?”
“Ehm... Hari ini aku ke restoran ya?” izin Mecca pada Fadhil.
“Enggak boleh!” Bu Alisa menjawab permintaan izin Mecca ke Fadhil.
“Nah tuh dengar sendiri, mama yang ngelarang loh yank bukan aku.” Jawab Fadhil dengan lega.
“Ma, Mecca bosan di rumah. Apalagi mama sama Mas Fadhil akan ke Grup A. Mecca janji cuma duduk di kursi roda saja dan banyak istirahat di sana.” Ucap Mecca meyakinkan mama mertuanya tersebut.
“Sabar ya nak, ini demi kebaikanmu dan juga bayimu. Kamu enggak dengar kemarin kata Nenek Uun? Kakimu harus diistirahatkan dulu minimal tiga sampai tujuh hari. Dan harus dengan rutin dibalur racikan hangat yang diberi kemarin oleh si nenek. Kita juga sudah konsultasi ke dokter loh, apa katanya? Ingat?”
“Iya ma, katanya Mecca harus jaga pola makan dan banyakin istirahat dulu.” Jawab Mecca menunduk lesu.
“Heemm... Mama janji, kalau RUPSLB selesai mama akan cepat pulang temani kamu di rumah lagi ya.” Rayu Bu Alisa menenangkan Mecca. Menantunya tersebut hanya dapat mengangguk pasrah dan tersenyum pahit.
“Ya sudah kita berangkat dulu ya yank, jangan ambekan nanti nular ke anak kita kan berabe.” Ujar Fadhil cengengesan.
“Mas!” Mecca memelototi Fadhil dengan gemas.
“Iya sayang, maaf. Ya sudah jangan nyeremin gitu mukanya. Doain aku ya semoga lancar semua hari ini.” Ucap Fadhil mengusap kepala Mecca lembut.
“Semoga lancar semua ya mas. Pokoknya berdoa, tetap tenang, dan yakin pada diri mas sendiri.” Mecca menyemangati Fadhil dengan menggebu-gebu. Berharap dapat mentransferkan energi positif dalam dirinya.
Fadhil mengecup bibir Mecca lama, berharap memperoleh kekuatan dari bibir merah muda istrinya tersebut. Ia juga berjongkok dan mencium lembut perut Mecca serta membelainya dengan hati-hati.
“Doain baba ya, Nak.” Bisiknya pada perut Mecca.
“Pasti, Baba!” jawab Mecca dengan suara dibuat-buat menyerupai anak kecil.
***
Bu Alisa, Fadhil, dan Faiz telah berada di basement parking Grup A. Mereka masih duduk di dalam mobil tanpa berniat untuk keluar saat itu juga.
Seolah sudah menautkan janji, ketiganya serempak menarik dan menghembuskan nafas berirama dengan lembut. Tawa ketiganya terdengar renyah tatkala mereka menyadari kekompakan itu.
“Gugup ya?” tanya Bu Alisa dengan nada mengolok.
“Ih... Mama sendiri juga sama tadi tarik-buang nafas gitu!” elak Fadhil dengan ejekan.
“Mama tidak gugup kok, mama cuma lagi berpikir harus apa nanti di sana.”
“Mama enggak perlu berpikir, mama cukup diam saja dan menerima pengunduran diriku. Mama kan terseret lagi ke sini karena termasuk pemegang saham, Fadhil tahu kalau disuruh memilih mama pasti juga malas kan injak kaki ke sini lagi?” ujar Fadhil memicingkan matanya.
“Terus kita ketawa-ketawa aja di sini nih bos? Enggak usah turun?” tanya Faiz menginterupsi. Mendengar ucapan Faiz membuat Bu Alisa dan Fadhil kembali tertawa bersama, Faiz hanya melongo bingung dengan selera humor kedua ibu-anak tersebut yang terlalu receh baginya.
Kini ketiganya telah berada di ruangan rapat Grup A. Di sana sudah penuh dengan wajah-wajah yang mereka kenal. Semua Dewan Direksi, Dewan Komisaris, dan para pemegang saham sudah berkumpul dan duduk rapi pada setiap kursi yang tersedia.
Ruangan itu terisi sekitar 36 orang yang didominasi oleh pria-pria berjas senada. Bu Alisa dan Fadhil menatap Pak Permana yang duduk jauh di hadapannya. Mata Fadhil mulai sayu saat menangkap sosok Pak Permana yang jauh berbeda dari terakhir yang ia ingat.
Bu Alisa seakan tak kuasa memandang sosok suaminya yang semakin kurus dengan bulu-bulu lebat di wajahnya. Rambut putihnya semakin tampak dominan daripada rambut hitamnya. Rambutnya yang memanjang dirapikannya ke belakang secara klimis. Mata bengkak dengan kantung mata besar itu membuat wajah tampannya semakin terlihat dimakan usia.
Selama pernikahannya dengan Pak Permana, baru kali ini Bu Alisa melihat rambut Pak Permana sepanjang itu, dagu dan pipinya yang biasa bersih kini terpenuhi janggut yang baru kali ini mampir di sana. Perhatian Bu Alisa yang luar biasa tak pernah membiarkan kantung mata hitam Pak Permana muncul selama dalam perawatannya.
“Uh... Rambutmu sudah agak panjang sayang. Andaikan setelah menceraikanku orang yang merawatmu lebih baik daripada aku, hatiku tidak akan sesakit ini melihatmu.” Gumam pelan Bu Alisa dengan bulir air mata di sudut matanya yang cepat-cepat ia seka dengan tisu ditangannya.
Pak Permana sesaat tampak tak mengenali Bu Alisa, ia mengelilingi ruangan dengan tatapan matanya melewati Bu Alisa dan kembali lagi kepadanya. Matanya mengunci keberadaan Bu Alisa yang tampak cantik nan anggun dengan busana muslim terusan bermotif bunga lengkap dengan hijab berwarna coklatnya.
Mereka cukup lama saling bertatapan, mengelana dengan pikirannya masing-masing. Ada kegetiran di wajah keduanya. Tampak ada kerinduan yang samar, namun masih dapat dirasakan oleh hati keduanya. Tatapan mereka pun mulai terputus saat sekretaris mengumumkan dimulainya RUPSLB (Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa).
Di ruangan rapat suasana mulai menegang tatkala para hadirin mendengar laporan demi laporan yang dibacakan oleh sekretaris dengan saksama. Setelah laporan tersebut tersampaikan, kegaduhan mulai terdengar di ruangan tersebut.
Beberapa pemegang saham yang berada di ruangan menunjukkan perasaan frustrasi dengan jelas. Namun beberapa orang lainnya tampak tenang seolah memang menginginkan pembaharuan manajemen tersebut.
Pertanyaan demi pertanyaan terlontar, banyaknya pertanyaan tak berbeda jauh dengan pertanyaan yang terjadi di pertemuan RUPS yang lalu. Fadhil dengan mantap menjawab pertanyaan satu persatu dengan yakin. Tak menambah atau mengurangi maksud dan tujuannya melakukan pengunduran dirinya tersebut.
Dua orang kandidat calon pengganti posisi Fadhil pun tak luput dari serangan para hadirin rapat. Kinerja mereka pun juga menjadi sorotan bagi para dewan dan pemegang saham.
Setelah saling lempar pertanyaan usai, diskusi pun terjadi. Beberapa saat waktu yang dipergunakan membawa para pemegang saham dan para dewan harus dihadapkan pada putusan akhirnya, serta melakukan voting pada calon kandidat baru.
Menilik dari laporan tanggung jawab kerja Fadhil selama menjabat dalam posisinya saat itu di Grup A. Tak ditemukan masalah apapun yang dapat memberatkannya. Justru kinerjanya yang teramat hebat menyayangkan para anggota rapat untuk menyetujui keputusannya. Hal itu juga menjadi momok besar bagi calon kandidat baru untuk mengikuti standar kerja Fadhil sebelumnya.
Dengan keputusan bersama, permohonan pengunduran diri Fadhil diterima per tanggal dan hari itu juga. Para anggota rapat berbondong-bondong menyalami Fadhil serta Direktur Utama yang baru secara bergantian. Ucapan selamat diperuntukkan pada Direktur Utama yang baru dan ucapan perpisahan untuk Fadhil menjadi pembeda bagi keduanya.
Namun ucapan perpisahan tersebut, justru terasa seperti angin segar bagi Fadhil. Senyumnya tak henti-henti merekah bahagia, seolah beban yang teramat menyiksa di pikulannya terangkat sekaligus.
Pak Permana mendekati Fadhil dan Bu Alisa secara perlahan. Raut wajahnya yang melemah seketika berubah menjadi tatapan arogansi. Ia menjabat tangan Fadhil dengan erat, seolah tak akan pernah lagi menjabatnya.
“Papa mau lihat, bagaimana nasibmu di luar sana tanpa dukungan papa.” Ujar Pak Permana tegas.
“Saya akan buktikan bagaimana hasilnya bekerja dengan berdiri di kaki sendiri.” Fadhil pun ikut melayangkan genggaman eratnya di kedua telapak tangan yang saling bertautan itu.
“Yah kita lihat saja nanti. Mungkin juga kan keberhasilanmu dikarenakan status sebagai anak Permana?!”
“Semua orang tahu aku anak siapa, tapi semua orang juga tahu bagaimana caraku bekerja selama ini!”
“Ayo pergi dari sini, Nak.” Tegur Bu Alisa membuyarkan tatapan keduanya yang mengkaku.
“Ayo, Ma.” Jawab Fadhil melepaskan jabatan tangannya, dan mengubah pegangannya dengan menggandeng tangan Bu Alisa.
Lima langkah kaki Bu Alisa dan Fadhil menapak, Pak Permana mengulum senyum dan mengeraskan suaranya.
“Kamu cantik dengan penampilan barumu itu!”
Bu Alisa tak serta merta menghentikan langkahnya mendengar pujian Pak Permana padanya, namun jantungnya yang berdebar kencang masih menyimpan bahagia mendengar pujian mantan suaminya tersebut.
“Aku tidak akan terbuai.” Ucap Bu Alisa dalam hati.
Tanpa lelah mengingatkan, tolong apresiasinya pada novel ini dengan Vote, Tips, Like, Komentar, klik Favorit, Rate 5 ⭐, dan share... share... share... thankyou 😘🤭