AN INEFFABLE SERENDIPITY

AN INEFFABLE SERENDIPITY
Chapter 48. Menangis Histeris



Dengan mengeraskan rahangnya Papa Permana berdiri terpaku memegang gagang telepon yang masih dalam genggamannya.


“Pa, katanya ada tamu. Kok masih di ruang kerja?” tegur Mama Alisa menyadarkan suaminya.


“Bukan tamu penting kok ma.”


“Tapi datangi segera pa, tidak baik berlama-lama membuat orang lain menunggu.”


“Iya ma, ayo!”


Dari kejauhan Papa Permana mendengar ucapan Rani pada seorang bocah disisinya. Ia merasa wanita itu tidak pantas mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal kepada seorang anak kecil yang masih polos tersebut.


“Jangan meracuni anak kecil yang masih polos dengan ambisimu itu!” tegur Papa Permana dengan suara beratnya.


Seketika Rani berdiri dari posisi duduknya sembari menggenggam tangan anak laki-laki di sampingnya.


“Siapa dia pa?” tanya Mama Alisa menyelidik melihat Rani dari ujung kepala hingga ujung kaki. Namun ucapannya tidak mendapat tanggapan dari Papa Permana.


“Saya Rani, mantan kekasih Fadhil.” Ucap Rani mengulurkan tangannya. Mama Alisa menyambut tangan Rani dengan ragu, hingga ia hanya menyentuh ujung jemari Rani.


“Dan ini anak saya, Abid Fahrizal. Saya berharap ada nama Permana untuk menyempurnakan nama terakhir anak saya.” Ujar Rani secara blak-blakan.


“Maksud kamu apa bicara seperti itu?” tanya Papa Permana menahan emosi.


“Sebentar pa, di sini ada anak kecil.” Ujar Mama Alisa yang menyadari suaminya mulai menahan emosi.


Mama Alisa pun memanggil salah satu ART untuk mengajak anak laki-laki itu ke taman depan rumah. Mama Alisa meminta ART tersebut untuk menyuapi anak itu makan siang terlebih dahulu, tentu saja semua atas seizin Rani.


“Apa maksud kamu sebenarnya?” tanya Mama Alisa dengan tatapan tajam memburu kepada Rani.


“Perlu tante tahu, Fahri anak saya itu juga keturunan keluarga ini.” Ucap Rani dengan tatapan menantang.


“Maksudnya?” tanya Mama Alisa bingung.


“Maksudnya, saya ingin anak saya dapat hak yang pantas di keluarga ini. Seperti nama belakang Permana, hak masuk Kartu Keluarga ini, dan mendapatkan hak atas pembagian warisan tentunya.” Jawab Rani tanpa rasa malu.


“Wanita tidak tahu malu kamu! Bisa-bisanya kamu menuntut sesuatu yang bukan hak kamu!” ucap Papa Permana marah.


“Saya tidak akan bersikap seperti ini om, kalau saya melakukan suatu kebohongan. Semua ucapan saya sangat bisa dipertanggungjawabkan. Memang yang menyangkut dengan keluarga ini bukan hak saya secara pribadi, namun anak saya Fahri sangat berhak atasnya.”


Papa Permana dan Mama Alisa saling menatap. Keduanya tampak bingung dengan ucapan dan niat Rani sesungguhnya.


.


.


.


***


Mama Alisa masuk kamar dan mengunci pintu tersebut dengan deraian air mata. Ia mulai mengambil ponselnya dan mencari-cari kontak Fadhil dengan segera. Ia pun menghubungi Fadhil dengan terisak-isak.


Saat panggilannya terhubung, suara tangisnya langsung sampai ke telinga Fadhil. Dengan perasaan penuh khawatir Fadhil bertanya kepada Mama Alisa.


Fadhil : “Ma? Kenapa? Kok nangis?”


Mama Alisa : “Boleh mama tinggal bersamamu dan Mecca dulu?” tanya Mama Alisa dengan suara parau.


Fadhil : “Mama bertengkar dengan Papa?”


Mama Alisa : “Mama ingin pergi ke rumahmu sekarang nak!”


Fadhil : “Mama tenang dulu ya. Mama tunggu Fadhil di rumah ya.” Ujar Fadhil sembari menutup panggilan teleponnya.


Fadhil pun secara kilat memberi perintah kepada Faiz untuk menggantikannya serta meminta Nindy untuk mengalihkan semua jadwalnya kepada Faiz.


Di dalam perjalanan keluar kantornya, Fadhil menghubungi Mecca dan menceritakan tentang Mama Alisa yang sedang menangis. Fadhil pun meminta Mecca untuk ikut dengannya ke rumah Papa Permana. Dengan segera Fadhil menancapkan gas mobilnya menjemput Mecca lalu menuju ke rumah Papa Permana.


Setelah sampai di halaman rumah Papa Permana, Fadhil memarkir mobilnya dan langsung turun. Ia ingin segera masuk ke dalam rumah, namun sosok yang ia kenal tampak dari kejauhan. Wanita dalam masa lalunya itu berdiri tegak di taman bunga milik Mama Alisa.


“Mas kok bengong? Ayo masuk!” ujar Mecca menyadarkan Fadhil.


“Tapi dia kenapa di sini?” ucap Fadhil tanpa sadar.


“Siapa?” tanya Mecca sembari mengikuti arah mata Fadhil.


Ia menatap wanita cantik bertubuh tinggi, langsing, dan berkulit putih tersebut. Ia juga melemparkan pandangannya pada anak laki-laki yang tampan disisi wanita itu.



“Rani.”


“Mantan kekasih mas itu?” tanya Mecca memastikan. Ia pernah mendengar nama itu disebut sekali saat Fadhil menceritakan masa lalunya.


“Hmmm.” Sahut Fadhil singkat.


“Kenapa dia di sini sih mas?” tanya Mecca kesal.


“Aku juga enggak tahu yank. Kita masuk saja dulu temui mama.” Ajak Fadhil sembari menggenggam tangan Mecca erat.


Rani menatap Fadhil menggenggam tangan gadis lain dengan erat. Hatinya mulai terbakar cemburu, ia pun dengan segera kembali masuk ke dalam rumah megah itu meninggalkan putranya dengan ART di taman.


“Ma! Mama di mana?” teriak Fadhil begitu masuk ke dalam rumah.


“Nyonya mengunci diri di kamarnya tuan.” Jawab seorang kepala pelayan rumah Papa Permana.


Tanpa basa-basi Fadhil dan Mecca pun langsung menuju ke kamar Mama Alisa. Di depan pintu kamar sudah ada Papa Permana yang mengetuk-ngetuk pintu membujuk Mama Alisa untuk keluar kamar.


“Pa, mama kenapa?” tanya Fadhil pada Papa Permana, namun ia tidak memperoleh jawaban.


“Papa bertengkar dengan mama?” lagi-lagi pertanyaan Fadhil dihiraukan oleh Papa Permana.


“Pa jawab!” ujar Fadhil meninggikan suaranya.


“Mas cukup! Jangan bersikap seperti itu ke papa!” ucap Mecca mengingatkan secara tegas.


“Pa, kenapa wanita itu ada di rumah ini?”


“Kamu bujuklah mama untuk keluar kamar baru kita bicarakan baik-baik semua di ruang keluarga.” Ujar Papa Permana sembari meninggalkan Fadhil dan Mecca menuju ruang keluarga.


Setelah beberapa lama Mecca dan Fadhil berusaha membujuk, akhirnya Mama Alisa membuka kunci pintu kamarnya. Seketika itu pula Mama Alisa menghambur ke pelukan Fadhil dan menangis terisak-isak tanpa henti.


Mecca menggenggam tangan Mama Alisa dengan hangat, ia membelai lengan Mama Alisa untuk memberikan ketenangan. Mama Alisa membalas genggam tangan Mecca lebih erat, ia berharap memperoleh kekuatan dari tangan hangat menantunya itu.


Kini Mama Alisa, Fadhil, dan Mecca telah berada di ruang keluarga yang di sana sudah ada Papa Permana dan Rani yang duduk berjauhan.


Rani berdiri dari duduknya saat melihat Fadhil mulai memasuki ruang keluarga. Ia kemudian berlari ingin memeluk Fadhil dengan erat dan berusaha mencium bibirnya, namun Fadhil dengan cepat menahan tubuh Rani dan menjauhkan dari dirinya.


“Apa-apaan kamu?!” ujar Fadhil dengan marah.


“I miss you so much, sweetheart!” ucap Rani memelas.


“Jauhkan dirimu dari suamiku!” ujar Mecca kepada Rani sembari menarik Fadhil yang kini memeluknya.


“Suami? Itu tidak benar kan sayang? Kamu masih cinta aku kan?” tanya Rani menatap Fadhil tajam.


“Mecca memang istriku! Cinta? Bangunlah dari mimpi!” jawab Fadhil acuh.


“Aku selalu merindukanmu setiap hari. Bahkan aku selalu meneleponmu setiap bulan hanya untuk mendengar suaramu. Aku tidak berani mengeluarkan sepatah kata pun hanya untuk menjaga hatimu yang sakit karena kepergianku.” Ujar Rani mulai mengeluarkan air mata kesedihan.


“Oh ternyata itu kamu? Seharusnya dari lama aku memblokir nomor itu jika aku tahu kamu yang menghubungiku.”


“Kenapa kamu berubah? Apa karena gadis menyebalkan ini?” tanya Rani membelalakkan matanya kepada Mecca.


“Stop! Berhenti berdebat!” teriak Mama Alisa menghentikan perdebatan Rani dengan Fadhil.


Seketika seluruh ruangan menjadi hening. Mama Alisa mulai menangis histeris, tiba-tiba kakinya terasa lemas dan ia pun menyandarkan tubuhnya kepada Mecca.


“Tanya mereka Dhil, kenapa mereka begitu kejam sama mama!” ujar Mama Alisa penuh emosi.


“Sebenarnya ini ada apa Pa?” pertanyaan Fadhil tidak memperoleh tanggapan dari Papa Permana.


“Papamu mempunyai anak dengan wanita itu!” jawab Mama Alisa mengambil alih.


“Apa?!” ucap Fadhil dan Mecca bersamaan.


Special thanks to adik kecil yang gantengnya kebangetan. Maafkan Author yang terpesona olehmu ya adik kecil. Author minta izin 🙏 untuk dijadikan visual sesuai dalam imajinasi Author.


Jadi waktu search kata kunci "anak laki-laki tampan" si adik kecil langsung muncul, terus Author merasa kalau adik gemes itu mirip sama karakter wajah pemeran Rani gitu. Hehehe...


Sekali lagi Author terima kasih dan mohon izinnya ✌