AN INEFFABLE SERENDIPITY

AN INEFFABLE SERENDIPITY
Chapter 93. Tukar Cincin



Suasana terasa menegangkan bagi Arjun dan Medina. Keduanya di hadapkan pada kedua orang tua masing-masing. Arjun yang mulai merasakan kedua tangannya basah, beberapa kali semakin meremas genggamannya. Sedangkan Medina berulang kali menggigiti bagian bawah bibir serta memainkan kuku-kuku panjangnya hingga berbunyi ‘Cetik’ yang berulang.


“Mas Harry, saya benar-benar merasa tidak enak atas perbuatan Arjun kepada Medina yang kurang bertanggung jawab. Tapi saya percaya, bahwa anak saya tidak memiliki niat buruk sedikit pun pada Medina. Semoga Mas Harry bersedia memberikan maaf pada Arjun dan saya sebagai maminya.” Ujar Mami Rita dengan nada merendah.


“Sebagai orang tua kita hanya bisa mengarahkan, tapi yang menjalani tetaplah anak-anak. Kita tidak akan pernah bisa mengawasi anak-anak selama 24 jam tanpa henti. Tapi sebagai orang tua dari pihak perempuan, jujur saya sangat kecewa karena Arjun tidak mengantarkan Medina tepat waktu, bahkan mengajaknya ke rumah yang kosong dan masuk ke dalam kamar pribadinya.”


DEG


Ucapan Pak Pradipta membuat jantung Medina, Arjun, dan Mami Rita seakan ditonjok.


“Ayah.” Panggil Medina dengan suara bergetar. Pak Pradipta bahkan tidak mengalihkan pandangannya pada Medina. Beliau tetap lurus beradu pandang dengan Mami Rita dan Arjun secara bergantian.


“Karena itu Bu Rita, saya harap Arjun dapat menunjukkan niat dan kejelasannya pada Medina. Jika Arjun benar-benar mencintai Medina, anak saya perlu untuk diberikan kepastian dalam sebuah hubungan yang lebih serius.” Ujar Pak Pradipta berterus terang dengan wajah serius.


“Saya mengerti sekali bagaimana perasaan Mas Harry. Saya juga senang sekali jika hubungan Medina dan Arjun dapat segera diresmikan. Ini keinginan saya sejak lama. Saya ingin melihat anak saya segera berumah tangga. Apalagi jika saya dapat menantu seperti Medina, rasanya itu menjadi sebuah keberuntungan yang luar biasa.” Senyum Mami Rita menatap Medina dengan tulus.


“Lalu untuk Arjun dan Dina bagaimana menurut kalian?” tanya Pak Pradipta dengan suara tegas yang terdengar berat.


“Kalau Arjun maunya bisa segera menghalalkan Dina, Yah.” Mendengar ucapan Arjun, Pak Pradipta menganggukkan kepala dengan tatapan puas.


“Di-Dina bersedia memasuki jenjang yang lebih serius dengan Arjun, Yah.” Jawab Medina menunduk malu.


Pak Pradipta mengangguk-angguk bahagia mendengar jawaban dari anak serta calon menantunya tersebut. Sesekali beliau bertukar pandang dengan Mami Rita yang juga menunjukkan senyum semringahnya.


“Tapi, Mas....” ucapan Mami Rita terpotong, membuat tiga pasang mata di ruangan itu serempak memandangnya.


“Ada apa, Bu?” tanya Pak Pradipta dengan dahi yang dikerutkan.


“Maaf, kalau dalam waktu dekat ini mungkin saya belum bisa menyusun pernikahan Arjun dengan Medina. Apakah lamaran saya untuk Medina bisa diterima melalui pertunangan anak-anak kita terlebih dahulu?”


“Apa yang membuat Bu Rita ragu?” pertanyaan Pak Pradipta membuat Medina tertunduk sedih.


“Oh tidak-tidak! Mohon jangan salah paham, bukan begitu maksud saya. Hanya saja saat ini saya masih harus berada di Surabaya, entah untuk berapa lama.” Mami Rita menjelaskan dengan cepat, khawatir jika perkataannya mengakibatkan kesalahpahaman baru. “Saya kembali kemari hanya untuk menyelesaikan permasalahan anak-anak kita. Paling tidak, kita bisa mengikat keduanya dalam tali pertunangan terlebih dahulu.”


“Bukankah pernikahan jalan yang lebih tepat?” tanya Pak Pradipta dengan raut wajah bingung.


“Benar, Mas. Tapi saat ini saya masih harus tinggal di Surabaya, karena ayah kandung saya sedang sakit, saya harus merawat dan menunjukkan bakti saya pada beliau agar tidak ada penyesalan dikemudian hari. Kalau saya memaksa mengadakan acara pernikahan, rasanya saya khawatir tidak dapat konsentrasi mengurus hal penting tersebut. Tapi jika ayah saya sudah membaik, saya akan langsung datang lagi kemari untuk menyusun acara pernikahan anak-anak kita.”


Mendengar penjelasan Mami Rita, Pak Pradipta paham situasi saat ini pasti sangat sulit bagi beliau. Di satu sisi harus merawat orang tua, disisi lain harus mengurus pernikahan anaknya.


“Bu Rita kapan kembali ke Surabaya?” tanya Pak Pradipta menegakkan posisi duduknya.


“Sekitar 3 hari lagi. Waktu yang singkat, tapi saya usahakan semua berjalan lancar.”


“Baiklah bu, saya setuju. Bagaimana denganmu, Nak?”


“Dina setuju, Yah.” Pak Pradipta mengangguk-angguk mendengar jawaban Medina.


“Ngomong-ngomong sakit apa orang tuanya?”


“Yah... Sakitnya orang tua mas, karena usia.” Ujar Mami Rita dengan pasrah.


Diskusi kembali terjadi, saat itu juga mereka mulai merencanakan segala hal bersama-sama, membuat susunan acara secepat mungkin, sekaligus membuat daftar tamu undangan. Di mana para tamu hanya berasal dari kalangan keluarga dan tetangga terdekat.


Selama 1 jam mengobrol tentang acara pertunangan, saat itu pula Fadhil dan Mecca datang bersamaan, lalu keduanya pun ikut bergabung dalam diskusi keluarga tersebut.


Acara pertunangan itu hanya sekedar formalitas dalam mencapai ke jenjang yang serius, karenanya Medina dan Arjun tidak merasa perlu mengundang teman-teman terdekatnya. Apalagi acara tersebut akan diadakan secara dadakan tanpa persiapan yang matang, hanya sekedar acara sederhana bagian dari tanda keseriusan Arjun pada Medina.


“Kalian yakin tidak perlu mengundang teman terdekat?” tanya Mami Rita pada Arjun dan Medina memastikan.


“Serius mi, lagian acaranya diadakan jam dan di hari kerja, teman Arjun yang mana yang bisa datang?”


“Sama mi, Medina juga tidak perlu mengundang.”


“Ya sudah kalau begitu.” Mami Rita mengangguk mafhum.


Lalu, Mami Rita mengalihkan pandangannya pada Fadhil yang sedari tadi menghindari tatapan matanya. Mami Rita yang terdiam sejenak, mengerutkan dahinya, berpikir tentang kejanggalan sikap Fadhil padanya, lalu dengan singkat Mami Rita mengangguk-angguk paham seolah memperoleh petunjuk mengenai hal tersebut.


“Nah, karena Fadhil juga sudah ada di sini, mami mau lihat kalian berdua berbaikan dan saling memaafkan. Mami enggak suka kalau kalian berantem. Bagaimanapun kalian ini sudah seperti saudara kandung sejak kecil loh.” Ujar Mami Rita menatap Fadhil dan Arjun bergantian, mencari-cari kebenaran atas kejanggalan sikap Fadhil tadi padanya. “Pasti tadi Fadhil takut aku tegur deh, gara-gara berantem sama Arjun. Mana mungkin mami biarkan kalian berlama-lama tidak bertegur sapa, ckckck.” Ucap Mami Rita membatin.


Tatapan Arjun dan Fadhil yang saling mengunci kaku perlahan menghangat. Sudut bibir keduanya pun ikut mengembang, tanpa menunggu komando keduanya berdiri dari duduk tegaknya, menjabat tangan masing-masing dan saling berpelukan mengucap maaf.


Semua yang melihat itu ikut senang dengan berbaikannya Arjun dan Fadhil. Mereka pun melanjutkan pembicaraan dengan suasana yang semakin menghangat. Hingga pukul 9 malam, Arjun serta Mami Rita mohon undur diri untuk pamit. Sedangkan Mecca dan Fadhil memutuskan menginap di rumah sang ayah.


“Ecie yang mau nikah tuh.” Sindir Mecca menggoda kakaknya.


“Tunangan dik, bukan nikah.” jawab Medina melirik Mecca dengan senyum bahagia yang tak redup.


“Ya habis itu kan nikah?! Senang tuh, senyum melulu dari tadi. Enggak kering tuh gigi dilihatin terus?”


“Ih apaan sih?! Usil banget deh.” Ujar Medina malu mendengar ucapan Mecca, membuat dirinya menjadi bahan tertawaan ayah serta iparnya.


“Sudah yank jangan digituin terus, tuh lihat muka Dina sudah kayak kepiting rebus yang tadi kita makan, hahaha...”


“Tambahin aja terus Dhil, huft!” gumam Medina melirik Fadhil yang masih menertawakannya.


***


Diana datang lebih pagi dari hari-hari biasanya, ia langsung menuju bagian informasi untuk mencari keberadaan Mirna yang ia tahu selalu datang lebih dulu dari yang lainnya.


Dugaan Diana tepat, Mirna sudah duduk pada bagian informasi untuk membantu pendataan pasien-pasien yang telah mengantre.


“Pagi, Mir.” Tegur Diana dengan senyum manis sembari mengangguk pada orang tua pasien yang berdiri di hadapan Mirna.


“Pagi, Na. Tumben datangnya lebih pagi?”


“Lagi rajin, hihihi.” Tawa kecil Diana mendapat senyum tipis dari Mirna.


“Eh Mir, Dokter Arjun sudah datang?”


“Harusnya kamu tanya soal Dokter Rena dulu, lah ini kok malah nanyain Dokter Arjun sih?”


“Kalau Dokter Rena sih aku tahu pasti belum datang. Tapi kalau Dokter Arjun kan selalu on time orangnya, kadang datang lebih pagi.”


“Tapi hari ini Dokter Arjun tukar jadwal sama Dokter Riza selama 2 hari.”


“Hah! Kenapa?!” ujar Diana spontan dengan suara yang tiba-tiba meninggi, membuat dirinya mendapat tatapan terkejut dari Mirna dan orang tua pasien.


“Kenapa Mas Arjun sampai tukar jadwal selama 2 hari sama Dokter Riza ya? Apa untuk menghindari aku? Apa ini untuk membuatku menjauhinya?” ucap Diana sesuai pada apa yang dipikirkannya.


“Aku sudah enggak bisa telepon atau pun kirim pesan lagi, sepertinya nomor aku diblokir deh. Enggak ada jalan lain, aku harus luruskan masalah waktu itu, aku harus berbaikan sama Mas Arjun. Sepulang kerja ini aku harus ke rumahnya!” ujar Diana dengan pasti.


Saat waktu berlalu dengan cepat, Diana yang telah berganti pakaian, langsung segera menyambar tasnya, lalu beringsut mengambil barang-barang yang masih berceceran di dalam lokernya.


Sesuai dengan keinginannya tadi pagi, saat Diana telah usai bekerja, Diana benar-benar mengorek informasi lengkap mengenai Arjun melalui data para tenaga medis di sistem. Diana mencatat alamat lengkap Arjun dalam memo ponselnya, dan dengan segera ia pergi menuju alamat yang dimaksud, menyambangi Arjun yang selalu berada di pikirannya setiap saat.


Diana keluar dari taksi yang ia tumpangi setelah meminta sopir tersebut untuk menunggunya sesaat. Diana langsung berjalan cepat mendekati pagar rumah Arjun. Memegang teralis pagar rumah Arjun dengan gugup. Mengedarkan pandangan matanya ke setiap sudut rumah mewah itu dengan kagum.


Tak berapa lama dari pemantauannya, seorang pria berusia sekitar 35 tahunan mendekatinya, menyapa dan menanyainya berbagai hal. Dari pembicaraannya dengan pria tersebut, Diana mengetahui bahwa Arjun sedang tidak ada di rumah sejak pagi. Dengan tampang lesu, Diana pamit kepada pria tersebut dan menaiki kembali taksi yang masih menunggunya sedari tadi.


“Hmmm... Ke mana perginya dia dari pagi?” gumam Diana kecewa. “Besok dia ada di rumah enggak ya? Ah... Besok aku ke sini lagi aja deh!” ujar Diana dengan optimis kembali. (Siapa yang suka jiwa pantang menyerah Diana? Hayoooo angkat kaki! \=> LOH? 😂)


***


Setelah sibuk berbelanja ini dan itu, Mami Rita, Arjun, serta Mama Alisa kembali ke rumah Mecca serta Fadhil. Mereka berencana untuk menata barang-barang yang dibeli dalam kotak kaca yang cantik sebagai seserahan lamaran pada acara tunangan Arjun dan Medina esok hari.


Ketika semua barang sudah di turunkan, Arjun mulai menghubungi Medina melalui panggilan video. Seharian sibuk berbelanja membuatnya sangat rindu pada wanita cantik itu.


Arjun : “Hai Bi, aku baru sampai di rumah Fadhil nih.”



Medina : “Ngapain ke rumah Fadhil?”


Arjun : “Mami minta bantuan mama untuk menata barang-barang seserahan.”


Medina : “Oh begitu.” Jawab Medina malu-malu. “Tapi kenapa enggak di rumah Be?”


Arjun : “Karena rumah Fadhil lebih dekat ke rumah Bi, jadi lebih efisien. Terus tahulah sayang, mama mana mau sih datang ke rumah tetangganya Om Permana, hahaha.”


Medina : “Ssssttt... Jangan keras-keras, enggak enak sama Mama Alisa.”


Arjun : “Sudah pada masuk ke rumah kok.”


Medina : “Terus kenapa Be masih di mobil?”


Arjun : “Kangen kamu sayang.”


Medina : “Gombal banget!”


Arjun : “Serius! Kamu cantik banget sih sayang. Aku kangen pengen peluk sama cium kamu.”



Medina : “Sssssstttt!” ujar Medina meminta Arjun menutup mulutnya dengan gerakan mengkode.


Arjun : “Lagi kangen juga disuruh tutup mulut melulu.”


Medina : “Iya tahu, tapi ngomongnya dijaga dong, Be.”


Arjun : “Ya sudah aku enggak ngomong lagi. Nanti malam aku jemput ya kalau sudah pulang dari restoran.”


Medina : “Enggak usah, aku lagi di rumah kok ini.”


Arjun : “Yah enggak ada alasan jemput buat ketemu deh.”


Medina : “Besok kan ketemu.”


Arjun : “Ya sudah deh. Kalau gitu aku tutup dulu ya sayang, aku mau masuk ke rumah Fadhil dulu nih. Mecca sudah melototi aku dari jauh tuh, eemmuuaahh!” ujar Arjun mengakhiri panggilannya.


Rumah Mecca sudah penuh dengan barang-barang belanjaan Mami Rita. Dengan mengerahkan seluruh ART, pekerjaan tata menata dapat berjalan lebih cepat dan lancar.


Rumah itu benar-benar penuh canda tawa, belum lagi adanya ajang nostalgia bagi semua orang yang ikut mengingat dan menceritakan tentang acara lamaran mereka dahulu kala. Suasana keakraban jadi semakin terjalin, terkecuali Arjun yang merasa bosan dengan kesendiriannya, pasalnya saat ini Fadhil masih bekerja sehingga Arjun hanya sebagai pelengkap di rumah itu.


***


Hari telah berganti, kini tiba waktu dimana pertunangan Arjun dan Medina akan terjadi. Dengan membawa beberapa rombongan, Arjun serta Mami Rita telah memasuki rumah Pak Pradipta.


Di sana sudah berkumpul para keluarga dari pihak Arjun maupun Medina, juga beberapa tetangga yang ikut menghadiri acara tersebut.


Arjun dan Medina tampak tegang, di wajah masing-masing sangat terlihat kegugupan itu. Apalagi saat keduanya saling bertatapan, debaran jantung mereka seolah saling menyapa dengan kencang. Berbeda hal dengan Mecca dan Fadhil yang malah asyik ber-wefie ria dengan memanfaatkan dekorasi acara tersebut.



Mami Rita dan para rombongan menyerahkan berbagai macam seserahan yang ia peruntukkan pada Medina. Setelah acara seserahan itu selesai, para rombongan, tuan rumah, dan para tamu undangan kembali duduk dengan rapi.



Acara dimulai dengan pembukaan dari perwakilan pihak Arjun dan Medina, lalu berlanjut dengan acara membaca doa bersama, dan diteruskan dengan acara pertukaran cincin.



Pada momen ini, tangan Arjun dan Medina sama-sama menjalar rasa dingin yang membuat getaran pada tiap ujung jarinya. Sehingga beberapa kali Arjun tampak gagal mengambil cincin dari kotaknya, sontak hal itu membuat para tamu undangan menjadikan dua pasangan itu sebagai bulan-bulanan candaan yang penuh gurau.


“Baru juga tunangan belum akad nikah, eh tangannya enggak bisa nurut buat ambil cincin.” Teriak salah satu tamu undangan yang membuat tawa semua orang yang mendengar.


Melihat kegugupan Arjun, Fadhil secara otomatis mendekat dan membisikkan kata pada telinga Arjun.


“Apalagi kalau sudah nikah ya, yakin loe bisa pas cari gawangnya? Ngambil cincin aja ciut!” bisik Fadhil pada telinga Arjun.


“Berisik loe!” gumam Arjun dengan kesal.


Acara tukar cincin pun berlangsung dengan bahagia, Medina dan Arjun secara serentak menerima tepuk tangan dan ucapan selamat serta doa dari semua tamu hadirin di sana.


Acara berlanjut dengan makan dan berfoto bersama. Karena acara tersebut sebagian besar dihadiri para keluarga, sehingga suasana keakrabanlah yang mendominasi acara itu.


Kebahagiaan yang terpancar dari senyum semua orang dapat terlihat jelas dari raut wajah masing-masing. Semua benar-benar ikut berbahagia dan mengharapkan acara pernikahan Arjun serta Medina dapat dengan cepat disegerakan. Sorak hore pun saling sambut menyambut mengakhiri acara pertunangan tersebut.


“Happy engagement Arjun-Dina.” Teriak seluruh tamu undangan beramai-ramai.



Dear Readers maafkan Author yang belum bisa up rutin ya, diharapkan pengertiannya. Semoga masih menanti dan setia dengan An Ineffable Serendipity 💜 Jangan lupa terus dukung novel ini ya, supaya Author lebih dan tambah semangat lagi. Terima kasih