AN INEFFABLE SERENDIPITY

AN INEFFABLE SERENDIPITY
Chapter 52. Hormon Kehamilan



Hari ini merupakan hari yang panjang bagi Mecca dan Fadhil. Di tengah banyaknya masalah serta konflik yang terjadi, hal itu sungguh menguras emosi dan memberi bekas goresan di hati dan pikiran. Namun berita kehamilan Mecca bagai energi tambahan yang mengikis segala luka yang ada.


Mecca menyandarkan tubuhnya di dada bidang Fadhil. Ia masih menatap lekat hasil USG calon bayinya. Senyum bahagia merekah di bibir keduanya. Mecca membelai foto diri calon bayinya, sedangkan Fadhil membelai lembut perut Mecca yang masih rata.



“Aku enggak sabar mau kasih kabar ini ke ayah sama Kak Dina. Bagaimana ya reaksi mereka?”


“Pasti bahagia yank. Bisa jadi ayah akan menggendongmu dan memutar-mutar tubuhmu nanti.”


“Memangnya ayahku itu Mas Fadhil? Ayah kan bukan Hercules, ckckck...!”


“Ya kali aja reaksinya sama.” Jawab Fadhil bercanda.


“Kalau papa sama mama perlu dikabari kapan mas?”


“Tidak usah!”


“Kenapa? Mereka tidak akan senang ya?”


“Tentu saja senang, terutama mama. Tapi lebih baik tidak usah yank. Ini bukan waktu yang tepat. Lagi pula aku sudah putus hubungan dengan keluarga Permana!” jawab Fadhil mulai kesal.


“Mas jangan begitu, enggak baik mas kalau sampai bermusuhan dengan orang tua sendiri.”


“Aku bukan mau memusuhi orang tuaku yank, tapi papa keterlaluan aku belum bisa memaafkannya!”


“Ya sudah enggak usah dibahas sekarang soal itu. Aku enggak mau mood mas yang sudah membaik jadi jelek lagi.”


“Yank...”


“Hmmm.”


“Mungkin beberapa hari ini aku akan sibuk.”


“Kenapa mas?”


“Aku mau minta bantuan Faiz untuk menyiapkan segala macam laporan pertanggungjawabanku.”


“Untuk?” Mecca mulai menegakkan tubuhnya dan menatap Fadhil dengan intens.


“Aku mau melakukan RUPS (Rapat Umum Pemegang Saham). Aku mau mengundurkan diri dari jabatanku sekarang di perusahaan, bolehkah?” tanyanya berhati-hati.


“Alasan mas apa berhenti?”


“Tentu saja faktor internal, permasalahan keluarga itu cukup sebagai alasan yank.”


“Aku tidak akan menghalangi apapun keputusan Mas Fadhil jika itu memang yang terbaik. Tapi mas harus pikirkan lagi tentang papa dan perusahaan tanpa mas.”


“Yank, papa itu sudah tega sama kita. Jadi jangan dipikirkan lagi. Aku yakin papa punya caranya sendiri untuk bertahan.” Jawaban Fadhil membuat Mecca terdiam. Ia tidak dapat berkata-kata lagi, karena pada dasarnya ia pun masih memendam rasa kecewa yang teramat besar pada papa mertuanya itu.


“Yank, cukup dukung aku ya.” Ujar Fadhil sembari memegang kedua lengan Mecca. Mecca hanya dapat mengangguk pasrah mendengar permohonan suaminya itu.


“Mas...”


“Iya sayang?”


“Kenapa perutku masih rata? Padahal sudah 15 minggu kan?”


“Seperti kata dokter, kehamilan itu beda-beda dan kehamilan pertama biasanya memang seperti itu, tenang saja nanti tanpa kamu sadari kamu akan menjadi sumo, hahaha...”


“Ketawa aja terus! Kalau aku jadi sumo mas pasti enggak suka lagi sama aku!” protes Mecca cemberut.


“Semakin suka dong, karena ada dia di sana yang terus berkembang.” Jawab Fadhil sembari mengecup perut datar Mecca, hal itu membuat Mecca tersenyum bahagia.


“Mas...”


“Iya sayang?”


“Melakukan apa?” tanya Fadhil bingung. Mecca memberikan kode kepada Fadhil dengan tangannya.


“Ah... Jangan sekarang sayang.”


“Kenapa?” tanya Mecca kecewa.


“Aku takut bayi kita kenapa-kenapa.”


“Tapi...”


“Seminggu lagi ya, sampai dia usia 16 minggu. Aku juga akan bersabar menunggu.”


“Hmmmm.” Sahut Mecca singkat.


Malam ini mereka tidur dengan saling berpelukan. Rasa kecewa masih menyelimuti hati Mecca. Ia gelisah dan tidak dapat tidur dengan nyenyak. Akhir-akhir ini ia merasa dirinya lebih bersemangat dan sangat agresif pada banyak hal. Apakah ini pengaruh hormon kehamilan?


Fadhil telah terlelap dengan nyenyak, dengkuran halus mulai terdengar di telinga Mecca. Mecca masih tidak dapat juga memejamkan matanya. Berkali-kali ia membalikkan tubuhnya ke kanan dan ke kiri, namun dirinya masih dikuasai gelisah.


Mecca menatap wajah Fadhil dengan lekat, jemarinya mulai menyentuh tiap jengkal wajah tertidur suaminya. Tanpa sadar ia mulai mendekatkan wajahnya, ia mengecup kening, hidung, pipi, serta bibir Fadhil dengan lembut.


Jemarinya terus berkeliaran ke sana kemari, hingga ia daratkan ke dada bidang suaminya yang polos itu. Sepertinya keinginan Mecca untuk melakukan penyatuan tidak dapat dibendung. Ia menginginkan suaminya itu sekarang juga.


“Mas tidur saja, biar aku yang urus. Aku benar-benar menginginkannya sekarang. Mungkin kalau keinginanku terpenuhi aku bisa tidur nyenyak juga di sampingmu mas.” Ujar Mecca sembari mengubah posisi tubuh Fadhil menjadi terlentang.


Dengan perlahan Mecca menyibakkan selimut yang menempel di tubuh Fadhil. Ia mulai membuka celana yang menghalangi bagian bawah tubuhnya dan Fadhil secara bergantian.


“Kenapa aku merasa jadi mesum sama suami sendiri?” ujar Mecca menelan ludah.


Mecca melihat benda kenyal itu tanpa berkedip. Ia mulai menyentuh dan menstimulasi benda kenyal itu dengan segala kelihaian yang ia miliki. Tindakannya memancing Fadhil untuk melenguh.


Sesekali ia menghentikan kegiatannya karena khawatir akan membangunkan suaminya. Ia tidak dapat menerima penolakan kedua kalinya jika Fadhil sadar akan perbuatannya saat ini.


Ketika ia merasakan benda kenyal itu mulai mengeras, Mecca pun mulai memosisikan dirinya di atas tubuh Fadhil. Ia mulai mengarahkan benda itu memasuki bagian tubuhnya dengan lembut.


Saat benda itu mulai melesak masuk perlahan, berkali-kali Mecca mendesah penuh kenikmatan. Ia mulai menari-nari di atas tubuh kekar itu dengan lincah. Sesekali ia membuka matanya dari kenikmatan untuk melihat wajah tidur suaminya.


Fadhil mulai gelisah dan ikut merasakan kenikmatan. Lenguhnya pun saling bersahut-sahutan dengan Mecca. Mendengar suara suaminya, Mecca semakin semangat memacu tubuhnya untuk bergerak lebih cepat.


Kenikmatan membanjiri seluruh tubuh keduanya. Rasa sengatan listrik halus membuat tubuhnya semakin bergelora. Saat matanya masih tertutup menikmati aktivitasnya itu, tiba-tiba ia terkejut mendengar Fadhil memekik sembari melayangkan genggaman tangannya pada bagian sensitifnya.


Dengan seketika ia membelalakkan mata, ia melihat suaminya yang telah terbangun dari tidurnya dengan ekspresi wajah yang sulit ditebak. Rasa malu ia hiraukan, saat ini tubuh panasnyalah yang menguasai dirinya seutuhnya.


“Nakal kamu ya yank! Aku kira sedang bermimpi liar denganmu tadi.” Ucap Fadhil tersengal-sengal. Mecca hanya tersenyum mendengar ocehan suaminya, ia merasa senang jika tindakannya mendapat perlawanan.


“Bagus kalau mas bangun. Melakukan sendiri membuatnya kurang seru.” Ujarnya sembari menarik tubuh Fadhil mendekati tubuhnya.


Malam yang panas terus terjadi hingga lewat tengah malam. Fadhil harus mengikuti keinginan istrinya yang tengah berada pada puncak gairah.


Tidak seperti biasanya, setiap melakukan penyatuan Fadhil selalu mengambil inisiatif terlebih dahulu. Tapi tindakan Mecca saat ini membuatnya senang bukan kepalang. Ia dapat melihat seluruh keindahan tubuh Mecca saat menari-nari dari bawah.


“Jika ini pengaruh hormon kehamilan, aku berharap ini tidak akan pernah hilang.” Bisik Fadhil pada Mecca.


.


.


.


Happy Reading and Enjoy 🤩


Jangan lupa klik favorit, like, komentar, vote, dan rate 5 ⭐ ya agar Author makin semangat dalam berkarya. Untuk mengetahui cara vote, silahkan para readers mampir pada halaman ATTENTION ya.


Jangan jadi penikmat dan silent readers, tunjukkan diri dengan like ya!


Terima Kasih.