Young Mama

Young Mama
Bab 95: ~Bangkitnya Mama Iblis~



"Jangan mendekat! Jangan mendekat j*lang!" Pria dengan darah mengalir dari kepala itu memperingatkan Shilla. Dengan kepalan tinjunya, ia langsung melayangkan pukulan pada wajah Shilla.


Shilla tak menghindar. Dia menerima pukulan itu. Membuat bibirnya sedikit tergores dan mengeluarkan darah. Seolah dia tak merasakan sakit, dia justru menjilat darah yang keluar dari sudut bibirnya. Tak lupa senyum mengejek pada pria yang telah memukulnya.


"Wanita j*lang." Pria yang mabuk seolah sudah mendapatkan kesadarannya. Dia dengan cepat memukul perut Shilla membuat Shilla sedikit terhuyung.


Namun tanpa ia sadari, pisau yang ada di tangan Shilla sudah menusuk perutnya. Shilla memeluk pria itu, memperdalam tusukan di perutnya.


"Hanya kematian yang layak untuk mu karena telah menyakiti anak ku." Bisik Shilla di telinga pria yang di tusuknya.


Shilla menoleh pada pria satunya, yang sudah mundur ketakutan. Di mata pria itu, Shilla terlihat seperti iblis yang siap memakan tumbalnya. Tak ada wanita lemah lembut yang begitu sayang pada anaknya. Tak ada wajah keibuan yang dihiasi senyum menawan, yang ada hanya senyum mematikan yang siap merenggut nyawa.


"Sekarang giliran mu." Shilla mencabut pisau pada pria yang sudah tak bergerak itu. Dengan sadis Shilla menendang tepat di perut bekas tusukannya.


Shilla berjalan mendekati pria satunya. Dia melangkah dengan santai. Tak ada rasa khawatir jika pria itu akan lari atau menyerangnya lebih dulu. Seolah darah pembunuh pada diri Shilla telah bangkit, dia bahkan menikmati rasa takut yang dialami oleh musuhnya.


"Apa kau ketakutan?" Shilla memainkan pisau di tangannya yang berlumuran darah. "Apa kau sungguh berpikir bisa menyingkirkan aku?" Langkah Shilla semakin dekat.


"Dasar iblis." Pria itu berlari kedepan menyerang Shilla secara langsung. "Kau harus mati!" Dengan menggunakan sebilah tongkat yang ia pungut dari lantai, pria itu mengayunkannya untuk memukul kepala Shilla.


Dengan cekatan Shilla dapat menghindarinya. Pukulan pria itu brutal membabi buta tak tentu arah. Bagi Shilla, menghindari pukulan yang seperti itu bukan hal yang sulit.


"Kau terlihat sangat putus asa." Ejek Shilla saat satu pukulan tongkat itu tak mengenainya sama sekali. "Aku sudah lelah bermain. Lebih baik kau susul temanmu itu." Shilla melemparkan pisau yang ada di tangannya tepat mengenai dahi musuhnya.


Tanpa hitungan detik, musuh langsung tumbang tanpa perlawanan.


Ketenangan hanya sementara. Telinga Shilla mendengar suara pintu terbuka. Kepalanya menoleh dan mendapati banyak orang di ambang pintu.


Tatapan mereka terkejut melihat keadaan di dalam ruangan. Mereka langsung masuk dengan penuh emosi. Bahkan ada yang langsung menyerang Shilla tanpa berpikir. Hal itu membuatnya mendapatkan tendangan maut Shilla.


"Kau yang melakukan semua ini?!" Tanya salah seorang pria dengan tindik di hidungnya.


"Maafkan mama sayang, sepertinya akan lebih lama untuk kita bisa keluar." Shilla menoleh ke arah Kenzo yang masih tergeletak pingsan.


"Bertahan lah sebentar lagi anaknya mama. Mama akan membalaskan semua rasa sakit yang kau terima." Senyum Shilla begitu teduh saat tersenyum pada Kenzo yang masih tak merespon. Namun itu hanya sesaat. Detik selanjutnya, tak ada senyum yang menghiasi wajah cantiknya.


"Kau yang memintanya!" Ujar Shilla dingin. Dia berjalan melewati mayat pria yang telah dibunuhnya. Dia mencabut pisau dari kepala pria itu dengan sadis. Dia bahkan tak segan untuk menendang tubuh yang sudah tak bernyawa hanya untuk memuaskan rasa haus darahnya.


Beberapa orang menyerang Shilla sekaligus. Ada yang bersenjata, ada pula yang menggunakan tangan kosong. Beberapa tendangan mendarat sempurna pada perut Shilla. Namun Shilla masih bisa menahan rasa sakitnya. Dia tak boleh tumbang, keselamatan Kenzo adalah yang utama.


Tekadnya untuk sang anak benar-benar kuat. Bahkan dia tak mempedulikan darah yang mengalir dari lengannya karena sabetan belati dari musuhnya. Shilla tetap tenang menghadapi keadaan yang genting. Dia bahkan sudah menumbangkan beberapa orang dengan tendangan kuncian pada leher ataupun dengan pisau yang sudah berwarna merah itu.


"Kau wanita yang tangguh." Pria bertindik itu sepertinya orang yang cukup tangguh. Dia masih dapat berdiri tegak setelah serangan-serangan yang diberikan oleh Shilla.


Berbeda dengan Shilla yang sudah mulai kelelahan. Pria itu masih banyak tenaga untuk menumbangkan Shilla kapanpun dia mau.


"Aku tak butuh pujian darimu." Shilla terengah-engah. Bagaimanapun dia sendirian melawan pria yang jumlahnya belasan orang.


Hari kemarin Shilla hanyalah seorang mahasiswa yang berkuliah dengan damai ditemani oleh sang putra, namun hari ini dia berubah menjadi seorang pembunuh yang tak kenal belas kasih.


Pria itu kembali menyerang Shilla. Dia berlari sambil menghunuskan belati ke arah perut Shilla. Dengan cekatan Shilla menghindar bahkan menangkisnya hingga belati itu terlepas dari tangan musuh. Shilla menangkap pergelangan tangan musuhnya dan memuntirnya ke belakang punggung, membuat pria itu berteriak keras saat tulangnya ada kemungkinan retak. Selanjutnya Shilla menendang punggung pria itu hingga tersungkur.


Tak membiarkannya bangkit, Shilla langsung menginjak kepala yang masih tergeletak di lantai. Di lihat lagi Shilla benar-benar kejam. Bahkan kakinya masih asik menginjak saat pria itu sudah tak sadarkan diri.


Seorang musuh yang sudah sadar dari pingsannya melihat pemandangan itu dengan tatapan ngeri. Seolah dia sedang menyaksikan seorang pembunuh yang telah bertahun-tahun membunuh dengan brutal. Dia bergerak perlahan. Dia mengambil belati yang ada di sampingnya dan melirik Kenzo yang masih tak sadarkan diri. Mungkin jika menggunakan anaknya, iblis itu akan berhenti untuk menyerang secara brutal. Pikirnya.


Shilla masih belum menyadari jika ada musuh yang sedang mengincar anaknya. Dia masih dengan sadis menjambak dan membenturkan kepala musuh di lantai. Bahkan tindik yang menghiasi hidung musuhnya sudah patah karena beberapa kali terbentur dengan kerasnya lantai. Wajah yang semula lumayan tampan sudah tak beraturan lagi mukanya. Bahkan beberapa giginya tanggal. Semua seolah menjadi permainan baru bagi Shilla. Dia begitu asik menyiksa.


"Ma...ma..." Panggilan lirih Kenzo menghentikan aksinya. Kepalanya langsung menoleh ke arah anaknya. Di sana Kenzo meringis kesakitan karena tangan kekar mencengkeram leher mungilnya. Bahkan sedikit darah mengalir dari lehernya karena belati yang menempel di kulit tipisnya.


"Berhenti! Atau aku bunuh anak mu." Pria itu memperingatkan. Meski sambil gemetar karena tatapan Shilla yang sulit diartikan, setidaknya aksinya dapat menghentikan kebrutalan Shilla sejenak. Iya sejenak. Karena detik berikutnya Shilla sudah benar-benar kehilangan kewarasannya.


Bersambung...