
Semua bersuka cita menyambut kedatangan Kenji kembali. Apalagi dia mengantongi keberhasilan menggagalkan pihak musuh menyetok senjata ke luar negeri.
Yoen Jae juga ikut ke markas pusat untuk memberi laporan lengkapnya. Sebenarnya dia masih kesal dengan Kenji. Gara-gara Kenji, dia harus membereskan segala kekacauan yang di buatnya. Padahal dia ingin negosiasi tanpa pertumpahan darah. Tapi sepertinya tak bisa. Dia harus siap menghadapi musuh-musuh kecil di masa depan nanti gara-gara Kenji. Semua kelompok kecil di negaranya pasti dengan senang hati akan menyerangnya.
"Tapi aku masih penasaran, kok bisa V lebih cepat dari ku, padahal dia datang dari Jepang kan?" Yeon Jae masih bertanya-tanya penasaran dengan kecepatan V dalam segala hal.
"Karena aku langsung bertindak tanpa pikir panjang setelah mengetahui lokasi K." V yang berjalan di belakang Yeon Jae menimpali.
"Yah, aku terlalu sibuk memikirkan tak tik ini dan itu." Yeon Jae mengakui kalau dia memang sistematis dalam bertindak. Tidak berani langsung melangkah begitu saja.
Mereka kembali berjalan ke arah aula utama tempat diadakannya pesta.
"Selamat datang K. Kau telah membuat prestasi yang luar biasa. Aku bangga sama kamu."
"Semua untukmu tuan." Kenji tersenyum kecil.
Akhirnya mereka semua merayakan kemenangan yang baru saja terjadi. Sekaligus perayaan untuk anggota baru yang berhasil masuk tim inti. Yang berprestasi juga mendapat penghargaan.
"Dengarkan semuanya, tian besar ingin menyampaikan sesuatu." D tampil di depan dengan sangat gagah.
Seketika suasana pesta menjadi hening. Mereka sangat penasaran apa yang akan di sampaikan oleh tuan besar Hayashi.
"Pertama, selamat untuk kalian yang sudah masuk sebagai anggota tim inti. Dan selamat untuk Seira, dia masuk ke dalam tim Khusus karena prestasinya, sekarang dia mendapat name code Black Rose. Jangan sampai informasi pribadimu tersebar, kalau tersebar atas kesalahanmu sendiri, organisasi tak akan bertanggung jawab."
Seira sangat terharu dengan apa yang dia dapatkan. Impiannya hanyalah masuk tim inti, dan sekarang dia malah masuk ke dalam tim khusus. Sungguh suatu yang sangat luar biasa.
"Terima kasih tuan. Black Rose siap mengabdi." Seira menghormat dengan bangga.
Rekan-rekan Seira menyelamati atas keberhasilannya. Mereka sangat iri dengan apa yang diraih Seira. Dia hanyalah anak yang dulunya lambat berkembang, sekarang bisa masuk tim khusus. Belum pernah ada anggota baru yang bisa langsung masuk tim khusus.
"Selamat datang Black Rose." V menyalami anggota barunya. dia tersenyum sangat manis membuat Seira merasa gugup.
.
.
.
Di aula utama pesta masih berlangsung meriah. Namun Kenji sudah di bawa pergi oleh V sejak beberapa menit yang lalu.
"Ah, pelan-pelan."
"Diam lah, sedikit lagi."
"Perih."
"Terkena peluru saja tak mengeluh, seperti ini saja perih."
"Lebih lembut sayangku."
"Jangan menggodaku."
Yeon Jae berdiri mematung di depan ruang kerja Kenji. Percakapan yang ia dengar benar-benar membuat pipinya memanas. Dia menunggu sebentar agar V dan K selesai menyelesaikan urusannya.
Setelah beberapa menit berlalu, V keluar dan melihat dirinya dengan tatapan aneh. Yeon Jae merasa malu sendiri melihat V.
V pergi hanya pergi sebentar dan kembali lagi. Dia bingung kenapa Yeon Jae tak masuk malah berdiri diam saja.
"Kalau tak ada urusan ngapain kamu berdiri di sini?" V menegur Yeon Jae yang masih malu-malu. "Dasar aneh. K ada di dalam, masuk saja." V berjalan masuk diikuti Yeon Jae.
Yeon Jae masuk dan melihat-lihat sekitar. Tempatnya rapi, meja juga masih rapi. Dia menoleh ke sofa, ada sedikit bercak darah yang tertinggal di sana. Yeon Jae langsung panas pipinya. Mungkin dia datang di waktu yang tak tepat.
"Kamu mencari apa sebenarnya?" Kenji melihat Yeon Jae dengan aneh.
"Hm?" Yeon Jae gelagapan. Dia tak tau mesti bicara apa.
"Ada apa kamu kesini." Kenji mulai jengah. Waktunya bersama V harus diganggu orang.
"Ah, sebenarnya aku hanya ingin menyapa saja. Tapi sepertinya waktunya kurang pas." Yeon Jae menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Dia melirik lagi bercak darah yang belum mengering itu.
Kenji mengikuti arah lirikan Yeon Jae. Dia langsung mengerti apa yang ada di pikiran orang itu. Apa lagi percakapannya dengan Violeta tadi yang sangat ambigu, bisa menimbulkan kesalahpahaman.
"Yah, kau memang mengganggu sekali." Kenji dengan jahil menggoda Yeon Jae. Dia merasa lucu melihat reaksi Yeon Jae.
Violeta mencubit pinggang Kenji dengan kasar. "Jangan jahil!" Violeta berkata tegas. "Kami tak melakukan apapun. Tadi aku hanya membantunya membersihkan luka di pipinya. Jangan berpikiran macam-macam." Violeta menjelaskan supaya kesalahpahaman ini tak berlarut. "Kalau begitu kalian silahkan mengobrol dulu, aku akan kembali ke pesta."
Violeta pergi meninggalkan mereka berdua. Dia masih harus menghadap Mamoru untuk menjelaskan apa yang ia dapat ketika mengejar Saburo.
"Jadi apa selanjutnya yang akan kamu lakukan?" Yeon Jae memulai percakapan.
"Tak ada."
"Tak ada?"
"Ya."
"Kamu yakin?"
"Cukup yakin."
"Kau tahu, Saburo memiliki seorang putra, saat ini dia masih belajar di Inggris, tapi Black Demon pada akhirnya akan berada di tangan anak itu, kalau tahu kamu yang membunuh ayahnya, pasti dia akan menuntut balas."
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Keano pergi menemui Alexi ditemani Shilla. Sebenarnya Shilla masih tidak ingin menemui kakak dari kekasihnya itu. Selain dia masih enggan berbicara dengan Keano, dia juga masih memendam amarah kepada Alexi. Butuh waktu yang cukup lama untuk membujuknya agar Shilla mau menemaninya.
Bukan karena Keano takut bertemu Alexi, namun ia takut lepas kontrol dan pawangnya tak ada di sampingnya. Seolah sudah menjadi ketergantungan untuk Keano selalu berada di dekat Shilla.
30 menit yang lalu
"Shilla, shilla, ayolah temani aku." Keano membujuk Shilla yang kini masih sibuk bekerja membantu Leon.
"Tidak." Shilla mengabaikan Keano yang yang masih duduk manis di depannya.
"Ayolah, kalau nanti aku lepas kendali tak ada yang menghentikanku."
"Kalau begitu jangan lepas kendali."
"Ini memang sifatku sayang."
"Kalau begitu harus merubah sikap dong."
"..."
Keano cemberut dibuatnya. Untung di ruang ini selain mereka berdua hanya ada Leon. Bisa jatuh wibawanya kalau orang lain tahu sikap kekanakannya ini.
Leon ingin sekali tertawa melihat mereka. Namun dia masih sayang nyawa. Keano tak akan melepaskannya kalau sampai dia mengejeknya. Ini bukan waktu yang pas untuk mencandainya.
Keano dengan malas mengetuk-ngetuk meja kerja Shilla. Dia menatap wajah cantik Shilla berharap Shilla segera berubah pikiran. Namun sudah beberapa menit berlalu Shilla tetap bergeming dari duduknya.
Shilla masih menyibukkan diri pada dokumen-dokumen yang harus segera diselesaikan. Malam nanti harus segera diserahkan pada Keano, namun sekarang yang bersangkutan malah mengganggunya.
"Shilla, kok kamu mengabaikan ku sih." Keano mencoba merayu Shilla lagi.
"Maaf Kei, ini nanti malam harus segera di serahkan ke pak bos."
"Oh..." Keano kembali meletakkan kelapanya pada meja mencoba berfikir sesuatu yang janggal. "SHILLA! Kan aku bosnya." Keano menjadi seperti orang bodoh. Dia baru saja menyadari telah dibodohi kekasihnya sendiri.
"Kalau begitu harusnya kamu lebih tahu, kalau pekerjaan sedang banyak, kenapa kamu malah duduk disini, kenapa tidak ke ruang kerjamu dan mengerjakan tugas sebagai bos, apa ini yang mau kamu ajarkan kepada semua karyawan." Shilla benar-benar habis kesabaran.
"Tapi kan agenda ku saat ini adalah merekrut Alexi untuk mengisi kekosongan posisi ku."
"Kalau begitu pergilah temui Alexi Keano sayang!" Shilla memutar bola matanya lelah.
Di panggil sayang Keano malah senyum-senyum sendiri. Dia jadi hilang fokus. Benar-benar seperti ABG yang baru saja mengenal cinta.
"Bodoh." Shilla tersenyum kecil. Dia benar-benar tak menyangka, Keano yang di kenal sangat bengis bisa mempunyai sisi lucu juga.
Saat Shilla fokus pada pekerjaannya, ponsel yang ada di atas meja bergetar tanda panggilan masuk. Dia dengan segera menekan tombol hijau untuk mengangkat telfon dari Bu Farida.
'Hallo bu Farida, ada apa ya?'
'Ini nak Shilla, Kenzo merengek minta bertemu papanya.'
Keano yang mendengar ucapan nenek Kenzo langsung memiliki ide. Ia ambil ponsel Shilla dan mengatakan akan segera menjemput Kenzo. Karena memang sudah dua hari tak bertemu, dia juga merindukan anak itu.
"Aku akan menjemput anak kita dulu. Bye sayangku." Dengan kurang ajar Keano mengecup bibir Shilla singkat. Dia benar-benar tak memikirkan perasaan Leon yang masih saja jomblo.
Benar saja, Leon mukanya sudah sangat memerah menyaksikan pemandangan yang tak seharusnya ia lihat. Dia menunduk malu-malu sekaligus iri. Sepertinya dia jadi kangen dengan Rose. Wanita yang sudah ia sayangi namun masih belum berani untuk mengungkapkan.
"Maaf tuan Leon." Melihat Leon yang menunduk malu, Shilla meminta maaf atas sikap Keano. Meskipun dia adalah kekasih dari bos, namun secara jabatan Leon tetap seniornya, dia tetap menghormati Leon.
"Nona tak perlu minta maaf, dan saya mohon berhenti memanggil saya Tuan, cukup Leon saja." Leon tak enak hati di panggil tuan oleh calon nyonya bos.
Shilla hanya tersenyum atas permintaan Leon. Dia tak akan menurutinya. Dia sudah terbiasa seperti ini. Akan sangat tak sopan bila ia langsung memanggil Leon begitu saja.
Mereka saling diam setelah percakapan singkat tadi. Mereka fokus mengerjakan pekerjaan masing-masing. Sampai suara riang Kenzo mengalihkan mata Shilla dari layar laptopnya.
"Mama." Dengan semangat Kenzo turun dari gendongan Keano dan berlari kearah mamanya.
"Anak mama semangat banget." Shilla menghujani Kenzo dengan ciuman membuatnya tertawa terbahak.
"Mama, mama, Kenzo kangen Oma."
"Oma?" Shilla memasang wajah tak mengerti dengan ucapan Kenzo.
"Um, Oma Lyn, Kenzo kangen Oma Lyn." Kenzo mengangguk antusias. Yang di maksud Kenzo dia kangen dengan Evelyn. Sepertinya bukan karena Kenzo beneran kangen dengan Evelyn, tapi ini adalah siasat Keano agar Shilla mau menemaninya ke rumah.
Keano langsung menerima tatapan tajam dari Shilla. Dia hanya menatap Shilla seakan bertanya 'kenapa'.
"Ulahmu kan?" Shilla berkata sinis.
"Apa maksudnya?" Keano pura-pura tak mengerti.
"Licik." Shilla mencibir.
Dan pada akhirnya Shilla mengalah. Dia tak ingin anaknya menangis karena kemauannya tak dituruti. Beri semangat kepada Leon karena pekerjaan Shilla harus dialihkan kepadanya.
Dan sampailah mereka disini. Di rumah tempat Keano lahir. Tempat penuh kenangan pahit milik Keano. Sekarang kenangan pahit itu akan tergantikan dengan kenangan-kenangan manis.
Bersambung...