Young Mama

Young Mama
Bab 58: ~Pagi Pertama~



Mereka jauh terpisah jarak. Namun rasa rindu menyatukan mereka. Mereka menjalani kehidupan masing-masing. Melewati waktu mereka sendiri. Namun rasa itu masih tetap sama.


Berapa lama waktu yang mereka butuhkan untuk saling merindu. Sepertinya akan lama. Kala rindu bahkan tak kunjung ada balasan. Maka sang tuan akan tetap merindu hingga akhir masanya.


"Tuan, organisasi yang tuan bangun sudah semakin bertambah besar, kenapa tuan selalu murung?"


"D? Apa kamu pernah jatuh cinta?" Mamoru tak menjawab pertanyaan yang dilontarkan asistennya, malah balas bertanya sesuatu yang tak di mengerti sang asisten.


"Cinta? Cinta terlalu rumit untuk saya tuan. Maafkan saya yang tak berguna ini." D menunduk merasa bersalah.


"Jangan terlalu formal seperti itu. Ini di luar pekerjaan. Harusnya kau juga coba untuk jatuh cinta D." Mamoru menggoda asistennya. Selama ini dia belum pernah melihat D bersama ataupun membicarakan tentang lawan jenis. Dia jadi merasa kasihan.


"Wanita itu merepotkan. Saat saya bekerja mereka rewel minta di hubungi. Telat sedikit saja mereka langsung marah-marah. Untuk itulah saya tidak mengenal wanita."


"Kalau begitu laki-laki saja."


Perkataan dari Mamoru langsung membuat pipi D memerah. Dia tak menyangka Mamoru akan mengucapkan kalimat seperti itu. Meskipun dia tak menyukai perempuan, tapi bukan berarti yang dia sukai adalah laki-laki. Membayangkan saja bulu kuduknya meremang.


"Saya tak mau keduanya tuan."


Mamoru tertawa terbahak. Bisa juga D menunjukkan ekspresinya. Biasanya lelaki itu dingin. Tak akan bersuara kalau tak ada pertanyaan. Tapi baru saja D menunjukan sebuah ekspresi yang langka.


"Cobalah untuk jatuh cinta. Memangnya kamu akan berada di sisiku terus."


"Bersama tuan adalah anugrah terindah yang pernah saya miliki."


"D? Kau sadar ucapanm? Kalau orang mendengar bisa salah paham."


"Maafkan saya tuan."


"Apa aku harus kembali ke sana dan menemuinya lagi?" Mamoru meminta pertimbangan pada asistennya. Meskipun dia adalah bosnya, tapi soal percintaan nol besar.


"Organisasi sedang stabil tuan. Kalau tuan mau pergi tak apa. Saya akan mengambil alih selama anda pergi." D selalu tahu kemana arah pembicaraan Mamoru. Dia mengerti, bahwa majikannya ini akan menemui Susan lagi. Kalau bisa dia ingin mengajaknya tinggal bersama.


Pada akhirnya Mamoru memutuskan untuk pergi menemui Susan, pujaan hatinya. Dia menyerahkan tanggung jawannya kepada D selama ia pergi. Dia percaya, asistennya ini dapat diandalkan. Dia sudah mengikutinya sejak Mamoru merintis dari nol.


Akan ia kejar cintanya. Akan ia jemput kembali dan membiarkannya tinggal di sisinya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Pagi hari semenjak kedatangan mereka di Jepang, Shilla sudah berkutat di dapur membantu para pelayan untuk memasak. Aneh rasanya saat tugas yang selalu ia lakukan sehari-hari di lakukan oleh orang lain.


Kenzo masih belum bangun, hari masih sangat pagi, anak itu juga sepertinya kelelahan karena perjalanan jauh. Biarkan saja dia menikmati tidurnya lebih lama lagi.


"Nona, biarkan kami para pelayan yang menyiapkannya nona. Nona silahkan istirahat saja." Seorang koki yang telah di siapkan Keano meminta Shilla untuk berhenti karena takut tuannya akan marah


"Tak apa,memasak adalah pekerjaan sehari-hari. Akan sangat aneh kalau aku tak mengerjakan apapun." Shilla masih tetap saja membuat bumbu ayam goreng, makanan kesukaan Kenzo. "Tapi, aku tak melihat kalian saat aku datang kemarin." Shilla memang orang yang baik, dia berusaha mengenal pelayan yang selama beberapa hari atau bahkan tahun ke depan akan menjadi keluarganya. Ya, keluarga. Mereka tinggal bersama menyiapkan segala sesuatu untuknya, bukankah itu sebuah keluarga. Membayangkannya saja Shilla sangat senang. Dia tak akan kesepian lagi mulai sekarang. Dia tak harus mengerjakan semuanya sendiri. Dia sudah memiliki keluarga tanpa ikatan darah.


***


Semua makanan sudah tersaji di meja. Beberapa makanan asli Indonesia, beberapa makanan Jepang yang disiapkan oleh pelayan. Masakan Indonesia tentu saja masakan Shilla. Lidahnya masih belum terbiasa dengan bahan-bahan yang masih mentah. Dia juga mengetahui kalau Kenzo tak akan suka dengan makanan baru untuknya. Apalagi dia masih belajar mengenal makanan orang dewasa, tak bisa sembarangan memberinya sesuatu untuk di makan.


Satu persatu mereka datang ke meja makan. Mereka semua telah rapi dengan stelan masing-masing. Dan entah kenapa, pagi ini Keano di mata Shilla terlihat lebih gagah dan tampan dari pada biasanya. Apa karena disinilah jati dirinya berada, hingga membuka seluruh aura ketampanannya secara maksimal, entahlah Shilla sendiri tak mengerti. Yang ia mengerti, ia tak bosan menatap Keano yang matanya berbinar melihat makanan yg tersaji di meja.


"Sepertinya ini bukan masakan koki yang aku siapkan." Meskipun mata Keano berbinar, namun ia tetap menanyakan pertanyaan menyelidik.


"Tentu saja. Sebagian adalah masakan ku. Maaf aku bekum terbiasa dengan makanan di sini."


Mata Keano semakin berbinar. Dia tak sabar mencicipi makanan yang telah di siapkan Shilla. Dia tak menyangka kalau wanitannya sangat pandai memasak.


"Kalian makan makanan yang di siapkan pelayan. Aku akan memakan masakan Shilla." Perintah Keano pada Leon dan Rose.


Tentu saja mereka geleng-geleng kepala. Dia tak menyangka sisi kekanakan bosnya akan mudah keluar jika berhubungan dengan Shilla. Namun mereka senang dengan itu. Semenjak kedatangan Shilla di hidup Keano, lelaki itu terasa lebih manusiawi. Tak seperti robot yang hanya tahu bekerja, bekerja, dan bekerja.


"Jangan seperti itu dong Kei, mereka juga boleh memakan masakan ku. Jangan kekanakan." Shilla berkacak pinggang dengan kelakuan Keano.


"No! Pelayan sudah menyiapkan masakan lainnya, kalau tak di makan siapa yang akan memakannya." Keano masih teguh dalam pendiriannya. Dia tak akan berbagi apapun jika itu tentang Shilla.


"Memangnya kamu habis makan makanan yang begitu banyak?"


"Tentu saja."


Shilla tak menanggapi sikap kekanakan Keano lagi. Dia pergi untuk melihat Kenzo. Mungkin anak itu sudah terbangun dan sedang menunggunya.


Benar saja, saat Shilla masuk, Kenzo sudah duduk di ranjang celingukan mencari dirinya. Mukanya sudah seperti akan menangis. Berada di tempat asing dan tak ada sang mama, tentu saja dia takut. Bagaimanapun dia masih seorang bocah.


Melihat Shilla masuk Kenzo langsung bangkit dan berlari memeluknya. Dia bahkan tak peduli hampir saja terjatuh karena terburu turun dari ranjang. Untung saja Shilla sigap menangkap Kenzo.


"Hati-hati sayang." Shilla memeluk Kenzo lembut. Dia mengacak rambut dan juga mencium pipi Kenzo sayang. "Anak mama tidur nyenyak?"


Kenzo tak merespon. Dia hanya memeluk Shilla dan memejamkan matanya kembali. Sepertinya dia masih mengantuk.


"Mama. Masih ngantuk." Kenzo mencari trmpat nyaman di ceruk leher Shilla. Di sana terasa hangat. Apalagi dia bisa mencium aroma mamanya, dia bisa tertidur kembali dengan lelap.


Tentu saja Shilla tak akan membiarkan hal itu terjadi. Perut Kenzo sudah pasti kosong karena belum makan apapun setelah sampai disini. Kenzo tertidur sepanjang perjalanan bahkan setelah sampai pun dia masih tertidur. Shilla tak mau anaknya sakit. Dia membawa Kenzo ke kamar mandi untuk memandikannya. Setelah makan barulah Kenzo bisa tidur kembali.


Kenzo langsung meronta saat ia tahu dirinya akan dibawa ke kamar mandi. Dia masih ingin bergelung di ranjang empuk yang memanjakan tubuh kecilnya. Dia masih belum ingin berperang dengan air yang akan membuat badannya menggigil kedinginan. Bahkan meskipun itu adalah air hangat.


Seiring bertumbuhnya usia, Kenzo juga menunjukan sisi nakalnya. Semakin aktif dan sulit untuk di atur. Hal itu menguji kesabaran Shilla secara ekstra.


"Diam Kenzo. Mandi dulu. Kamu boleh tidur lagi setelah mandi dan makan." Shilla mulai melepas baju Kenzo satu per satu.


"Dingin mama. Mandi nanti." Kenzo berusaha mencegah Shilla melucuti pakaian yang ia kenakan.


"Jangan jadi anak malas Kenzo." Dengan telaten Shilla melepas satu persatu piyama Kenzo.


"Tidak mama... tidak... Kenzo ngga mau mandi mama..." Kenzo merengek, meronta, membuat Shilla kuwalahan.


Namun bukan Shilla namanya kalau dia tak dapat menaklukkan anaknya. Tatapan Shilla yang tajam langsung membuat nyali Kenzo ciut. Meskipun ingin sekali menangis, namun Kenzo tetap menuruti perintah mamanya untuk mandi.


"Mama marah?" Tanya Kenzo di sela-sela Shilla membersihkan badannya.


"Tidak sayang. Mama tak pernah marah sama Kenzo." Dengan lembut Shilla membersihkan rambut Kenzo dari shampo.


"Mata mama menakutkan." Kenzo merajuk. Dia akan mengingat tatapan Shilla, dia gak akan membuat mamanya marah. Sungguh, Kenzo tak pernah melihat mama menatapnya seperti itu.


"Kenzo takut?"


Kenzo menggeleng kecil. Memang sedikit takut, tapi dia tak berani mengatakannya.


"Kalau Kenzo nakal mama bisa menelan Kenzo, Roooar." Canda Shilla menirukan suara Singa yang hendak menerkam Kenzo.


Kenzo langsung tertawa terbahak tatkala Shilla menampilkan muka yang sangat lucu, bukan ganas laiknya Singa yang tengah mengaum.


Kenzo jadi menikmati mandi paginya. Tidak protes lagi dan malah bercanda.


"Sudah sayang, ayo kita memakai baju."


"Sebentar mama. Main air."


Memang dasar anak kecil. Saat akan mandi susah di bujuk, begitu sudah mandi tak mau selesai. Maunya main air.


"Kenzo...!"


Mau tak mau Kenzo menurut. Daripada dia membangunkan singa yang sedang tertidur.


.


.


.


Kenzo sudah rapi dan ganteng. Dia berjalan dituntun Shilla ke ruang makan untuk sarapan. Dengan ceria dia langsung berlari ke pelukan Keano yang masih menunggu.


"Kok kalian belum mulai sarapan?" Shilla melihat makanan di meja masih utuh.


"Kami menunggumu nona." Leon menanggapi Shilla. Melihat tuannya masih asik bercanda dengan Kenzo.


"Kalian kan harus bekerja. Kalian makanlah lebih dulu tak perlu menungguku."


"Memangnya siapa yang berani menegur kalau aku terlambat. Akulah bosnya." Keano tersenyum menyombongkan dirinya.


"Sombong." Shilla mencibir. "Bukankah kamu selalu datang lebih dulu dari pada karyawan mu untuk memberi mereka contoh yang baik?"


"Itu dulu, sekarang tidak lagi. Kamu adalah prioritas utama." Keano tersenyum. Namun hanya di tanggapi tatapan sarkas dari Shilla.


Leon dan Rose merasa mereka tak di butuhkan disini. Segera setelah Shilla mengambil makanan untuk Kenzo, mereka berdua langsung ikut mengambil dan memakannya dengan cepat. Mereka ingin segera keluar dari situasi ini.


Bersambung...


Jangan lupa tinggalkan 👣 dengan cara klik👍 juga ❤️ dan jangan lupa juga vote yang banyak ya.


cek juga cerita author yang lain


👉 Psycopath itu Kekasihku


👉Twin's


Bye bye. Sampai jumpa di bab selanjutnya😘