
"Sayang, kenapa kau malah mengobati dia. Aku juga perlu diobati." Keano menyentuh memar yang ada di pipi kanannya.
"Obati saja sendiri." Shilla melempar handuk dingin pada Keano. Dia terlalu malas untuk berurusan dengan pria egois itu.
"Akh!" Earl mengerang kesakitan saat handuk dingin menyentuh kulitnya yang juga memar.
Dengan telaten Shilla mengobati memar di pipi Earl. Hal itu membuat Keano semakin merasa terbakar. Melihat Shilla yang dengan sabar mengobati musuhnya, Keano benar-benar ingin membunuh putra bangsawan Inggris itu.
Kenzo dan juga Harumi hanya tertawa kecil melihat Keano yang ingin meledak. Melihat pemandangan itu, Kenzo sejenak melupakan perlakuan Keano terhadap mamanya.
Pikiran mereka berkecamuk sendiri-sendiri. Ada yang bahagia, ada yang merasa semakin frustasi. Ada pula yang jengah karena kelakuan Keano dan Earl yang seperti anak kecil.
"Ada apa dengan wajah kalian?" Mamoru muncul dan langsung menegur semuanya. Dia bertanya-tanya dengan keadaan yang terjadi saat dia tak ada.
30 menit yang lalu
"Siapa yang adiknya siapa!" Suara yang sangat di rindukan Shilla. "Dia adalah calon istri ku." Keano masuk mengagetkan semua yang ada di dalam.
Keano masuk dengan wajah berapi-api. Dia tak terima bahwa Shillanya ada yang menggoda. Dia sungguh egois, dia tak menyadari bahwa kelakuannya selama ini telah melukai hati Shilla.
"Kenapa bisa calon istri? Bukankah nona Shilla sudah ada suami?" Earl yang tak tahu kebenaran tentang Shilla bertanya tanpa ragu.
Shilla bingung bagaimana menjelaskannya. Dia tak mau membahas tentang statusnya di hadapan Kenzo. Bukan karena dia malu, namun dia tak ingin Kenzo mengetahui kebenarannya untuk saat ini. Belum waktunya bagi Kenzo untuk tahu bahwa dia bukanlah ibu yang mengandungnya.
"Akulah calon suaminya. Tak akan ada orang lain atau lelaki lain yang bakal menjadi suami Shilla kelak!" Final Keano penuh intimidasi.
"Siapa kau berani mengaku suami mama?!" Tatapan benci terpancar dari sorot mata Kenzo. Anak itu masih mengingat jelas bagaimana Keano mengabaikannya saat orang bernama V dibawa pulang. Kenzo masih belum bisa melupakan hal itu. Wanita yang sudah mengaku Tante Cantik itu sudah merenggut kebahagiaan mamanya. Kenzo benci Keano. Benci orang yang selama ini ia panggil dengan sebutan Papa.
"Kenken sayang. Maafin papa ya." Nada Keano melembut. Namun tetap belum bisa meluluhkan hati Kenzo yang sudah terlalu dalam ia sakiti.
"No! Kamu bukan papa Ken!" Kenzo berlari memeluk Earl.
Earl yang tak mengerti situasinya hanya terbengong. Dia hanya bisa membalas pelukan Kenzo yang datang tiba-tiba. Tangan besarnya membelai punggung kecil Kenzo untuk menenangkan gejolak amarah yang sedang membara pada Kenzo.
Namun satu hal yang pasti, Earl memiliki kesempatan untuk mendekati Shilla. Awalnya dia terlalu takut untuk mengagumi perempuan yang sudah bersuami. Namun nyatanya, Shilla belum ada yang memiliki. Hal itu menguatkan tekad Earl untuk mendekati gadis yang sudah menyita perhatiannya.
Melihat perlakuan Earl ataupun kedekatan antara Earl juga Kenzo, membuat Keano semakin membara. Apalagi melihat Shilla yang acuh dan masih menikmati makanannya tanpa terganggu oleh situasi. Keano semakin hilang kendali.
"Ken sayang, kemari peluk papa. Papa kangen loh sama Ken." Dengan menahan amarah dan berusaha sabar, Keano mengulurkan tangan pada Kenzo.
Kenzo menggeleng tegas. Bahkan tatapan benci dari anak itu tak surut sedikitpun. "No! Kenzo mau sama Om Earl." Kembali Kenzo memeluk erat Earl.
"Sudahlah tuan Kenji, Kenzo hanyalah anak kecil. Biarkan tenang terlebih dahulu." Earl membawa tubuh kecil Kenzo kedalam pangkuannya.
"Apa kau sengaja mengambil kesempatan?!" Tatapan Keano memicing.
"Apa maksud mu tuan Kenji?" Earl benar-benar tak mengerti apa yang Keano maksudkan. Dia benar-benar hanya ingin menenangkan Kenzo lebih dahulu. Dia tak ingin mental anak itu terganggu karena pertengkaran orang dewasa di sekitarnya. ""Kenzo hanyalah anak kecil. Tuan Kenji harusnya lebih mengerti itu kalau kalian sudah mengenal lama." Sergah Earl.
"Tapi dia sekarang dekat dengan mu. Kau sengaja mendekati Shilla lewat Kenzo kan?" Tuding Keano tak mau kalah.
Earl menghela napas panjang. Niat awal dia tak pernah akan mendekati Shilla. Karena dia tak ingin merusak kebahagiaan orang yang sudah berstatus. Namun kalau kenyataannya Shilla belum ada yang memiliki, Earl tak akan mundur dengan mudah.
"Dan kau?! Kalau ingin menemui papa bisa ke kantor atau pun markas. Kenapa malah menemui kemari? Karena ingin bertemu Shilla?" Perkataan Keano memang tepat sasaran.
Earl tak dapat membalas tuduhan Keano. Karena memang seperti itu adanya. Earl hanya melihat Keano dengan pandangan tenang. Meskipun benar seperti itu, tak mungkin Earl mengaku di hadapan Shilla langsung.
"Sampai kapan kalian akan terus bertengkar?" Shilla meletakan sendok makannya. Tak lupa ia membersihkan mulutnya dari sisa-sisa makanan yang mungkin tertinggal di sana.
"Shil, aku mohon dengar penjelasan ku lebih dulu." Keano beralih pada Shilla yang masih enggan menatapnya.
"Apa karena dia?" Keano menunjuk Earl sebagai alasan Shilla bersikap dingin. "Jawab Shilla." Keano menyentuh lembut jemari Shilla.
"Jangan pernah menyalahkan orang lain, di saat kesalahan itu sebenarnya datang dari dirimu sendiri." Shilla melepaskan tangannya dari genggaman Keano. "Harumi, bawa Kenzo kedalam."
"Baik nona." Harumi beranjak sesuai perintah Shilla. "Tuan kecil, kita main yuk di dalam." Ajak Harumi pada Kenzo yang masih memeluk Earl.
Keano tak terima. Dia masih kangen dengan putra kecilnya. Dan Shilla malah ingin memisahkan mereka. Keano kalap. Dia merebut paksa Kenzo dari Harumi.
Keano memeluk erat Kenzo tak ingin lepas membuat Kenzo menangis. Tangisan yang sangat jarang terjadi untuk Kenzo. Kini anak itu menangis karena takut bercampur benci kepada Keano.
"Tuan Kenji. Kau membuat Kenzo takut." Earl hendak meraih Kenzo yang meminta pertolongan padanya.
Namun siapa sangka. Justru pukulan Keano yang mendarat di pipi Earl membuat sang empunya hilang keseimbangan. Earl merasakan ngilu yang teramat sangat. Dia langsung menyentuh bibirnya yang terasa perih. Asin rasanya, saat tak sengaja darah masuk dalam mulutnya.
Harumi yang melihat itu langsung mematung. Dia tak berani melangkah maju untuk mengambil tuan kecilnya. Dia menoleh pada Nonanya yang tengah menahan amarah.
Sudah cukup.
Kenzo adalah batas kesabaran Shilla. Dia maju meraih Kenzo yang sudah sesenggukan. Dia memeluk erat anaknya. Dan dalam sepersekian detik tendangan Shilla mendarat pada pipi Keano.
Keano tumbang. Sejenak dia kehilangan keseimbangan karena tendangan Shilla yang begitu kuat. Untung saja Kenzo berada dalam dekapan Shilla. Kalau tidak, anak itu akan merasa bersalah karena membuat Shilla marah.
Dan seperti itulah bagaimana wajah memar yang kini menghiasi wajah tampan keduanya.
Kenzo sudah kembali ceria melihat Keano yang kesakitan dan diabaikan oleh Shilla.
Shilla dengan sengaja mengobati Earl. Dia sengaja ingin melihat bagaimana reaksi Keano. Dan dimatanya sekarang, Keano sangat lucu ketika cemburu. Shilla tak dapat menampik kalau dia masih suka dengan Keano. Namun rasa sakit itu masih terasa perih. Jadi dia tak ingin mengambil tindakan yang gegabah.
Shilla menempel plester kecil pada ujung bibir Earl.
"Akh...!" Earl sedikit mengerang ketika luka itu bersentuhan langsung dengan plester.
"Jangan manja." Ujar Shilla lembut.
Earl semakin terpesona dengan ketelatenan Shilla dalam merawatnya. Apalagi dilihat dari dekat seperti ini, Shilla sungguh sangat cantik sekali.
"Jadi kalian memar hanya karena ingin mendapatkan perhatian putri ku?" Mamoru menggoda keduanya.
Baik Keano maupun Earl hanya bisa tersipu malu. Seorang ketua anggota mafia terbesar bisa malu dengan seorang perempuan. Sungguh harga diri mereka seolah jatuh ke dasar jurang.
"Sudah." Shilla beranjak menjauhi Earl saat selesai mengobati.
"Aku bagaimana sayang?" Keano masih terus memohon belas kasihan Shilla. Untuk keano, luka seperti ini hanya luka kecil. Meskipun perih, namun dia pernah terluka lebih dari ini. Semua ia lakukan hanya untuk mendapat perhatian dari Shilla.
"Kau panggil saja perempuanmu untuk mengobati mu!" Shilla berkata telak.
Meski Keano sedikit tertohok, namun dia senang, senang melihat Shilla cemburu.
"Sudah jangan manja. Ayo keruangan ku. Kita bahas yang belum selesai." Sela Mamoru. " Maaf membuatmu menunggu lama Earl." Mamoru menoleh pada Earl yang masih setia mengamati sosok Shilla.
"Lebih lama lagi pun tak masalah tuan." Earl berkata lirih. Namun perkataannya dapat di dengar oleh semuanya. Membuat Keano semakin terbakar.
"Kapan-kapan main lagi sama Kenzo ya Om." Kenzo melambaikan tangan pada Earl yang di balas dengan senyuman hangat Earl.
Bersambung...