Young Mama

Young Mama
Bab 81: ~Rubah Betina~



Seorang pemuda tengah menyeringai licik. Dia kesenangan karena rencana yang dia susun berjalan dengan lancar. Tinggal menunggu waktu saja dia bisa menjatuhkan musuh bebuyutannya dan membalaskan dendam kematian ayahnya.


Dia duduk di kursi kebesarannya. Menunggu informasi lebih lanjut dari Aiko yang sedang menjalankan tugas. Dia mainkan pena untuk mengurangi rasa bosan karena Aiko belum juga menghubunginya. Namun dia tetap sabar menanti, mencari informasi dari seorang Kenji tak akan mudah. Pasti Aiko masih berhati-hati agar tak ketahuan.


Di saat Ichiro tengah asik melamunkan kemenangannya, seseorang mengetuk pintu. Cukup dengan satu kata Ichiro memerintahkan seseorang di luar untuk masuk.


"Ada apa?!"


"Kabarnya tuan Alison malam ini akan mendarat di Jepang. Apa tuan sudah mengetahui?"


"Apa Charles yang memberitahumu?"


"Benar tuan. Tuan Charles menyuruh saya menyampaikan kalau tuan mungkin belum mengetahui." Demon, asisten Ichiro menyampaikan pesan yang baru saja ia dapat.


"Oke. Kalau begitu kamu siapkan segalanya. Dan nanti malam kita akan menjemput tuan Alison di Bandara."


"Baik tuan." Demon undur diri untuk mempersiapkan segalanya.


Ichiro memikirkan alasan kedatangan Alison. Tak biasanya Alison turun langsung ke lapangan. Apalagi ini sudah bertahun-tahun sejak kedatangan Alison. Biasanya Charles lah yang akan menjadi utusan dari Alison.


"Sial, kenapa perempuan itu juga belum memberikan kabar apapun. Ini sudah lebih dari dua minggu sejak dia berhasil masuk rumah Kenji." Ichiro gusar dengan kelakuan Aiko. Dia jadi berpikir macam-macam hal. Dia tau pasti bagaimana kelakuan perempuan itu jika sudah dibutakan cinta Kenji. "Awas saja kalau kau berkhianat dan gak membuahkan hasil. Hanya kematian mu yang dapat menebusnya." Tangan Ichiro mengepal. Pena yang ada di tangannya ikut patah karena remasan yang begitu kuat.


Saat Ichiro sedang kesal karena Aiko tak menghubunginya, secara kebetulan ponselnya berdering. Panggilan masuk dari Aiko membuatnya sedikit meredam amarah.


"Kenapa baru menghubungi?" Tanpa basa-basi Ichiro langsung membentak Aiko.


"Maaf kakak, mekipun muka ku menggunakan muka kekasihnya, Kenji tetap waspada. Dia tidak menurunkan pertahanannya dan masih mencurigai ku. Aku harus mendapatkan kepercayaannya terlebih dahulu." Aiko sedikit takut dengan bentakan Ichiro. Terdengar dari suaranya yang pelan penuh kekhawatiran.


"Baiklah. Awas kalau tak ada hasil dan malah memilih untuk berdiri di sisi Kenji."


"Tentu tidak kakak."


"Kalau begitu malam ini kau pulang dulu, tuan Alison akan datang malam ini." Ichiro memberitahukan kedatangan Alison kepada Aiko. Alison sangat menyukai Aiko. kalau sampai Aiko tak ada disini malam ini, bisa saja Alison ngamuk dan menghancurkan seluruh markas.


"Baik kak. Aiko akan memuaskan tuan Alison malam ini. Kakak tenang saja."


Mendengar jawaban dari Aiko, Ichiro menyeringai. Aiko memang bisa diandalkan. Tanpa diminta pun dia mengerti maksud Ichiro menyuruhnya pulang saat Alison akan datang.


***


Sebuah pesawat pribadi mendarat dengan sempurna di salah satu Bandara Internasional Jepang. Para pengawal sudah disiapkan untuk menyambut kedatangan tuan Besar dari kelompok terbesar kedua, Serigala Jubah Besi, karena yang menempati posisi pertama masih tetaplah Golden Dragon.


Alison melangkah tegap dengan dada membusung penuh kesombongan. Pengawalnya di belakang ikut mengikuti dengan rapi.


Dia berhenti di hadapan seorang pemuda yang selama ini sudah direkrutnya.


"Selamat datang kembali tuanku." Ichiro menunduk hormat menyambut kedatangan Alison.


"Dimana Aiko?" Alison langsung menanyakan keberadaan Aiko karena di sana ia tak menemukan Aiko di manapun.


"Aiko sedang dalam perjalanan kemari tuan." Ichiro berkata dengan hati-hati. Dia takut menyinggung tuan besarnya.


Alison kembali melangkahkan kakinya diikuti Ichiro dan yang lainnya. Sudah bertahun-tahun Alison tak menginjakkan kaki di Jepang. Entah sudah 10 atau 20 tahun. Jepang banyak sekali mengalami perubahan.


Di depan sana berjalan seorang wanita yang tersenyum manis ke arah Alison. Cara berjalan yang menggoda. Apalagi pakaian yang digunakannya terlalu ketat. Menampilkan lekuk tubuhnya yang sempurna.


"Kau tetap saja cantik dan menggoda. Kemarilah." Alison memberi isyarat agar Aiko mendekat kepadanya. "Aku kangen sekali denganmu sayang." Alison tak memperdulikan bahwa ia masih berada di muka umum. Dia dengan sengaja menggoda dan menghirup leher Aiko dalam-dalam.


"Geli tuan. Ini masih di tempat umum." Aiko dengan manja mengalungkan tangannya pada leher Alison.


"Siapa peduli." Alison memeluk pinggang Aiko dan kembali melanjutkan perjalanan.


Sesampainya di mobil yang sudah disiapkan, Alison langsung menerjang Aiko tanpa peduli apapun lagi. Bahkan sang supir yang melihat itu semua menjadi merah mukanya. Malu sendiri.


Alison mencumbu bibir Aiko lebih dulu. Dia hisap dalam-dalam bibir merah nan seksi itu membuat sang empunya melenguh panjang kenikmatan.


Alison terus saja mengabsen seluruh wajah Aiko tanpa terlewat sedikitpun. Kecupan-kecupan kecil membuat badan Aiko merinding kegelian.


Suasana panas di mobil tak menghentikan perjalanan mereka. Bahkan sang sopir pun sudah tak fokus mendengar erangan nikmat dari bibir Aiko.


"Akh, tuan, pelan sedikit." Aiko mecengkeram kaca pintu mobil. Dari luar terlihat jemari lentik itu menekan kaca dengan kuat.


"Kau selalu membuatku bergairah sayang." Peluh sudah membanjiri pelipis Alison. Dengan hentakan kuat dia sampai pada puncaknya.


Kepalanya mendongak menikmati sensasi yang sudah lama tak ia rasakan. Menampilkan jakun yang naik turun tanda ia sangat kelelahan.


Bagaimana tidak, setelah perjalanan dari Inggris, belum juga istirahat namun dia langsung olah raga malam.


"Terima kasih Bunny." Alison mengecup mata Aiko mesra. Dia membenahi celananya dan bersandar mengistirahatkan badan yang sudah lelah.


"Jangan lupa uang jajannya tuan." Aiko mencolek manja senjata Alison yang sudah tertidur lemas di dalam sangkarnya.


Ia membenahi rok mininya. Tak lupa ia membersihkan cairan Alison yang masih sesekali menetes.


"Sebutkan saja berapa jumlahnya." Sambil memejamkan mata Alison menanggapi permintaan Aiko.


"Asiiik." Aiko kegirangan. Dia bisa shoping-shoping lagi dengan uang itu. "Terima kasih tuan." Aiko memeluk tubuh Alison dan menyandarkan kepalanya di dadanya.


"Kalau bukan demi Kenji, aku tak akan pernah mau melayani mu tua bangka."


***


Aiko turun dari mobil bersama Alison. Ichiro melirik tubuh Aiko yang masih sedikit berantakan. Ichiro menyeringai, Aiko setidaknya sudah memuaskan Alison.


"Selamat datang di rumah tuan." Ichiro memandu Alison. Padahal Alison sudah tau seluk beluk rumah ini. Rumah yang dulu sempat menjadi saksi kejatuhannya di negeri ini.


Alison masuk dan di sambut banyak pelayan. Mereka semua menunduk hormat. Pelayan yang sangat cantik-cantik dan seksi. Sesuai dengan selera Alison.


"Kau pintar memilih Ichiro." Alison memuji pilihan Ichiro. Dia sangat menikmati apa yang disuguhkan di hadapannya.


Pakaian pelayan kurang bahan yang membuat buah dada mereka mencuat menyembul minta di sentuh.


"Saya senang kalau tuan menyukainya."


"Tapi mereka untuk besok lagi saja. Aku masih ingin memakan Aiko."


"Baik tuan. Silahkan nikmati malam anda." Ichiro memberi kode pada Aiko agar ia mengikuti Alison.


Bersambung...