
"KAMU NGGA BISA MEMUTUSKAN SENDIRI SEPERTI ITU!!!" Shilla marah-marah di apartemen Keano. "MEMANG APA YANG ADA DI PIKIRANMU, KENAPA KAMU SEENAKNYA MENGAJUKAN CUTI KULIAH UNTUKKU!!!" Dengan nada tinggi Shilla memarahi Keano. Bahkan ART yang di sewa Keano saja sampai ketakutan melihat kemarahan Shilla. Cantik sih, tapi kalau marah sungguh menakutkan. Seakan dunia tunduk di hadapannya.
"Shil, dengarkan aku dulu, aku lakuin itu untuk kebaikanmu." Keano mencoba meredakan amarah Shilla.
"DIAM!" Tatapan tajam Shilla membuat Keano ciut. Bukan. Keano bukan takut dengan Shilla. Keano hanya tidak mau Shilla pergi dari kehidupannya.
Sebenarnya kenapa Shilla sampai begitu marah seperti itu? Kenapa kemarahan Shilla memuncak? Bahkan orang di sekitar tak berani untuk mendekatinya.
Semua kejadiannya berawal pagi ini.
Seperti biasa Shilla masuk kuliah. Dia sangat bersemangat belajar. Apalagi kalau bisa mempersingkat waktu kuliahnya dia akan sangat senang sekali.
Saat ini Shilla sedang ingin menyendiri. Dia bersandar di bawah pohon sekalian membaca. Bukan pohon beringin, Shilla bukan kunti penunggu pohon beringin. Di sana dia serius belajar sambil menikmati angin lembut yang menerpa wajahnya.
"Hai!" Seseorang mendekati Shilla. tubuhnya yang tinggi menghadang sinar mentari yang menyentuh kulit Shilla.
"Pak Devan." Shilla mendongak dan mendapati dosennya sedang berada di hadapannya.
"Boleh aku duduk?"
"Ini tempat umum pak."
Devan akhirnya duduk di sebelah Shilla. Akhir-akhir ini Devan begitu kesulitan untuk mendekati Mahasiswinya ini. Entah karena dirinya yang sibuk, atau Shilla yang sibuk. Mereka tak pernah memiliki waktu senggang yang pas.
Shilla melanjutkan bacaannya. Sedikit mengabaikan Devan yang duduk di sampingnya. Dia tak peduli pada apa yang dosen itu lakukan. Dia hanya ingin fokus belajar agar kuliahnya cepat selesai.
"Kok aku di abaikan?"
"Bapak ada perlu sama saya?" Shilla menutup bukunya. Perhatiannya teralih pada Devan sepenuhnya. Sepertinya ada hal serius yang ingin dia sampaikan.
"Tidak. Hanya ingin mengobrol santai denganmu." Devan tersenyum menawan. senyum yang mampu menarik hati wanita ke dekapannya. Namun tidak bagi Shilla.
"Kalau begitu maaf pak, saya harus belajar." Shilla memperlihatkan buku yang sedang ia bawa. Buku mata kuliah Devan yang belum di jelaskan namun sudah ia pelajari.
"Bukankah aku belum mengajarkan sampai ke tahap itu?" Devan kagum dengan kerja keras mahasiswinya ini.
"Benar, tapi saya selalu ingin selangkah lebih maju di banding mereka. Saya harus lulus lebih cepat dari mereka." Shilla kembali serius dalam menyerap materi yang ia baca.
"Kenapa?" Devan penasaran dengan niat Shilla yang harus lulus lebih cepat.
"Apakah anda masih perlu menanyakan kenapa saya harus lulus lebih cepat?" Shilla tersenyum simpul. Dosennya itu tentu saja sudah tahu alasannya. Tapi masih saja berbasa-basi dengan bertanya kenapa.
Devan hanya menanggapinya dengan senyum canggung. Dia merasa malu dengan pertanyaan yang ia lontarkan. Tentu saja karena Kenzo kenapa Shilla harus lulus lebih cepat. Siapa lagi alasan yang pas untuk semangat gadis itu.
Angin membelai kulit mereka. Menggugurkan daun yang telah mengering. Menerbangkannya ke sembarang arah.
"Maaf." Tangan Devan terulur mengambil daun kering yang ada di kepala Shilla. Sejenak mereka bertatapan intens. Sebelum akhirnya Shilla yang lebih dulu memutus kontak mata mereka.
Mereka tak menyadari kalau kesempatan itu di gunakan oleh sebuah tangan jahil yang langsung mengabadikannya dalam kamera ponselnya. Senyumnya menyeringai. Entah kenapa gadis itu selalu saja memperkeruh keadaan. Bercanda yang tak semestinya. Semoga malam nanti kepalanya masih tersambung di badannya.
*
*
*
Saat ini Keano masih memimpin rapat terakhirnya. Harusnya dia sudah terbang ke Jepang, namun Alexi memintanya untuk memundurkan jadwalnya dia pergi. Alexi masih belum berani tampil sendiri. Pada akhirnya Keano menyanggupi permintaan Alexi.
Di tengah-tengah rapat yang sedang genting, ponsel Keano bergetar. Dengan muka kesal ia mengambil dan membuka pesan yang tertera di layar. Wajahnya langsung masam. Bahkan atmosfernya sudah berubah menjadi panas.
"Kamu lanjutkan rapat ini. Tidak ada bantahan." Keano memberi instruksi pada Alexi. Tentu saja dia juga meninggalkan Leon di sampingnya untuk membantu Alexi melanjutkan rapat.
Dengan langkah tegas penuh dengan amarah yang meluap-luap, dia berjalan ke basement tempat mobil miliknya terparkir. Ia buka dengan kasar pintu mobil mewahnya lalu tak segan untuk membantingnya ketika menutup.
Keano marah sekali. Sepertinya peringatan dengan ucapan tak akan mempan untuk seorang dosen yang berpendirian teguh. Berani sekali dia membelai rambut gadisnya. Yang lebih membuat salah paham lagi, di foto itu Devan membelakangi kamera dan terlihat hendak mencium Shilla. Rayna memang fotografer yang handal. Dia bisa memilih angel dari sudut yang pas. Hingga Keano kehilangan atas kendali dirinya.
"Awas kamu Devan. Mati! Mati!" Keano melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia tak peduli lampu merah yang menghadang. Sesekali ia akan memukul-mukul stir guna meluapkan emosinya.
Bahkan suara klakson juga saling bersahutan tatkala Keano melewatinya seperti angin. Tak sedikit kejadian yang hampir menimbulkan kecelakaan maut. Namun sepertinya nyawa Keano masih disayang sama yang maha kuasa. Atau mungkin malaikat maut enggan untuk mencabut nyawanya.
Suara ban mobil berdecit kasar di plataran parkir kampus. Semua mahasiswa ataupun mahasiswi menoleh ke sumber suara yang membuat gaduh. Keano keluar dari mobil, semua mata tertuju padanya. Bukan hanya sekali Keano datang ke kampus ini. Mereka sudah tahu siapa yang akan ditemuinya. Namun apa salahnya mereka memanjakan mata melihat lelaki idaman berjalan tepat di depan mereka. Toh sang gadis belum ada di sampingnya.
Langkah kaki itu berjalan ke ruang Dekan. Tak butuh waktu lama untuk menemukannya. Dia hanya perlu menyuruh seseorang untuk mengantarnya.
"Ini ruang Pak Guntoro tuan." Seorang mahasiswa yang mengantar Keano langsung pergi setelah mengantar Keano ke ruang Dekan yang tak lain adalah Guntoro, anak dari adik sang nenek Keano.
Keano mengangguk. Tak ingin berlama-lama dia langsung masuk tanpa permisi.
Tentu saja Guntoro yang masih berkutat dengan gamenya langsung terkejut gelagapan. Iya, kalian gak salah baca. Dia sedang bermain game yang sedang digandrungi oleh anak muda zaman sekarang. Sebagai ganti masa lalunya mungkin, masa zaman Guntoro kecil belum ada game, cuma ada permainan tradisional yang sekarang mulai punah. Yah apa salahnya Guntoro mengikuti perkembangan zaman.
"Jadi seorang Dekan kerjaannya seperti ini ya?" Keano menyeringai.
"Ah... eh.. em, Ini mainan anakku, aku cuma memeriksanya, takutnya ada konten yang tak pantas." Guntoro menggaruk tengkuknya yang tak gatal.
"Bahkan anakmu lebih tua dari aku." Keano mencibir.
"Eh, e...ah cucuku."
"Anakmu belum menikah kalau kau lupa." Guntoro menepuk jidatnya lelah. Dia tak mengerti kenapa anak dari bibinya ini begitu pandai. Ya sudahlah, karena sudah ketahuan, ia lebih memilik mengakuinya.
"Dan apa yang membuatmu menemui ku.? Guntoro tak sabar dengan apa yang akan di sampaikan oleh Keano.
"Urus cuti kuliah untuk mahasiswi bernama Nashilla Clarisa Maheswari." Tanpa basa basi Keano mengutarakan maksud dan tujuannya dia datang.
"Eh?" Guntoro sedikit terkejut.
Sebenarnya Keano tak ingin memaksa Shilla untuk ikut dengannya. Namun seiring berjalannya waktu dia jadi sedikit takut kalau Shilla akan di culik oleh lelaki lain. Bukan maksud dia tak percaya dengan gadisnya, namun dia hanya berjaga-jaga. Shilla terlalu mempesona untuk di lewatkan oleh lelaki normal.
Dan di sinilah sekarang. Shilla marah-marah di apartemen Keano karena Keano mengajukan cuti kuliah tanpa persetujuannya.
"Shil, dengarkan dulu, jangan marah-marah." Keano masih terus mencoba menenangkan kekasihnya yang lepas kendali. Sayang sekali Kenzo tak disini. Hanya anak itu yang mampu menghentikan kemarahan Shilla.
"DENGAR APA. KARENA KECEMBURUAN SEPIHAKMU, KAMU JADI EGOIS. APA KAMU NGGA TAHU KALAU AKU SEDANG MENGEJAR WAKTU UNTUK KULIAH YANG LEBIH SINGKAT!!" Shilla meneguk minuman yang ada di meja untuk membasahi tenggorokannya. Kerongkongannya terasa kering karena terlalu lama berbicara dengan nada tinggi.
"Oke, kalau emang mau marah-marah terus silahkan, aku menunggumu." Ujar Keano kalem.
Entah berapa lama segala sumpah sarapah yang Shilla keluarkan, hingga akhirnya dia lelah sendiri. Dia duduk di sofa dan menenggak air putih langsung dari botolnya. Nafasnya terengah. Matanya masih nyalang belum mereda.
"Sudah?" Keano menghampiri Shilla dengan lembut. Memang benar, karena dia terlalu cemburu dia jadi mengambil jalan sendiri tanpa berdiskusi. Tapi ini ia lakukan untuk Shilla. "Bacalah." Keano menyerahkan beberapa lembar kertas dokumen untuk Shilla.
Shilla merebutnya dengan kasar. Dia membaca ogah-ogahan. Namun seketika matanya menyala. Binar indah terpancar di mata teduhnya.
"I...ini..." Shilla tak mampu berkata-kata. Di tangannya adalah dokumen pertukaran mahasiswa untuk kuliah di Jepang sana. Shilla menangis terharu, juga menangis merasa bersalah. Dia tak mendengarkan penjelasan Keano dulu dan langsung memarahinya. Kini dia malah di beri kesempatan untuk kuliah di Universitas ternama di negeri sakura sana.
Shilla bangkit dan langsung memeluk Keano. Dia menangis tersedu di dekapannya.
Keano yang tak siap langsung limbung di terjang Shilla. Mereka berguling di karpet dengan Shilla yang berada di atas tubuh Keano. Gadis itu memeluknya erat. Rasa bahagia dan haru menyelimuti keduanya.
"Seneng?" Keano mengejek Shilla yang masih enak-enakan berbaring di atas badannya.
Shilla langsung beringsut malu. Dia menyembunyikan wajahnya di perpotongan leher Keano. Menghirup aroma maskulin lelaki yang sudah mengambil hatinya.
"Lain kali jangan langsung marah-marah. Aku tahu kamu sangat menyayangi kuliahmu, mana mungkin aku mengambil cuti untukmu untuk hal yang tak berguna." Keano mencubit hidung Shilla sayang.
"Aw..." Shilla mengelus-elus hidungnya yang memerah. "Habisnya kamu tiba-tiba datang dan meminta cuti untukku setelah dijahili si Rayna sialan itu."
"Bukan sialan. Dia adalah mata untukku." Keano nyengir lebar.
"What!!!" Shilla bangkit dengan tak elegan. "Sial!"
Bersambung...
***Mohon Perhatiannya***
Kalau misalnya author ingin mengadakan Challenge kalian berminat g ya?
Silahkan komen kalau kalian berminat. Kalau banyak yang minat author akan mengadakan Challenge.
✓Ada hadiahnya g thor?
Tentu saja ada dong
✓Hadiahnya apaan thor?
Di bahas di pengumuman selanjutnya kalau banyak yang minat
✓Challenge apaan thor?
Kalau banyak yang minat author kasih pengumuman khusus Challenge
✓Susah gak thor?
engga dong
✓Syaratnya apaan untuk ikut?
nanti di bahas di pengumuman kalau banyak yang minat
Oke segitu aja dulu. Kalau banyak yang minat nanti author kasih pengumuman khusus. Tapi kalau tidak ada yang berminat atau sedikit peminatnya, abaikan saja pengumuman tak penting ini. 😉