Young Mama

Young Mama
Bab 57: ~Tinggal Bersama?~



Deru ombak berkejar-kejaran di lautan. Berlomba untuk mencapai garis pantai. Terlihat sepasang anak manusia yang tengah bercanda ria bermandikan pasir putih.


Mereka bercanda. Tak peduli bagaimana orang sekitar melihat mereka. Apa mereka bahagia? Sangat. Sangat bahagia. Apa mereka sepasang kekasih? Sayangnya bukan. Mereka hanyalah seorang teman yang tak sengaja bertemu dan semakin dekat.


Kalau di antara mereka ada cinta, itu hanyalah cinta sepihak. Namun mereka tetap bahagia menjalani kehidupan yang seperti ini. Biarlah waktu yang memberi kesempatan bila memang ditakdirkan bersama. Biarlah pula waktu yang menjawab cinta yang telah lama terabaikan.


"Susan, lihatlah. Bukankah kau terlihat sangat cantik." Seorang lelaki memperlihatkan sebuah foto yang diambilnya secara diam-diam. Dia mengabadikan ketika seorang wanita yang di panggil Susan tengah bermain air dan rambut panjangnya tertiup angin. Sungguh, terlihat manis sekali.


"Apa-apaan Mamoru, kau diam-diam memotret ku?" Wanita itu tampak merajuk. Dia malu Mamoru mengambil gambarnya secara diam-diam. Dan apa-apaan tadi. Mamoru bilang dia cantik. Apa Mamoru sedang menggodanya. Susan menggelengkan kepalanya. Dia tak mau terlalu membawa perasaan. Dia tak ingin menyakiti Mamoru sahabatnya.


"Kenapa? Kamu memang cantik Susan." Mamoru masih memandangi foto hasil jepretannya. Dia ingin sekali berlama-lama di sini bersama Susan. Di Pulau Dewata yang menjadi saksi kisah mereka. Namun apalah daya, Mamoru harus kembali ke negeri Sakura.


Seketika saja Mamoru tampak murung. Dia masih ingin berlama-lama bersama wanita yang sudah merebut hatinya ini. Tapi organisasi yang sedang dirintisnya pasti akan kacau kalau dia pergi terlalu lama.


"Susan, apa kamu mau ikut aku ke Jepang?" Mamoru mencoba membujuk Susan untuk ikut ke Jepang. Sebenarnya dia tahu, Susan tak akan menyetujuinya, namun apa salahnya untuk mencoba.


"Aku? Ke sana lagi? Apa kau lupa ketika musim dingin tiba. Aku tak terbiasa dengan udara di sana."


Susan langsung menolak ajakan Mamoru. Dia pernah ke Jepang. Waktu dia ke sana, di sana musim dingin sedang berlangsung. Dia yang awalnya ke sana untuk berlibur jadi tak menikmati liburannya. Badannya tak bisa menerima perubahan udara yang terlalu ekstrim. Bukan berarti Susan dari keluarga kaya bisa berlibur ke Jepang. Dia adalah satu dari puluhan ribu orang yang beruntung mendapatkan kupon undian liburan. Namun siapa sangka, karena liburan yang kacau itu dia bisa mengenal Mamoru. Bahkan saat Susan kembali ke tanah air, Mamoru mengikutinya.


Suatu kejutan bagi Susan. Dia tak pernah menyangka kalau Mamoru akan mencarinya. Hubungan yang ia kira hanya sebatas kenal nyatanya berlanjut menjadi persahabatan tak terpisahkan.


"Ayolah Susan, itu kan dulu. Kamu hanya belum terbiasa dengan iklim di sana. Tapi kalau kamu menetap lama, tubuhmu akan terbiasa." Mamoru terus saja merayu.


"Maaf Mamoru. Tapi aku lebih suka di sini. Di tanah airku sendiri. Kalau kamu liburan ke sini lagi, kau sudah tahu harus mencariku di mana." Susan tersenyum menenangkan hati sahabatnya. Melihat Mamoru murung, sebenarnya ia tak tega. Namun ia tetap tak bisa meninggalkan tanah kelahirannya ini. "Besok kita akan berangkat bersama. Kamu terbang ke Jepang, dan aku akan kembali pulang. Di sini, di pulau Dewata ini, akan menjadi saksi persahabatan kita."


Ngilu rasanya. Susan hanya menganggap mereka sahabat. Namun Mamoru tak akan memaksa. Mungkin suatu saat, Susan bisa membuka hati untuknya. Dia tak perlu terburu-buru. Dia hanya harus berjalan pelan namun pasti untuk mengetuk hati Susan agar menerimanya.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Untuk kedua kalinya, Shilla menginjakkan kaki di negeri sakura ini. Pertama sekitar tiga tahun yang lalu ketika dia mengikuti kejuaraan Karate. Waktu dimana ia mulai mengasuh Kenzo sang buah hati. Dan harus merelakan olimpiade-olimpiade yang telah menunggunya. Kedua, sekarang ini ia menginjakkan kaki lagi di sini, bersama dengan anak yang diasuhnya, yang telah tumbuh menjadi anak cerdas.


"Semua masih tetap sama." Ucap Shilla lirih.


Namun telinga Keano masih bisa menangkap suara kecil Shilla.


"Kamu pernah ke Jepang?" Keano langsung bertanya karena penasaran. Kok dia bisa tidak tahu kalau Shilla pernah ke Jepang.


"Ya, pernah. Waktu mengikuti kejuaraan Karete." Shilla menjawab dengan tenang. "Dan saat itu pula pertama kali berjumpa dengan baby Kenzo." Batin Shilla menerawang saat kejadian itu.


Keano dan Leon mengangguk mengerti. Tak ada lagi pertanyaan lain. Mereka berjalan keluar dari bandara dengan Kenzo yang tertidur di gendongan Leon.


Saat ini Leon terlihat seperti pengasuh. Lelaki dan perempuan berjalan di depannya asik bergandeng tangan. Sedangkan Leon kesusahan menggendong Kenzo yang semakin lama semakin bertumbuh.


"Selamat datang kembali tuan Kenji." Banyak orang yang menyambut kedatangan Keano dan Leon. Puluhan orang berjejer membentuk barisan membungkuk memberi hormat.


"Selamat datang kembali tuan." Seorang wanita dengan tampilan yang mencolok menghampiri Keano dan segera memberi hormat.


Di belakang sana senyum Leon merekah. Dia sudah sangat merindukan wanita itu.


"Kau tak perlu menjemput kami Rose." Keano memberi isyarat untuk mereka berdiri kembali.


"Sudah tugas saya menyambut kedatangan ada tuan."


Rose membimbing mereka ke mobil yang telah ia siapkan. Shilla hanya sedikit heran, dia tahu kalau Keano kaya, tapi ia tak menyangka kalau kekasihnya itu benar-benar dari kalangan atas.


"Tidak perlu merasa bingung. Satu persatu kamu akan mengerti. Bukankah kamu sudah mengetahui kalau aku adalah Kenji."


"Kalau aku hanya orang biasa, tak mungkin bisa merebut perusahaan di Indonesia dengan mudah." Keano menampilkan Smirk yang sangat mengerikan.


Yah hanya sebatas itulah Shilla mengetahui Keano. Sebatas Keano adalah orang terkemuka. Namun Shilla masih belum mengetahui sisi gelap Keano. Sisi yang berhubungan dengan geng-geng besar dan juga mafia-mafia internasional. Shilla belum tahu. Dia hanya tahu Keano memiliki senjata hanya sebagai hobi saja.


Di sini, dia akan mengetahui sisi Keano yang sebenarnya. Apakah Shilla akan berlari atau tetap berada di sisinya, semua akan berawal dari sini. Namun tak peduli Shilla lari kemana, tentu Keano akan terus mengejarnya.


***


"Selamat datang di rumah kita." Keano tersenyum menggoda Shilla.


Kali ini Keano mengajak Shilla ke rumah besar yang telah lama ia siapkan. Sebenarnya rumah ini ia persiapkan ketika ia sudah menikah dengan Violeta, namun ternyata takdir berkehendak lain. Makanya selama ini, semenjak kepergian Violeta, Keano lebih suka di apartemen saja. Ia tak ingin berlarut-larut mengenang kekasihnya yang telah tiada.


"Kalau kamu tak suka interiornya, kamu boleh merubah sesuka hatimu. Ini semua pilihan Vio, jadi mungkin tak sesuai selera mu."


Ada sesuatu yang menggelitik hati Shilla. Namun Shilla tak tahu itu apa. Sedikit nyeri, tapi Shilla tak mengerti karena apa. Apa karena ini adalah pilihan Violeta kekasih Keano terdahulu? Atau karena mereka dulu pernah menghabiskan waktu bersama di rumah ini sehingga membuatnya cemburu. Entahlah.


"Mereka belum pernah menempati rumah ini." Suara Rose membangunkan Shila dari lamunannya. Dia seakan mengerti apa yang ada di pikiran gadis itu.


Shilla menoleh menatap Rose bertanya-tanya. Dari sorot matanya, Shilla menuntut penjelasan lebih lanjut.


"Apa lagi? Aku bilang kalau mereka belum pernah menempati rumah ini. Ini memang semua pilihan nona V, tapi baru saja selesai direnovasi, nona V malah..." Rose tak berniat melanjutkan kalimatnya. Terlihat raut sedih di muka tuannya. Ia tak mungkin membuka kisah yang sudah susah payah Keano kubur.


"Kalau kamu tetap tak suka, kita bisa membeli rumah baru." Final Keano. Dia mengerti kenapa Rose menjelaskan seperti itu. Itu karena Shilla merasa terasingkan. Keano menatap Rose berterimakasih atas penjelasan yang telah ia jabarkan tadi. Yang dibalas anggukan oleh sang asisten wanita.


"Tidak. Tidak perlu ada perubahan, tidak perlu rumah baru. Menghamburkan uang." Shilla menjawab dengan tegas. Dia tak ingin menuntut Keano lebih. Ia tak mungkin meminta Keano melupakan kekasihnya. Dia bukan gadis egois yang hanya memikirkan dirinya sendiri. Dia tahu, bahkan hingga detik ini, rasa untuk Violeta masih tetap ada. Masih tersimpan rapi di hati yang paling dalam. Tapi Shilla bisa menerima itu. Dia tahu bagaimana rasanya ditinggalkan oleh orang yang sangat dicintainya. Dia sudah pernah mengalami sendiri. Jadi, tak elok rasanya kalau dia memaksa Keano melupakan Violeta hanya untuk dirinya. Karena shilla juga tahu, kalau namanya telah terukir di hati Keano berdampingan dengan nama Violeta. Dia akan berdamai dengan masa lalu Keano. Bahkan kalau Keano mengizinkannya, ia ingin lebih mengenal sosok wanita yang sangat dicintainya itu.


"Apa kamu yakin?" Keano sedikit ragu. Tak ada gadis yang mau kekasihnya mengingat kekasihnya terdahulu. Namun di hadapannya kini, berdiri sosok wanita yang dapat menerima segala kekurangannya.


"Sangat yakin malah." Shilla tersenyum. Tak ada keterpaksaan di sana. Yang ada hanya senyum penuh kasih sayang.


Keano ikut tersenyum bangga. Dia tak salah memilih Shilla sebagai kekasihnya.


"L, bawa Kenzo ke kamarku dulu. Besok baru siapkan kamar untuknya. Kamu juga pasti lelah." Keano memberi perintah pada Leon yang langsung Leon kerjakan. "Maaf, aku tak ada pikiran untuk punya anak di usia muda, jadi belum ada kamar untuk anak, besok aku akan menyiapkan kamar untuk Kenzo."


"Tak apa Kei, Kenzo tidur sama aku juga tak apa. Bahkan Kenzo sendiri juga belum terbiasa untuk tidur tanpa aku di sampingnya. Jadi pelan-pelan saja. Tak perlu buru-buru."


Keano hanya menangisi nasibnya. Maksud hati untuk memberikan Kenzo kamar sendiri supaya ia lebih leluasa bersama Shilla. Ternyata meski dia seorang ibu, polosnya masih mendarah daging.


"Kamu dan Leon juga tinggallah disini, Rumah ini terlalu besar untuk di tinggali berdua."


Mendengar tuannya mengajaknya tinggal bersama tentu saja membuat Rose senang. Dia semakin mengagumi sosok tuannya yang sudah bijaksana sejak muda. Dia sangat berterimakasih. Dia akan selalu mengabdi, bahkan akan menyerahkan nyawanya jika Keano meminta.


Bersambung...


Jangan lupa tinggalkan 👣 dengan cara klik👍 juga ❤️ dan jangan lupa juga vote yang banyak ya.


cek juga cerita author yang lain


👉 Psycopath itu Kekasihku


👉Twin's


Bye bye. Sampai jumpa di bab selanjutnya😘