
Shilla pulang dengan hati riang. Ia mengucap salam dan di sana Kenzo sedang asik bermain kuda-kudaan bersama Feli. Kenzo tertawa senang berada di punggung Feli, berbanding terbalik dengan Feli yang sepertinya sudah kelelahan.
Melihat ibunya pulang, Kenzo langsung berlari memeluk ibunya. Shilla meletakkan bawaannya dan langsung mengangkat Kenzo tinggi-tinggi. Kenzo yang di angkat tinggi hanya tertawa kegirangan. Setelahnya pipi Kenzo ia hujani dengan ciuman.
"Kau sudah pulang?" Feli bangkit dari acara merangkak seperti Kuda.
"Ya. Aku kira akan pulang terlambat karena hari ini aku melamar pekerjaan lain, ternyata mulainya masih besok." Shilla membawa Kenzo kedalam pangkuannya. Ia bersyukur pekerjaannya di mulai hari esok, dengan begitu untuk merayakan ulang tahun Kenzo tak kan terlalu kemalaman.
Ia bercanda sebentar dengan anak kesayangannya sebelum pergi untuk membersihkan badan.
"Kak Fel, hari ini ulang tahun Kenzo, nanti kita rayakan di rumah bu Farida. Bagaimana pun beliau sudah mengurus Kenzo sejak kecil."
"Oke. Aku mandi dulu." Feli bersiap mandi.
Sambil menunggu Feli selesai mandi, ia menyiapkan makan siangnya. Begitu sibuknya sampai dia tadi melewatkan jam makan siang. Tak perlu makanan mewah, yang penting bisa mengenyangkan perut.
Melihat ibunya makan, sepertinya Kenzo juga ingin makan. Ia suapi sedikit demi sedikit makanan yang baru saja di buatnya. Ia tambahkan telur mata sapi untuk Kenzo, bagaimanapun anaknya masih butuh asupan gizi yang cukup.
Selesai makan, Feli juga telah selesai mandi. Shilla langsung mandi bersamaan dengan Kenzo. Shilla memang suka membawa Kenzo mandi bersama, selain untuk mempersingkat waktu, mandi bersama sang buah hati bisa lebih mengeratkan ikatan antara ibu dan anak.
Kenzo bermain-main di bak mandinya selagi menunggu ibunya menyelesaikan acara mandinya. Shilla yang melihat itu tersenyum dan dengan segera ia menyudahi mandi singkatnya. Ia tak ingin anaknya sakit karena terlalu lama berendam.
.
.
.
Mereka telah sampai di rumah Bu Farida yang hanya berjarak beberapa rumah saja dari kontrakannya. Rumah-rumah yang berjajar di sinipun juga rumah kontrakan milik Bu Farida. Rumah-rumah itu sudah terisi semua, ada yang sudah berkeluarga, ada pula yang kuliah seperti dirinya. Kontrakan Bu Farida selalu penuh, di samping harganya yang relatif lebih murah, juga kawasannya yang bersih. meskipun kontrakan sederhana, namun bu Farida selalu menjaga kebersihan di kontrakannya sebelum di kontrakkan ke orang lain.
Bu Farida menyambut Kenzo dengan antusias. Seharian dia tak bersama Kenzo membuat dia kesepian. Mengetahui rencana Shilla yang ingin merayakan ulang tahun Kenzo di rumahnya membuat dia semakin berbinar-binar. Beliau langsung menyiapkan kue yang di bawa oleh Shilla, juga makanan yang telah di siapkan Feli.
Meskipun dirayakan di rumah Bu Farida, ia tak ingin merepotkan bu Farida menyiapkan makanan. Jadi ia bawa seluruh makanan juga kue ke rumah Bu Farida, beserta dengan hadiahnya sekalian.
"Terima kasih nak, kamu sudah mau melibatkan Ibu yang sudah tua ini untuk ikut merayakan ulang tahun Kenzo." Bu Farida terlihat bersemangat.
"Tentu harus dengan ibu. Ibu juga sudah membesarkan Kenzo seperti cucu ibu sendiri." Shilla sangat berterima kasih kepada bu Farida, tentu saja ketika ulang tahun Kenzo, di sana beliau juga harus ada.
Kenzo juga terlihat sangat senang. Ia berlarian kesana kemari menunggu para orang dewasa menyiapkan ulang tahunnya. Meskipun sebenarnya ia juga tak mengerti apa yang orang-orang dewasa itu lakukan, namun ia sangat menyukai keramaian ini.
"Kami pulang dulu bu, sepertinya Kenzo sudah kelelahan." Shilla pamit kepada bu Farida setelah dia selesai bersih-bersih rumah bu Farida akibat ulah mereka.
Bu Farida menoleh ke arah Kenzo yang sudah terbaring di sofa. Dengan mata sedikit mengantuk dan wajah yang masih belepotan coklat, ia berbaring memeluk mobil-mobilan hadiah dari sang ibunda.
Bu Farida mengangguk merelakan kepergian Kenzo, meskipun setiap hari dia merawatnya, tak ada bosannya jika sudah bermain dengan pria kecil itu.
Shilla menggendong Kenzo yang sudah tak lagi aktif. Rasa lelah memaksanya bersandar pada bahu Shilla. Sedangkan Feli sendiri membawa kado milik Kenzo.
"Kita cuci muka dulu ya sayang." Shilla langsung membawa Kenzo ke kamar mandi. Ia bersihkan sisa-sisa coklat dan menggosok gigi Kenzo. Tak lupa dia mengganti pakaiannya dengan pakaian bersih. Setelah semua beres, ia tidurkan Kenzo ke dalam pelukannya. Tak butuh waktu lama, langsung terdengar dengkuran halus dari Kenzo tanda ia telah tertidur pulas.
Shilla mengelus pucuk kepala Kenzo dengan sayang. Ia cium kening dan pipi anaknya sebelum ia bangkit kembali untuk menyelesaikan tugasnya.
Malam setelah Kenzo tidur, adalah waktu untuknya mengerjakan tugas kuliah. Meski lelah melanda, namun dia tak pernah mengeluh sedikitpun dengan keadaannya. Hari ketika dia mulai merawat Kenzo, ia sudah bertekad tak akan pernah menelantarkan anak itu, kalau sekarang dia mengeluh dengan tugas-tugasnya yang begitu banyak, ia tak akan sukses suatu hari nanti. Dia harus menjadi seorang ibu kebanggaan sang anak, jangan sampai anaknya menderita karena kemalasannya.
Lama dia berkutat dengan tugas yang menguras energi, perutnya menjadi lapar. Sebelum dia makan ia bereskan dahulu agar nanti bisa langsung istirahat.
Ia berjalan ke dapur yang begitu minimalis mengambil sebungkus mie instan. Tak lupa ia tambahkan telur juga sayuran hijau untuk melengkapi gizinya, walau sebenarnya yang benar agar isinya lebih banyak. Dengan lihai ia meracik serta menambahkan berbagai bumbu. Sekitar sepuluh menit kemudian hidangan siap untuk ia santap.
Ketika Shilla sedang menikmati makanan dini harinya, Feli keluar kamar dengan rambut acak-acakan. Ia pergi ke kamar mandi, mungkin untuk membuang air yang memenuhi kandung kemihnya.
"Shilla, shilla, kamu tiap tengah malam makan tetap aja badanmu ngga melar." Tegur Feli setelah ia selesai dengan urusannya.
"Itulah istimewanya tubuh ku." Tanggapan Shilla membuat Feli sedikit cemburu. Kalau ia yang makan tengah malam, pasti besoknya berat badannya langsung tambah beberapa kilo.
"Kalau udah makan langsung tidur, lihat tuh udah jam 1, jangan terlalu diforsir, kalau sampai sakit kasihan Kenzo." Feli sebagai kakak yang baik menasehati Shilla.
"Siap bos." Shilla memberi hormat kepada Feli membuat orang yang di hormati memutar bola matanya.
Tak memperdulikan lagi apa urusan Shilla, Feli langsung ke kamar meneruskan tidur cantiknya.
Shilla tersenyum dengan keadaannya. Dia tak pernah sendiri. Orang-orang selalu peduli dengan dia dengan cara mereka sendiri-sendiri. Shilla sudah menyelesaikan makannya. Ia cuci agar besok pagi tak menumpuk.
Ngantuk sudah melanda. Matanya sudah tak bisa untuk di ajak berkompromi. Badannya juga sudah minta untuk diistirahatkan. Ia masuk dan mendapati Kenzo sudah berubah posisi. Ia peluk sang anak dan memejamkan matanya menyambut hari esok yang indah.
Bersambung....