
K dan V berjalan mengendap saat tahu di depan mereka ada musuh yang masih mencarinya. Mereka bersembunyi di antara semak yang tinggi menyusun taktik untuk menjatuhkan beberapa orang yang kini semakin mendekat. Untung saja semak dan kegelapan malam menyembunyikan keberadaan mereka berdua.
Mereka menahan napas saat salah seorang musuh melewati. Bahkan di hutan yang hening seperti ini, suara detak jantung pun dapat terdengar dengan jelas. Apalagi detak jantung V yang bergemuruh lantaran posisi mereka yang sangat dekat. Bahkan V dapat mencium wangi Khas yang dimiliki oleh K. Wangi maskulin yang dapat memabukkan setiap wanita yang ada didekatnya.
'Ya Tuhan, jangan sampai aku terkena serangan jantung.' Batin V saat K membawa V kedalam pelukannya.
Bukan pelukan mesra, namun pelukan melindungi agar mereka semakin menghilang di telan semak dan tak ada musuh yang menyadarinya.
Sontak saja pipi V langsung merah padam. Mukanya menempel pada dada bidang K. Tangannya tak sengaja menyentuh perut kotak-kotak milik K. Pahatan Tuhan yang begitu sempurna. Apalagi tangan kokoh itu juga selalu menjaganya tanpa ia minta. Mungkin V tak perlu memberi syarat pada K harus melampaui tembakannya dulu. Karena V kini telah membuka hati untuk K.
Panas melanda sekujur tubuh V, untung saja suasananya gelap, kalau tidak, dia harus menahan malu yang teramat sangat karena wajahnya yang merah padam. Berada di pelukan seorang lelaki yang sedikit spesial membuat senam jantung.
"Oke, mereka sudah berpencar, kamu bidik yang paling jauh agar teman-temannya tak sadar." K memberi instruksi kepada V. "Di sini hanya ada tiga peluru dari senjata yang kedap suara, kamu bisa menjatuhkan tiga?" K bertanya serius.
"Oke, serahkan padaku."
V mengambil senapan tanpa suara. Dia mulai bersiap membidik target yang paling jauh. Yang terpisah dari teman-temannya. Karena malam pandangan V sedikit mengalami kendala. Apalagi senapan itu tak ada mode malam ataupun pendeteksi hawa panas. V benar-benar harus mengandalkan penglihatannya sendiri.
V fokus mengarahkan moncong senjata pada kepala target. Sebelum membidik, ia mengambil napas terlebih dahulu untuk menetralisir kegugupannya.
K tak berani mengganggu konsentrasi V saat gadis itu serius. Bisa-bisa arah senjata malah berbalik ke arahnya kalau berani mengganggu V saat sedang fokus.
Tiga peluru, harus melumpuhkan tiga orang. Tidak boleh membuang-buang peluru yang sangat berharga. Total musuh 10 orang, tumbang tiga setidaknya mereka bisa mengatasi yang lainnya.
Telunjuk V menarik pelatuk senjatanya. Tak ada bunyi dari senjata itu. Yang terlihat di depan hanyalah seorang musuh yang ambruk tak bernyawa dengan leleran darah tepat di kepala.
Dua peluru lagi. V mengarahkan kepada musuh yang sedang mengendap-endap sendirian di antara pepohonan.
Lagi.
Musuh langsung tumbang dengan peluru yang sudah bersarang di otaknya.
Satu lagi tersisa. V harus mengambil risiko. Tak ada musuh yang sendirian. Mereka saling memantau. Begitu salah satu tumbang, yang lain pasti akan menyadari.
"Kamu siap K?" V memberi kode.
"Selalu."
"Oke."
V langsung menembak orang yang ia duga pemimpin kelompok mereka. Para anggota langsung siap waspada. Bahkan mereka menembak sembarang arah berharap salah satu pelurunya mengenai K dan juga V.
Perang senjata tak terelakkan lagi. K dan V menembak mereka dari tempat persembunyian. Dari arah datangnya peluru, persembunyian mereka langsung diketahui pihak musuh.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
"Sepertinya pagi ini ada yang berbeda." Leon membuka suara saat sampai di meja makan. Di sana sudah ada Rose yang duduk sambil bercanda dengan Kenzo.
"Entahlah. Rasanya dingin." Rose menanggapi.
Keano memang terlihat tak bersemangat pagi ini. Dia masih merasa bersalah kepada Shilla. Meskipun Shilla tak mempermasalahkan hal itu, dia menjadi tak enak hati dengan sendirinya.
Shilla bersama Harumi membawa sarapan ke meja makan. Nampak wajah Shilla tetap memperlihatkan keceriaan. Gadis itu paling bisa menutupi perasaannya sendiri.
Namun melihat keceriaan Shilla, Keano menjadi semakin merasa bersalah. Karena dia tahu, di balik keceriaan itu tersimpan luka yang dalam.
"Jangan murung, aku tak apa." Shilla yang ada di samping Keano berkata lirih.
Keano menoleh ke arah Shilla yang kini sedang tersenyum kepadanya. Sosok wanita yang sempurna. Segalanya ada di Shilla. Namun tetap saja, Keano masih belum bisa memberikan hati seutuhnya.
Saat Shilla hendak beranjak, tiba-tiba Keano memeluk pinggang Shilla. Seperti anak kecil yang tengah merajuk pada ibunya, seperti itulah Keano saat ini.
Bahkan Kenzo pun menertawakan kelakuan papanya itu.
"Papa ngga mau kalah sama Kenzo kalau manja sama mama."
Semua orang menertawakan Keano. Mereka tak tahu saja, bahwa hati bosnya ini sedang kalut.
"Ternyata seorang Kenji manja juga." Sindir Shilla.
"Kenji kan juga manusia Shill. Kejam di medan perang belum tentu kejam sama wanita yang di sayangi." Balas Keano yang membuat pipi Shilla bersemu.
"Sudah, aku mau selesaikan dulu menyiapkan sarapannya, mereka terlihat sudah lapar." Dengan perlahan Shilla melepas tangan kekar yang melingkari pinggangnya.
"Banyak pelayan di rumah ini. Kenapa harus selalu kamu yang menyiapkannya."
"Karena kalian lebih lahap saat aku yang menyiapkannya."
Akhirnya mau tak mau Keano melepaskan pelukannya dari Shilla. Memang benar, jika Shilla yang menyiapkannya, makanan terasa lebih lezat. Padahal ya sama saja, namun bedanya Shilla menyiapkan tulus dengan penuh cinta, kalau pelayan menyiapkan karena memang sudah kewajibannya.
***
"Mama berangkat kuliah dulu sayang, Kenzo baik-baik sama kak Harumi di sekolah. Oke?!" Shilla memeluk Kenzo sesaat sebelum dia berangkat.
"Oke mama." Kenzo memberi isyarat jempol pada Shilla tanda jangan khawatirkan dia. "Papa antar mama hati-hati. Jangan buat lecet."
Ah pintar sekali mulut Kenzo ini. Semua orang ingin sekali mencubit Kenzo karena dia begitu menggemaskan.
"Jagoan papa tak perlu khawatir. Mama akan selamat sampai tujuan."
Kenzo berangkat dengan Harumi diantar supir pribadi dan beberapa bodyguard. Setelah identitas Kenzo diketahui, pasti akan banyak musuh yang memanfaatkannya. Keano memilih untuk berjaga-jaga sebelum kejadian yang ia khawatirkan terjadi.
"Baiklah ayo kita berangkat."
Ajakan Keano dibalas anggukan Shilla. Mereka bersama menuju kampus Shilla terlebih dahulu sebelum Keano pergi ke kantornya.
"Bagaimana kuliahnya? Sudah bisa beradaptasi dengan baik?" Keano memecah keheningan di antara keduanya.
"Sudah. Aku langsung memiliki teman yang baik kepadaku. Dan asal kau tahu, mereka sangat mengagumi mu." Shilla menutup mulutnya tertawa kecil.
"Apa kamu tak cemburu saat mereka membicarakan ku?" Keano sedikit merajuk.
"Cemburu? Untuk apa cemburu. Karena aku tahu siapa yang ada di hatimu. yang jelas itu bukan mereka. Dan mereka pun punya hak untuk mengagumi siapapun. Termasuk kamu."
Bijak sekali kalimat Shilla ini. Membuat Keano menjadi semakin jatuh ke hati yang paling dalam.
"Sudah sampai. Kuliah yang benar."
"Oke."
Keano keluar dan membukakan pintu untuk Shilla. Tentu saja Shilla yang mendapat perlakuan manis seperti ini langsung tersipu.
Tak jauh dari tempat mereka berhenti, banyak kerumunan mahasiswa seolah sedang mengerumuni seorang artis. Shilla penasaran namun tak ingin ikut berdesak-desakan.
"Kalau begitu aku masuk dulu Kei." Pamit Shilla. Namun Shilla melihat Keano menatap aneh dalam kerumunan itu.
Pancaran rindu yang selama ini terus menghantui datang lagi kini di mata Keano. Shilla tak mengerti apa yang terjadi. Namun saat Keano menyebut satu kata, jantung Shilla seolah berhenti berdetak.
"V."
Bersambung...