
Seorang gadis berlari dengan baju kedodoran khas kerajaan. Dia berlari dengan riang karena sang Putra Mahkota telah kembali dari medan perang. Sang Putra Mahkota yang merupakan calon suaminya menjadi sorotan karena keberhasilannya menakhlukkan dan mempersatukan kerajaan-kerajaan kecil di usia muda.
"Putri... Putri Suzu, pelan-pelan putri." Beberapa pelayan mencoba menghentikan laju lari putri Suzu. Mereka khawatir sang Putri akan terjatuh dan cidera. Mereka sangat menyayangi calon putri Mahkota mereka. Selain baik hati dan cantik, Putri Suzu juga adil dan bijaksana. Sangat cocok dengan Putra Mahkota Kenzo yang sangat bengis dan kejam. Mereka bisa saling melengkapi.
"Cepatlah." Putri Suzu menoleh ke belakang. Di sana pelayan sang Putri terseok-seok mengikuti langkahnya. "Apa karen usia kalian yang menjadikan kalian begitu lambat." Putri Suzu berhenti sejenak. Dia tertawa melihat pelayannya mengatur nafas karena lelah berlari. Ketika tertawa, Putri Suzu terlihat semakin cantik. Pantas saja Putra Mahkota Kenzo sangat menyayanginya.
"Maafkan kami yang sudah tua ini putri." Para pelayan menunduk bersalah.
"Ah kalian ini. Sudah lah." Kembali putri Suzu berlari ke arah aula kerajaan tempat pertemuan penting. Dia sudah tak sabar menemui kekasih kecilnya. Seseorang yang sejak dulu telah menawan hatinya.
🌟🌟🌟
Seorang lelaki bertubuh kekar memasuki aula kerajaan. Langkah tegap menambah ketegasan dan wibawanya. Dengan zirah perang yang masih membalut tubuhnya, dia berjalan melewati beberapa Menteri yang menatapnya kagum. Meskipun ada beberapa yang tak suka.
Dia abaikan pandangan mereka. Fokusnya lurus ke depan. Kepada seseorang yang duduk di singgasana keagungannya. Dengan mahkota yang berdiri tegap di atas kepalanya. Dialah sang Kaisar kerajaan ini.
Di belakangnya juga berjalan seorang pria yang tak kalah tegasnya. Tatapannya bahkan lebih dingin dari Putra Mahkota. Dialah panglima perang negeri ini. Seorang yang berdarah dingin dan kejam, namun kecintaannya pada kerajaan dan negeri ini, dia menjadi orang kepercayaan dari sang Kaisar.
"Ananda menghadap ayahanda Kaisar." Putra Mahkota Kenzo berlutut memberi hormat. Tak lupa ia melepaskan pelindung kepala yang terbuat dari bijih besi. "Ananda menghadap Ibunda Ratu." Lanjut Putra Mahkota Kenzo memberi hormat pada sang Ratu yang duduk tak jauh dari Kaisar.
"Panglima perang Leon menghadap Kaisar dan Ratu." Lanjut seseorang juga memberikan hormat. Dia adalah panglima perang Leon. Sekaligus guru bela diri Putra Mahkota.
"Bangkitlah." Titah sang Kaisar.
Kedua orang yang masih berlutut itu langsung berdiri sesuai titah Kaisar Kenji. Ayahanda dari Putra Mahkota Kenzo.
"Anak ku sayang. Kau sudah kembali." Ratu Shilla langsung memeluk putra kesayangannya. Dia tak peduli dengan semua pasang mata yang menatapnya kaget. Dia hanya ingin segera memeluk putra kecilnya yang sudah berbulan-bulan meninggalkannya.
Kaisar hanya memijit pelipisnya pusing. Dia tak bisa menyalahkan Ratunya. Ratu Shilla memang sangat menyayangi Putra Mahkota. Sikap yang seperti ini sangat wajar di matanya.
"Ibunda Ratu, Ananda mohon jangan turunkan wibawa Ibunda dengan bersikap seperti ini. Banyak pasang mata yang melihat." Putra Mahkota Kenzo sangat tak suka jika Ibundanya dijadikan bahan gosip. Dia lebih memilih seperti orang asing ketika di hadapan para menteri yang bermuka dua.
Ratu Shilla menoleh ke arah menteri yang menatap kedekatan Ratu dan Putra Mahkota. Tatapannya langsung berubah tajam. Semua kepala langsung menunduk tak berani menatap langsung Ratu mereka.
"Siapa yang berani mempertanyakan kedekatan ku dengan anak ku sendiri?!" Tanya tegas Ratu Shilla membuat mereka semua semakin gemetar. Bagaimanapun anggunnya Ratu sekarang, dulu saat muda sang Ratu adalah jenderal perang terkemuka yang berhasil merebut kerajaan yang menjadi musuh utama kerajaan ini. Dan kemampuan bela dirinya masih belum menurun. Bahkan Putra Mahkota Kenzo masih belum bisa menandingi sang Ratu.
"Ratu ku, kemarilah. Ini adalah hari bahagia. Jangan kau takuti mereka dengan tatapan mu yang seolah bisa memenggal leher merek." Kaisar akhirnya berbicara menengahi. Dia gak ingin jiwa perang Ratunya bangkit kembali.
"Tapi hamba masing merindukan anak hamba paduka." Ratu Shilla tak terima dengan perintah Kaisar. Dia merasa akan di pisahkan dengan anaknya.
"Kalian bisa bersenda gurau nanti. Tapi sekarang waktunya putra kita memberikan laporannya."
"Selalu saja seperti itu. Kalau sudah soal pekerjaan kau selalu menindas putra ku." Ratu Shilla mau tak mau kembali ke tempat duduknya dengan wajah kesal. Namun dia tetap mendengarkan laporan yang di sampaikan oleh putranya.
Di saat Putra Mahkota Kenzo melaporkan kepada Kaisar, pintu tiba-tiba terbuka secara kasar. Semua yang ada di dalam aula terkejut. Di pintu itu berdiri putri Suzu yang langsung mencari keberadaan kekasihnya.
"Putri, kau kenapa menyusul kesini. Aku akan menemui mu setelah pertemuan ini." Putra Mahkota membalas pelukan dari sang putri.
"Aku sudah sangat merindukanmu pangeran." Putri Suzu menangis sesenggukan.
Di antara para menteri, ada ayah Suzu. Dia sangat malu dengan kelakuan putrinya. Dia tak menyangka bahwa adat dan sopan santunnya yang telah putrinya pelajari tak dipakai. Dia terlalu malu menghadap sang Kaisar jika seperti ini.
"Uggghm!!!" Kaisar berdehem membuat Putra Mahkota dan Putri Suzu langsung melepaskan pelukan mereka.
"Sepertinya sudah saatnya kita menikahkan mereka." Ratu Shilla tak tertinggal untuk menyela.
Keduanya langsung merona mendengar penuturan sang Ratu.
"Tapi mereka masih sangat muda Ratu ku." Kaisar Kenji tak menyetujui usulan Ratu Shilla.
"Memangnya kenapa. Dulu aku di nikahkan dengan mu juga masih sangat muda. Padahal aku masih ingin bersenang-senang." Ratu Shilla tak mau kalah.
"Jadi Ratu menyesalinya?"
"Tidak."
"Tidak?"
"Aku tak menyesal. Karena berkat menikah di usia muda aku bisa melihat anakku tumbuh dan menjadi Raja yang besar nantinya."
"Ratu ingin segera suamimu ini mati?"
Pertengkaran Raja dan Kaisar tak terelakkan. Namun di mata para bawahannya, pertengkaran mereka sangat romantis. Tidak ada kebencian di mata keduanya. Yang ada adalah pancaran penuh cinta.
🌟🌟🌟
Akhirnya hari yang di tunggu tiba. Sesuai kesepakatan, hari ini adalah hari pernikahan Putra Mahkota dengan Putri Suzu. Semua bersuka cita. Semua mendoakan untuk keluarga mereka.
"Apa kita harus menambah anak lagi?" Kaisar berkata jahil kepada Ratu.
"Apa anak-anak dari selir mu masih kurang?"
Ratu langsung cemberut. Dia tak peduli dengan panggilan Kaisar dan kecemasannya.
Tamat
Hallo semuanya. Ini adalah episode spesial. Jadi tak ada sangkut pautnya dengan cerita aslinya ya. Kenapa Chan buat episode spesial? Bukan nerusin cerita aslinya saja? Karena Chan lagi mencari semangat untuk bangkit kembali. 😂😂😂 Jadi mohon di maklumi. Jadi mungkin akan ada episode spesial lagi nanti kedepannya sebelum melanjutkan cerita utama. Jadi tolong jangan bosan dengan cerita ini ya. Maafkan Chan yang menggantungkan kalian semua. Bukan maksud Chan membuat cerita ini menggantung. Tapi karena berbagai alasan jadi memang harus seperti ini. Semoga semua cepat kembali ke alur yang semestinya. Jadi Chan bisa melanjutkannya lagi. Terima kasih atas doa dan dukungan kalian semuanya. Love u all.