
Dua orang sedang mengintai dengan senapan masing-masing. Dia adalah V dan K yang sedang mengintai jalannya transaksi jual beli obat-obatan terlarang. Memang bukan urusan mereka sebenarnya, namun kali ini mereka sedang menantang satu sama lain. Seperti janji sebelumnya, kalau K bisa melampaui jarah terjauh V, maka V harus mau menjadi kekasih Kenji.
"Kenapa kamu tidak bersiap?" K bingung kenapa V masih saja diam memperhatikannya.
"Kali ini aku tak akan ikut. Aku akan memakai rekorku sebelumnya. Ini adalah hari mu, silahkan dinikmati."
"Oke, kalau begitu jangan menyesal."
K bersiap membenarkan posisinya. Dengan senjata McMillan Tac-50 dengan amunisi Hornady A-MAX.50 (50 BMG). K mulai mengamati sasarannya. Dia fokus dan tak bisa di pecah konsentrasinya. Dia harus mendapatkannya. Ini adalah kesempatan langka.
Saat di rasa sudah siap dan pas, Ke menarik pelatuknya. Peluru melesat cepat mendekati sasaran. Sasaran tumbang membuat yang lain bubar kocar-kacir.
"Baiklah, kita sudah perhitungkan, kalau aku bisa menembak tepat, jarak dari sini ke sana lebih dari 3600 meter. Jadi aku menang."
V tersenyum. Iya mengakui kalau K pasti mampu mengalahkannya. Mengalahkan segalanya. Baik kemampuannya juga hatinya.
"Iya kamu menang."
"Jadi kamu mau menjadi kekasihku?"
"Tentu."
Tanpa di minta V langsung ******* bibir Kenji mesra. Kenji yang tak siap hanya diam mematung. Dia tak menyangka kalau Violeta akan berinisiatif sendiri menyerang duluan. Yang Kenji bisa lakukan sekarang hanyalah menikmati permainan Violeta. Dan mendominasi saat Violeta kelelahan.
\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=
Mata Shilla memancarkan amarah. Dia bisa tahan kalau dirinya yang disakiti. Dia mampu bertahan kalau hanya dia yang permainkan. Namun Shilla tak akan diam saja kalau Kenzo yang disakiti. Apalagi Kenzo sampai menangis memilukan. Shilla tak terima.
"Harumi, tolong bawa Kenzo masuk lebih dulu." Shilla berkata dingin.
Harumi menuruti dengan patuh. Bahkan untuk menjawab saja dia takut melihat sikap dingin Shilla. Harumi menuntun Kenzo masuk. Meskipun dia sedikit enggan namun melihat mamanya yang mengeluarkan ekspresi aneh dia mengikuti Harumi dengan terpaksa.
"Inilah yang aku takutkan. Bagaimanapun darah kejam Alison tetap lah mengalir di tubuhmu." Batin Mamoru melihat perubahan sikap Shilla yang drastis.
Shilla bangkit. Dia menghapus lelehan air mata yang tadi sempat menetes. Dia berjalan mendekati Keano. Wajahnya datar ekspresi apapun. Semua perasaan tercampur menjadi satu.
Sedih.
Marah.
Kecewa.
Sakit.
Perih.
Bahkan rasa sayang pun tetap ada.
"Kei," Shilla mendekati Keano yang masih asik bercengkerama dengan V palsu. "bisa kita bicara sebentar?" Shilla berusaha sebaik mungkin agar dia tak mengumpat.
Keano hanya menoleh. Dia tersenyum seolah tak terjadi apa-apa.
Aiko cuma menatap Shilla penuh ejekan. Namun ditutupi dengan senyum termanis yang dia miliki.
"Dia siapa K?"
"Ah, kenalkan.. dia... dia..." Keano bingung harus memperkenalkan mereka sebagai apa. Dia gak mungkin bisa menyakiti V yang baru saja dia temukan, tapi dia juga tak bisa menyakiti Shilla yang sudah mewarnai harinya.
"Sikapmu yang seperti ini yang akan menyakiti keduanya." Mamoru ikut bicara.
Keano mematung mendengar ucapan papanya. Benar sekali, dia sadar bahwa pasti Shilla merasa sakit. Namun sepertinya dia terlalu egois. Dia tak ingin kehilangan keduanya.
"Dia siapa K?"
"Tak perlu nona tahu siapa saya, saya hanyalah orang asing yang tak sengaja masuk." Jawab Shilla dingin.
"Baiklah, kamu mau ngomong apa Shill?" Keano berusaha menetralkan perasaan gundahnya saat ini.
"Kembalikan aku ke Indonesia. Kamu sudah bertemu dengan kekasih hatimu. Kehadiranku sudah tak di perlukan lagi."
"No!" Keano tak setuju dengan permintaan Shilla. Bagaimanapun dia juga sudah menaruh hati pada gadis itu.
"Lalu?" Datar tanpa ekspresi. Shilla terlalu kecewa dengan sikap Keano.
"Tolong beri aku waktu."
"Tidak!"
"Tapi Shilla.."
"Kenzo..! Dimana dia?" Keano baru sadar bahwa sejak kepulangannya dia bekum bertemu bocah itu.
"Untuk apa kau mencarinya sekarang?" Shilla mencibir. Ekspresi yang tak pernah diperlihatkan oleh Shilla. "Kau sudah menyakiti anakku, aku tak terima. Kalau memang kamu tak mau mengembalikan aku ke Indonesia, aku akan ikut tuan Mamoru, bahkan beliau sudah menganggap aku putrinya."
"Tapi..."
"Kalau dia ingin pergi ya sudah biarkan dia pergi K. Bukankah kamu bilang kita sepasang kekasih yang saling mencintai?"
Keano merenung. Benar V adalah kekasih sejatinya. Namun Keano tak rela jika Shila pergi dari hidupnya.
"Papa kecewa sama kamu."
Mamoru pergi menggandeng Shilla.
"Tunggu tuan." Shilla berhenti sejenak. "Bolehkah saya meluapkan kekesalan saya?"
Mamoru tersenyum. Dia akan mengabulkan apapun permintaan Shilla selagi di mampu.
"Tentu."
Shilla berbalik menghampiri Keano. Dia layangkan pukulan tepat ke arah ulu hatinya. Di susul dengan tendangan andalannya.
Keano yang tak siap langsung tersungkur. Dia tak menyangka bahwa tendangan Shilla begitu menyakitkan.
"Itu hanyalah sebagian kecil rasa kecewaku."
"K," Aiko berjongkok membantu Keano untuk bangkit.
Shilla melenggang pergi tak peduli.
"Hei perempuan j*lang, apa yang kau lakukan." Aiko marah. Dia hendak menghentikan langkah Shilla namun di cegah oleh Keano.
"Tak apa." Keano sadar, dia pantas mendapatkannya.
***
"Selamat datang di rumah putriku." Mamoru mengajak Shilla ke rumah utama.
Shilla merasa canggung. Sebenarnya dia ingin pulang saja ke Indonesia, namun di cegah oleh Mamoru. Bagaimanapun meninggalkan kuliah di sini sangat di sayangkan. Shilla juga tak ingin merepotkan Mamoru, namun pria kekasih ibunya itu bersih keras ingin menjadikannya seorang putri Hayashi.
"Kalau kamu belum siap tak apa. Tapi pintu rumah ini selalu terbuka untukmu." Mamoru tersenyum. Senyum tulus yang selama ini telah hilang.
"Terima kasih tuan." Shilla menunduk hormat.
"Sudah ku bilang, jangan panggil tuan. Panggil papa aja."
"Saya akan membiasakannya." Shilla tersenyum berterima kasih.
Mamoru menepuk tangannya beberapa kali. Semua pelayan langsung berhambur mendekat. Mamoru memerintahkan untuk menyiapkan kamar untuk Shilla juga Kenzo.
"Saya akan satu kamar dengan Kenzo saja tuan."
"Tapi Kenzo mau kamar sendiri mama." Kenzo merajuk. "Kenzo kan sudah besar." Kenzo cemberut membuat tampang imut.
"Oke oke anak mama kamar sendiri. Namun tetap di temani kak Harumi oke?"
"Siap ma."
Kenzo mengikuti pelayan yang siap menata kamar Kenzo. Anak itu sangat antusias dengan suasana rumah ini. Dia tak malu-malu lagi dengan orang yang baru pertama ditemuinya.
"Nona, terima kasih nona sudah mengajak Harumi." Harumi menangis haru. Dia kita dia akan di buang lagi kalau Kenzo pergi. Nyatanya dia diajak dan tetap bisa mengurus bocah itu.
"Kamu ini bicara apa. Kita kan keluarga."
Harumi tambah deras air matanya. Dia terharu memiliki keluarga seperti Shilla.
***
"Bagaimana keadaan Shilla dan Kenzo?"
"Mereka baik. Selesaikan aja apa yang harus di selesaikan."
"Jaga dia untukku pak tua."
"Dia adalah anakku. Tentu dia akan ku jaga selagi aku belum mati."
Bersambung...