Young Mama

Young Mama
Bab 56: ~Aku Pergi Tuk Sementara~



Paris - Prancis


Seorang pelayan tengah kebingungan mencari tuannya. Dia sudah berkeliling dan menghubungi setiap orang namun belum juga menemukan sang majikan. Dia khawatir. Pasalnya, sang majikan kini tengah sakit. Dia khawatir jika majikannya pingsan dan tak ada yang menolongnya. Dia bahkan sudah menghubungi Eyes- seorang ahli IT jenius untuk menemukanya. Namun Eyes tak menemukan rekam jejak ponsel yang di tinggalkan oleh orang yang ia cari. Sepertinya orang ini tahu kalau dia akan di cari sehingga ia mematikan ponselnya. Bahkan orang itu pergi dengan paspor palsu hingga tak bisa dilacak.


"Astaga tuan, tuan kemana sih." D- asisten Mamoru kebingungan mencarinya. Dari data ponsel yang bisa di lacak oleh Eyes, terakhir Mamoru ada di Bandara Internasional. Namun tujuan penerbangannya tak bisa dilacak. Kini hanya bisa menunggu sampai Mamoru sendiri yang menghubunginya.


"Permisi tuan, ada telefon dari tuan besar." pucuk dicinta, seorang pelayan menghampiri D dan menyerahkan telfon rumah yang katanya dari Mamoru. Dengan cepat D langsung menyambar telefon yang di berikan sang pelayan.


"Astaga tuan, tuan kemana saja, kenapa anda membuat saya khawatir. Kalau tuan Kenji sampai tahu saya bisa di bunuh. Sekarang tuan bilang sama saya anda dimana, saya akan menjemput anda. Bilang tuan, jangan sampai tuan Kenji membunuh saya. Tolong mengertilah tuan. Saya masih ingin menemani anda." Cerocos D ketika dia sedang panik. Siapa yang tak panik, kalau sampai ada apa-apa dengan Mamoru, dia akan berhadapan langsung dengan Kenji yang lebih kejam darinya. Bahkan si Manis pun lebih mendengarkan Kenji. Padahal dia adalah singa peliharaannya. Bisa-bisa nanti Kenji membuatnya sebagai makanan si Manis.


Di seberang sana Mamoru hanya menjauhkan ponselnya ketika mendengar serbuan kalimat dari asisten setianya itu. Namun wajahnya tetap datar. Banyak sekali yang harus dia selidiki.


"D, ada tugas untukmu." Mamoru berkata pelan namun tersirat ketegasan di sana.


D langsung paham. Dia berhenti berbicara dan langsung menanyakan tugas yang sepertinya penting ini.


"Apa yang harus saya lakukan tuan."


"Selidiki tentang Susan. Ternyata dia memiliki anak, selidiki siapa ayah dari anak itu. Dulu dia pergi pergi begitu saja. Bahkan aku tak tahu kalau dia tengah mengandung. Selidiki sampai tuntas." Mamoru curiga akan sesuatu. Dia memiliki firasat tak enak. Jangan sampai kalau ayah dari anak Susan adalah 'Dia'.


Di saat yang sama D sangat heran dengan tuan besarnya. Tiba-tiba saja tuannya menyuruhnya untuk mencari data tentang Susan. Padahal, selama dua puluh tahun ini Mamoru anteng-anteng saja. Mungkin karena tuannya sudah tak dapat membendung rasa rindunya.


"Tapi dari mana tuan tahu kalau nyonya Susan memiliki anak?" D bermonolog sendiri mengutarakan kebingungannya.


***


Perusahaan telah stabil di tangan Alexi. Dia juga sudah memiliki sekretaris sendiri. Tentu saja Keano yang memilihkan. Dia juga sudah menempatkan orang kepercayaannya di sisi Alexi. Jadi dia bisa tau pergerakan apapun tentang kakaknya itu. Tentu saja bukan secara terang-terangan. Keano tempatkan orangnya sebagai pengawal Alexi. Dan Alexi sendiri pun tak tahu kalau dia tetap dalam pengawasan Keano. Bukan karena dia tidak percaya. Tapi masih belum. Alexi terlalu licik. Kalau memang dia sudah berubah itu tak jadi soal. Tapi kalau sampai Alexi belum berubah, dan dia tak waspada, nanti jadi masalah baru.


Setelah urusan perusahaan beres, mereka akan pamit kepada Evelyn. Secepatnya mereka pergi, maka secepatnya pula mereka mencegah serangan dari Ichiro.


"Shilla, ikut pamit sama mama kah?"


"Tentu saja, mama Lyn sudah aku anggap sebagai mamaku sendiri, aku harus pamit."


"Dia kan memang mama kamu." Goda Keano


"Apaan sih." Shilla masih saja malu-malu. Padahal dia senang bahwa dirinya sudah diterima di dalam keluarga ini.


"Kenzo dimana?" Keano mencari keberadaan Kenzo. Anak itu sudah berani berkeliaran sendiri. Dia takut kalau sampai terjadi apa-apa dengan Kenzo. Yah selain takut kalau Kenzo kenapa-napa, yang lebih di takutkan adalah sisi Shilla yang lain. Sungguh menakutkan.


Mereka berjalan kebawah sambil ke parkiran mobil. Tak lupa Leon juga akan ikut berpamitan kepada Evelyn. Namun sebelum itu mereka menjemput Kenzo yang saat ini masih asik bermain dengan Samuel. Atasan Shilla dulu sewaktu dia menjadi Office Girl. Meskipun saat ini pangkat Shilla menanjak jauh, namun dia tetap ramah kepada teman-teman OG-nya dulu. Bahkan kadang sampai saat ini mereka sering makan bersama. Kalau saja Shilla tak akan pindah ke Jepang mengikuti Keano.


Saat mereka sampai di tempat Samuel, Kenzo sedang dihujani peluk cium dari teman-teman Shilla. Mereka sedih karena tak dapat bertemu Kenzo dalam waktu dekat. Mungkin mereka akan bertemu saat Kenzo sudah dewasa? Siapa yang tahu.


Saat Shilla sampai di sana, mereka langsung berhamburan memeluk Shilla. Dia adalah pribadi yang ramah, hingga banyak yang menyukainya. Semoga pandangan mereka selalu seperti itu. Jangan sampai mereka melihat Shilla saat marah.


"Shilla, jangan lupakan kami ya." salah satu teman Shilla memeluk erat. Di susul yang lainnya.


"Iya Shilla, jangan lupakan kami."


"Sering-sering telfon."


"Makan yang teratur."


"Kuliah yang bener."


"Jangan sampai selingkuh." Shilla hanya tertawa mendengar nasihat ini.


Mereka tak berlama-lama memeluk Shilla. Melihat tatapan tajam Keano mereka merasa ketakutan. Tentu saja untuk keselamatan mereka langsung mengerjakan tugas masing-masing.


"Matanya tuan, tolong di kondisikan." Shilla tertawa kecil melihat muka masam Keano.


Dia benar-benar tak pandang bulu. Entah itu lelaki atau perempuan, berani memeluk, menyentuh Shilla berarti menggali kuburnya sendri. Untung saja ini adalah terakhir mereka disini, Keano bisa menahan amarahnya.


Shilla itu miliknya. Tak ada yang boleh memilikinya selain dirinya. Tentu saja pengecualian untuk Kenzo. Memisahkan Kenzo dari sang mama sama saja dengan melemparkan diri ke sarang binatang buas.


"Semoga sukses mengejar cita-cita mu nak." Pak Samuel mengacak rambut Shilla sayang. Dia bangga dapat mengenal Shilla. Dia juga ingin memiliki anak seperti Shilla. Sayangnya anaknya laki-laki semua. Punya keponakan perempuan pun bodohnya kebangetan.


"Terima kasih paman." Shilla tersenyum hormat. Saat dia SMA dulu, dia selalu saja merepotkan pamannya Rayna ini.


"Jangan lupa sekali-kali berkunjung. Rayna sampai sekarang bahkan belum mau makan karena di tinggal kamu."


"Tenang saja nak. Dia tak akan bertahan lama kelaparan."


Mereka bersama-sama membayangkan Rayna yang biasanya banyak makan lalu kekurangan makan. Mereka akhirnya tertawa bersama.


Memang benar, di saat yang sama, Rayna sedang mengambil nasi beserta lauk secara diam-diam. Dia tak akan bisa mogok makan. Kalaupun mogok makan, dia akan diam-diam mengambil makanan agar sukses acara mogok makannya.


***


Keano, Leon, Shilla, dan juga Kenzo sudah berada di halaman rumah Evelyn. Mereka di sambut dengan hangat oleh sang mama. Satu persatu mereka mencium Evelyn. Sepertinya darah kejam mereka berubah menjadi darah kelinci di hadapan mama yang penuh perhatian itu. Lihat saja mereka, Baik Leon maupun Keano saling berebut belaian Evelyn.


Shilla? dia hanya terbengong melihat dua orang dewasa memperebutkan mamanya. Baru kali ini Shilla melihat pemandangan ini. Sungguh langka. Dia harus mengabadikannya. Suara kamera membuat mereka berhenti dan saling memandang. Selanjutnya Shilla yang menjadi sasaran. Shilla begitu ceroboh, dia lupa mematikan mode suara ketika membidik.


Bagaimanapun Shilla ingin menyelamatkan ponselnya, namun ketika dua orang itu kerja sama, membuat Shilla menyerah juga. Ponselnya berhasil di rebut oleh Keano. Dia langsung membuka galeri hendak menghapus foto yang baru saja tersimpan apik di dalam drafnya.


"Kalau kalian berani, silahkan hapus foto itu." Tenang. Shilla mengatakan dengan nada tenang namun di dalamnya penuh intimidasi. Sifat dominasi itu muncul lagi. Senyum manis penuh duri itu tergambar lagi di bibir manisnya.


Keano diam. Leon mematung. Mereka sangat mengerti saat Shilla menampilkan senyum itu. Kata-katanya harus di turuti. kalau tidak, kuncian kepala harus siap mereka terima.


"Kei, tolong berikan ponselku, sepertinya ada pesan." senyum itu muncul lagi. Mau tak mau Keano menyerahkan ponsel Snilla secara tak rela. "Enak saja mau di hapus, ini koleksi."


Mendengar perkataan Shilla, Keano pasrah saja. percuma juga dia melawan. Nanti malah dia sendiri yang susah. Gadis itu memiliki trik-trik kecil untuk melawannya.


"Sudah, sudah! ayo makan bersama."


Mereka menyetujui permintaan Evelyn.


"Eh? dimana Kenzo?" Shilla baru menyadari bahwa anaknya tak ada di sisinya. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh tempat namun tetap tak dijumpainya si Kenzo ini.


"Tenang nak, dia sudah menunggu kalian di meja makan."


Mereka makan bersama dengan khidmat. Kadang di selingi candaan. Kadang pula ada orang dewasa yang tingkahnya layaknya Kenzo ketika bermanja.


"Ma, kalau mama mau mama ikut ke Jepang bersama kita saja." Leon menawari Evelyn untuk mengajaknya ke Jepang.


Hal itu langsung mendapat tajam oleh Keano. Keano tak ingin melibatkan mamanya dalam bahaya apapun. Dengan mamanya berada disini, itu lebih baik karena musuh tak akan mengetahui keberadaan mamanya.


Leon langsung menangkap maksud dari Keano. Dia begitu ceroboh. Dia merasa belum bisa menjadi anak yang baik.


Evelyn menangkap perubahan ekspresi dari Leon. Dia merasa kasihan dengan anak itu. Mungkin dia masih ingin berlama-lama dengannya. Namun pekerjaan tak bisa menghentikan mereka di suatu tempat.


"Mama belum bisa ikut. Saat ini Alexi masih membutuhkan mama. Namun mama akan sesekali berkunjung ke sana." Evelyn tersenyum lembut. Meluluhkan segala ketegangan yang di ciptakan Keano. Bahkan Shilla juga bisa menangkap kebijaksanaan dari Evelyn. Wanita itu benar-benar pandai menguasai keadaan dengan kelembutannya.


Keano juga Leon mengangguk bersamaan. Lebih baik seperti ini. Evelyn akan lebih aman di sini.


***


Seorang gadis berlari di antara kerumunan orang. Dia terus berlari mengejar sahabatnya yang hendak pergi. Dia benar-benar ceroboh. Dia kira kalau dia merajuk sahabatnya tak akan pernah pergi. Namun dia lupa dengan pendirian sahabatnya itu. Dia teguh sekali. Tak akan mempan kalau hanya dengan sebuah rajukan darinya.


Jadi, disinilah ia sekarang. Lebih baik melepas sahabatnya dengan lapang. Toh mereka tak akan berpisah selamanya. Sahabatnya hanya akan menempuh pendidikan, harusnya dia mendukungnya, bukan malah menghambatnya.


"Shilla!!!" Rayna berteriak di antara orang yang berlalu lalang. Semua orang menoleh ke arahnya dengan tatapan aneh. Di ujung sana Shilla menoleh mendengar teriakan sahabatnya. "Untunglah masih terkejar." Rayna senang dia tak terlambat.


Di sana sudah ada Bu Farida dan juga Feli yang mengantar kepergian Shilla. Feli sedih di tinggal Shilla. Tak ada lagi orang yang akan memasakkan untuknya. Namun dia juga bangga dengan Shilla, bisa melakukan bertukaran mahasiswa di Universitas elit di Jepang.


Setelah sampai Rayna mengatur nafasnya yang tersengal. Sejak turun dari taksi dia langsung berlari agar dapat mengejar Shilla. Untung saja Shilla belum terbang.


"Maafin aku Shil. Maaf telah merajuk, harusnya sebagai sahabat aku selalu mendukungmu." Rayna menyesal dengan perbuatannya.


"Tak apa. aku bisa memakluminya."


"Terimakasih Shilla kamu memang sahabat terbaikku." Rayna memeluk Shilla erat. Mulai sekarang hingga dua tahun ke depan dia akan berjuang sendirian. Bahkan dia mengabaikan tatapan tajam Keano. "Maaf juga karena aku telah menjadi mata dari kekasihmu. Aku hanya tak ingin Dosen itu mulus mengejar mu."


Shilla tertawa mendengar perkataan Rayna. Yah, Shilla gak marah. Justru berterimakasih karena Rayna tak mungkin menempatkannya kedalam kesulitan. Mereka telah berjuang bersama semenjak masa SMA.


Dan dimana Devan? Saat ini dia sedang di taman dekat bandara menangisi nasibnya. Merenungi kekurangannya hingga tak mampu menarik perhatian gadis pujaannya. Bahkan dia tak berani untuk mengantarnya. Dia mendongak, ada pesawat yang melintas.


"Selamat jalan Shilla. Aku akan menunggumu disini, saat kamu berhasil mengejar cita-citamu."


Bersambung...