
Pada siang hari kantin kampus begitu ramai. Begitu banyak mahasiswa dan mahasiswi yang menikmati hidangan sambil mengobrol dengan kelompok mereka. Memang masa-masa kuliah sangat menyenangkan bagi sebagian orang, namun setelah memasuki masa skripsi, jangankan untuk berkumpul, untuk sekedar makan saja mungkin mereka lupa.
Seorang anak kecil tak mau kalah dengan mereka. Siapa lagi kalau bukan Kenzo yang sedang menikmati hidangan disuapi oleh sang mama. Ada Rayna juga yang membuat Kenzo beberapa kali cemberut karena di goda oleh Rayna. Beberapa kali Rayna mengambil ayam kesukaan Kenzo membuat yang punya menunjukkan muka cemberutnya. Hal itu mengundang tawa Shilla dan beberapa orang di sekitar meja mereka.
"Hallo kesayangannya om." Devan menghampiri meja mereka langsung bercengkrama dengan Kenzo.
Kenzo tersenyum ramah menyambut Devan. Tanpa sungkan Ia duduk di samping Kenzo menyingkirkan Rayna. Tentu saja Rayna cemberut dengan tingkah dosennya itu, tapi bagaimanapun Rayna tak mungkin marah dengan dosen idola itu. Bisa-bisa nilainya F.
Karena merasa diabaikan dan kehadirannya tak diharapkan, dengan tau diri Rayna pergi dengan mulut cemberut.
"Duluan ya Shil." dengan muka cemberut Rayna pamit pada Shilla.
Shilla mengangguk tak enak hati. Dosennya ini semakin lama semakin gencar memperlihatkan ketertarikannya. Namun Shilla juga tak mungkin untuk melarang mendekatinya, apalagi Devan juga terlihat begitu menyayangi Kenzo.
"Mama, mana papa?" dengan wajah belepotan ice cream, Kenzo menanyakan Keano.
Devan yang mendengar pertanyaan bocah kecil itu tentu saja bingung. Selama ini Shilla merupakan ibu tunggal, lalu siapa papa yang di maksud oleh Kenzo, berbagai pertanyaan mencuat dalam otak Devan.
"Kenzo sayang, sudah mama bilang, om Keano bukan papa."
"Papa! papa mama!" Dengan teguh Kenzo menekan kata Papa.
"Maksudnya apa ya Shil? Maksudnya papa siapa?"
"Bukan siapa-siapa." Shilla tersenyum canggung. "Bos perusahaan tempat ku bekerja. Entah Kenapa pertama kali Kenzo bertemu dengannya langsung memanggil papa."
Mendengar penjelasan Shilla, rasa cemburu di dalam hati Devan langsung terpercik. Selama ini dia menunggu waktu yang pas untuk mengungkapkan hati dan perasaannya, namun siapa sangka malah di dahului orang lain.
"Kenzo sayang, kalau mau Kenzo boleh kok panggil om dengan sebutan papa juga. Anggap om papa Kenzo ya." Dengan lembut Devan meminta Kenzo memanggilnya papa juga.
"No. Om Evan bukan papa Kenzo, Papa Kenzo ganteng seperti Kenzo."
Mendengar penuturan anaknya Shilla hanya menutupi mukanya malu. Semenjak Kenzo lancar berbicara, ada-ada saja kata yang bikin geleng-geleng kepala. Padahal tak ada yang mengajarinya berbicara seperti itu, karena tak mungkin Bu Farida mengajari Kenzo yang tak baik.
"Tapi om mau jadi papa Kenzo."
Dengan keras Kenzo menggeleng membuat Devan merasa malu sendiri.
"Kenzo hanya boleh memanggil papa kepada ku, siapa kamu meminta Kenzo memanggilmu papa!?" Sebuah suara yang sangat di rindukan Shilla menarik perhatian seisi kantin.
Sosok tegap dan tegas bermuka dingin nan tampan sedang berjalan ke arah mereka. Semua pasang mata langsung terpesona oleh sosok yang tiba-tiba muncul tersebut. Kemana pun ia pergi memang selalu menarik perhatian, apalagi perhatian para gadis.
"Papa...!!!" Melihat Keano mendekat Kenzo langsung berteriak dan berlari ke arah Keano. Ia sudah tak memperdulikan teriakan Shilla yang khawatir karena turun begitu saja dari kursi yang cukup tinggi.
"Hallo jagoannya papa." Keano langsung menangkap Kenzo dan menggendongnya. Ia berjalan mendekati Shilla yang sudah merasa ingin menangis.
"Jangan terharu, aku sudah pulang." Keano langsung menggoda Shilla. Hidupnya terasa hampa tanpa melihat muka cantik wanitanya.
"Maaf, tapi anda siapa?" Devan menginterupsi Keano. Ia tak terima kalau Kenzo pun sudah sangat dekat dengannya. Dan kalau telinganya tak salah dengar, tadi Kenzo memanggilnya papa? Devan tambah panas mendengar hal itu.
"Aku? tentu saja papanya Kenzo." Dengan nada sombong Keano memamerkan betapa dekatnya ia dengan Kenzo. Keano menciumi Kenzo bertubi-tubi membuat Kenzo tertawa terbahak.
Shilla yang menyaksikan kejadian itu hanya menepuk jidatnya. Bagaimana bisa Keano mengikrarkan dirinya sebagai papa Kenzo di depan banyak orang. Dia ingin meminta Kenzo namun Kenzo tak mau lepas dari Keano.
"Oh ayolah sayang, biarkan kita melepas rindu, sudah lama aku tak bertemu jagoan kecil, masa aku tak boleh dengannya." Tak lupa Keano menggoda Shilla di depan sang Dosen.
Devan tak pernah melihat Shilla bersemu ketika di goda laki-laki. Bahkan dia yang sering kali memberikan kode bahwa ia menyukainya pun sepertinya Shilla hanya menanggapi biasa. Namun melihat wajah Shilla sekarang sepertinya dia sadar, kemungkinan untuk mendapatkannya semakin sedikit. Tapi bukanlah Devan namanya kalau dia menyerah begitu saja.
"Papa makan." Kenzo berinisiatif menyuapi keano. Sungguh terlihat bahwa Kenzo begitu menyukai Keano. Dengan tangan kecilnya ia memegang sendok dan menyuapi Keano ice cream. Hal itu membuat Keano senang dan melahap ice cream yang ada di tangan Kenzo. Tak lupa ia melirik Devan seakan mengejek.
"Shill, sebenarnya dia siapa?" Karena tadi belum mendapatkan jawaban, Devan bertanya lagi kepada Shilla akan identitas orang yang ada di hadapannya kini.
"Dia Keano, pemegang saham perusahaan terbesar ke dua tempat ku bekerja." Shilla menjelaskan secara singkat siapa itu Keano.
Melihat gelagat Devan yang sepertinya tak ingin melepaskan Shilla, Keano memeluk pinggang Shilla posesif. Ia dekatkan Shilla hingga berada di sampingnya duduk bersama.
'Lihat, siapa dia ganteng sekali.'
'Shilla benar-benar beruntung di perebutkan dua cowok ganteng.'
'Sisakan satu untukku tuhan.'
'Tapi apakan benar Kenzo adalah anaknya.'
'Dulu tidak mau bertanggung jawab mungkin.'
'Kalau cowoknya seperti dia aku juga mau mengandung anaknya.'
Begitu banyak mahasiswi yang mengutarakan pendapat mereka. Tak sedikit pula yang sampai pingsan karena begitu terpesona oleh sosok Keano.
Devan semakin panas di buatnya. Selama ini mahasiswi di kampus hanya memujanya, namun baru beberapa detik Keano menginjakkan kaki di kampus, malah sudah menarik lebih banyak mahasiswi, terlebih lagi Shilla, ia tak bisa terima kalau wanita yang sudah diincarnya selama ini malah berpaling ke pelukan lelaki lain.
"Hei, jaga kelakuanmu, ini kampus." Shilla mencubit pinggang Keano karena seenaknya sendiri memeluknya.
"Owh sayang, apa kamu sudah tak sabar." Meskipun Keano meringis kesakitan, ia tetap saja tak bosan menggoda Shilla.
Mendengar pertanyaan ambigu dari Keano, tambah berisik seisi kantin membicarakan Shilla dan Keano.
"Pergi begitu saja, datang juga tiba-tiba." Shilla mengambil Kenzo dan pergi meninggalkan kantin yang semakin bising.
"Tunggu!" Keano hendak mengejar Shilla. "Aku harap ini terakhir kali kamu mendekati gadisku." Keano memperingatkan Devan dengan nada dingin. Siapa pun yang melihat dapat mengerti keadaan saat ini bahwa Keano mengibarkan bendera perang.
Dengan langkah cepat, Keano pergi mengejar Shilla mengabaikan tatapan damba di sekitarnya.
Shilla masuk kelas karena sebentar lagi mata kuliah Devan akan segera di mulai. Rayna yang sudah ada di kelas bertanya-tanya dengan raut wajah Shilla. Tadi saat ia meninggalkannya sepertinya dia baik-baik saja, tapi kali ini wajahnya begitu merah. Rayna menghampiri Shilla menanyakan keadaannya, takut kalau Shilla sakit.
"Kamu tak apa?"
"It's ok Ray, hanya ada sedikit insiden."
"...?" Rayna bertanya-tanya, sebenarnya insiden apa yang menimpa sahabatnya itu. Sebelum Rayna sempat menanyakan lebih lanjut, seorang pria memanggilnya dari pintu utama.
Lagi, tatapan mahasiswi yang terpesona pada ketampanan Keano semakin menjadi. Shilla yang melihat itu hanya duduk diam memperhatikan bagaimana Keano dikerumuni oleh gadis-gadis genit.
Keano jengah dengan mereka. Dalam pikirannya, gadis-gadis ini begitu tak punya malu. Dengan tatapan andalannya, Keano menciptakan atmosfer yang menakutkan hingga mereka mundur ketakutan dengan sendirinya.
"Sayang, kenapa kau meninggalkanku hm?" Keano langsung duduk di sisi Shilla mengabaikan tatapan tanda tanya dari Rayna.
"Aku mau kuliah, jangan mengganggu ku." Shilla benar-benar merasa malu dengan kelakuan Keano. Ia juga merasakan tatapan dingin teman-temannya yang menuntut penjelasan padanya.
"Oke, aku akan diam." Dengan patuh Keano duduk diam dan mengambil Kenzo ke pangkuannya. Tentu saja Kenzo sangat senang dipangku oleh Keano lagi.
"Selamat siang semuanya." Dosen pembimbing masuk.
Tatapan Keano langsung menajam melihat siapa dosen yang masuk. Sepertinya dia tak boleh lengah sedikitpun, kalau tak mau wanitanya di ambil oleh orang lain. Dengan cekatan Keano langsung menempel pada Shilla seperti anak kecil.
Tentu saja Shilla tak nyaman dengan kelakuan Keano. Ia hanya ingin fokus belajar, bahkan Kenzo pun tak rewel seperti Keano.
Dan di depan sana, hawa panas semakin bertambah. Bahkan untuk melampiaskannya ia tegur mahasiswa dan mahasiswi yang berbuat kesalahan bahkan kesalahan kecil. Image sebagai dosen tampan dan lembut langsung menguap. Yang mereka lihat kini, adalah dosen yang sedang cemburu.
Melihat dosen itu gusar, tentu saja Keano semakin menikmati permainannya, bahkan ia tak segan untuk meniup telinga Shilla untuk menggodanya. Dan ia perlihatkan seringai mengejek kepada sang dosen.
'Sepertinya kuliah kali ini akan menjadi medan pertempuran.' Batin Rayna yang kini sudah memahami kondisi Shilla.
Bersambung...