Young Mama

Young Mama
Bab 45: ~Kemarahan seorang ibu~



Pertempuran sedang terjadi di Bandar Udara Internasional Kansai. Sekelompok mafia musuh bebuyutan dari Golden Dragon sedang melakukan transaksi jual beli senjata dengan jumlah yang sangat besar. Kalau sampai pihak musuh mendapatkan senjata itu, entah bagaimana nasib dari Golden Dragon, pasalnya senjata itu daya serangnya sangat ganas. Dapat meluluh lantakkan seluruh kota hanya dalam sekejap. Sebenarnya ini sudah bukan lagi musuh Golden Dragon. Namun juga musuh seluruh negara.


Kenji memimpin mosi kali ini. Misi kali ini adalah menggagalkan transaksi tersebut agar senjata itu tak berhasil lolos ke tangan musuh. Entah kelompok gila mana yang berani menyuplai senjata ini ke orang asing. Orang itu mungkin tak pernah berpikir, kalau suatu saat nanti senjata itu akan berbalik menyerangnya.


Misi ini sangat penting, jadi Kenji tak mau sedikit kesalahan pun terjadi. Dan bagi anggota baru, misi ini juga merupakan tes untuk melihat kelayakan mereka berada di organisasi ini.


Orang-orang yang ada di sana lari berhamburan keluar. Bahkan tak sedikit dari mereka yang terkena cidera. Sebisa mungkin Kenji meminimalisir jatuhnya korban, tapi bagaimanapun di sana sudah menjadi medan tempur penuh darah.


Kenji memimpin beberapa orang untuk menyergap langsung ketua yang akan membeli senjata. Dia mendapatkan lokasi transaksi dari Eyes. Salah satu pesawat yang ada di sana merupakan lokasi transaksi mereka. Sedangkan yang lain melumpuhkan penjagaan di luar.


Ternyata mereka memang sudah menunggu kedatangan Kenji. Saat Kenji masuk, mereka mempersilahkan Kenji dengan hormat. Mereka tak langsung menyerang Kenji malah mengajaknya duduk untuk mencapai kesepakatan bersama.


"Selamat datang tuan Kenji, kami sudah menunggu anda. Silahkan duduk dan nikmati penerbangan ini."


Benar saja, setelah Kenji masuk, pesawat langsung mengudara. Anggota yang di bawah bingung karena alat komunikasi mereka terputus. Kenji disana sendirian.


"SEMUANYA MUNDUR." Terdengar teriakan pemimpin pasukan dari pihak musuh. Entah kenapa setelah pesawat mengudara mereka di tarik mundur. Mereka melarikan diri dengan pesawat lain yang ternyata sudah di siapkan. Sepertinya ini memang untuk menjebak mereka dan menangkap Kenji.


Leon memerintahkan anggotanya untuk berhenti menembak. Percuma saja, pesawat sudah ada di udara. Dia memutuskan untuk mundur juga mengobati anggota yang terluka. Sampai ada kabar dari Kenji.


Sedangkan Violeta masih setia mengintai dari atas atap. Dia mencoba membidik pesawat musuh yang berisi anggota mereka. Tak mungkin sasarannya pesawat yang di tumpangi oleh Kenji, bisa jadi janda sebelum menikah nanti.


Violeta sangat fokus. Setelah sasaran terkunci, langsung ia tarik pelatuk senapan yang ia pegang. Tepat sasaran. Violeta menembak tetap di penampungan bahan bakar. Detik berikutnya, seluruh badan pesawat yang membawa anggota musuh meledak bak kembang api yang berpendar di siang hari. Cantik.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Malam telah larut. Namun belum ada tanda-tanda bahwa Kenzo akan bangun. Shilla masih setia mendampingi anaknya di samping ranjang rawat Kenzo. Dia bahkan sampai tertidur dengan kepala bersandar di ranjang itu.


Keano melihatnya tak tega. Dia baru saja datang setelah urusan di taman hiburan selesai. Meskipun hasilnya masih nihil, Keano akan tetap berusaha untuk menemukan orang yang menyakiti anaknya. Dia harus mati.


Perlahan Keano mengangkat tubuh Shilla pelan, takut membangunkannya. Selanjutnya ia bawa ke sofa untuk di baringkan agar lebih nyaman. Ia usap sekilas pucuk kepala Shilla dengan sayang. Wanita hebat yang telah membesarkan putranya seorang diri dengan rasa ikhlas. Tak boleh ada yang menyakitinya.


Dengan sayang Keano mengecup kening Shilla. Menyalurkan rasa sayang yang semakin mengakar. Berharap, ia bisa melindungi wanita ini sampai kapanpun.


Keano menghampiri ranjang Kenzo. Ia usap perlahan pipi yang semula mulus kini ada bekas goresan kuku. Memang tidak terlalu dalam, tapi tetap saja tadi mengeluarkan darah. Tak ada kata maaf untuk penculik itu. Yang ada hanya peti mati yang sudah menunggunya.


Keano menggenggam tangan kenzo menggantikan Shilla. Bahkan rasa kantuk pun enggan menghampirinya. Keano terjaga hingga mentari memancarkan sinarnya. Kehangatannya menggelitik pipi Shilla yang menerobos sela gorden ruangan itu. Shilla menggeliat merenggangkan badan. Tubuhnya terasa sakit karena ia tidur di sofa. Shilla mengerjapkan matanya, ia coba mengingat bahwa semalam masih berada di samping Kenzo. Tapi pagi ini malah terbangun di sofa. Netranya menangkap sosok pria yang masih setia menjaga putranya. Terlihat kantung mata yang menebal tanda semalam terus terjaga. Ia menghampiri Keano yang tak menyadari bahwa dia telah terbangun.


Shilla menyentuh bahu Keano lembut. "Istirahat dulu Kei, biar aku yang ganti menjaga." Senyum Shilla mengembang. Jenis senyum yang selalu membuat Keano bersemangat.


"Ah, Hei, kamu sudah bangun?" Keano sedikit terkesiap saat tangan Shilla menyentuhnya. Ia sampai tak menyadari bahwa wanitanya telah terjaga. Ia terlalu larut dalam pikiran-pikiran liarnya.


"Istirahatlah." Kembali Shilla mengembangkan senyum yang membuat Keano sulit untuk menolak.


Keano beranjak dari duduknya. Ia kecup singkat kening Shilla seakan mengatakan jangan terlalu khawatir. Mereka berdua tersenyum satu sama lain seolah mengerti pikiran masing-masing.


Bukan istirahat yang Keano lakukan. Ia pergi ke kamar mandi untuk menyegarkan badan. Selanjutnya ia pamit untuk membelikan Shilla sarapan. Benar-benar lelaki idaman.


Kembali Shilla duduk di samping anaknya. Dia remas perlahan tangan mungil Kenzo.


"Sayang, udah dong bobonya, mama kangen." Sekuat tenaga Shilla menahan air matanya. Dia sudah tak bisa lagi menyembunyikan rasa sedihnya. Berapa banyak aroma lavender yang anaknya hirup, hingga harus tertidur terlalu lama. Sungguh menyesakkan dada, melihat sang buah hati terbaring lemah di sana.


Kenzo mulai kembali kesadarannya. Ia bisa mendengar bahwa mamanya sedang menangis kecil. Ia juga merasakan hangatnya genggaman mamanya di tangannya. Ia mencoba membalas remasan tangan mamanya. Memberi tahu kalau ia telah bangun. Mata kecilnya perlahan membuka. Menyesuaikan dengan terangnya cahaya yang langsung di terima oleh inderanya.


"Ma...ma..." Dengan suara kecil Kenzo memanggil mamanya. Nyaris tak terdengar. Shilla tak akan tahu kalau Kenzo sudah bangun kalau ia tak merasakan remasan Kenzo.


"Anak mama, sudah bangun hm?" Shilla menghapus air matanya dan mencium Kenzo perlahan. Ia tak ingin membuat Kenzo kesakitan kalau goresan di pipinya terlalu kuat di tekan oleh bibirnya.


Shilla mengetahui itu. Ia ambil gelas air yang ada di nakas dan membantu Kenzo untuk meminumnya. "Pelan-pelan sayang." Shilla mengusap air yang sedikit menetes dari sudut bibir Kenzo. "Kenzo mencari tante? Tante siapa?"


Kenzo menggeleng perlahan. "Tante Xena." Ucapan yang di keluarkan Kenzo selanjutnya membuat Shilla membeku.


Shilla tahu maksud Kenzo. Dia sedang memberi tahu siapa orang yang telah menculiknya. Shilla tak pernah menyangka bahwa orang itu adalah Xena. Setelah lama menghilang karena gagal menjebak dirinya, sekarang tiba-tiba ia muncul dan membahayakan anaknya. Shilla murka. Kalau ia melihat Xena, pasti dia tak akan selamat.


Pintu perlahan terbuka. Menampilkan Keano yang menenteng makanan yang baru saja ia beli. Ia sangat senang ketika melihat Kenzo sudah bangun. Kekhawatirannya sirna sudah.


"Anak papa!!" Keano memeluk Kenzo sayang. Tangan kecil Kenzo juga membalas pelukan Keano.


"Papa." Kenzo merasa tenang. Memeluk Keano memberikan rasa aman tersendiri. Ia dekap dengan erat tubuh Keano seakan mencari perlindungan di sana.


"Anak papa apa yang di rasakan. Papa panggilkan dokter sebentar ya?" Keano mengacak rambut Kenzo sayang. Ia melihat Shilla yang terdiam. Ia tak tahu apa yang terjadi padanya. Tapi Shilla saat ini seperti orang yang berbeda. Ia dapat merasakan aura kemurkaan pada dirinya.


Setelah beberapa saat, dokter yang merawat Kenzo datang. Dia memeriksa dengan seksama keadaannya. Dokter itu tersenyum penuh syukur. Tak perlu ada yang di khawatirkan lagi. Kenzo sudah pulih namun masih harus banyak-banyak istirahat. Dokter juga menghimbau untuk kedepannya lebih berhati-hati. Jangan sampai Kenzo menghirup lagi aroma lavender.


Tak ingin berlama-lama di sana, sang dokter keluar untuk memeriksa pasien lain.


"Anak papa banyak-banyak istirahat ya, biar cepat sembuh."


"Em." Kenzo mengangguk. "Pa?" Kenzo ingin menanyakan sesuatu namun sedikit ragu.


"Iya sayang?"


"Em.... emm..."


"Kenapa? Kenzo mau apa, bilang ke papa." Dengan sabar Keano mendengarkan apa yang hendak Kenzo katakan.


"Em.. mama marah ya sama Kenzo. Dari tadi mama diam setelah Kenzo beri tahu tentang tante Xena."


"Tante Xena?" Keano tak mengerti kenapa Kenzo membahas Xena. Perempuan itu tak pernah muncul lagi sejak ia membasmi Grigori dan Alexi, meskipun dengan keajaiban Alexi bisa selamat. "Tante Xena kenapa Kenzo?"


"Dia yang membawa Kenzo. Tapi Kenzo ngga tahu kalau mama akan marah seperti ini. Kenzo nakal ya pa?"


"Kenzo ngga nakal kok. Mama juga ngga mungkin marah. Kenzo kan anak kesayangan mama." Keano menahan amarah yang sudah semakin memuncak. Dia benar-benar tak menyangka kalau Xena yang melakukan semua ini. Ia berjanji akan menghancurkannya. "Sekarang Kenzo istirahat lagi ya. Papa pinjam mamanya sebentar."


Kenzo hanya mengangguk. Dia berbaring dengan patuh. Meskipun sudah tak bisa tidur lagi karena sudah sepanjang hari tertidur, tapi tetap saja dia menuruti perintah Keano.


Keano menuntun Shilla pelan. Ia tak ingin membuat wanita itu meningkatkan pertahanan dirinya. Bagaimanapun sekarang ini Shilla benar-benar menakutkan. Ia membawa Shilla ke rooftop agar pembicaraan mereka tak terdengar siapapun.


"Kamu marah?" Keano memulai pembicaraan dengan menanyakan perasaan Shilla saat ini.


Shilla menoleh ke arah Keano. Dia tersenyum sinis. Tak perlu untuk di tanyakan, tentu saja dia sangat marah. Kenapa masih di tanyakan lagi.


Keano kaget melihat senyum sinis Shilla. Belum pernah ia melihat senyum seperti itu dari wajah Shilla. wanita ini benar-benar menakutkan ketika marah. Begitulah kiranya pikir Keano saat ini.


"Lalu kamu mau apa?" Keano mencoba menetralkan kegugupannya di depan Shilla. Ia tak ingin menyinggungnya. Ia masih ingin bersama wanita ini.


"Mau apa?" Shilla malah kembali bertanya pada Keano. "Tentu saja dia harus merasakan penderitaan yang Kenzo rasakan." Shilla menyeringai. Entah apa yang kini ada di dalam kepalanya, tapi wajah itu benar-benar seperti bukan Shilla. Seperti ada orang lain yang merasukinya.


Keano sedikit terkejut dengan ekspresi Shilla. Ia benar-benar tak mengenal Shilla-nya. "Siapa kamu sebenarnya Shilla. Bahkan para anggota bayangan Golden Dragon pun tak memiliki aura membunuh yang kuat sepertimu." Keano bertanya-tanya dalam hati. Ternyata dia belum mengenal wanitanya. Ia memeluk Shilla untuk menekan amarah yang Shilla keluarkan. Dia berjanji bahwa akan membereskan wanita yang bernama Xena itu. Ia tak akan membuat Shilla mengotori tangannya.


Bersambung...