Young Mama

Young Mama
Bab 82: ~Siapa sebenarnya Dia~



"Menghilang kemana tiga hari?" Kenji menegur Aiko saat dia pulang.


"Maaf K, aku pulang menemui kakak ku."


"Kakak?"


"Iya, orang yang selama ini merawat ku saat aku kehilangan ingatan, dia sudah ku anggap sebagai kakak ku sendiri."


Kenji mengangguk aja dengan penjelasan Aiko. Yang harus dia cari tahu adalah orang yang ada di belakang Aiko ini. Dan mungkin orang yang di panggilnya kakak inilah yang perlu di selidiki.


"Kalau begitu aku ke kantor dulu."


"Oke sayang." Aiko memeluk Kenji.


Kenji mencium ada parfum lain di tubuh Aiko. Seperti parfum laki-laki. Namun Kenji hanya bisa menyembunyikan kemarahannya. Dia tak marah karena cemburu. Dia marah karena yang ada di wajah Aiko kini adalah wajah V. Kelakuan Aiko mencoreng nama V yang notabene adalah gadis baik-baik.


Dengan perasaan kesal Kenji pergi ke markas Golden Dragon. Perusahaan yang sama dengan Hayashi grub namun letaknya hanya tersembunyi di bawah tanah.


Di sana sudah ada Leon dan Rose sedang membicarakan hal serius. Saat V palsu kembali ke rumah, Leon dan Rose memilih untuk tidak tinggal di rumah itu. Hal itu mereka lakukan agar V palsu cepat melancarkan siasatnya tanpa khawatir di ketahui mereka. Dan mereka juga bisa langsung menangkapnya tanpa susah payah.


"Kenapa bos?" Leon menanyakan keadaan Kenji yang dingin. Sudah biasa Kenji dingin, namun tidak sedingin ini.


"Tak usah kau ikut campur L." Rose melempar sesuatu untuk mengingatkan kekasihnya itu agar tak mencampuri urusan bosnya.


Iya, Rose dan Leon sudah resmi menjadi sepasang kekasih sejak kejadian Leon mabuk. Mereka akhirnya jujur satu sama lain. Namun hubungan mereka masih mereka rahasiakan. Bersikap biasa adalah kunci mereka menutup diri.


Kenji hanya memandang kelakuan mereka jengah. Dia saat ini sedang benar-benar marah dan tak ingin bercanda. Kelakuan Leon malah membuatnya semakin iri.


Kenji melanjutkan perjalanan ke sebuah ruangan. Ruangan yang dulu adalah tempat favorit dirinya bercengkrama dengan kekasihnya. Kenji mengambil senjata. Dia sedang ingin menembak. Menembak apapun, kalau ada menembak yang masih hidup.


Namun belum selesai Kenji bersiap, ponselnya berdering tanda panggilan masuk dari Eyes.


"Apa kau sudah menemukan sesuatu?" Kenji mengangkat panggilan dengan nada datar.


"Baru saja saya mendapatkannya bos, saya akan kirim filenya ke e-mail anda."


"Oke." Kenji menutup panggilan itu tanpa basa-basi.


Kenji meletakkan kembali senapan yang sudah ia pilih. Ia memilih segera ke ruangannya untuk mengetahui siapa sebenarnya perempuan yang sedang menyamar sebagai V ini.


Kenji berjalan tergesa mengabaikan salam hormat dari seluruh anggota. Kesan arogan selalu terpancar saat Kenji marah. Namun hal itu tak menurunkan wibawanya sebagai seorang pemimpin.


Kenji memasuki ruangan dan segera menyalakan laptopnya. Di sana sudah ada e-mail dari Eyes berisi data perempuan yang melalukan operasi plastik satu tahun terakhir. Dan Kenji semakin geram saat membaca data seorang yang telah menyamar sebagai V-nya.


Dia adalah Xena yang sekitar satu tahun lalu menculik Kenzo dan membuatnya masuk rumah sakit. Wanita yang telah menyamar sebagai kekasihnya dan dengan seenaknya muka kekasihnya dijadikan sebagai acuan dasar.


Dia juga membaca latar belakang Xena. Latar belakang orang yang selama ini mendukungnya.


"Ichiro...! Ternyata kau belum kapok juga. Setelah kamatian ayahmu, sekarang giliran mu untuk menyusulnya ke neraka." Kenji meremas tangannya kuat. Hingga otot-otot yang selalu ia jaga dengan baik menampakkan aslinya.


***


"Kenzo.. kita makan dulu sayang." Shilla memasak makanan kesukaan Kenzo. Hari ini Kenzo manja sekali ingin disuapi oleh mamanya. Padahal dia sudah pintar makan sendiri.


"Iya ma." Kenzo duduk di hadapan Shilla. Mulutnya siap menerima suapan dari Shilla. Namun Shilla tak kunjung memberikannya.


"Berdoa dulu."


"Oh iya, Kenken lupa." Kenzo nyengir memperlihatkan gigi putihnya. "Habisnya Kenken sudah lapar sekali." Kenzo berdoa tanpa bimbingan Shilla lagi. Setelah itu barulah Shilla dengan telaten menyuapi anaknya.


"Ma." Di sela-sela makan Kenzo memanggil Shilla.


Kenzo diam mengangguk. Dia lupa kalau mamanya sangat disiplin. Dia akhirnya mengurungkan niatnya untuk bertanya pada mamanya. Nanti saja kalau dia sudah selesai makan.


Kenzo melanjutkan makannya dengan khidmat.


Harumi tersenyum melihat pemandangan ibu dan anak itu. Dia jadi membayangkan, betapa indahnya jika dia juga memiliki seorang anak. Namun bagaimana memiliki seorang anak, kalau suami saja tak ia miliki. Bagaimana pula ia memiliki suami, kalau lelaki yang ia cintai saat ini sudah memiliki kekasih. Harumi kalah sebelum bertempur.


"Selamat sore semuanya?". Mamoru masuk dengan menyapa semua yang ada di sana.


"Kakek!" Kenzo girang. Dia berlari ke arah kakeknya. Sudah satu minggu Mamoru pergi dan meninggalkan mereka disini. Tentu Kenzo sangat merindukan kakeknya itu.


"Tuan sudah kembali." Shilla menunduk hormat. Namun alisnya dibuat berkerut dengan seseorang yang ada di samping Mamoru.


"Kamu masih saja memanggilku tuan. Cobalah membiasakan diri memanggil papa."


"Akan saya usahakan tuan, eh... pa." Kaku sekali Shilla memanggil Mamoru papa.


Pandangan Shilla tak teralihkan dari seseorang yang masih setia berdiri si samping Mamoru. Dia lelaki tinggi tampan. melihat sekilas dari wajahnya dia lembut dan kalem. Tipe-tipe penyayang wanita dan lembut.


Mamoru menyadari arah pandang Shilla. Dia tertawa kecil melihat ekspresi yang di tujukan Shilla. Ekspresi waspada. Dan juga membentengi diri sendiri.


"Oh iya papa lupa. Kenalkan, dia Sebastian Earl Sanders." Mamoru memperkenalkan Earl pada Shilla. "Dan Earl, dia Nashilla, putri ku."


"Hallo." Sapa Earl lembut. Bahkan suaranya juga lembut sesuai dengan perawakannya.


"Dan dia Kenzo, cucuku." Mamoru menunjuk Kenzo yang sedang bengong melihat seorang yang gagah tinggi tampan.


"Hi Kenzo." Earl melambai pada Kenzo yang masih terbengong.


"Sepertinya bisa di jadikan calon papa baru." Pikir Kenzo yang memang sudah sangat kecewa pada Keano.


Apalagi lelaki yang kini ada di hadapannya tak kalah tampan dengan Keano, bahkan lebih tinggi tubuhnya. Mungkin karena turunan orang Eropa.


"Kalau begitu papa bicarakan bisnis dulu, nikmati waktu kalian." Mamoru mengajak Earl ke ruang kerjanya.


Kenzo menghampiri Shilla. Dia mengajak Shilla berenang. Dia ingin sekali belajar berenang. Namun Shilla selalu menunda dengan berbagai alasan.


"Ayolah mama, Kenken ingin sekali berenang."


"Iya, kita ganti baju dulu."


"Yeeeey."


Mereka berdua mengganti baju untuk kebutuhan renang. Tentu saja Shilla tidak memakai baju yang minim bahan, dia tetap memakai pakaian sopan meskipun ini adalah kolam pribadi.


"Ma..." Kenzo memanggil Shilla. Dia ingin membicarakan hal yang tadi sempat tertunda ketika ia makan.


"Iya sayang?" Shilla menjawab pertanyaan Kenzo sambil membawa Kenzo ke tengah kolam dengan hati-hati. Tentu saja dengan peralatan keselamatan yang tak tertinggal.


"Tante yang di bawa papa, Ken pernah melihatnya."


Shilla bingung. Kenzo belum pernah bertemu V, dimana dia pernah melihatnya.


"Kenzo sering mimpi di temani tante cantik. Tapi dia bukan tante cantik. Tante cantik orang yang lembut."


Shilla semakin bingung dengan penuturan Kenzo. Kenzo belum pernah bertemu bahkan kenal dengan V, bagaimana bisa dia memimpikan V.


Entahlah. Shilla hanya menanggapi sesuai keperluan saja. Dia juga tak mengerti. Apalagi ketika membahas V, hatinya seperti tercubit.


Bersambung....