Young Mama

Young Mama
Bab 73: ~Nyonya Hayashi?~



Semua anak buah Mamoru sudah sampai di Hutan Terlarang. Kenapa dinamakan Hutan Terlarang, karena hutan tersebut sering menelan korban jiwa. Entah hilang atau diserang binatang buas, sangat jarang ada orang yang keluar hidup-hidup.


Namun Kenji memilih melarikan ke hutan ini bukan tanpa alasan, di hutan ini, dia tak akan mudah terlacak.


"Susuri semua hutan, kalian harus menemukan K dan V." D memberi perintah menggantikan Mamoru.


"Baik tuan!"


Semua anak buah berpencar menyusuri hutan. Mereka berhati-hati dalam melangkah, karena selain serangan binatang buas, musuh juga pasti sudah masuk lebih dahulu untuk mencari kedua orang itu.


Musuh yang mencari K dan V masih setia menyusuri seluruh hutan. Banyak orang di kerahkan, bahkan anjing pelacak juga mereka kerahkan. Untung bau-bauan yang ada di hutan ini menyamarkan bau mereka dari penciuman tajam si anjing pelacak.


Musuh yang tak kenal lelah itu terus mencari tanpa kenal takut. Mereka lebih takut jika bosnya marah dari pada terkena serangan binatang buas. Padahal sekarang, satu persatu dari mereka sudah tumbang tanpa mereka ketahui apa yang sedang mereka hadapi.


Pihak Maroru lebih diuntungkan karena datang terakhir. Sehingga mereka bisa langsung menyergap musuh dari belakang yang sedang fokus mencari keberadaan K dan V.


"Kenapa rasanya jumlah kita semakin berkurang?" Ujar salah satu pemimpin kelompok yang mulai menyadari kejanggalan. "SIAL KITA DISERANG."


Karena penyerangan sudah diketahui, Mamoru memerintahkan anak buahnya tak perlu lagi bermain-main dan langsung habisi mereka semuanya.


Suara tembakan langsung memecah keheningan hutan yang semula sunyi. Musuh yang merasa terpojok semakin merangsak masuk kedalam hutan.


***


"K, kau dengar itu?" Violeta kembali fokus mendengarkan apa yang baru saja ia dengar.


"Bagus, ternyata mereka juga mencari kita."


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Keano membawa ke sebuah restoran yang ada di dalam Hotel berbintang. Bukan tanpa alasan dia membawanya ke sana, namun karena mitra kerjanya mengadakan pertemuan di hotel tersebut.


"Nikmati makanan mu terlebih dahulu, aku tak mau membuat mereka menungguku lebih lama." Keano memesankan makanan untuk Kenzo dan Shilla. Dia juga berpesan agar kekasihnya dilayani dengan baik. Setelahnya ia kecup kening Shilla dan segera pergi menemui mitra kerjanya.


"Jagoan papa jagain mama ya." Keano mengacak rambut Kenzo.


Ucapan Keano diangguki semangat yang menggebu dari Kenzo.


***


Keano memasuki ruangan. Semua orang langsung berdiri hormat. Sesaat setelah Keano duduk, semua mengikuti.


"Apakah sudah dimulai?" Keano bertanya pada Leon, karena tadi dia memberi kepercayaan pada Leon.


"Sudah tuan. Kita baru sampai ke bursa saham."


"Kalau begitu lanjutkan."


Leon melanjutkan penjelasan yang tadi sempat terjeda. Semua orang memperhatikan dengan saksama penjelasan yang di sampaikan Leon. Meskipun wibawanya masih kalah dengan Keano, namun Leon adalah satu dari sepuluh pria idaman di seluruh Jepang. Lihat saja mata Rose yang tak berkedip melihat pesona Leon, apalagi setelah kejadian malam itu.


Rose menepuk-nepuk pipinya berusaha mengusir pikiran-pikiran nakalnya. Kalau sampai diketahui Leon, bisa berakhir di ranjang lagi nanti.


Keano memperhatikan jalannya rapat. Dia hanya sesekali mengoreksi kekurangan dari apa yang disampaikan oleh Leon.


Dan pada Akhirnya dalam waktu dua jam mereka selesai mencapai kesepakatan.


"Terima kasih tuan Kenji."


"Terima kasih Tuan Kenji."


Satu persatu dari mereka menyalami Keano dan mereka undur diri.


"Saya tak menyangka bisa bekerja sama dengan pengusaha hebat seperti anda, masih muda pula."


"Saya juga sangat senang bekerja sama dengan anda tuan Fernandes."


"Kenji, Kenji, Mamoru tak salah memilih penerus seperti kamu, awalnya saya ragu siapa yang akan meneruskan kerajaan bisnisnya."


Keano hanya tersenyum menanggapi kata-kata menjilat dari seorang Fernandes. Fernandes bisa sampai ke titik ini merupakan gabungan dari menjilat pengusaha sana sini.


"Tunggu tuan, masih ada beberapa yang perlu anda tanda tangani." Leon mencegah kepergian Keano.


"Sepertinya sayalah yang harus lebih dulu pergi."


Fernandes melangkah pergi meninggalkan ruang pertemuan. Dia merasa lapar, dia berencana untuk makan terlebih dahulu.


Dia melangkah diikuti sekretaris cantiknya. Sesekali ia goda sekretarisnya itu yang bersikap malu-malu mau.


"Sepertinya aku pernah melihatnya." Ujar Fernandes saat melihat seorang perempuan bermuka kusut karena terlalu lama menunggu seseorang.


Dia mencoba mengingat-ingat di mana kiranya mereka pernah bertemu.


"Ada apa tuan?" Sang sekretaris bertanya karena rasa penasaran.


"Aku sepertinya pernah melihat wanita itu." Tunjuk Fernandes pada seorang wanita dan seorang bocah di sampingnya. "Benar! dia dulu pernah membuatku malu saat kunjungan ku ke Indonesia."


Fernandes berjalan cepat ke arah wanita itu yang tak lain merupakan Shilla.


"Woooow, dapat lelaki kaya? bisa makan di sebuah restaurant mewah seperti ini, sudah tidak jual mahal? berapa per malam?" Fernandes langsung memojokkan Shilla dengan sebuah pertanyaan yang kurang pantas.


Dahi Shilla mengerut. Dia berusaha mengingat siapa gerangan lelaki yang bicara dengan seenaknya seperti ini. Dan memorinya berputar satu atau dua tahun lalu ketika dia bekerja sebagai seorang pelayan dan digoda oleh pria mabuk, dan di hadapannya kini pria mabuk itu tiba- tiba datang menghinanya.


"Maaf tuan, apa kita pernah bertemu sebelumnya?" Shilla pura-pura tak mengingatnya. Dia tak ingin membuat orang-orang mengalihkan perhatian mereka kepadanya.


"Br*ngsek!! Wanita tak tahu diri. Kamu pura-pura lupa? Setelah kau mempermalukan ku saat itu?"


"Oh iya , saya ingat, anda adalah seorang yang memanfaatkan status untuk meraih kedudukan kan ya?" Shilla seorang berpikir keras. Hal itu semakin membuat murkanya Fernandes.


"Dasar perempuan j*lang!" Fernandes ingin mencengkram kerah Shilla.


Namun bukan Shilla namanya kalau dia tak berhasil menepisnya.


Mata Kenzo sudah terlihat galak melihat mamanya diserang. Namun badannya masih ditahan Shilla.


"Maaf tuan, meskipun anda tamu terhormat sekalipun, tapi saya di sini juga seorang tamu, mohon saling menghormati." Shilla hendak pergi membawa Kenzo sebelum dia didorong dan tersungkur ke lantai.


"Dasar p*lacur murahan." Fernandes puas melihat Shilla tersungkur di lantai sambil melindungi badan kecil Kenzo.


"Ada apa ini?!" Suara berat yang telah mereka kenal membuat jantung Fernandes seolah copot.


"Ah tuan Kenji, saya hanya sedang mengajari seorang sampah ini sopan santun." Fernandes menunjuk Shilla yang masih duduk memeluk Kenzo yang memberontak marah.


"Mama? P*lacur itu apa?" Kenzo bertanya pada Shilla yang memang dia tak mengerti kata yang diucapkan oleh lelaki menyeramkan itu.


"Kenzo tak perlu tahu sekarang, tak perlu mencari tahu, pada saatnya nanti Kenzo akan mengerti dengan sendirinya." Ucap Shilla lembut.


"Tapi Kenzo tau kalau itu sesuatu yang tidak baik ma." Kenzo menatap mata Shilla mencari sesuatu di sana.


"Sudah kasih tahu saja, biar anakmu juga tau, siapa kamu sebenarnya." Fernandes masih berada di atas angin.


Keano masih diam. Namun tangannya mengotak-atik sesuatu.


"Ayo bangun sayang, kita pulang, tak usah hiraukan perkataan yang membuat Kenzo pusing."


"Baik."


"Selamat tuan Fernandes, anda masuk daftar hitam keluarga Hayashi. Semua hal yang berhubungan dengan anda, tidak bisa masuk kedalam Hayashi Grub. Dan jangan harap anda bisa menggandeng perusahaan lain, karena mereka di masih di bawah kendali Hayashi." Ucapan Keano membuat Fernandes syok.


"Dan untuk kerja sama yang tadi kita sepakati, semuanya batal."


"T...tu..tnggu tuan, apa salah saya?"


"Salahmu? kamu menyinggung nyonya Hayashi." Keano menggandeng Shilla dan pergi dari sana. Meninggalkan Fernandes yang masih mematung syok.


Bersambung...