Young Mama

Young Mama
Bab 87: ~Siapa Sebenarnya Violeta?~



Seseorang tengah berusaha sekuat tenaga untuk mengeluarkan sesuatu dari dalam perut besarnya. Darah sudah tertumpah ruah menjadi genangan. Badan sudah lemas, namun ia paksakan untuk untuk tetap terjaga. Dan dengan sisa tenaga yang ia miliki, dia berhasil mengeluarkan sosok bayi mungil yang langsung menangis di gendongan seorang perempuan lainnya.


"Tolong, tolong beri nama Kenzo. Kenzo Alvarez."


Seketika Shilla langsung terbangun dari tidurnya. Napasnya terengah. Keringat membanjiri seluruh tubuhnya. Entah kenapa dia kembali memimpikan bagaimana pertemuannya dengan Kenzo. Apakah ada sesuatu di baliknya. Atau bagaimana Shilla tak mengerti. Dan sebenarnya siapa wanita itu, Shilla tak begitu paham dengan wajahnya. Karena darah dan luka di wajah wanita itu, membuat Shilla tak mengenalinya. Apalagi malam itu, cahaya yang begitu minim membuat semakin kabur pandangannya.


Shilla menoleh ke sebelah. Terlihat Kenzo begitu pulas tidur memeluk bantal berbentuk buaya. Ia elus kepalanya dengan sayang. Menyalurkan kehangatan seorang ibu yang bahkan sebenarnya belum ia miliki. Namun Shilla berusaha menjadi ibu yang baik untuk sang putra.


Kenzo menggeliat dalam tidurnya. Dia merasa terganggu oleh belaian lembut Shilla. Dia kembali menyamankan tidurnya dan memeluk semakin erat bantal buaya pemberian Earl.


"Mama akan melakukan apapun untuk kebahagiaan mu sayang." Tekad Shilla untuk putranya. Ia akhiri dengan mengecup kening Kenzo dan memeluknya. Kembali ia memejamkan mata. Biarlah mimpi itu menjadi sebuah pengingat, jika suatu hari nanti Kenzo harus tahu yang sebenarnya. Begitulah pikir Shilla.


***


"Kenzo ingin bermain apa hari ini?" Seorang wanita cantik bergaun putih memeluk mesra Kenzo. Senyumnya begitu keibuan. Matanya meneduhkan.


"Kenzo sedang tak ingin bermain Tante cantik." Kenzo cemberut di pelukan wanita yang dipanggilnya Tante cantik itu.


Wanita yang tak lain adalah Violeta itu bingung. Tak biasanya Kenzo seperti ini. Biasanya dia akan bermain dengan ceria. Mengabaikan banyak hal.


Violeta membawa Kenzo kedalam pangkuannya. Dia cium kepala Kenzo sayang dan membawanya berayun mengikuti irama ayunan yang ia jalankan.


Semilir angin di padang ilalang itu membuat suasana mesra kepada mereka. Rumput tinggi yang hijau membuat suasana semakin sejuk. Gaun putih berkibar tiap kali ayunan berayun maju dan mundur. Sejenak mengalihkan kesedihan Kenzo yang masih kesal dengan Keano.


"Kenzo tak mau bercerita dengan Tante kah?" Violeta mencoba membujuk Kenzo.


Ayunan masih terus berayun menggerakkan ilalang yang tersapu olehnya. Seekor burung kecil mendekati mereka. Dengan tak merasa takut, sang burung berkicau dengan riangnya.


Kenzo meminta Violeta menghentikan ayunan. Dia mendekati burung biru kecil itu dan di sambut baik dengan sang burung bertengger di jemari kecilnya.


Senyum kenzo merekah. Dia menggelitiki leher burung biru itu dengan jemari lainnya.


Melihat Kenzo yang asik bermain dengan burung itu, Violeta mendekat dan ikut menyentuh bulu-bulu halus berwarna biru itu.


"Papa menyakiti mama Tante. Makanya Kenzo sangat kesal dengan papa." Cerita Kenzo di sela-sela dia bercanda riang dengan burung yang semakin lama kicauannya sekamin merdu. Seolah sang burung tengah bernyanyi untuknya.


"Memang bagaimana papa menyakiti mama Kenzo?"


Kenzo cemberut mengingat Keano menyakiti Shilla. "Dia membawa orang yang mirip Tante cantik ke rumah. Tentu saja mama sedih."


Kenzo memberikan burung itu remah makanan. Mengundang burung lain yang bersembunyi mendekat. Mereka berebut makanan yang diberikan oleh Kenzo.


Dalam tidurnya Kenzo tersenyum. Dia sudah berpindah memeluk Shilla yang sedari tadi menyaksikan senyum Kenzo dalam tidurnya.


"Kamu mimpi indah ya nak? Teruslah bermimpi indah sayang." Shilla memeluk putranya yang juga sedang memeluknya.


Tanpa Shilla sadari. Dia kembali terlelap terbuai mimpi mimpi indah. Bukan lagi memimpikan masa lalunya.


Mereka terlelap tidur bersama dengan mimpi masing-masing. Ternyata sang dewi mimpi sedang berbaik hati dengan memberikan mereka mimpi indah. Hingga mereka tersenyum dalam tidur mereka.


Bahkan sang rembulan yang mengintip di balik jendela kamar pun ikut merasakan kebahagiaannya. Semoga kebahagiaan ini tak pernah sirna dari kehidupan mereka.


***


Seorang wanita kembali melancarkan aksinya di malam yang telah larut. Dia tak pernah jemu untuk mencari informasi dari Keano. Namun kali ini dia lebih berhati-hati. Dia tak mengobrak-abrik seperti malam-malam sebelumnya. Akan terlalu mencurigakan jika tiap malam ada orang yang mengobrak-abrik ruang kerjanya. Tak mungkin lagi Keano akan percaya dengan alasan-alasan selanjutnya.


Namun yang tak Aiko ketahui, nyatanya Keano sudah mengetahui seluruh tingkanya. Bahkan Keano sengaja pulang terlambat agar Aiko lebih leluasa mencari dokumen yang ia mau.


"Ternyata disini kau menyembunyikannya." Aiko menyeringai mendapatkan harta karun. Seluruh informasi dari Golden Dragon ada disana semua. Termasuk informasi terkini yang baru saja di update.


Cepat-cepat Aiko menyimpan temuannya. Ia kembali menutup dengan sempurna brangkas yang awalnya tak terkunci itu.


"Ternyata kau bisa berbuat ceroboh juga Keano. Tunggu saja. Setelah mereka menjatuhkanmu, maka aku akan menampungmu, dan mau tak mau kau harus menuruti seluruh keinginanku." Senyum Aiko tak dapat dideskripsikan artinya. Dia sangat licik. Menggunakan segala cara hanya untuk mendapatkan Keano yang sama sekali tak mencintainya.


Di dalam mobil Keano menyaksikan seluruh perbuatan Aiko lewat Tab miliknya. Dia tersenyum karena rencana yang dia susun berjalan lancar. Bahkan Aiko tak menaruh curiga sedikitpun bahwa brangkas yang tak terkunci merupakan kesengajaan Keano.


Keano mengambil ponsel miliknya. Dia menghubungi nomor yang sudah ada di dalam daftar kontaknya.


"Target sudah memakan umpan. Siapkan rencana selanjutnya." Perintah Keano pada seseorang di seberang sana yang tak lain adalah Leon.


Seribgai licik Keano makin menjadi. Dia sudah tak sabar menjatuhkan Alison. Orang yang sudah menghalanginya naik kepuncak. Dan sekarang ada alasan yang lebih menguatkannya lagi. Yaitu orang yang telah tega membuang Shilla, darah dagingnya. Alison harus lenyap dari muka bumi ini.


"Kita kembali ke markas." Perintah Keano pada anak buah yang menyetir mobilnya. Tak biasanya Keano menyuruh orang untuk mengemudikan mobil kesayangannya. Namun dia sedang malas memegang kemudi, dia hanya ingin mengemudikan untuk Shilla, kekasihnya yang sedang disakitinya.


"Shilla... Kenzo... Bagaimana kabar kalian. Papa kangen dengan kamu Kenzo." Bicara Keano lirih. Hanya telinganya sendiri yang mampu mendengarnya. Hati buasnya ternyata bisa lembut juga jika itu di hadapkan kepada orang-orang yang di sayanginya.


Namun tiba-tiba Keano ingat sesuatu. Dia mengingat bahwa ada laki-laki lain yang sedang mengincar Shillanya. Dia harus cepat-cepat menyelesaikan urusannya agar bisa menjemput kedua orang kesayangannya.


Karena dia sadar, Earl saingannya, merupakan saingan yang berat. Baik dari latar belakangnya, maupun kepribadiannya. Keano menyadari bahwa pribadi Earl lebih baik dari dirinya.


Bersambung...


Mini Drama:


Hasil perlombaan yang dilakukan di Grub Chat. Selamat untuk @Dhani Atma


"Mama... Kenzo lapar." Kenzo merengek pada Shilla yang masih mencuci di pinggir Sungai.


"Sabar lah nak. Ini s*mpak bapakmu sudah habis. Harus nyuci dulu." Jawab Shilla yang mengucek S*mpak warna biru langit milik Keano.


"Ayo ma sekarang aja kita makan, Kenzo maunya sekarang mama." Rengek Kenzo tak peduli dengan muka Shilla yang cemberut kelelahan mencuci di sungai.


"Buruan ma." Sambung Kenzo karena tak dapat tanggapan dari Shilla.


"Iya sebentar sayang, ehm bagaiimana kalau kita tangkap ikan di sungai ini?" Tawar Shilla ke Kenzo.


"Ehm...." Kenzo bergumam sambil memikirkan tawaran Shilla.


"Tapi kita menangkap ikan pakai apa ma? Kita tak punya pancing?" Jawab Kenzo bingung.


"Gampang sayang kita buat jala dari s*mpak papa kenzo saja." Jawab Shilla.


"Memangnya bisa?" Kenzo semakin bingung dengan jalan pikiran mamanya.


"Bisa dong jagoan mama. Lihatlah mama membuat jala dari s*mpak papa mu." Jemari Shilla mulai sibuk merakit s*mpak satu demi satu untuk menjaring ikan.


"Taraaaaa, jala serba guna siap kita gunakan."


Mata Kenzo berbinar kagum. Mereka berdua langsung asik menjaring ikan dengan s*mpak milik Keano.


Di tempat lain.


"Kok perasaanku tak enak ya." Gumam Keano.