Young Mama

Young Mama
Bab 34: ~Kalau Marah Sadis~



Evelyn memasuki rumah besarnya dengan hati berbunga-bunga. Hari ini ia bertemu dengan anaknya yang selama ini belum pernah dijumpainya. Hiroshi ternyata tampan dan juga pintar. Ia bangga memiliki dua anak yang sangat menyayanginya. Juga mereka sudah mandiri. Bukan hanya itu kebahagiaan yang ia rasakan, ia juga mendapatkan cucu. Meski bukan cucu kandungnya sendiri, tapi dia begitu mirip Keano kecil. Kenzo seperti copy paste Keano ketika dia masih balita. Ia sangat menyayangi Kenzo. Mungkin lain kali ia akan menemui anak itu lagi.


"Nyonya terlihat sangat bahagia." Seorang ART menghampiri Evelyn. Tak pernah ia melihat tuannya bahagia seperti ini. "Tuan sudah menunggu nyonya dari tadi." ART yang biasa di panggil Imah itu memberitahukan pada Evelyn.


"Tuan sudah pulang?" Evelyn menanyakan kebenarannya kepada Imah. "Tak biasanya dia pulang lebih awal." Evelyn merasa was-was. Perasaannya mengatakan sesuatu yang tak baik akan terjadi.


Dari pada menebak-nebak tak jelas, Evelyn langsung pergi menemui suaminya yang masih di ruang kerjanya. Dari jauh dia sudah mendengar jika suaminya sedang marah-marah terhadap Alexi. Entah apa lagi yang di perbuat anak itu hingga menyebabkan kemarahan Grigori.


Evelyn mengetuk pintu membuat suasana hening sejenak. Ia masuk dan seketika melihat pemandangan yang sungguh mengerikan. Wajah Alexi yang sudah tak tampak rupanya. Lebam di setiap sudut mukanya. Bahkan matanya sudah bengkak membiru. Apakah ini karena Grigori atau sebab lain Evelyn tak peduli.


"MASIH BERANI PULANG KAMU!" Kalimat Grigori membuat Evelyn begitu ketakutan. Sebisa mungkin ia sembunyikan ketakutannya.


"Ada apa?"


"ADA APA?! SEHARIAN TAK PULANG KAMU MASIH MENANYAKAN ADA APA?! BEGITU SENANG YA MENEMUI ANAKMU. JUGA ANAK HARAM MU?!"


Evelyn terkejut mendengar Grigori mengucapkan anak haram. Ia tak habis pikir jika Hiroshi dianggap sebagai anak haram. Padahal anak haram yang sebenarnya adalah Alexi. Gara-gara anak itu datang, anaknya yang harus jadi anak tunggal di rumah ini jadi tersisih. Dan sekarang malah ia di tuduh memiliki anak haram.


Marah.


Sedih.


Terluka.


Semua rasa bercampur jadi satu. Hanya air mata yang mampu keluar. Ia tertunduk meratapi nasibnya yang sungguh malang.


"Kalau Hiroshi anak haram, lalu dia anak apa? bukankah anak haram yang sebenarnya adalah dia?" Semua kekecewaan yang di pendam Evelyn selama ini mencuat sudah.


Ia sudah berusaha menyayangi Alexi sebagai anaknya sendiri, namun perlakuan Grigori pada Keano membuat dia tak bisa menyayangi Alexi.


Grigori naik pitam. Selama ini dia tak pernah main tangan terhadap Evelyn pun sekarang hilang kesabaran. Tangan yang dulu meminta Evelyn untuk menggandengnya, kini ia pakai untuk menampar pipi yang tak bersalah.


Evelyn terisak. Bagaimanapun ia masih istrinya. Namun sang suami sudah berani main tangan. Apakah pernikahan yang selama ini ia pertahankan akan kandas begitu saja. Kalau memang benar, ia sudah siap jadi janda. Ia sudah tak mengkhawatirkan Keano. Dia sudah besar dan sudah bisa mencari nafkah sendiri. Tugasnya sudah selesai.


Di pojok sana Alexi tersenyum kemenangan. Ia puas melihat ibu tirinya di tampar oleh sang ayah. Ia puas melihat bekas kemerahan di pipi putih Evelyn. Meski nyeri ia rasakan dari sudut bibirnya karena terluka, ia abaikan untuk menikmati pemandangan yang ada di hadapannya.


"Jadi ini jawabannya?" Evelyn menatap Grigori dengan dingin. Tangannya masih mengusap pipinya yang masih terasa panas.


"..." Grigori dia seribu bahasa. Ia tak menyangka ia tega memukul istrinya. Meskipun ia marah, belum pernah ia main tangan terhadap istrinya. Ia sudah melanggar janjinya terhadap kedua orang tua Evelyn. Ia telah menyakiti anak perempuan mereka.


"Kalau memang ini sebagai jawabannya, cepat selesaikan saja. Aku tunggu surat dari pengadilannya." Evelyn pergi. Cukup sampai disini ia pertahankan bahtera rumah tangga yang sudah puluhan tahun ia bangun. Tak ada lagi alasan untuk mempertahankannya.


*


*


*


Sebuah mobil memasuki pekarangan rumah sederhana. Para tetangga sudah tak heran dengan sang pemilik mobil. Siapa lagi kalau bukan Keano yang mengantarkan Shilla dan Kenzo. Kenzo sudah tidur dengan damai dalam pelukan Shilla. Bahkan ketika diangkat untuk dipindahkan, ia tak bangun saking kecapaian bermain seharian.


"Ngapain kamu?" Tegur Shilla saat Keano mengikutinya di belakang.


"Ikut masuk. Apa lagi?" Dengan tampang bodoh Keano menjawab dengan enteng.


"Siapa suruh?" Shilla menaikkan satu alisnya mendengar jawaban Keano.


"Aku tamu lho. Masa tamu ngga di suruh masuk?" Keano memasang muka memelas.


"Huuuuuh." Shilla menghela napas lelah. Ia sedikit kesal dengan Keano yang tak tahu waktu. Ini sudah malam. Tak baik bila seorang lelaki bermalam di rumah seorang perempuan. Ini bukan negara barat yang membebaskan lelaki dan perempuan bahkan untuk tinggal bersama. "Berani melangkah, jangan pernah menemui ku lagi." Shilla menatap Keano tajam.


"Kok gitu?"


"Selamat malam Kei." Dengan singkat Shilla mencium pipi Keano. Setidaknya untuk menenangkannya karena tak diperbolehkan untuk mampir. Saat Keano masih dalam keterkejutannya, Shilla langsung masuk dan segera menutup pintu. Senyumnya mengembang, pipinya merona. Shilla malu sendiri dengan tingkahnya. Bisa-bisanya ia mencium Keano duluan. Meskipun cuma di pipi, ia benar-benar masih merasa canggung.


"SHILLA, SETIDAKNYA LEBIH LAMA SEDIKIT." Keano berteriak minta lagi. Namun tetap saja tindakan kecil kekasihnya itu membuat dirinya senyum-senyum sendiri.


Dia segera pergi. Toh pintu itu tak akan terbuka lagi malam ini. Ia akan kembali ke rumah ini besok pagi.


Sepanjang perjalanan bibirnya tak henti-hentinya mengembang. Menampilkan senyum menawan yang tak pernah di perlihatkan kepada siapapun. Senyum menawan yang sudah lama hilang bersama hilangnya Violeta dari sisinya. Tapi kini, senyum itu telah kembali.


Ponsel Keano berdering. Melihat nama mamanya yang tertera di layar ponselnya, dengan semangat ia mengangkat panggilan itu. Namun, sedetik kemudian, senyumannya mengeras. Rasa marah langsung menghampiri hatinya. Tanpa pikir panjang, ia langsung menginjak gas dengan sekuat tenaga. Jalanan yang lengang membuat ia melaju semakin cepat. Ia tak peduli jika ada polisi yang masih berpatroli, saat ini yang ada di otaknya hanyalah suara tangisan mamanya.


Tak biasanya Evelyn menangis. Sesakit apapun keadaanya, ia akan tegar di depan anaknya. Kini tangisan itu telah membangunkan sisi buas Keano. Pikirannya kini hanyalah menghancurkan siapapun yang telah membuat air mata mamanya tumpah.


Ban berdecit dengan keras. Keano langsung berlari menghampiri mamanya. Tak ia gubris sapaan dari mbak Imah yang memberi salam pada Keano. Dengan amarah ia mendobrak pintu kamar Evelyn.


Di sana mamanya terlihat sedang menangis pilu. Air mata yang selama ini ia pendam tumpah sudah. Wajah ramahnya memancarkan kesakitan yang teramat sangat. Luka yang selama ini ia lalui terkumpul menjadi satu dan kini luka itu di perlihatkan kepada sang anak yang berlari menghampirinya dan memeluknya.


Keano memeluk Evelyn dengan erat. Menguatkan mamanya. Mengingatkan sang mama bahwa ia disini untuk sang mama.


Tangisan itu semakin pecah mengiris hati sang naga yang lama tertidur. Aura membunuh di sekitarnya kian tebal dan semakin pekat. Ia bimbing mamanya ke ranjang agar Evelyn bisa beristirahat. Menemani Evelyn hingga terlelap sebelum akhirnya Keano pergi menyelesaikan urusan yang tertunda.


*


*


*


"Jadi begini cara perempuan itu mendidikmu?" Darah segar mengalir dari pelipis Grigori. Ia sudah tak mengenal anak yang telah ditelantarkan dulu. Di depannya kini hanya berdiri sesosok pembunuh berdarah dingin.


"Aku menyesal telah membesarkanmu. Kalau saja aku tau akan menjadi seperti ini, aku akan membunuhmu dari dulu." Grigori berkata sinis. Ia tak tau apa yang telah anak itu lalui hingga bisa berbuat seperti ini.


Satu cambukan.


Dua cambukan.


Lima cambukan.


Sepuluh cambukan.


Keano terus mencambuk Grigori dengan ikat pinggangnya. Ia tak mendengarkan ocehan dari ayahnya yang terus mencerca dirinya. Justru cambukan-cambukan itu kian intens.


Kemeja yang dikenakan Grigori sudah koyak. Warna yang semula biru cerah berubah menjadi merah pekat. Kulitnya sudah banyak yang mengelupas.


"Bunuh saja, CEPAT BUNUH AKU SAJA." Grigori sudah pasrah dengan nyawanya. Namun untuk sekedar permintaan maaf saja ia tak sudi mengucapkannya.


"Langsung membunuhmu?" Keano tersenyum sinis. Tentu saja dia tak akan langsung membunuh Grigori begitu saja. Terlalu baik jika langsung di habisi. Ia harus merasakan penderitaan terlebih dahulu. "Tentu aku tak akan mengabulkannya."


Keano menarik tali kekang Grigori. Kedua tangan yang di lilit tali, di rentangkan hingga tubuh Grigori merasakan sakit yang teramat sangat. Kedua lengannya seakan copot dari badannya. Ia berteriak kesakitan hingga membangunkan Alexi yang sedari tadi pingsan.


"KEANO! DASAR B*NGS*T, B*J*NG*N KAU KEANO. APA YANG KAMU LAKUKAN PADA AYAH!?" Alexi meronta bringas. Kedua kaki dan tangannya yang di tali juga semakin longgar.


Keano tak memperdulikan Alexi yang terus mengumpat. Ia kembali menyiksa Grigori sedemikian rupa.


"HENTIKAN! BERHENTI ADIK K*P*R*T!"


"Hmmm? Adik? Sejak kapan aku menjadi adikmu? Bukankah selama ini kalian tak pernah menganggap ku?" Keano berkata dingin. Wajah tegas Keano benar-benar membuat nyali Alexi menjadi ciut.


Yang masih dipikirkan Alexi adalah bagaimana Keano membawa mereka ke tempat ini. Pasalnya tadi dia sedang mendapat ceramah dari sang ayah. Namun tiba-tiba saja Keano mendobrak masuk. Setelahnya ia tak ingat karena pingsang begitu saja. Yang menjadi keterkejutannya adalah ketika ia membuka mata, pandangan pertama yang tersuguh di depannya adalah muka tak karuan dari Grigori. Bahkan daging putihnya saja sampai terlihat karena kulitnya yang mengelupas. Sebenarnya apa yang di lakukan Keano ia tak mengerti. Yang pasti ia sedang mencari cara untuk lolos dari sini.


"Keano, aku tak akan pernah meminta maaf kepadamu. Meskipun kamu menyiksaku hingga mati, aku tetap tak bisa meminta maaf kepadamu. Tapi aku minta tolong, jangan bunuh kakakmu, masa depannya masih panjang." Dengan napas yang terputus-putus dan dengan sisa kesadarannya, Grigori memberi pesan pada Keano.


Tentu saja mendengar permintaan dari ayahnya membuat Keano tertawa. Bahkan saat di ambang kematian pun Grigori tak mau mengakui kesalahannya. Dan sekarang dengan seenaknya ia di minta mengampuni nyawa Alexi? sungguh lucu sekali. Apakah dulu ayahnya memikirkan masa depan Keano? Apakah dulu mereka memikirkan nasib Keano? TIDAK! mereka bersenang-senang sendiri menikmati harta kekayaan peninggalan kakek dari mamanya. Dan sekarang mereka ingin lepas begitu saja? jangan pernah berharap.


Siksaan untuk keduanya terus berlanjut. Sampai pada akhirnya mereka tak kuat lagi dan tak sadarkan diri.


Keano menghela napas lelah. Ia ambil sapu tangan yang ada di sakunya dan membersihkan darah yang terciprat ke mukanya. Tak lupa pula ia membersihkan sisa darah yang berada di ikat pinggangnya sebelum nantinya ia bakar.


Keano berjalan keluar bangunan tak terawat dan menghubungi Leon. Pekerjaan pembersihan tentu saja tak cocok dengannya.


"Hallo L? Datang ke bangunan terbengkalai di jalan X blok Z. Bersihkan tanpa ada yang tersisa."


Di sebrang sana Leon langsung mengerti. Dari nadanya Ia sudah bisa menebak apa yang telah di lakukan bosnya barusan. Besok dia akan memarahinya. Leon kesal karena tak diajak bersenang-senang. Malah di suruh berkutat dengan dokumen.


"Siap bos!" Meskipun kesal namun tetap pergi menjalankan perintah.


Bersambung...