
Kenzo berjalan dengan riang penuh kebanggaan. Dia seolah memamerkan kebahagiaannya bersama kedua orang tuanya. Memang benar, hari ini Kenzo diantar langsung oleh Keano dan juga Shilla. Bahkan Shilla yang sebenarnya masih harus beristirahat yang cukup, memaksakan diri untuk menemani Kenzo. Dia tak ingin Kenzo berkecil hati karena orang tuanya yang tak datang.
Sesaat Keano melangkah di pelataran sekolah, semua mata langsung memandang dan langsung menjadi buah bibir dari para orang tua. Berbagai macam ekspresi terlihat dari wajah-wajah itu. Ada yang begitu ketakutan, ada yang terkejut, ada yang kesenangan, ada pula yang tak peduli.
Namun di antara semuanya, ada wajah yang bukan main terkejutnya. Dia adalah ibu dari Arata, yang sudah menuding-nuding Kenzo, bahkan dengan bangganya dia mengatakan bahwa suaminya merupakan salah satu petinggi dari perusahaan Hayashi. Dia menggali lubang kuburnya sendiri. Bisa saja hari ini adalah hari terakhir dirinya menikmati kemewahan.
"Dasar anak nakal, kamu membuat ulah, nanti harus minta maaf dengan anak yang kemarin memukulmu." Ibu Arata langsung menyalahkan anaknya. Dia memukul pelan kepala Arata membuat anak itu meringis sakit.
"Mama ini bagaimana, dia memukulku, kenapa aku yang minta maaf." Memang dasar Arata sungguh bandel. Dia tak pernah mau mengakui kesalahannya. Bukan salah dia menjadi seperti itu, namun salah orang tuanya yang terlalu memanjakan anaknya tanpa ada dasar yang kuat.
"Kamu mau jatuh miskin! Minta maaf sama dia!"
Arata hanya mendesis tak suka. Ibunya tak pernah menyuruhnya untuk meminta maaf kepada siapapun, namun kali ini Arata merasa direndahkan karena harus meminta maaf kepada anak lemah itu.
"Minta maaf!" Pelototan tajam membuat Arata langsung menurut.
"Iya!" Arata menghentak-hentakkan kakiknya kesal. Belum pernah dia merendahkan dirinya kepada orang lain, dan sekarang dia malah di suruh ibunya minta maaf, "Memang apa hebatnya anak itu!" begitulah kiranya pikiran Arata yang masih belum terbuka.
Di dalam kelas Kenzo disambut oleh Suzu. Dengan antusias Kenzo memperkenalkan mama dan papanya. Tentu saja Suzu langsung menjabat keduanya tanpa ada rasa malu. Sungguh anak yang ceria dan imut.
"Nama saya Suzu om, tante." Suzu menunduk hormat. Dia langsung suka begitu melihat wajah cantik Shilla yang ramah, tidak seperti ibunya yang kadang bisa memarahinya tanpa sebab.
"Hallo Suzu." Shilla mencubit gemas pipi Suzu. Dia tak pernah menyangka bahwa di hati pertama masuk Kenzo sudah mendapatkan teman yang begitu manis.
Suzu tersenyum manis dan langsung menyeret Kenzo untuk bermain. Kedua anak itu langsung bermain sendiri melupakan orang tua mereka yang masih terus memperhatikan dari jauh.
"Jadi? Kapan?" Keano melirik ke arah Shilla yang tersenyum melihat keceriaan Kenzo.
"..." Shilla hanya membalas lirikan Keano tanpa ingin menjawab pertanyaan Keano. Dia sudah tau arah pembicaraan Keano akan kemana.
"Ayolah baby..." Belum sempat Keano menyelesaikan Kalimatnya, cubitan Shilla sudah mendarat di pinggang Keano.
Bukan karena Shilla tak ingin menikah dengan Keano, namun Shilla ingin Keano sungguh benar-benar bisa menerimanya. Shilla tak ingin menjadi bayang-bayang masa lalunya ketika nanti sudah memulai bahtera rumah tangga.
"Bukankah tuan Kenji belum menikah."
"Apa dia anak yang tak diharapkan."
"Mungkin wanita itu yang menggodanya."
"Menghalalkan segala macam cara."
"Wanita ular."
Berbagai macam tudingan mereka lancarkan kepada Shilla. Namun gadis itu tak peduli dengan berbagai macam ocehan yang tak berbobot itu. Untuk apa dia mempedulikannya, hanya akan membuat sakit kepala saja.
Saat mereka tengah asik memperhatikan anak-anak mereka, seorang lelaki berpakaian rapi menghampiri Keano. Sepertinya dia adalah kepala sekolah yang hendak menjilat Keano, apalagi karena kejadian kemarin, yang hampir saja membuat sekolah ini digusur.
"Tuan muda Hayashi, boleh meminta waktunya sebentar." Sang kepala sekolah tersenyum penuh tipu muslihat.
"Sebentar baby." Keano mencium kening Shila di muka umum membuat pipi Shilla langsung memerah malu. Keano bahkan tak peduli jika di sini adalah lingkungan balita.
Keano berjalan angkuh mengikuti sang kepala sekolah. Dia masih menahan diri untuk tidak menghancurkan sekolah ini dan isinya. Kemarin setelah diberi tahu seluruhnya oleh Leon, Keano sebenarnya ingin langsung meratakan tempat ini, untung saja Leon bisa mencegahnya, tak ada alasan besar untuk bertindak gegabah saat ini. Nama Kenji Hayashi tak boleh tercoreng oleh hal kecil.
Sepeninggalan Keano, Shilla kembali menikmati keceriaan yang ada di sekitarnya. Dan Shilla memperhatikan ada seorang anak yang tengah menghampiri Kenzo. Sepertinya anak itu ragu, dia beberapa kali menoleh ke arah ibunya dan ibunya terus menerus memintanya mendekati Kenzo.
Melihat hidung anak itu yang masih bengkak, Shilla menebak bahwa anak itulah yang kemarin mendapatkan pukulan Kenzo. Rasa kasihan dan bangga menjadi satu kesatuan. Kasihan karena anak berbadan besar itu mendapat pukulan Kenzo yang notabene badannya lebih kecil, namun juga bangga bahwa anaknya sudah bisa membela yang lemah. Suatu saat nanti, Kenzo akan menjadi lelaki yang diidamkan oleh para wanita.
Anak itu sampai di hadapan Kenzo masih saja diam. Dia masih sungkan untuk mengatakan maaf. Dia terlalu gengsi untuk memulai sebuah percakapan dengan orang yang sudah diejeknya.
Kenzo hanya diam menatap Arata. Di tak ingin bertanya kenapa Arata menghampirinya. Kenzo sangat kesal karena Arata sudah kasar dengan Suzu kemarin. Dia bisa menahan dari segala macam gunjingan orang, namun dia tak akan tahan dengan orang yang menyakiti temannya. Apalagi Suzu adalah teman pertama di sekolah ini, dan juga Suzu anak yang manis.
Apa pula si Kenzo, masih kecil bisa melihat gadis yang manis. Apakah memang hormon seorang lelaki sudah berkembang sejak kecil, mungkin harus konsultasikan ke dokter dulu untuk tahu lebih lanjut.
Arata masih belum membuat suara hingga kelas masuk. Kenzo yang tak ingin berlama-lama dengan Arata hanya menggandeng Suzu untuk masuk kelas. Mereka berdua tertawa bersama membuat kilat api di mata Arata kian menajam.
***
"Ada apa?!" Keano langsung menanyakan maksud dan tujuan dari sang kepala sekolah. Dia tak suka basa basi, waktunya sungguh berharga, tidak ingin menyia-nyiakan waktu yang ada.
"Silahkan duduk dulu tuan muda, jangan terburu-buru." Kepala sekolah yang di kenal dengan pak Hajime itu menyiapkan tempat duduk untuk Keano.
Memang benar, hukum alam itu akan tetap berlaku sampai kapanpun, Bahkan sang kepala sekolah yang dihormati pun akan tunduk dan patuh kepada orang yang memiliki status lebih tinggi darinya.
Dengan angkuh Keano duduk di kursi yang yang telah disediakan. Dia duduk tegap seolah sekitarnya hanyalah para budak. Atmosfer yang sangat menekan dikeluarkan oleh Keano di setiap gerak geriknya. Bahkan suara napasnya saja mampu membuat Hajime merasa terintimidasi.
"Apa kau akan menyita waktuku terlalu lama?" Keano sudah tak sabar dengan Hajime. Dia terlalu bertele-tele. Keano tak suka dengan orang lelet.
"Ah maafkan saya tuan."
Hajime segera mengambil dokumen yang kemarin telah dia buat dengan Leon. Dokumen pernyataan bahwa sekolah ini mulai sekarang dalam kendali Hayashi Grub. Keano tinggal membubuhkan tanda tangannya maka sekolah ini resmi di bawah kendalinya. Tak akan ada lagi yang berani macam-macam dengan anaknya disini.
Ternyata Leon sudah memikirkan sampai ke sana. Dia sudah berjaga-jaga agar Keano tenang meninggalkan anaknya sekolah. Untung saja Harumi menghubungi Leon, kalau Harumi menghubungi Keano, mungkin sekolah ini hari ini sudah rata menjadi puing.
Bersambung...