Young Mama

Young Mama
Bab 91: ~Pulau Shikine~



Sebuah pulau kecil di Samudra Pasifik. Pulau kecil yang masih menjadi salah satu pulau dari negara Sakura. Pulau hijau nan indah. Cocok sekali dijadikan pulau pribadi karena ukurannya yang hanya sebatas kota di salah satu kota di Jepang. Pulau Shikine, pulau yang akan menjadi tempat pertempuran antar mafia besar di negara itu.


Anggota Golden Dragon sudah mengepung pulau tersebut. Mereka bersembunyi. Berkamuflase menyatu dengan lingkungan. Tak ada yang mengira bahwa di sana sudah banyak tersebar anggota.


Keano sudah berada di salah satu bangunan. Di pulau kecil itu hanya ada salah satu bangunan. Bangunan tempat jual beli harta karun nasional. Atau bisa di sebut juga pasar gelap.


Bukan. Bukan Keano yang akan melakukan transaksi. Dia hanya ikut bergabung untuk menangkap penjual gelap yang sudah menjadi buruan pemerintah dari negara itu. Sekaligus menghancurkan musuhnya.


"Apa semua sudah berada di posisi masing-masing?" Keano berjalan masuk di ikuti oleh Leon dan juga Rose.


"Semua sudah berada di posisi masing-masing. Tinggal menunggu ikannya menangkap umpan." Jawab Leon yang berjalan gagah di belakang Keano.


"Benar, kita hanya perlu menjalankan sesuai rencana saja tuan." Tambah Rose.


"Baiklah kalau seperti itu. Mari kita menangkap ikan besar kali ini."


Kedua asisten Keano mengangguk semangat. Mereka tak sabar ingin menumpahkan darah musuhnya. Sudah lama sekali mereka tak berperang. Sudah lama sekali mereka tak menyayat daging segar. Rasanya adrenalin mereka semakin berpacu berkali-kali lipat.


Ketiganya memasuki sebuah ruangan yang luas. Banyak kursi sudah berjejer rapi untuk menyambut tamu-tamu elit yang datang. Keano dan kedua sahabatnya duduk di barisan depan. Barisan VIP. Tak jauh dari tempatnya duduk, terlihat Earl sudah sampai lebih dulu. Keduanya saling mengangguk memberi kode.


Kesampingkan masalah cinta. Kesampingkan masalah perempuan. Hari ini mereka harus bekerja sama untuk meraih kemenangan.


***


Tak selang berapa lama, ruangan yang semula hanya ada beberapa orang itu kini mulai ramai sesak. Riuh suara tamu undangan memenuhi seluruh penjuru. Baik dari kalangan elit maupun kalangan biasa, mereka semua ingin mendapatkan harta nasional berapapun harganya. Lebih mirip dengan pelelangan, siapa yang memiliki uang lebih, maka dia yang akan mendapatkan barang menarik.


"Alison sudah mendarat tuan." Leon memberikan informasi kepada Keano. Di tangan Leon ada sebuah tab yang langsung terkoneksi oleh kamera pengintai yang sudah Eyes sebar di seluruh pulau. Pergerakan sekecil apapun, ia langsung dapat mengetahuinya.


"Baik. Kita tunggu dan nikmati permainannya."


Keano membenahi duduknya. Dia menyamankan diri berada di tempat itu. Sungguh rasanya ingin langsung membantai saja, namun bukan Keano namanya jika mengambil langkah gegabah.


"Alison sudah melewati pos pemeriksaan. Di sampingnya ada nona V."


"Dia bukan V. Dia hanya j*lang yang menggunakan muka V." Terlihat amarah di mata Keano. Dia sangat dendam dengan perempuan yang menggunakan muka kekasihnya. Dia bertekad akan menghancurkan Aiko, perempuan yang sudah dengan lancang mencuri muka V.


"Maafkan saya tuan." Leon merasa bersalah.


Rose hanya menggelengkan kepala atas kecerobohan kekasihnya. Dia hanya bisa memberi isyarat pada Leon semoga Tuan mereka tak memperpanjang perkataan tadi. Kalau sampai Keano masih marah, maka habislah Leon. Dia pasti akan mendapat hukuman yang berat.


Alison di pandu untuk menduduki kursi VVIP. Kursi yang terpisah dari kursi lainnya. Mereka mendapat ruangan sendiri. Ruang pribadi hanya untuk tamu VVIP.


Sebelum mengikuti pemandu, pandangan Alison mengedar pada seluruh tamu yang sudah hadir. Dia mencari musuhnya. Netranya beradu pandang dengan Keano, namun Alison tak mengenalinya berkat penyamaran Keano. Akhirnya Alison memutuskan untuk pergi ke ruangan yang telah mereka siapkan untuknya.


Keano yang saat ini dalam penyamaran memang tak di indahkan oleh sebagian tamu. Mereka tak ingin repot-repot menyapa orang kecil. Mereka hanya akan mendekati dan menjilat orang-orang besar yang menguntungkannya.


Tak hanya Keano saja yang melakukan penyamaran, baik Leon ataupun Rose juga melakukan hal yang sama. Tiga serangkai ini sudah sangat di kenal baik di dalam ataupun di luar organisasi. Maka, mau tak mau Leon ataupun kekasihnya juga harus ikut melakukan penyamaran.


Tak selang berapa lama setelah Alison datang, Mamoru beserta asistennya D juga datang. Sama halnya ketika Alison datang, ketika Mamoru tiba dia juga langsung disambut hangat dan meriah. Semua menanyakan keberadaan Keano. Tuan muda yang nantinya akan mewarisi seluruh aset milik Mamoru.


"Selamat datang tuan. Silahkan ikuti saya." Sambut petugas yang ditugaskan untuk menyambut tamu-tamu penting.


Mamoru mengikuti langkah petugas itu. Tak lupa dia melirik ke arah tempat duduk Keano. Tak ada pergerakan yang berarti. Agar semua rencananya tak gagal begitu saja.


"Di mana tuan muda Kenji?" Salah seorang yang menyalami Mamoru menanyakan keberadaan Keano.


"Dia mengurus hal lain." Jawab Mamoru singkat dan terus berjalan ke ruang VVIP yang lain.


"Apa dia akan lepas tangan tentang harta karun nasional ini. Banyak sekali yang mengincar." Masih saja mereka ingin tau tentang Keano. Apalagi di antara mereka tak sedikit gadis muda yang ikut berpartisipasi.


"Dia sedang mengerjakan hal yang tak kalah pentingnya dengan ini." Langkah Mamoru berhenti sejenak saat dia sampai di depan ruang VVIP tempat Alison.


"Ada apa tuan?" Tanya pandu yang menyadari Mamoru berhenti mengikutinya.


"Siapa yang berada di ruangan ini?" Tanya Mamoru tanpa basa-basi.


"Ah," Pemandu itu berpikir sejenak sebelum melanjutkan kalimatnya. "dia adalah tuan Alison, seorang mafia besar dari Inggris."


Mamoru mengangguk. Ternyata perkiraan Alison datang adalah tepat. Semua umpan yang Keano siapkan telah di makan oleh Alison.


Mamoru berjalan kembali melanjutkan langkahnya. Ruangan yang ia tuju tak jauh dari tempat Alison. Namun, antara ruang VVIP yang satu dengan yang lain sangat terjamin kerahasiaannya. Mereka tak akan mendengar percakapan satu sama lainnya. Kecuali Eyes, yang sudah memasang penyadap di ruang VVIP tempat Alison berada.


"Apa sandera aman?" Alison bertanya pada Aiko yang bergelayut manja di dadanya.


"Tuan tenang saja, mereka aman." Jawab Aiko menggoda.


Bersambung...