
"Selamat datang Earl." Keano menyambut hangat kedatangan Earl.
"Lama tak jumpa tuan muda." Earl tersenyum menyalami Keano.
"Masih saja tak berubah kalau bercanda." Keano tertawa dan menyambut uluran tangan Earl.
Keano dan Earl sudah saling mengenal. Apalagi Earl merupakan koneksi terbaik untuk mengetahui bagaimana perkembangan organisasi yang di pimpin oleh Alison. Sebagai bangsawan kerajaan Inggris, Earl merupakan kunci penting untuk menumbangkan Alison yang merintis organisasi di negara tersebut.
Mereka mulai membahas pembahasan yang serius. Bahkan Leon yang dari tadi berdiri tak bisa berkutik melihat muka keduanya yang tegang. Dua orang yang memiliki pribadi berbeda, namun bisa sejalan. Itulah mereka.
"Jadi sekarang Alison sudah ada di negara ini ya." Keano mengingat tentang Aiko yang beberapa hari terakhir semakin gencar mengacak-ngacak rumah. Sepertinya dia tau siapa orang di balik Aiko ini.
"Ya, dia sudah ada disini beberapa hari yang lalu. Kalau mau bertindak sekaranglah saatnya. Karena ini daerah kekuasaan mu, kalau dia kembali ke Inggris, aku tak bisa membantu banyak. Dia juga merupakan orang penting di sana. Meskipun aku memiliki dukungan kuat, tapi tak bisa membunuhnya begitu saja." Earl memberi penjelasan dengan saksama.
Mendengar penuturan Earl, Keano hanya mengangguk mengerti. Raut wajahnya tak bisa di artikan. Apalagi sayap lebar sudah menantinya di depan. Dengan hancurnya Alison, maka Golden Dragon akan merambah ke Eropa untuk semakin berjaya.
"L, beri tau Eyes mulai sekarang informasi apapun, sekecil apapun harus masuk data. Alison orang yang licik."
"Baik tuan." L segera bergegas menemui Eyes.
Keano dan Earl masih memperbincangkan langkah kedepannya. Mereka menyusun strategi sedemikian rupa dan dengan siasat yang tak mudah di tebak oleh pihak musuh. Mereka terlalu serius bahkan saat seseorang masuk tak disadarinya.
Orang itu terus diam mendengarkan dengan saksama. Dia hanya mengangguk-angguk tanda setuju dengan rencana yang mereka buat. Siapakah dia? Siapa lagi kalau bukan Mamoru ayah dari Keano.
"Bagus. Ternyata kalian bisa mengembangkan rencana mentah ku." Suara mamoru membuat kedua orang itu menoleh.
Mereka berdua langsung membungkuk memberi hormat. Bagaimanapun Mamoru masih menduduki posisi tertinggi dalam organisasi.
"Jadi kalian sudah bertemu?" Keano yang tak mengetahui bahwa Earl dan ayahnya telah bertemu sempat bingung.
"Ya, ayah kemarin membawanya ke rumah. Sepertinya Earl langsung jatuh hati sama putri ayah." Mamoru sengaja memanasi Keano.
Earl yang belum tau kejadian sebenarnya langsung berubah warna mukanya. Dia merasa panas dan dipojokkan. Apalagi mengingat saat latihan, mereka sempat saling tindih cantik.
Melihat warna muka Earl yang berubah membuat Keano tahu, bahwa ayahnya sedang tak membual. Ada rasa cemburu yang terpercik. Dia lengah. Karena ingin rencananya berhasil, dia malah mengabaikan wanita yang dicintainya. Harusnya dia terbuka saja. Tapi dia tak sanggup, tak sanggup jika Shilla harus terluka.
Melihat gestur Keano yang berubah, Mamoru merasa ada kepuasan tersendiri. Dia ingin memberi anaknya pelajaran. Bahwa antar pasangan harus saling terbuka. Bukan mengambil langkah sendiri yang akhirnya membuat salah satu pihak merasa sakit.
Mamoru tahu bagaimana lapangnya hati Shilla. Dia tak akan mencegah Keano jika saja Keano mau memberitahukan hal yang sebenarnya. Namun langkah yang diambil Keano terlalu sembrono hingga menyakiti hati putri kekasihnya itu. Dia tak rela. Dia harus memberinya pelajaran. Bahwa hati tak boleh untuk di permainkan.
***
Pipinya memerah. Bekas tamparan itu masih terasa menyakitkan. Bahkan terlihat sangat jelas bekas telapak tangan di pipi putihnya. Wajahnya hanya menunduk menahan amarah. Tidak bisa membela diri. Salahnya yang masih belum bisa menjalankan tugas dengan baik.
"Berapa lama lagi waktu yang kau butuhkan untuk mengetahui seluruh dokumen rahasia Kenji?" Ichiro menatap nyalang pada Aiko yang masih memegang pipi yang terasa panas.
Dia hanya diam mendengarkan seluruh sumpah-sarapah yang di keluarkan oleh lelaki di depannya. Hatinya ingin memberontak. Ingin lari saja yang jauh. Namun dia sadar, bahwa dia hanya orang kecil di hadapan Ichiro.
"Jawab Aiko!!! Apa mulutmu juga sudah tak berguna?" Ichiro melempar gelas anggur yang ada di sampingnya.
Gelas pecah berserakan. Aiko menatap ngeri pecahan di hadapannya yang seolah siap menusuk lehernya.
Rasa marah pada Ichiro menguap entah kemana. Rasa ingin memberontak ia urungkan. Dia tak sanggup melawan seseorang yang ada di hadapannya. Kalau memang ingin melawan, ia harus benar-benar mendapatkan hati Keano terlebih dahulu.
"Dasar sampah." Kembali Ichiro menampar pipi Aiko yang lain. Tamparan pertama belum sembuh dan kini Aiko harus merasakan panas di pipi lainnya juga.
Ichiro melepaskan kekesalannya dengan menusuk-nusuk foto Keano dengan pisau. Beberapa foto Keano, Shilla, juga Kenzo tersusun rapi di dalam dokumen sasaran VIP. Wajah Keano di dalam foto sudah tak tampak. Semua sudah tercerai berai menjadi potongan kecil.
Aiko yang melihatnya semakin bergidik. Dia beruntung bahwa bukan muka dia yang menjadi sasaran pisau iblis itu.
Ichiro melirik ke arah Aiko. Dia menangkap sorot takut di mata perempuan itu. Dia puas. Setidaknya dengan begitu dia tak akan macam-macam. Perempuan itu akan selalu ingat, bahwa nyawanya berada digenggaman Ichiro.
"Bawa dia pergi." Ichiro memerintahkan anak buahnya.
Segera setelah kalimat perintah terucap, bawahan Ichiro langsung melaksanakan perintah tanpa bertanya dua kali.
Aiko yang dituntun, atau bisa dikatakan sedikit diseret hanya pasrah saja. Nanti diluar dia akan membalas perlakuan kasar anak buahnya Ichiro.
Benar saja. Di luar Aiko langsung menghempaskan tangan anak buah Ichiro. Matanya terlihat sangat marah. Pergelangan tangan terasa panas. Kulit putihnya memerah karena cengkeraman kuat dr sang anak buah.
"Dasar rendahan. Berani sekali kamu membuat kulitku rusak!!!" Aiko tak terima. Cukup pipinya yang merasa panas. Tapi tidak yang lain. Apalagi penyebabnya oleh orang rendahan seperti anak buah.
Aiko langsung manampar pria di depannya. Dia meluapkan emosinya karena sudah di perlakukan kasar oleh Ichiro. Padahal dia kira Ichiro beda dengan lelaki lain. Dia kira Ichiro akan menjadi kakak yang baik untuknya. Meski dia tau cuma dimanfaatkan. Tapi dia rela dengan imbalan yang setimpal.
"Sial...!" Aiko melangkah pergi dengan kesal.
Anak buah Ichiro tak peduli. dia kembali lagi ke tempatnya untuk melaksanakan tugas selanjutnya. Toh tugasnya sekarang hanya membawa Aiko keluar. Saat Aiko pergi semua sudah selesai.
***
Terlihat keceriaan anak-anak di taman kota. Seorang anak laki-laki menunjukkan gigi putihnya tersenyum lebar. Dia berlarian kesana-kemari menghindari seorang anak perempuan yang mengejarnya.
"Kenzo, kembalikan mainan Suzu." Suzu sudah hampir menangis karena ulah Kenzo.
Kenzo hanya terus tertawa melihat sahabat kecilnya mengejar tak pernah tergapai. Melihat mata Suzu yang semakin berkaca-kaca, Kenzo semakin gencar mempermainkannya. Dia hanya ingin melihat sahabatnya itu menangis. Dia merasa lucu saat Suzu menangis.
"Kenzo...!!!" Suzu berhenti mengejar dan berteriak keras. Dia sudah mulai menitikkan air mata.
Kenzo menoleh melihat Suzu yang sudah sesenggukan. Dia hampiri sahabatnya itu dan melihat wajah imutnya ketika menangis.
"Nah," Kenzo mengulurkan permen kapas milik Suzu yang membuatnya menangis. "jangan nangis lagi, Kenzo cuma bercanda." Kenzo menyeka air mata Suzu dengan tangan kecilnya. Kemudian mengecup pucuk kepala sahabatnya tanda sayang.
Suzu hanya terbengong mendapat perlakuan seperti itu dari Kenzo. Biasanya hanya Mommy nya yang memberi perlakuan seperti itu. Sekarang tambah lagi satu orang, yaitu Kenzo.
Dan di bangku taman, Harumi hanya menggelengkan kepala dengan tingkah tuan kecilnya.
"Sepertinya suatu saat nanti akan menjadi perayu ulung." Harumi tertawa sendiri dengan pikirannya.
Bersambung...