
Terlihat seorang anak kecil juga seorang perempuan yang terikat kaki dan tangannya. Mereka pingsan tak sadarkan diri. Pipi anak kecil itu lebam. Namun tak mengurangi wajah imutnya yang kini masih terlelap.
"Kapan mereka akan sadar? Aku sungguh ingin bermain dengan perempuan itu." Seorang lelaki dengan sebatang rokok di sela jarinya menyeringai penuh nafsu.
"Jangan sesumbar. Apa kau mau di bunuh oleh bos. Perempuan ini barang bagus dan langka." Lelaki lainnya yang memegang botol minuman menanggapi rekannya.
Mereka berdua tertawa terbahak. Mereka sudah mabuk dan berbicara semaunya sendiri. Mereka bahkan tak menyadari jika anak kecil itu mulai sadar.
Anak kecil yang tak lain adalah Kenzo itu membuka matanya perlahan. Sesekali bibirnya meringis menahan rasa nyeri di pipinya. Kenzo tak dapat bergerak. Beberapa kali ia mengerjapkan matanya untuk menyesuaikan cahaya yang masuk ke retinanya.
Tak jauh dari tempatnya, dia melihat mamanya masih pingsan. Tatapannya berubah tajam. Dia semakin memberontak ingin melepaskan ikatan di tangan dan kakinya dan segera berlari memeluk Shilla.
"Mama!!! Mama!!!"
Panggilan Kenzo mengalihkan kedua orang yang masih asik tertawa dalam mabuk. Melihat Kenzo yang sudah bangun dan berusaha melepaskan diri membuat mereka semakin tertawa membahana. Mereka membiarkan Kenzo berteriak semaunya. Mereka yakin, Kenzo tak dapat melepaskan ikatan yang mengekang tangannya.
"Berteriaklah sepuas mu bocah, tak akan ada yang menolong mu." Seorang dengan rokok di tangannya mengejek usaha Kenzo. Dia menyesap batang rokok itu dan berjalan ke arah Kenzo yang sedang berusaha melepaskan diri, hingga membuat tangan mungilnya memerah dan terluka. Pria itu langsung menghembuskan asap rokok tepat di muka Kenzo. Membuat Kenzo yang tak terbiasa dengan asap rokok langsung terbatuk.
"Lepaskan mama! Lepaskan mama!" Teriak Kenzo meminta Shilla untuk di lepaskan. Bahkan tatapan bocah itu tajam. Tak ada tatapan bocah 5 tahun yang ketakutan.
"Dasar bocah *diot. Untuk apa kami susah-susah menangkap dan menjaga kalian kalau hanya untuk dilepaskan." Lelaki dengan tato serigala di lengan kanannya itu meludahi Kenzo dengan hina.
Dia bahkan tak segan menggunakan lengan kecil Kenzo untuk mematikan batang rokok miliknya.
"Aaaaaarrrrrgggggh!!!" Kenzo berteriak keras saat lengan kecilnya terasa terbakar. "Mama!!" Kenzo memanggil Shilla dalam teriakannya. Bagaimanapun kuatnya Kenzo, nalurinya tetaplah seorang anak kecil yang membutuhkan perlindungan dari orang tuanya.
Dalam ketidaksadarannya, Shilla seperti mendengar panggilan dari putra kesayangannya. Dia berusaha membuka mata yang masih terpejam. Dia masih merasakan nyeri di punggungnya. Namun dia memaksa untuk sadar ketika mengingat Kenzo anaknya.
"Mama!!!"
Lagi, Shilla mendengar Kenzo berteriak memanggilnya. Teriakan Kenzo yang begitu putus asa.
Begitu mata Shilla terbuka, pemandangan pertama yang dia lihat adalah ketika seorang laki-laki dewasa yang dengan tega menyiksa anaknya. Shilla langsung sepenuhnya sadar saat melihat kilat pisau yang terkena cahaya hendak menyayat kulit anaknya. Tanpa menunggu waktu, dengan kaki dan tangan terikat, Shilla langsung bangkit dan menubrukkan diri pada pria itu, membuat pisaunya terlempar.
Lelaki lain yang ada di ruang itu terkejut oleh gerakan Shilla. Lebih terkejut laki laki-laki yang di tubruk oleh Shilla. Bahkan kepalanya berdarah karena membentur lantai dengan keras.
Shilla langsung duduk kembali dan mendekati Kenzo. Meski tangan dan kakinya terikat, dia masih bisa menenangkan anaknya yang menangis tertahan.
"Mama disini sayang, mama janji kita akan keluar dari sini. Kenzo masih bisa menahan?" Shilla tak tega melihat kulit putih anaknya melepuh. Namun dia harus tetap terlihat kuta agar dapat memberi ketenangan pada Kenzo.
Kenzo mengangguk. Dia selalu percaya, bahwa mamanya dapat melindunginya. Meski rasanya sungguh sakit, dia berusaha menahan agar air matanya tak tumpah. Dia lebih kuat dari pada anak seusianya.
"Bantu mama melepaskan tali ini, oke?" Shilla berbisik pelan.
Mereka saling membelakangi. Kenzo berusaha melepaskan tali yang mengikat tangan Shilla.
"Oi, apa yang kau lakukan." Pria yang mabuk itu menegur temannya yang masih tergeletak di lantai. Antara sadar dan tidak sadar, dia hanya melihat seorang perempuan cantik yang kini menatapnya dengan pandangan menggoda.
"Kemari manis, main sama aku yuk." Dengan langkah sempoyongan lelaki itu mendekati Shilla.
Dengan kepala yang berkunang-kunang, pria yang ada di lantai bangkit berdiri. Meski menyakitkan, dia berusaha berdiri tegak dan menstabilkan tubuhnya. Dia mencari pisau yang sudah terlempar entak kemana. Namun tak ditemukannya pisau itu membuatnya makin kesal.
Dia berjalan mendekati Shilla secara perlahan. Dia menyadari bahwa korbannya sedang berusaha melepaskan tali yang kini mengikatnya.
"Bangun b*doh!!!" Sebelum sampai pada Shilla, dia memukul kepala rekannya yang sudah mabuk berat. Berharap rekannya segera sadar dan menjalankan kembali tugasnya dengan baik.
Di sisi lain Kenzo masih kesusahan melepaskan ikatan tali yang mengikat Shilla. Meski sudah berusaha dengan keras, tangannya sendiri yang juga terikat membatasi ruang geraknya.
"Dasar j*lang yang menyusahkan!" Pria itu menendang Shilla hingga tersungkur.
"Mama!!!" Kenzo berteriak melihat mamanya ditendang hingga tergeletak.
"It's ok baby." Shilla tersenyum ke arah Kenzo. Dia tak ingin membuat anaknya khawatir.
"Masih sok kuat hah!?" Sekali lagi pria yang sudah terluka kepalanya itu menendang perut Shilla. Dia tak terima, dia kalap, hanya karena perempuan yang ia anggap lemah itu bisa melukai dirinya.
"Mama!! Hiks... Mama! Jangan pukul mama! Jangan pukul mama!" Dengan susah payah Kenzo mendekati pria itu.
Karena tangan dan kakinya terikat, ia menggunakan tubuhnya untuk berjalan dengan menyeretnya. Dia tak peduli baju mahalnya kotor, yang ia pedulikan saat ini dapat menyelamatkan mamanya dengan tenaga kecilnya yang tak seberapa.
"Ken, menjauh dari mama." Shilla berkata lirih. Dia tak ingin anaknya ikut menjadi korban kebengisan pria itu.
"Anak kecil tahu apa kau?! Hik..." Pria itu menghentikan aksi Kenzo dengan mencengkeram kerah bajunya dan melempar ke sisi samping.
Tak ada teriakan dari anak itu, Kenzo langsung pingsan saat tubuh kecilnya membentur tembok.
Marah.
Frustasi.
Bengis.
Keinginan untuk membunuh.
Semua terpancar dari sorot mata Shilla. Talinya yang sudah melonggar dengan bantuan Kenzo, membuatnya bisa melepaskan tali yang mengikat tangannya. Kini kedua tangannya bebas, dengan cepat ia melepas tali yang mengikat kakinya. Pandangan mata Shilla menggelap, dia kehilangan jati dirinya. Yang ada dalam otaknya hanyalah memberantas orang yang telah menyakiti anaknya.
Dia bangkit. Dia berjalan mendekat dan mengambil pisau yang tadinya akan di gunakan untuk menyakiti Kenzo. Shilla menyeringai. Tak ada wajah cantik di sana. Yang ada hanya seringai menyeramkan membuat siapapun bergidik.
"Ayo kita mulai bermain." Ucapan Shilla sukses membuat kedua pria itu mundur ketakutan.
Bersambung...